
Diori baru tiba di
rumah itu, semalaman ia tidak tidur dan sekarang sudah jam tujuh pagi? Diori
beralari memasuki rumah dengan tergesah-segah ia harus kekampus karena ada
persentasi walau ia sudah semester akhir tapi masih ada saja beberapa mata
kulia yang harus ia ikuti, Diori memberhentikan langkahnya saat melihat Aktara
baru saja terbangun dan duduk di sofa laki-laki itu masih mengusap mukahnya
dengan malas, Aktara masih sangat ngantuk pagi ini.
“Ta, kamu mandi gih,
aku akan siapin sarapan, kita ada persentasi di kelas jam setengah sembilan,”
Ucap Diori sambil menarik Aktara menuju kamarnya, “Kamu boleh pakai baju aku
dulu.” jelas Diori lalu pergi meninggalkan laki-laki itu sendiri.
Aktara melangkah
memasuki kamar itu yang di dominasi warna putih bersih, terdapat kasur
berukuran sedang, sebuah mejah belajar, sebuah lemari pakaian dan sebuah lemari
buku serta beberapa hadia yang Aktara berikan padanya.
“Didi, kamu nepati janji
kamu.” laki-laki itu bergumam, dulu Diori berjanji akan terus menyimpan barang
pemberian Aktara begitu juga sebaliknya, Aktara memasuki kamar mandi dengan
malas, ia masih mengantuk.
Setelah selesai mandi
Aktara membuka lemari Diori ia mengambil kaus berwarna putih dan sebuah cenaja
jins berwarna biru, Aktara tidak terlalu khawatir dengan ukuran karena postur
tubuh mereka sama.
“Jangan pakai CD yang
itu!” Diori berucap saat Aktara mengambil sebuah CD berwarna hitam, “Yang atas,
itu baru belum perna ku pakai.” Diori menunjuk, Aktara mengangguk, kemudian
Diori pergi ke kamar mandi untuk mandi.
***
Sofi keluar kamarnya
dengan mata bengkak, baru saja Diori membangunkannya dan menyuruhnya mandi
untuk pergi ke kampus, gadis itu hanya mengangguk ia tidak membantah sama
sekali, hatinya masih kacau begitu juga pikiranya, ia terus menayakan kondisi
papanya. Diori berjanji hari ini setelah pulang dari kampus mereka akan
mengunjungi papa mereka di kantor Polisi.
Sofi segera melanjutkan
pekerjaan Diori karena laki-laki itu mengatakan ingin mandi, tadi Diori telah
selesai memasak nasi goreng, Sofi di tugaskan untuk menggoreng telor mata sapi
sebagai pelengkapnya. Sofi telah menata nasi goreng dan telur di piring
masing-masing, untuk dirinya dan Diori.
Sofi masih diam di meja
makanya, ia menatap kursih yang kosong biasa tempat ayahnya duduk dan makan
bersama mereka, suara Diori membuyarkan lamunanya.
“Kok dua dek?” Sofi
menoleh pada Diori yang berjalan bersamaan dengan Aktara? ‘Apa kak Tara, sejak kapan kak Tara datang kok aku gak tau?’ Sofi
menautkan alisnya mentap mereka dengan bingung.
“Kamu makan itu, aku
siapin sarapan aku dulu.” Diori mengarahkan punggung Aktara untuk duduk di
hadapan Sofi, gadis itu bingung harus bahagia atau sedih sekarang, keinginannya
dan papa terkabul Diori kembali akrab dengan Aktara tapi sisi lain papanya harus berada di kantor
polisi sekarang.
“Kok gak di makan?”
Aktara membuyarkan lamunanya, Sofi hanya mengerijapkan mata tapi gadis itu
tidak menjawab sama sekali.
“Dek.” Diori menyentuh
bahu Sofi yang masih diam, gadis itu menoleh pada Diori dengan memasang wajah
datar. Diori mencobah tersenyum lembut pada Sofi memberikan semangat pada
adiknya, sebenarnya Diori sendiri sangat sedih, tapi jika ia terlihat bersedih
sekarang maka siapa yang akan menenangkan Sofi dan memberikan dukungan pada
adiknya.
“Kak papa uda sarapan
belum ya?” gumam Sofi, Aktara dan Diori langsung memberhentikan makanya, Sofi
masih memikirkan ayahnya.
“Pasti sayang, papa uda
sarapan kok, tadi papa nelpon kakak waktu di kamar, iya kan Ta.” Diori menyikut
Aktara.
