
“Sofi cepat!” Dion berteriak keras dari balik pintu kamar mandi, hampir lima menit ia mengedor pintu itu, mengisyaratkan agar adiknya itu segerah menyesaikan mandinya,
“Kalau sampai hitungan ketiga gak keluar kakak dobrak pintunya!” Diori berteriak.
“Iya!!” Sofi menjerit kerasa dari dalam kamar mandi itu, ini semua karena ia bangun kesiangan tadi, wajar kalau Diori mengamuk.
“Satu... dua... ti-” Pintu kamar mandi itu terbuka, Sofi keluar dengan pakaian lengkap. Diori tidak bisa menahan tawanya, melihat buih sabun yang masih menempel di telingah adiknya, ia melempar handuk kekepala adiknya, kemudian mengosok-gosok telinga Sofi.
“Kalau mandi itu yang bersih.” bisik Doiri
“Habis kakak minta cepat sih.”Jawab Sofi yang tidak mau kala.
“Ayo cepat, kelasmu sebentar lagi mulai, kita akan telat.” Diori menarik tas adiknya, Sofi mengikuti langkah kakaknya dengan cepat.
“Papa mana?” gadis itu bertanya saat melewati daur yang kosong,
“Uda berangkat tadi, ambil rotinya satu, aku uda sarapan bareng Papa tadi.” Diori menjelaskan mereka terpaksa sarapan tanpa menunggu Sofi karena gadis itu masih molor tadi pagi.
***
“Cepat masuk, awas kalau besok telat lagi, kakak tinggal nanti!” Diori menginggatkan setelah menemukan kelas tempat Sofi akan belajar.
“Ya, kak maaf, Sofi gak akan telat besok.” Sofi menjawab dengan senyum indahnya.
Diori mengacak-acak puncak kepala adiknya membuat Sofi berteriak sebab ia sudah susah paya merapikan rambutnya tadi pagi, “Ala, rambut jelek gitu aja marah.” Diori mengejek sambil mengunci kepala adiknya tepat di ketiaknya.
Sofi berteriak lebih keras sekarang, ia berontak sekerasnya tapi gagal, Diori jauh
lebih kuat, ia kemudian mengigit tangan kakaknya. Diori meringis kesakitan, mengelus lenganya yang teasa nyeri, tampak cap bentuk gigi Sofi terukir di sana.
__ADS_1
“Sofi ini, sakit banget.” Diori masih meringis sambil memegang tanganya. Sofi bukanya menyesal ia malah menjulurkan lidahnya lalu masuk kekelas tanpa rasa bersalah ‘Sofi-Sofi, kau adik kakak satu-satunya, walau kamu jahil, tapi kakak sangat menyanganimu.’ Diori hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyol adiknya sebelum memutuskan untuk pergi menuju gedung falkultasnya
***
Ruang kelas itu sangat ramai, beruntung sofi tidak terlambat, baru saja ia duduk dan meletakakn tas di samping bangkunya dosen psikologinya memasuki kelas itu, laki-laki paru baya yang berumur sekitar lima puluh tahun dengan perut buntit dan kepalanya plontos di bagian depan hingga tengah kepala.
“Selamat pagi semuanya, saya ucapkan selamat datang di kampus ini, perkenalkan nama saya Ahmad Anwar, kalian bisa menyapa memanggil saya pak Anwar.” perkenalan itu berlangsung singkat.
Pak Anwar kemudian menjelaskan kesepatan bersama selama di kelasnya, yang pertama tidak boleh telat, kedua harus mengerjakan tugas tepat waktu dan tidak menjiplak pekerjaan orang lain. Sisanya sesuai ketentuan kampus itu seperti tidak boleh makan dan berisik selama pelajaran di langsungkan.
Pak Anwar mulai masuk pada materi pelajaran, menjelaskan sejarah psikologi, mengapa perlu belajar psikologi dan sebagainya. Setelah selesai pak Anwar mengambil absen “Alif Hermawan” pak Anwar memanggil siswa itu, dengan cepat Alif mengangkat tanganya.
“Saya pak.” jawab Alif mantap.
“Baiklah nak Alif tadi kita sudah belajar bersama tolong jelaskan kenapa kamu mengambil jurusan psikologi ini?” dosen itu bertanya dengan nada bisa tidak ada tekanan di sana, tapi tetap saja itu membuat semua murid berkeringat dan tegang.
