
Diori tampak sibuk
dengan laptopnya, beberapa buku bertebaran di tempat tidurnya, Diori sangat
serius mengerjakan skripsinya. Sofi mengetuk pintu kamar itu lalu membukanya,
Diori menyipitkan matanya melihat Sofi datang dengan mengengam cangkit di
tanganya “Kak minum dulu pasti capek.” Sofi menyodorkan cangkir yang berisi
coklat hangat.
“Kamu gak masukin garam
kan?” Diori mentap curiga
“Ya, engak lah, kalau
kak gak mau yauda” Sofi hendak melangkah meninggalkan kamar itu.
“Tunggu, sini kak haus
dari tadi, makasih ya.” Diori mengambil gelas itu dan langsung menegaknya, tapi
tiba-tiba ia merasa mual, bukan rasa coklat yang hangat tapi sepertinya adah
rasa gurih yang entahlah sulit untuk mengambarkanya.
Diori berlari kemar
mandi lalu memuntahkan minuman itu “Sofi!” Diori murka, “Awas kamu ya!” Baru
saja Diori keluar dari kamar mandi Sofi sudah menghilang, Diori melangkah ke kamar
adiknya tapi kamar itu kosong, “Sofi, jangan sembunyi kamu!” teriak Diori saat
melihat bayangan Sofi yang memasuki kamar Aktara, bahkan Diori bisa mendengar
cekikikan dari mulut Sofi.
Aktara sedang sibuk
dengan laptopnya, ia juga sedang mengerjakan skripsinya di kamarnya saat
tiba-tiba Sofi masuk kamar itu dan menguncinya gadis itu tertawa sambil
memegangi perutnya, ia juga bahkan mengusap matanya yang berair.
Aktara masih diam melihat
Sofi memakai celana pendek dan baju kaus kebesaran, yang Aktara tau itu adalah
baju kaus Diori tapi karena kekecilan jadi Diori memberikanya pada Sofi, gadis
itu juga tidak memakai kaca mata dan rambutnya di ikat sembarangan, Sofi sangat
cantik saat ini. Dan ini pertama kalinya Sofi memasuki kamarnya.
“Kak Sofi numpang
sembunyi ya, kak Dio lagi ngamuk.” Ucap gadis itu pada Aktara, laki-laki itu
hanya mengangguk dua kali Aktara sebenarnya masih binggung apa yang terjadi.
Sofi masih bersender di
pintu sambil menarik napas beberapa kali untuk menetralkan tawanya, tiba-tiba
gadis itu melompat karenA suarah ketukan pintu di ikuti suarah teriakan Diori
yang menyuruhnya keluar “Sofi keluar kamu!” teriak Diori.
Sofi berlari ketempat
tidur Aktara dan duduk di sampingnya, Sofi memegang bahu Aktara lembut “Kak
jangan biarin kak Dio nemuin aku ya.” Sofi kemudian beranjak dan pergi ke kamar
mandi mengunci pintuhnya.
“Ta, buka jangan
sembunyiin adek gue!” Teriak Diori, Aktara tahu kalau Diori suda ngomong gue lo,
itu tandanya laki-laki itu benar-benar sedang marah “Gue tahu Sofi di dalem!”
Aktara membuka pintunya
lalu tersenyum pura-pura tidak tahu “Ada apa sih Di, teriak-teriak.” ucap
Aktara setenang mungkin, ia bisa melihat wajah Diori yang merah padam
“Elo mau tau ada apa,
minum ni.” Diori menyodorkan secangki coklat hangat, Aktar tidak merasa curiga,
__ADS_1
dengan santai ia menegaknya, tapi baru sampai tenggorokan, ia sudah mual ingin
muntah laki-laki itu berlari menujuh kamar mandi sambil mengedor-gedornya, tapi
tidak kunjung di buka. Akhirnya Aktara memuntahkan minuman itu dari jendelanya.
Ia tahu mengapa Diori marah coklat itu di campur penyedap rasa.
“Sofi Buka!” terak
Aktara dan Diori bersamaan.
“Gak mau!” jawab Sofi
tidak mau kalah,
“Kamu bilang gak
masukin garam di minuman itu!” teriak Diori.
“Emang ngak, Sofi cuma
masukin mecin!” teriak Sofi dari kamar mandi.
“Sama aja!” jawab
Aktara membela Diori.
“Buka atau kakak bobrak
nih.” Ancam Diori
“Gak mau, lagian kakak
gak mungkin ngerusak rumah orang.” jawab Sofi sambil terkekeh.
“Dobrak aja Di, aku
ijini kok.” jawab Aktara, Sofi menelan ludahnya mendengar ucapan Aktara, ‘Mengapa mereka kompak sekarang?’
“Satu, dua, ti..”
Aktara dan Diori menghitung bersamaan, sebelum tubuh mereka menekan pintuh
kamar mandi, Sofi telah membuka pintuh itu sambil mengangkat dagunya
tinggi-tinggi menandakan ia tidak takut pada dua laki-laki yang berdiri di
hadapanya.