__ADS_1
“Iya, Sof, aku denger
sendiri tadi.” Aktara menangapi kebohongan Diori.
“Kenapa papa gak nelpon
Sofi?” tanya gadis itu.
“Tadi mau nelpon kamu,
tapi pulsa papa habis. Uda makan ya, nanti pulang dari kampus kita jenguk Papa.”
ucap Diori menenangkan. Sofi mengangguk pelan, ia hanya memakan beberapa sendok
nasi goreng yang sangat enak, biasanya gadis itu selalu menghabiskannya, tapi
hari ini ia benar-benar tidak bernafsu.
***
Sofi melangkah ke
kelasnya dengan diam, ia sedang tidak ingin bicara atau membicarakan apapun
sekarang, sampai pergantian jam pelajaran Sofi masih diam,
“Sofi, kamu gak papa
kan?” Alif menghampiri gadis itu yang sedang melamun,
“Gak Lif.” jawab Sofi
malas.
“Ya ampun Sof mata lo
bengkak, lo habis nangis?” Anda menatapnya dengan prihatin, Sofi masih diam.
Lisa memasuki gedung
jurusan psikologi, dia merasa bosan di kantin sendirian sudah setengah jam
teman-temanya tidak datang, ia juga membawa beberapa minuman dan roti untuk
teman-temanya ‘Apa jurusan psikologi
selalu sibuk?’ batin Lisa.
“Sofi!” Lisa berteriak
dari luar pintu membuat beberapa orang menoleh padanya Lisa cuek dia memasang
cengiran kuda.
“Lisa.” Anda menatapnya
heran begitu juga dengan Alif, sedangkan Sofi masih diam.
“Kalian kemana aja sih,
kok gak kekantin? Gue sampai bosan nunggunya, ini cemilan buat kalian.” Lisa
menyodorkan kantung pastik pada Alif.
“Makas-” belum selesai
Alif berterimah kasih Lisa sudah mencerocos
kenapa? Mata lo bengkak, lo habis nangis ya? Ada masalah apa? Cerita dong gue
akan ada disini bantuin lo apapun masalahnya.” Lisa menatap khawatir.
Sofi tersenyum lemah,
“Gue gak papa kok, gue cuma kurang tidur.” jelas Sofi
“Lo jangan bohong Sof,
kalau ada apa-apa cerita sama kita”. Anda memotong, benar apa yang di katakan
Lisa mereka selalu ada untuk Sofi.
“And, gue gak apa-apa,
serius deh.” Sofi memasang senyum termanisnya yang tampak di paksakan. Ketiganya
tahu kalau Sofi sedang ada masalah, terutama Alif, hampir empat tahun ia kenal
Sofi gadis itu tidak pernah serapuh seperti sekarang ini sebelumnya. Tapi ia
tidak mau memaksa Sofi untuk menceritakan semuanya, gadis itu butuh waktu untuk
menenangkan diri.
Sofi berjalan sendiri
menujuh danau ia sedang menunggu Diori selesai dari kelasanya, tadi Anda sudah
pulang karena ada acarah keluaraga sedangkan Lisa langsung pulang setelah
keluar dari kelas Sofi karena kelasnya sudah selesi untuk jurusan Matematika,
sedangkan Alif menghilang?
“Ni.” Alif menyodorkan
air mineral pada Sofi, entah dari mana laki-laki itu datangnya, Sofi
menerimanya dan mengucapkan terikasih, keduanya masih diam memandang danau di
hadapan mereka.
“Kadang masalah datang
tanpa diundang,” Alif terkekeh atas ucapanya sendiri, Sofi menatap heran pada
sabahatnya “Maksud gue siapa juga yang mau ngundang masalah? Ngerepotin diri
sendiri aja, kayak gak ada kerjaan lain.” Alif kemudian diam karena Sofi juga
masih diam.
“Tapi ingatlah Tuhan
gak akan ngasih cobaan melebih kemampuan umatnya, jika Tuhan sedang memberi
cobaan atau masalah yang sedang lo hadapi, itu bearti lo sangat kuat untuk ngadepin
masalah itu, selain itu Tuhan juga nunjuki kalau dia sayang banget sama lo.”
__ADS_1
Sofi menatap Alif yang terlihat menerawang.
