Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 20


__ADS_3

Diori tampak sibuk


dengan laptopnya, beberapa buku bertebaran di tempat tidurnya, Diori sangat


serius mengerjakan skripsinya. Sofi mengetuk pintu kamar itu lalu membukanya,


Diori menyipitkan matanya melihat Sofi datang dengan mengengam cangkit di


tanganya “Kak minum dulu pasti capek.” Sofi menyodorkan cangkir yang berisi


coklat hangat.


“Kamu gak masukin garam


kan?” Diori mentap curiga


“Ya, engak lah, kalau


kak gak mau yauda” Sofi hendak melangkah meninggalkan kamar itu.


“Tunggu, sini kak haus


dari tadi, makasih ya.” Diori mengambil gelas itu dan langsung menegaknya, tapi


tiba-tiba ia merasa mual, bukan rasa coklat yang hangat tapi sepertinya adah


rasa gurih yang entahlah sulit untuk mengambarkanya.


Diori berlari kemar


mandi lalu memuntahkan minuman itu “Sofi!” Diori murka, “Awas kamu ya!” Baru


saja Diori keluar dari kamar mandi Sofi sudah menghilang, Diori melangkah ke kamar


adiknya tapi kamar itu kosong, “Sofi, jangan sembunyi kamu!” teriak Diori saat


melihat bayangan Sofi yang memasuki kamar Aktara, bahkan Diori bisa mendengar


cekikikan dari mulut Sofi.


Aktara sedang sibuk


dengan laptopnya, ia juga sedang mengerjakan skripsinya di kamarnya saat


tiba-tiba Sofi masuk kamar itu dan menguncinya gadis itu tertawa sambil


memegangi perutnya, ia juga bahkan mengusap matanya yang berair.


Aktara masih diam melihat


Sofi memakai celana pendek dan baju kaus kebesaran, yang Aktara tau itu adalah


baju kaus Diori tapi karena kekecilan jadi Diori memberikanya pada Sofi, gadis


itu juga tidak memakai kaca mata dan rambutnya di ikat sembarangan, Sofi sangat


cantik saat ini. Dan ini pertama kalinya Sofi memasuki kamarnya.


“Kak Sofi numpang


sembunyi ya, kak Dio lagi ngamuk.” Ucap gadis itu pada Aktara, laki-laki itu


hanya mengangguk dua kali Aktara sebenarnya masih binggung apa yang terjadi.


Sofi masih bersender di


pintu sambil menarik napas beberapa kali untuk menetralkan tawanya, tiba-tiba


gadis itu melompat karenA suarah ketukan pintu di ikuti suarah teriakan Diori


yang menyuruhnya keluar “Sofi keluar kamu!” teriak Diori.


Sofi berlari ketempat


tidur Aktara dan duduk di sampingnya, Sofi memegang bahu Aktara lembut “Kak


jangan biarin kak Dio nemuin aku ya.” Sofi kemudian beranjak dan pergi ke kamar


mandi mengunci pintuhnya.


“Ta, buka jangan


sembunyiin adek gue!” Teriak Diori, Aktara tahu kalau Diori suda ngomong gue lo,


itu tandanya laki-laki itu benar-benar sedang marah “Gue tahu Sofi di dalem!”


Aktara membuka pintunya


lalu tersenyum pura-pura tidak tahu “Ada apa sih Di, teriak-teriak.” ucap


Aktara setenang mungkin, ia bisa melihat wajah Diori yang merah padam


“Elo mau tau ada apa,


minum ni.” Diori menyodorkan secangki coklat hangat, Aktar tidak merasa curiga,

__ADS_1


dengan santai ia menegaknya, tapi baru sampai tenggorokan, ia sudah mual ingin


muntah laki-laki itu berlari menujuh kamar mandi sambil mengedor-gedornya, tapi


tidak kunjung di buka. Akhirnya Aktara memuntahkan minuman itu dari jendelanya.


Ia tahu mengapa Diori marah coklat itu di campur penyedap rasa.


“Sofi Buka!” terak


Aktara dan Diori bersamaan.


“Gak mau!” jawab Sofi


tidak mau kalah,


“Kamu bilang gak


masukin garam di minuman itu!” teriak Diori.


“Emang ngak, Sofi cuma


masukin mecin!” teriak Sofi dari kamar mandi.


“Sama aja!” jawab


Aktara membela Diori.


“Buka atau kakak bobrak


nih.” Ancam Diori


“Gak mau, lagian kakak


gak mungkin ngerusak rumah orang.” jawab Sofi sambil terkekeh.


“Dobrak aja Di, aku


ijini kok.” jawab Aktara, Sofi menelan ludahnya mendengar ucapan Aktara, ‘Mengapa mereka kompak sekarang?’


“Satu, dua, ti..”


Aktara dan Diori menghitung bersamaan, sebelum tubuh mereka menekan pintuh


kamar mandi, Sofi telah membuka pintuh itu sambil mengangkat dagunya


tinggi-tinggi menandakan ia tidak takut pada dua laki-laki yang berdiri di


hadapanya.


