Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 17


__ADS_3

Diori baru tiba di


rumah itu, semalaman ia tidak tidur dan sekarang sudah jam tujuh pagi? Diori


beralari memasuki rumah dengan tergesah-segah ia harus kekampus karena ada


persentasi walau ia sudah semester akhir tapi masih ada saja beberapa mata


kulia yang harus ia ikuti, Diori memberhentikan langkahnya saat melihat Aktara


baru saja terbangun dan duduk di sofa laki-laki itu masih mengusap mukahnya


dengan malas, Aktara masih sangat ngantuk pagi ini.


“Ta, kamu mandi gih,


aku akan siapin sarapan, kita ada persentasi di kelas jam setengah sembilan,”


Ucap Diori sambil menarik Aktara menuju kamarnya, “Kamu boleh pakai baju aku


dulu.” jelas Diori lalu pergi meninggalkan laki-laki itu sendiri.


Aktara melangkah


memasuki kamar itu yang di dominasi warna putih bersih, terdapat kasur


berukuran sedang, sebuah mejah belajar, sebuah lemari pakaian dan sebuah lemari


buku serta beberapa hadia yang Aktara berikan padanya.


“Didi, kamu nepati janji


kamu.” laki-laki itu bergumam, dulu Diori berjanji akan terus menyimpan barang


pemberian Aktara begitu juga sebaliknya, Aktara memasuki kamar mandi dengan


malas, ia masih mengantuk.


Setelah selesai mandi


Aktara membuka lemari Diori ia mengambil kaus berwarna putih dan sebuah cenaja


jins berwarna biru, Aktara tidak terlalu khawatir dengan ukuran karena postur


tubuh mereka sama.


“Jangan pakai CD yang


itu!” Diori berucap saat Aktara mengambil sebuah CD berwarna hitam, “Yang atas,


itu baru belum perna ku pakai.” Diori menunjuk, Aktara mengangguk, kemudian


Diori pergi ke kamar mandi untuk mandi.


***


Sofi keluar kamarnya


dengan mata bengkak, baru saja Diori membangunkannya dan menyuruhnya mandi


untuk pergi ke kampus, gadis itu hanya mengangguk ia tidak membantah sama


sekali, hatinya masih kacau begitu juga pikiranya, ia terus menayakan kondisi


papanya. Diori berjanji hari ini setelah pulang dari kampus mereka akan


mengunjungi papa mereka di kantor Polisi.


Sofi segera melanjutkan


pekerjaan Diori karena laki-laki itu mengatakan ingin mandi, tadi Diori telah


selesai memasak nasi goreng, Sofi di tugaskan untuk menggoreng telor mata sapi


sebagai pelengkapnya. Sofi telah menata nasi goreng dan telur di piring


masing-masing, untuk dirinya dan Diori.


Sofi masih diam di meja


makanya, ia menatap kursih yang kosong biasa tempat ayahnya duduk dan makan


bersama mereka, suara Diori membuyarkan lamunanya.


“Kok dua dek?” Sofi


menoleh pada Diori yang berjalan bersamaan dengan Aktara? ‘Apa kak Tara, sejak kapan kak Tara datang kok aku gak tau?’ Sofi


menautkan alisnya mentap mereka dengan bingung.


“Kamu makan itu, aku


siapin sarapan aku dulu.” Diori mengarahkan punggung Aktara untuk duduk di


hadapan Sofi, gadis itu bingung harus bahagia atau sedih sekarang, keinginannya


dan papa terkabul Diori kembali akrab dengan Aktara tapi  sisi lain papanya harus berada di kantor


polisi sekarang.


“Kok gak di makan?”


Aktara membuyarkan lamunanya, Sofi hanya mengerijapkan mata tapi gadis itu


tidak menjawab sama sekali.


“Dek.” Diori menyentuh


bahu Sofi yang masih diam, gadis itu menoleh pada Diori dengan memasang wajah


datar. Diori mencobah tersenyum lembut pada Sofi memberikan semangat pada


adiknya, sebenarnya Diori sendiri sangat sedih, tapi jika ia terlihat bersedih


sekarang maka siapa yang akan menenangkan Sofi dan memberikan dukungan pada


adiknya.