“Gue gak tau masalah
apa yang lo hadapin Sof, tapi inget gue selalu ada buat lo, begitu juga yang
lainya” Alif menarik napas dalam sejenak “Lo inget waktu kita SMA, semua orang
ngejek gue karena gue kepilih jadi ketua OSIS, mereka ngehina gue karena gue
berasal dari keluarga kurang manpu, dan Lo satu-satunya orang yang belain gue,
ngasih dukungan buat gue, walau waktu itu kita gak terlalu akrab, kita cuma
kenal sebagai teman sekelas, tahu nama juga karena guru ngabsen nama kita
masing-masing” Sofi tersenyum menatap sahabatnya, ia sangat ingat kejadian itu.
“Dan yang bikin gue
bertahan selama itu karena lo, gue inget saat temen-temen ngejek gue dan juga
bilang gue gak akan bisa jadi pemimpin yang baik. Lo bilang ke gue kalau
seorang pemimpin harus mempertangung jawabkan kepemimpinannya di akhirat kelak,
jujur gue bingung waktu itu lo dukung gue atau gak? Tapi lo bilang lagi ke gue,
jangan pernah mimpi untuk mimpin orang lain, kalau gue belum bisa mimpin diri gue
sendiri, kalau gue berhasil mimpin diri sendiri dengan gitu gue bakal bisa
mimpin orang lain, bahkan dunia. Gue selalu inget kata-kata lo itu sampai
sekarang pun gue masih berusaha mimpin diri gue untuk jadi lebih baik lagi.”
Alif tersenyum pada Sofi, begitupun sebaliknya, mereka tersenyum penuh maknah.
“Dan sekarang gue
balikin kata-kata lo dulu, lo harus mimpin diri lo untuk keluar dari masalah
itu. Gue yakin seorang yang berlarut-larut dalam masalahnya adalah orang yang
gak bisa mimpin dirinya dengan baik untuk keluar dari masalah itu.” jelas Alif.
“Lif, makasih ya, lo
sahabat gue, gue sayang sama lo.” Sofi mulai meneteskan air matanya.
“Gue juga sayang sama
lo Sof, jangan pernha merasa sendiran lagi, lo harus keluar dari maslah. Gue
gak akan pernah maksa lo untuk cerita sama gue masalah apa yang lo hadapi.”
Alif mencobah tersenyum lembut.
***
Diori melajukan
mobilnya dengan kecepatan sedang menujuh kantor Polisi, hampir dua jam mobil
itu melaju.
“Papa!” Sofi berteriak sambil berlari menujuh ayahnya
yang sedang berjalan menujuh arah mereka. Sofi dan Diori hanya bisa bertemu
ayahnya di ruang khusus untuk membesuk tahanan
“Sayang, kamu gak papa
kan?” ucap Median cemas, karena Sofi menangis terisak, “Pasti Didi gangguin
kamu terus ya? Sini biar papa hukum kakak kamu itu, dasar nakal” Ucap papanya
mengejek Diori, laki-laki itu mencobah tersenyum walau terlihat jelas genangan
air mata di sudut matanya.
“Maafin Didi pa, habis
Sofi nakal, masak gak mau makan masakan papa semalam.” cetus Diori.
“Kok gitu, Sofi kok gak
mau makan, papa udah capek loh masakin buat kalian, tau gitu papa gak akan
masak lagi ni.” Papapnya pura-pura marah.
“Engak pa, Sofi makan
kok, tapi dikit, Sofi gak napsu makan gak ada papa soalnya.” Jelas gadis itu
sambil terseduh. Mereka bercerita banyak hal seakan tidak terjadi apa-apa, Sofi
beberapa kali tertawa bersama Diori dan Papanya.
“Papa, gak ikut
pulang?” tanya Sofi setelah hampir satu jam mereka ngobrol.
“Maaf sayang, untuk
sementara papa masih tinggal di sini dulu, sebelum semuanya selesai, dan selama
papa di sini kamu harus nurut ya sama Didi. Jangan nakal, inget selalu jadi
anak papa yang baik, yang pinter, yang manis.” Sofi terkekeh mendengaranya,
Diori hanya mendengus pura-pura kesal, “Iget jaga diri ya di rumah Tata.”
papanya mengijapkan mata sebelah kirinya pada Sofi.
“Pa, aku masih disini
ya!” Diori berucap karena dari tadi dia merasa tidak diangap keberadaanya.
“Iya, kamu juga jaga
diri ya, inget kalian harus tahu diri tinggal di ruamh orang.” Ayahnya
menginggatkansekali lagi.
“Papa juga jaga diri di
sini, Sofi akan sering jenguk papa, nanti Sofi masakin makanan buat papa kalau
__ADS_1
ke sini lagi.” Sofi lalu memeluk ayahnya dengan erat begitu sebaliknya.