Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 28


__ADS_3

“Maafkan aku Sofi aku


hanya menganggapmu sebagai adikku.” Seketika jantung Sofi seakan ingin


terlepas, napasnya tiba-tiba terasa sesak.


“Tapi kemari itu apa?”


Sofi menatap Aktara dengan binggung, baru saja kemarin laki-laki itu


menciumnya, mengatakan bahwa ia sangat mencintainya, dan mengatakan ingin


menikahinya, memperlakukanya penuh kasih kasang.


“Kemarin itu kesalahan.”


jawab Aktara datar, Sofi mengangguk cepat ia mencobah menguatkan diri, walau


sebenarnya dia sudah hancur sehancur-hancurnya.


“Maafkan Sofi kak.”


gumam gadis itu, kemudian berjalan menuju jalan raya. Air matanya terus menetes


membasahi pipi Sofi.


Aktara mengepal


tanganya, ia benar-benar menyesal melakuknanya, sebenarnya ia sangat mencintai gadis


itu, tapi


Aktara tidak punya pilihan, hanya ini satu-satunya cara untuk


membantu keluarga Sofi dan keluarganya, agar ayahnya segera keluar dari


penjara, dengan cara Aktara harus menikahi Melisa anak pemilik perusahaan


tempat ayah Sofi bekerja, ayah Melisa berjanji akan membebasakan Ayah Sofi dan


mengembalikan nama baiknya.


***


Flas Back on


Melisa melangkah bersama


Lucas menenui Anisa dan Aktara di rumahnya


“Kami datang untuk


memninta pertanggung jawaban Aktara karena telah menghamili anak saya.” ucap


Lucas datar, Anisa mendadak merasakan pusing setelah mendengarkan itu semua.


Aktara yang baru keluar


dari kamarnya, segera menghampiri Anisa, “Pergi kalian!” Aktara benar-benar murkah


sekarang, apa sebenarnya yang diinginkan Melisa dan Lucas yang tiba-tiba datang

__ADS_1


menemui ibunya.


“Ta, apa benar kamu


menghamili Melisa?” Anisa berbisik lemah,


“Tidak Ma, mereka semua


berbohong.” ucap Aktara mantap.


Lukas yang mendengar


itu semua murka, ia hendak memukul Aktara tapi laki-laki itu segera menghindar


dan waktu Aktara ingin membalas Anisa dengan cepat memeluk anaknya dari


belakang.


“Aku akan melakukan


apapun Tara, asal kamu mau menikah dengan ku” Melisa memohon.


“Apapun?” gumam Aktara


kesal,  Melisa mengangguk mantap.


“Aku akan mencabut


semua tuntutan atas om Abraham, om Median dan membantu perusahaanmu.” janji Melisa,


Anisa menatap gadis itu.


“Kamu bisa membebaskan


 Aktara bisa melihat mata Anisa yang


menginginkan kebebasan suaminya itu. Bhkan Anisa terus memanggil manggil nama


Abraham setiap saat sejak suaminya itu di penjara.


Flas Back of


***


“Sofi, ada apa dek?”


Diori mengetuk pintu kamar gadis itu, ia sangat khawatir melihat wajah Sofi


yang sangat kacau saat pulang, andai saja kaki Diori telah sembuh ia sudah


mendobrak pintu kamar itu. Walau Diori telah belajar menggunakan tongkat tapi karena


rasa nyeri yang teramat pada kakinya, dokter menyarankan agar Diori tetap di


kursi rodanya.


"Dek, buka jangan buat kakak khawatir,"


masih tidak ada respon di dari dalam.


“Dek kakak mohon buka

__ADS_1


dek!” Teriak Diori, Sofi akhirnya membuka pintu itu, matanya terlihat bengkak,


Diori segera melajukan kursih rodanya menuju tempat tidur Sofi.


“Mau cerita,” bisik


Diori pada adiknyaa, Sofi mengeleng “Ingat sofi kita sudara, apapun masalahnya


aku akan selalu ada untuk kamu, kakak tahu kakak selalu mengekang kamu karena


kakak terlalu sayang sama kamu, tapi nanti jika kamu mendapatkan orang yang


bisa menyanyangi kamu lebih dari kakak maka kakak akan melepaskan adik kakak


ini.” Diori berusap sambil memegang tangan Sofi.


“Jangan pernah lepaskan


Sofi kak.” liri Sofi.


“Ada apa? Apa Tata


menyakiti kamu?” seketika tangis Sofi pecah ia memeluk kakanya erat, pertama


kali ia merasa jatuh cinta tetapi cintanya hanya menganggapnya adik.


“Maafkan kakak dek


harusnya kakak jagain kamu.” bisik Diori pada adiknya lembut. ‘Kakak tahu Tata melakukan itu


semua untuk


papa dan keluarganya.’


***


Aktar memukul tembok


sampai tanganya berdarah, membuat Abraham merasa khawatir “Tata apa yang kamu


lakukan, kamu tidak harus menyakiti diri kamu!” Abraham berteriak


“Aku sudah nyakiti Sofi


p.a”


“Kamu ngelakuin itu


untuk bantu keluarganya, jika kamu memang tidak ingin kehilangan Sofi, kamu


boleh menolak semua itu” Abraham menjelaskan


“Aku hanya ingin Sofi


berkumpul dengan keluarganya, selama ini aku uda nyakitin dia pa, Tata cuma


ingin Sofi bahagia.” lirih Aktara.


Abraham hanya bisa


mengeleng melihat kondisi anaknya, Aktara terlalu mencintai Sofi ia akan

__ADS_1


melakukan apa saja untuk kebahagian Sofi.


__ADS_2