“Kak papa uda sarapan


belum ya?” gumam Sofi, Aktara dan Diori langsung memberhentikan makanya, Sofi


masih memikirkan ayahnya.


“Pasti sayang, papa uda


sarapan kok, tadi papa nelpon kakak waktu di kamar, iya kan Ta.” Diori menyikut


Aktara.

__ADS_1


“Iya, Sof, aku denger


sendiri tadi.” Aktara menangapi kebohongan Diori.


“Kenapa papa gak nelpon


Sofi?” tanya gadis itu.


“Tadi mau nelpon kamu,


tapi pulsa papa habis. Uda makan ya, nanti pulang dari kampus kita jenguk Papa.”


ucap Diori menenangkan. Sofi mengangguk pelan, ia hanya memakan beberapa sendok


nasi goreng yang sangat enak, biasanya gadis itu selalu menghabiskannya, tapi


hari ini ia benar-benar tidak bernafsu.


***


Sofi melangkah ke


kelasnya dengan diam, ia sedang tidak ingin bicara atau membicarakan apapun


sekarang, sampai pergantian jam pelajaran Sofi masih diam,


“Sofi, kamu gak papa


kan?” Alif menghampiri gadis itu yang sedang melamun,


“Gak Lif.” jawab Sofi


malas.


“Ya ampun Sof mata lo


bengkak, lo habis nangis?” Anda menatapnya dengan prihatin, Sofi masih diam.


Lisa memasuki gedung


jurusan psikologi, dia merasa bosan di kantin sendirian sudah setengah jam


teman-temanya tidak datang, ia juga membawa beberapa minuman dan roti untuk


teman-temanya ‘Apa jurusan psikologi


selalu sibuk?’ batin Lisa.


“Sofi!” Lisa berteriak


dari luar pintu membuat beberapa orang menoleh padanya Lisa cuek dia memasang


cengiran kuda.


“Lisa.” Anda menatapnya


heran begitu juga dengan Alif, sedangkan Sofi masih diam.


“Kalian kemana aja sih,


kok gak kekantin? Gue sampai bosan nunggunya, ini cemilan buat kalian.” Lisa


menyodorkan kantung pastik pada Alif.


“Makas-” belum selesai


Alif berterimah kasih Lisa sudah mencerocos


kenapa? Mata lo bengkak, lo habis nangis ya? Ada masalah apa? Cerita dong gue


akan ada disini bantuin lo apapun masalahnya.” Lisa menatap khawatir.


Sofi tersenyum lemah,


“Gue gak papa kok, gue cuma kurang tidur.” jelas Sofi


“Lo jangan bohong Sof,


kalau ada apa-apa cerita sama kita”. Anda memotong, benar apa yang di katakan


Lisa mereka selalu ada untuk Sofi.


“And, gue gak apa-apa,


serius deh.” Sofi memasang senyum termanisnya yang tampak di paksakan. Ketiganya


tahu kalau Sofi sedang ada masalah, terutama Alif, hampir empat tahun ia kenal


Sofi gadis itu tidak pernah serapuh seperti sekarang ini sebelumnya. Tapi ia


tidak mau memaksa Sofi untuk menceritakan semuanya, gadis itu butuh waktu untuk


menenangkan diri.


Sofi berjalan sendiri


menujuh danau ia sedang menunggu Diori selesai dari kelasanya, tadi Anda sudah


pulang karena ada acarah keluaraga sedangkan Lisa langsung pulang setelah


keluar dari kelas Sofi karena kelasnya sudah selesi untuk jurusan Matematika,


sedangkan Alif menghilang?


“Ni.” Alif menyodorkan


air mineral pada Sofi, entah dari mana laki-laki itu datangnya, Sofi


menerimanya dan mengucapkan terikasih, keduanya masih diam memandang danau di


hadapan mereka.


“Kadang masalah datang


tanpa diundang,” Alif terkekeh atas ucapanya sendiri, Sofi menatap heran pada


sabahatnya “Maksud gue siapa juga yang mau ngundang masalah? Ngerepotin diri


sendiri aja, kayak gak ada kerjaan lain.” Alif kemudian diam karena Sofi juga


masih diam.


