
Suasana lapangan itu
cukup ramai, para wanita telah berjejer di pinggir lapangan untuk menyaksikan
pertandingan sepak bolah antara Diori dan teman-temanya dari jurusan bisnis
melawan Aldo dan tim dari jurusan bahasa Inggris.
Lisa dan Jesy telah
berdiri di barisan paling depan sebagai penonton di ikuti Anda yang duduk di
samping Lisa, mereka terlihat seperti trio yang bersaing mencari perhatian
Diori.
“Alif,” gumam Sofi
mendesa kesal saat melihat sahabat laki-lakinya juga ikut mengambil bagian di
bagian penonton.
Sofi tadi datang
terlambat, karena harus membersihkan kotak kue miliknya setelah Anda, Alif dan
Lisa berebut menjilat kotak kue itu, sampai kotak itu jatuh beruntung, kue itu
telah habis.
Sofi hendak masuk
kedalam barisan depan tapi tampaknya sudah penuh, jadi gadis itu memutuskan
untuk duduk di bagian bangku belakang penonton.
Diori memaksanya untuk
menonton pertandingan sepak bolahnya, padahal Sofi tadi berniat pulang duluan.
Tapi Diori tidak mengizinkan, Diori akan marah jika Sofi tidak menuruti
keingannya, sungguh sifat yang egois.
“Didi! Oper ke Bram,
kamu tu lagi di jaga ketat sama Aldo, Ah dasar kelas kepala.” laki-laki itu
bergumam kesal, Sofi menolale ia sangat hafal itu suarah siapa.
Diori berusaha
menendang bolanya ke gawang tapi gagal Aldo segera merebut boleh dan membawanya
ke areah sebaliknya.
“Kakak kamu itu
bener-bener ya, sudah tau di jagain Aldo masih aja sok-sok an mau nyetak gol.”
Laki-laki itu lalu duduk di samping Sofi, ia membuka kotak plastik berwarna
biru, Sofi sangat tahu itu adalah kotak kue yang tadi Diori bawah di mobil.
Laki-laki itu menyendok
kuenya dengan santai, “Dafa oper ke Didi!” Teriak Aktara berteriak kencang
membuat beberapa penonton menoleh padanya.
”Apa?!” hardik Aktara,
seketika orang yang menoleh padanya kembali berpaling pada pertangdingan.
“Ayolah Di, kamu pasti
menang!” Aktara berteriak, sesaat setelah Aldo mencetak gol di gawang milik tim
Diori.
“Mau?” Aktara
mengarahkan sendoknya ke mulut Sofi, gadis itu masih mengangah tidak percayah
kalau Aktara memberikan dukungan pada kakanya, jadi apa yang di katakan Papanya
benar.
“Akh...” Aktara mendekatakan
sendoknya hingga menyetuh bibir Sofi, entah apa yang ada di pikiran gadis itu,
ia replek membuka mulutnya untuk menerima kue itu.
***
Dafa melihat kejadian
__ADS_1
itu, laki-laki itu mengeleng ‘Tara lo
cari mati!’ Diori hendak menoleh ke arah Sofi.
“Dio bolanya!” Dafa berteriak, agar Diori
tidak melihat kejadian itu dengan cepat Diori mengejar bola itu membawanya menujuh
gawang lawan, Diori mengoper bolanya pada Bram, karena dia cegat Aldo. Bram
mengoper balik bolahnya Dafa berusaha melindungi Diori seketika Diori menendang
bolah itu ke gawang tim Aldo.
“Gol...l!” Semua orang
berteriak, terutama para wanita-wanita itu, alias pengemar setia Diori. Dafa
dan Bram memeluk Diori.
“Tukan, kamu bisa Di.”
gumam Aktara pelan sambil tersenyum, Sofi yang berteriak sambil bertepuk tangan
bisa mendengar apa yang di ucapkan Aktara, Sofi kembali tersenyum lebar.
“Kenapa?” Aktara memberhentikan
sendoknya saat sekitar dua senti lagi sendok itu masuk mulutnya. Sofi
menatapnya sambil tersenyum, gadis itu mengeleng cepat. Aktara kembali bersorak
saat Diori berhasil mencetak gol berikutnya, membuat kelompok Diori unggul dari
tim Aldo.
“Kakak mirip banget
sama kak Dio,” Aktara menoleh pada Sofi yang kembali memperhatikan pertandingan
boleh itu, “Kalian lucu, sahabatan tapi saling diam.” tambah Sofi.
Aktara tersenyum “Kadang
sahabat tidak harus diperlihatkan pada orang lain, yang penting kami saling
peduli satu sama lain dan saling menjaga.”
“Kakak benar, biarkan
saja orang menilai apa, yang penting kalian bersahabat.” Sofi kemudian
laki-laki itu.
