Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 12


__ADS_3

Suasana lapangan itu


cukup ramai, para wanita telah berjejer di pinggir lapangan untuk menyaksikan


pertandingan sepak bolah antara Diori dan teman-temanya dari jurusan bisnis


melawan Aldo dan tim dari jurusan bahasa Inggris.


Lisa dan Jesy telah


berdiri di barisan paling depan sebagai penonton di ikuti Anda yang duduk di


samping Lisa, mereka terlihat seperti trio yang bersaing mencari perhatian


Diori.


“Alif,” gumam Sofi


mendesa kesal saat melihat sahabat laki-lakinya juga ikut mengambil bagian di


bagian penonton.


Sofi tadi datang


terlambat, karena harus membersihkan kotak kue miliknya setelah Anda, Alif dan


Lisa berebut menjilat kotak kue itu, sampai kotak itu jatuh beruntung, kue itu


telah habis.


Sofi hendak masuk


kedalam barisan depan tapi tampaknya sudah penuh, jadi gadis itu memutuskan


untuk duduk di bagian bangku belakang penonton.


Diori memaksanya untuk


menonton pertandingan sepak bolahnya, padahal Sofi tadi berniat pulang duluan.


Tapi Diori tidak mengizinkan, Diori akan marah jika Sofi tidak menuruti


keingannya, sungguh sifat yang egois.


“Didi! Oper ke Bram,


kamu tu lagi di jaga ketat sama Aldo, Ah dasar kelas kepala.” laki-laki itu


bergumam kesal, Sofi menolale ia sangat hafal itu suarah siapa.


Diori berusaha


menendang bolanya ke gawang tapi gagal Aldo segera merebut boleh dan membawanya


ke areah sebaliknya.


“Kakak kamu itu


bener-bener ya, sudah tau di jagain Aldo masih aja sok-sok an mau nyetak gol.”


Laki-laki itu lalu duduk di samping Sofi, ia membuka kotak plastik berwarna


biru, Sofi sangat tahu itu adalah kotak kue yang tadi Diori bawah di mobil.


Laki-laki itu menyendok


kuenya dengan santai, “Dafa oper ke Didi!” Teriak Aktara berteriak kencang


membuat beberapa penonton menoleh padanya.


”Apa?!” hardik Aktara,


seketika orang yang menoleh padanya kembali berpaling pada pertangdingan.


“Ayolah Di, kamu pasti


menang!” Aktara berteriak, sesaat setelah Aldo mencetak gol di gawang milik tim


Diori.


“Mau?” Aktara


mengarahkan sendoknya ke mulut Sofi, gadis itu masih mengangah tidak percayah


kalau Aktara memberikan dukungan pada kakanya, jadi apa yang di katakan Papanya


benar.


“Akh...” Aktara mendekatakan


sendoknya hingga menyetuh bibir Sofi, entah apa yang ada di pikiran gadis itu,


ia replek membuka mulutnya untuk menerima kue itu.


***


Dafa melihat kejadian

__ADS_1


itu, laki-laki itu mengeleng ‘Tara lo


cari mati!’ Diori hendak menoleh ke arah Sofi.


“Dio bolanya!” Dafa berteriak, agar Diori


tidak melihat kejadian itu dengan cepat Diori mengejar bola itu membawanya menujuh


gawang lawan, Diori mengoper bolanya pada Bram, karena dia cegat Aldo. Bram


mengoper balik bolahnya Dafa berusaha melindungi Diori seketika Diori menendang


bolah itu ke gawang tim Aldo.


“Gol...l!” Semua orang


berteriak, terutama para wanita-wanita itu, alias pengemar setia Diori. Dafa


dan Bram memeluk Diori.


“Tukan, kamu bisa Di.”


gumam Aktara pelan sambil tersenyum, Sofi yang berteriak sambil bertepuk tangan


bisa mendengar apa yang di ucapkan Aktara, Sofi kembali tersenyum lebar.


“Kenapa?” Aktara memberhentikan


sendoknya saat sekitar dua senti lagi sendok itu masuk mulutnya. Sofi


menatapnya sambil tersenyum, gadis itu mengeleng cepat. Aktara kembali bersorak


saat Diori berhasil mencetak gol berikutnya, membuat kelompok Diori unggul dari


tim Aldo.


“Kakak mirip banget


sama kak Dio,” Aktara menoleh pada Sofi yang kembali memperhatikan pertandingan


boleh itu, “Kalian lucu, sahabatan tapi saling diam.” tambah Sofi.


Aktara tersenyum “Kadang


sahabat tidak harus diperlihatkan pada orang lain, yang penting kami saling


peduli satu sama lain dan saling menjaga.”


“Kakak benar, biarkan


saja orang menilai apa, yang penting kalian bersahabat.” Sofi kemudian


laki-laki itu.