Aktara dan Diori saling


mengatakan Bams, dengan cepat keduanya memegangi Sofi dan membawanya ke ranjang


Aktara. Keduanya tampak sibuk mengerjai Sofi, Diori menegelitik perut Sofi


sedangkan Aktara sibuk mengelitik telapak kaki Sofi.


“Ampun gak ha?” Diori


terus mengelitik Sofi, gadis itu beberapa kali berontak mencobah meloloskan


diri tapi tidak bisa Aktara dan Diori memeganginya dengan kuat.


“Gak mau!” jawab Sofi


sambil tertawa karena rasa geli yang menjalar di tubuhnya.


“Minta maaf Sofi!”


Aktara berucap Sofi yang mendengarnya suara itu seakan tersihir ia langsung


menurut ucapan Aktara.


“Ampu kak.” ucap Sofi


liri, Diori memangdang Aktara dengan tajam, ‘Kenapa


Sofi nurut omongan Tata?’


Akta dan Diori


menghentikan aktifitas mengelitik Sofi, gadis itu tampak terengah-engah lalu


menarik selimut milik Aktara, mencobah menutupi semua tubuhnya sampai kepala,


agar Diori dan Aktara di mengelitiknya lagi.


Aktara beranjak dari


kasurnya menujuh kamar mandi ia masih bisa merasakan coklat gurih di mulutnya,


Aktara bisa mendengar kalau Diori mulai berkhotbah pada Sofi.


“Kamu itu dek, kalau

__ADS_1


bikinin minum yang bener apa? Kakak lebih suka kamu bawain kakak air putih


biasa, gak jangan air putih, dulu juga kamu masukin garam ke airnya rasanya


kayak air laut, kakak lebih suka kamu bikin kakak jus mangga waktu itu, kan


enak.”


Diori ingat Sofi pernah


membuatkannya Jus manga segar, saat itu papanya membeli banyak mangga karena


tahu Diori sangat menyukainya, dan Sofi membuat jus untuk papanya dan Diori,


jus itu sangat enak. “Ini malah ngasi kopi asih, air asin, coklat guri, besok-besok


mau nagsih apa lagi? Dulu juga ngasi puding pedes sampai kakak diare tau.”


Diori ingat tahun lalu


ia ulang tahun dan Sofi membuatkaya sebuah puding yang pedas dan berakhir


dengan Diare. Memangsih pudingnya enak, tapi karena Diori tidak suka pedas,


maka Sofi memiliki ide agar Diori menyukai rasa pedas walau dikit “Kamu dengar


gak sih dek apa yang kakak bilang?” Aktara keluar dari kamar mandi sambil


menahan tawanya, ia tidak bisa membayangkan kalau Sofi sejahil itu pada Diori,


“Dek kamu tu ya-” Diori


membuka selimutnya dan mendapati Sofi telah tertidur, gadis itu tampak damai


seperti tidak ada beban dalam dirinya. Diori hendak memindahkan Sofi tapi


Aktara segera menepuk bahu Diori, mengisaratkan agar jangan memindahkan Sofi.


***


Aktara terbaring, di


kasur sambil diam begitupun orang di sampingnya yang juga diam, Aktara bingung


harus melalukan apa sekarang, harusnya ia membiarakan Diori memindahkan Sofi,


jadi dia tidak terjebak satu kamar disini, lalu mereka tertawa bersamaan.


“Gila Di, seumur hidup


ku, gak perna seranjang sama orang lain, aku berharap orang yang seranjang


denganku itu cewek bukan cowok kayak kamu.” ucap Aktara sambil terkekeh.


“Kamu pikir aku juga


mau seranjang sama kamu, aku juga berharap seranjang sama cewek, setidaknya


Jesy atau siapa kek?” Cetus Diori


“Jesy? Kamu beneran


suka sama tu cewek?” Diori terdiam sesaat ia mengutuk dirinya yang keceplosan.


Mereka terpaksa tidur


seranjang karena Diori melarang Aktara tidur di kamar Sofi, ia tertalu takut


Aktara melakukan hal gila di kamar itu, dan kalau Aktara tidur di kamar lain ia


takut tiba-tiba laki-laki itu masuk ke kamarnya dan tidur dengan Sofi,


membayangkanya saja membuat Diori geram walau mereka bersahabat, tapi untuk


urusan Sofi, Diori bukan orang yang mudah diajak bernegosiasi, karena itu ia


memaksa Aktara untuk mengawasinya.


“Dari pada sama Melisa.”


jawab Diori enteng, Aktara mengangguk setuju.


“Aku dukung kamu, Jesy


juga suka banget sama kamu.” Aktara menjelaskan ia bisa melihat gelagat Jesy


yang selama ini memperhatika Diori. Mendadak muka Diori memerah Aktara melihat


itu lalu tertawa, “Aku, tahu kamu Di.” bisik Aktara di selah tertawanya.


“Apaan si Ta.” Diori


menahan malunya lalu tertawa bersama Diori,


“Di, aku mencintai Sofi.”

__ADS_1


Aktara berucap serius saat Diori tertawa mendadak tawa itu hilang, ruangan


kamar itu menjadi sunyi.


__ADS_2