Sofi melotot pada sahabatnya, “Ini bukan saat yang tepat untuk bercanda Alif!” gumam gadis itu di samping Anda.
“Baiklah yang namanya Sofi sahabat Alif tolong jelaskan mengapa kamu mengambil jurusan ini?” pak Anwar bertanya sekali lagi.
Sofi mengangkat tanganya dengan malas, ia bersumpah akan membalas Alif nanti, “Saya pak.” Anwar mengangguk dan memperlihatkan raut muka meminta penjelasan “Saya mengambil jurusan ini, karena, karena saya ingin tahu kakak saya gila atau tidak pak.” sekali lagi semua mirid kembali gaduh di ruangan itu, ada yang tertawa sambil memegangi perut dan ada juga yang membekap mulutnya agar tidak kelihatan gigi.
“Bisa di jelaskan lebih spesipik” Anwar bertanya sambil ******** senyum.
“Saya ingin tahu, kak Dio itu aneh, ia selalu populer semua orang memujanya bak dewa, memang sih kak Dio tampan dan pintar tapi saya ingin tahu lagi kenapa orang-orang jadi gila, apa karena tertular kak Dio atau bagaimana? karena itu saya mengambil jurusan ini” Sofi menjelaskan sesuatu yang tidak ada hubungan sama sekali.
“Selain itu, menurut saya psikologi bukan hanya menpelajari karakter orang lain tapi juga membantu saya mengenal diri saya sendiri. Apa saya juga gila atau mengalami gangguan psikologi karena hidup terlalu lama di kelilingi orang yang tidak terlalu waras menurut saya” tambah Sofi.
__ADS_1
Kali ini Anwar mengangguk, ia juga tahu bagaimana Diori sangat populer di kampus itu, selain itu Anwar juga sangat mengenal laki-laki itu dia sangat cerdasa dan baik, walau Anwar tidak pernah mengajar di kelas Diori, tapi muridnya yang satu itu sangat dekat hampir dengan semua dosen di sana.
“Baiklah cukup menarik.” Anwar mulai bertanya pada siswa lain dengan pertanyaan yang sama.
***
Aktara berjalan menuju ruang club lukisnya, sudah terdapat beberapa orang yang menunggunya, tampak beberapa adalah muka-muka baru yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Baikla kita akan mulai, saya Aktara ketua club ini, kalian boleh memanggilku Tara, ini ada Dafa wakil saya.” Aktara memperkenalkan sahabatnya ini pada semua anggota baru di sana.
“Jika ada yang ingin kalian tanyakan tentang club ini atau soal lukisan boleh tanya saya atau Dafa sama saja.” Aktara sengaja mengatakan itu karena ia tidak ingin semua orang berpikir hanya dia yang bisa diandalkan di sana, Aktara tidak pernah membedakan anggota clubnya, mereka mengelolahnya bersama, jadi mereka juga akan bertanggung jawab bersama dalam mengurus club itu.
“Di sini kita tidak terlalu serius, kita berkumpul disini karena hobi kita dan semoga kalian senang berbagi ilmu disini.” ucap laki-laki itu, kemudian semua mulai mengeluarkan beberapa pertanyaa, tentang lukisan dan ada juga yang mulai melukis dan mengambar objek apapun sesuka hati mereka karena tidak ada peraturan yang mengharuskan mereka mengambar sesuatu, mereka semua bebas berkreasi.
***
Sofi, Anda dan Alif baru saja keluar dari kelasanya karena jadwal pelajaran mereka sudah selesai untuk hari ini.
“Sofi, Alif, gue pulang dulu ya, sampai ketemu besok.” Anda kemudian pamit menuju parkiran.
“Lo gak pulang sekarang, mau gue anter ya?” tanya Alif karena Sofi tidak beranjak dari tempatnya.
“Maaf Lif, aku nunguin kak Dio, lo pulang duluan aja.” jawab Sofi.
“Mau gue temeni?” Alif tidak yakin meninggalkan Sofi sendiri.
“Gak usa, lagi pula nanti kak Dio dateng, sampai ketemu besok.” belum sempat Alif menjawab Sofi sudah berlari meninggalkannya.
“Oke, sampai ketemu besok.” gumam Alif kemudian pergi menuju parkiran Alif segerah pulang dengan motor metiknya.
__ADS_1