“Hei, itu punyaku, Didi


ngasi aku.” protes Aktar. Sofi tidak peduli ia kemudian menyendok kue yang


tinggal setengah itu sampai habis. Aktara hanya bisa mendengus kesal


melihatnya, Sofi menjulurkan lidahnya pada Aktara, laki-laki itu terkekeh


melihatnya, tanganya mengusap rambut Sofi membuat gadis itu membeku.


“Ehem.” Aktara dan Sofi


segera berdiri Aktara sambil tersenyum pada Diori, sepasang mata coklat itu


menatap tajam pada Aktara. Sebuah pukulan berhasil mendarat di pipi kiri


Aktara, membuat laki-laki itu tersungkur. Aktara tidak membalas, ia mengaku


salah karena ia yang mendekati Sofi tadi.


“Kak Hentikan!” Sofi


segera memeluk Diori, sambil berkata lirih. Gadis itu gemetar ketakutan melihat


Diori yang sangat marah, sedangkan Diori hanya diam lalu menyeret Sofi pergi


dari tempat itu.


“Lo gak papa?” Dafa


segera membatu Aktara berdiri, Aktara mengeleng cekap.


***


Diori berjalan cepat


membawa Sofi menuju mobilnya tangan kananya menyengkram lengan kiri Sofi kuat,


gadis itu meringis kesakitan, “Kak sakit.” gumam Sofi, Diori tidak peduli.


Diori terus diam saat


mereka sampai di rumah, bahkan saat makan malam Diori tidak berbicara sama

__ADS_1


sekali, Sofi juga tidak berniat memulai pembicaraan dia tahu kakaknya sedang


marah.


“Kalian kenapa?” Median


bertanya saat mereka sarapan Sofi mengeleng, sedangkan Diori hanya diam.


“Aku berangkat” Diori


berdiri menuju mobilnya, beberapa kali laki-laki itu menekan klaksonnya dengan


kesal, walau ia marah pada adiknya ia tidak akan mungkin membiarkan Sofi


berangkat sendirian. Sofi berlari menuju mobil Diori mereka hanya diam selama


dalam perjalanna menuju kampus tidak ada satupun yang memulai pembicaraan.


Selama di kelas Sofi


hanya diam, dia malas untuk memulai berbicara bersama teman-temannya termasuk


pada Anda dan Alif. Pikiranya semakin kalut, belum lagi gosip yang beredar yang


mengatakan Aktara bertengkar dengan Diori karena Aktara mencobah memacari Sofi


padahal itu salah besar atau mungkin benar?


“Sofi, kanti yuk!” Anda


menarik tangan sahabatnya, di ikuti Alif di belakang mereka, baru di depan


kantin Lisa sudah berteriak memangil mereka bertiga.


“Sofi, lo beneran


pacaran sama kak Tara?” Lisa bertanya dengan keponya, Sofi hanya bisa  mengeleng lemah.


“Kenapa kemaren Kak


Tara dan kak Dio berantem?” Lisa kepo lagi.


“Lis, lo bisa diem gak


sih.” Anda benar-benar kesal, dari tadi Anda berusaha keras menahan diri untuk


tidak menanyakan hal itu, ia lebih memilih Sofi bercerita langsung, tapi


sekarang Lisalah yang berkoar lebih dulu.


Lisa meringkuk ia takut


dengan tatapan tajam Anda, sedangkan Alif memilih diam, ia bukan tidak peduli


pada Sofi tapi Alif tahu betul Sofi tidak ingin di ganggu, gadis itu akan bercerita


kalau ia sudah tenang.


“Gue pesenin es jeruk


ya.” Alif berkata pada Sofi, gadis itu mengangguk pelan.


***


Diori berjalan bersama


Beny memasuki kantin, Lisa dan Anda tersenyum lebar melihatnya, Sofi hanya


menunduk ia tidak menyadari kehadiran kakaknya.


“Ini,” Alif meberikan


es jeruknya pada Sofi, gadis itu tidak berniat meminumnya, ia hanya


mengaduk-aduk gelas itu.


“Sini kalau gak mau


minum,” Diori mengambil gelas itu dan meminumnya santai, entah sejak kapan


laki-laki itu duduk di sampingnya Sofi benar-benar tidak menyadarinya.


“Kakak.” gumam Sofi


pelan, Diori tersenyum lembut lalu mengelus puncak kepalanya,


“Maafin kakak.” Diori


tidak akan bisa mendiamkan Sofi lebih dari dua puluh empat jam, bagi Diori Sofi


adalah harta paling berharaga dalam hidupnya, Diori akan terus menjaga adiknya


apapun yang terjadi.


Sofi mengangguk lemah, Sofi


benar-benar ingin menagis sekarang ia benar-benar merasa sedih semalaman ia

__ADS_1


tidak tidur memikirkan kejadian kemarin dimana Diori memukul Aktar, Aktara? Apa


yang terjadi padanya.


__ADS_2