Aktara dan Diori saling
mengatakan Bams, dengan cepat keduanya memegangi Sofi dan membawanya ke ranjang
Aktara. Keduanya tampak sibuk mengerjai Sofi, Diori menegelitik perut Sofi
sedangkan Aktara sibuk mengelitik telapak kaki Sofi.
“Ampun gak ha?” Diori
terus mengelitik Sofi, gadis itu beberapa kali berontak mencobah meloloskan
diri tapi tidak bisa Aktara dan Diori memeganginya dengan kuat.
“Gak mau!” jawab Sofi
sambil tertawa karena rasa geli yang menjalar di tubuhnya.
“Minta maaf Sofi!”
Aktara berucap Sofi yang mendengarnya suara itu seakan tersihir ia langsung
menurut ucapan Aktara.
“Ampu kak.” ucap Sofi
liri, Diori memangdang Aktara dengan tajam, ‘Kenapa
Sofi nurut omongan Tata?’
Akta dan Diori
menghentikan aktifitas mengelitik Sofi, gadis itu tampak terengah-engah lalu
menarik selimut milik Aktara, mencobah menutupi semua tubuhnya sampai kepala,
agar Diori dan Aktara di mengelitiknya lagi.
Aktara beranjak dari
kasurnya menujuh kamar mandi ia masih bisa merasakan coklat gurih di mulutnya,
Aktara bisa mendengar kalau Diori mulai berkhotbah pada Sofi.
“Kamu itu dek, kalau
__ADS_1
bikinin minum yang bener apa? Kakak lebih suka kamu bawain kakak air putih
biasa, gak jangan air putih, dulu juga kamu masukin garam ke airnya rasanya
kayak air laut, kakak lebih suka kamu bikin kakak jus mangga waktu itu, kan
enak.”
Diori ingat Sofi pernah
membuatkannya Jus manga segar, saat itu papanya membeli banyak mangga karena
tahu Diori sangat menyukainya, dan Sofi membuat jus untuk papanya dan Diori,
jus itu sangat enak. “Ini malah ngasi kopi asih, air asin, coklat guri, besok-besok
mau nagsih apa lagi? Dulu juga ngasi puding pedes sampai kakak diare tau.”
Diori ingat tahun lalu
ia ulang tahun dan Sofi membuatkaya sebuah puding yang pedas dan berakhir
dengan Diare. Memangsih pudingnya enak, tapi karena Diori tidak suka pedas,
maka Sofi memiliki ide agar Diori menyukai rasa pedas walau dikit “Kamu dengar
gak sih dek apa yang kakak bilang?” Aktara keluar dari kamar mandi sambil
menahan tawanya, ia tidak bisa membayangkan kalau Sofi sejahil itu pada Diori,
“Dek kamu tu ya-” Diori
membuka selimutnya dan mendapati Sofi telah tertidur, gadis itu tampak damai
seperti tidak ada beban dalam dirinya. Diori hendak memindahkan Sofi tapi
Aktara segera menepuk bahu Diori, mengisaratkan agar jangan memindahkan Sofi.
***
Aktara terbaring, di
kasur sambil diam begitupun orang di sampingnya yang juga diam, Aktara bingung
harus melalukan apa sekarang, harusnya ia membiarakan Diori memindahkan Sofi,
jadi dia tidak terjebak satu kamar disini, lalu mereka tertawa bersamaan.
“Gila Di, seumur hidup
ku, gak perna seranjang sama orang lain, aku berharap orang yang seranjang
denganku itu cewek bukan cowok kayak kamu.” ucap Aktara sambil terkekeh.
“Kamu pikir aku juga
mau seranjang sama kamu, aku juga berharap seranjang sama cewek, setidaknya
Jesy atau siapa kek?” Cetus Diori
“Jesy? Kamu beneran
suka sama tu cewek?” Diori terdiam sesaat ia mengutuk dirinya yang keceplosan.
Mereka terpaksa tidur
seranjang karena Diori melarang Aktara tidur di kamar Sofi, ia tertalu takut
Aktara melakukan hal gila di kamar itu, dan kalau Aktara tidur di kamar lain ia
takut tiba-tiba laki-laki itu masuk ke kamarnya dan tidur dengan Sofi,
membayangkanya saja membuat Diori geram walau mereka bersahabat, tapi untuk
urusan Sofi, Diori bukan orang yang mudah diajak bernegosiasi, karena itu ia
memaksa Aktara untuk mengawasinya.
“Dari pada sama Melisa.”
jawab Diori enteng, Aktara mengangguk setuju.
“Aku dukung kamu, Jesy
juga suka banget sama kamu.” Aktara menjelaskan ia bisa melihat gelagat Jesy
yang selama ini memperhatika Diori. Mendadak muka Diori memerah Aktara melihat
itu lalu tertawa, “Aku, tahu kamu Di.” bisik Aktara di selah tertawanya.
“Apaan si Ta.” Diori
menahan malunya lalu tertawa bersama Diori,
“Di, aku mencintai Sofi.”
__ADS_1
Aktara berucap serius saat Diori tertawa mendadak tawa itu hilang, ruangan
kamar itu menjadi sunyi.