“Hei, itu punyaku, Didi
ngasi aku.” protes Aktar. Sofi tidak peduli ia kemudian menyendok kue yang
tinggal setengah itu sampai habis. Aktara hanya bisa mendengus kesal
melihatnya, Sofi menjulurkan lidahnya pada Aktara, laki-laki itu terkekeh
melihatnya, tanganya mengusap rambut Sofi membuat gadis itu membeku.
“Ehem.” Aktara dan Sofi
segera berdiri Aktara sambil tersenyum pada Diori, sepasang mata coklat itu
menatap tajam pada Aktara. Sebuah pukulan berhasil mendarat di pipi kiri
Aktara, membuat laki-laki itu tersungkur. Aktara tidak membalas, ia mengaku
salah karena ia yang mendekati Sofi tadi.
“Kak Hentikan!” Sofi
segera memeluk Diori, sambil berkata lirih. Gadis itu gemetar ketakutan melihat
Diori yang sangat marah, sedangkan Diori hanya diam lalu menyeret Sofi pergi
dari tempat itu.
“Lo gak papa?” Dafa
segera membatu Aktara berdiri, Aktara mengeleng cekap.
***
Diori berjalan cepat
membawa Sofi menuju mobilnya tangan kananya menyengkram lengan kiri Sofi kuat,
gadis itu meringis kesakitan, “Kak sakit.” gumam Sofi, Diori tidak peduli.
Diori terus diam saat
mereka sampai di rumah, bahkan saat makan malam Diori tidak berbicara sama
__ADS_1
sekali, Sofi juga tidak berniat memulai pembicaraan dia tahu kakaknya sedang
marah.
“Kalian kenapa?” Median
bertanya saat mereka sarapan Sofi mengeleng, sedangkan Diori hanya diam.
“Aku berangkat” Diori
berdiri menuju mobilnya, beberapa kali laki-laki itu menekan klaksonnya dengan
kesal, walau ia marah pada adiknya ia tidak akan mungkin membiarkan Sofi
berangkat sendirian. Sofi berlari menuju mobil Diori mereka hanya diam selama
dalam perjalanna menuju kampus tidak ada satupun yang memulai pembicaraan.
Selama di kelas Sofi
hanya diam, dia malas untuk memulai berbicara bersama teman-temannya termasuk
pada Anda dan Alif. Pikiranya semakin kalut, belum lagi gosip yang beredar yang
mengatakan Aktara bertengkar dengan Diori karena Aktara mencobah memacari Sofi
padahal itu salah besar atau mungkin benar?
“Sofi, kanti yuk!” Anda
menarik tangan sahabatnya, di ikuti Alif di belakang mereka, baru di depan
kantin Lisa sudah berteriak memangil mereka bertiga.
“Sofi, lo beneran
pacaran sama kak Tara?” Lisa bertanya dengan keponya, Sofi hanya bisa mengeleng lemah.
“Kenapa kemaren Kak
Tara dan kak Dio berantem?” Lisa kepo lagi.
“Lis, lo bisa diem gak
sih.” Anda benar-benar kesal, dari tadi Anda berusaha keras menahan diri untuk
tidak menanyakan hal itu, ia lebih memilih Sofi bercerita langsung, tapi
sekarang Lisalah yang berkoar lebih dulu.
Lisa meringkuk ia takut
dengan tatapan tajam Anda, sedangkan Alif memilih diam, ia bukan tidak peduli
pada Sofi tapi Alif tahu betul Sofi tidak ingin di ganggu, gadis itu akan bercerita
kalau ia sudah tenang.
“Gue pesenin es jeruk
ya.” Alif berkata pada Sofi, gadis itu mengangguk pelan.
***
Diori berjalan bersama
Beny memasuki kantin, Lisa dan Anda tersenyum lebar melihatnya, Sofi hanya
menunduk ia tidak menyadari kehadiran kakaknya.
“Ini,” Alif meberikan
es jeruknya pada Sofi, gadis itu tidak berniat meminumnya, ia hanya
mengaduk-aduk gelas itu.
“Sini kalau gak mau
minum,” Diori mengambil gelas itu dan meminumnya santai, entah sejak kapan
laki-laki itu duduk di sampingnya Sofi benar-benar tidak menyadarinya.
“Kakak.” gumam Sofi
pelan, Diori tersenyum lembut lalu mengelus puncak kepalanya,
“Maafin kakak.” Diori
tidak akan bisa mendiamkan Sofi lebih dari dua puluh empat jam, bagi Diori Sofi
adalah harta paling berharaga dalam hidupnya, Diori akan terus menjaga adiknya
apapun yang terjadi.
Sofi mengangguk lemah, Sofi
benar-benar ingin menagis sekarang ia benar-benar merasa sedih semalaman ia
__ADS_1
tidak tidur memikirkan kejadian kemarin dimana Diori memukul Aktar, Aktara? Apa
yang terjadi padanya.