“Tapi ingatlah Tuhan


gak akan ngasih cobaan melebih kemampuan umatnya, jika Tuhan sedang memberi


cobaan atau masalah yang sedang lo hadapi, itu bearti lo sangat kuat untuk ngadepin


masalah itu, selain itu Tuhan juga nunjuki kalau dia sayang banget sama lo.”

__ADS_1


Sofi menatap Alif yang terlihat menerawang.


“Gue gak tau masalah


apa yang lo hadapin Sof, tapi inget gue selalu ada buat lo, begitu juga yang


lainya” Alif menarik napas dalam sejenak “Lo inget waktu kita SMA, semua orang


ngejek gue karena gue kepilih jadi ketua OSIS, mereka ngehina gue karena gue


berasal dari keluarga kurang manpu, dan Lo satu-satunya orang yang belain gue,


ngasih dukungan buat gue, walau waktu itu kita gak terlalu akrab, kita cuma


kenal sebagai teman sekelas, tahu nama juga karena guru ngabsen nama kita


masing-masing” Sofi tersenyum menatap sahabatnya, ia sangat ingat kejadian itu.


“Dan yang bikin gue


bertahan selama itu karena lo, gue inget saat temen-temen ngejek gue dan juga


bilang gue gak akan bisa jadi pemimpin yang baik. Lo bilang ke gue kalau


seorang pemimpin harus mempertangung jawabkan kepemimpinannya di akhirat kelak,


jujur gue bingung waktu itu lo dukung gue atau gak? Tapi lo bilang lagi ke gue,


jangan pernah mimpi untuk mimpin orang lain, kalau gue belum bisa mimpin diri gue


sendiri, kalau gue berhasil mimpin diri sendiri dengan gitu gue bakal bisa


mimpin orang lain, bahkan dunia. Gue selalu inget kata-kata lo itu sampai


sekarang pun gue masih berusaha mimpin diri gue untuk jadi lebih baik lagi.”


Alif tersenyum pada Sofi, begitupun sebaliknya, mereka tersenyum penuh maknah.


“Dan sekarang gue


balikin kata-kata lo dulu, lo harus mimpin diri lo untuk keluar dari masalah


itu. Gue yakin seorang yang berlarut-larut dalam masalahnya adalah orang yang


gak bisa mimpin dirinya dengan baik untuk keluar dari masalah itu.” jelas Alif.


“Lif, makasih ya, lo


sahabat gue, gue sayang sama lo.” Sofi mulai meneteskan air matanya.


“Gue juga sayang sama


lo Sof, jangan pernha merasa sendiran lagi, lo harus keluar dari maslah. Gue


gak akan pernah maksa lo untuk cerita sama gue masalah apa yang lo hadapi.”


Alif mencobah tersenyum lembut.


***


Diori melajukan


mobilnya dengan kecepatan sedang menujuh kantor Polisi, hampir dua jam mobil


itu melaju.


“Papa!”  Sofi berteriak sambil berlari menujuh ayahnya


yang sedang berjalan menujuh arah mereka. Sofi dan Diori hanya bisa bertemu


ayahnya di ruang khusus untuk membesuk tahanan


“Sayang, kamu gak papa


kan?” ucap Median cemas, karena Sofi menangis terisak, “Pasti Didi gangguin


kamu terus ya? Sini biar papa hukum kakak kamu itu, dasar nakal” Ucap papanya


mengejek Diori, laki-laki itu mencobah tersenyum walau terlihat jelas genangan


air mata di sudut matanya.


“Maafin Didi pa, habis


Sofi nakal, masak gak mau makan masakan papa semalam.” cetus Diori.


“Kok gitu, Sofi kok gak


mau makan, papa udah capek loh masakin buat kalian, tau gitu papa gak akan


masak lagi ni.” Papapnya pura-pura marah.


“Engak pa, Sofi makan


kok, tapi dikit, Sofi gak napsu makan gak ada papa soalnya.” Jelas gadis itu


sambil terseduh. Mereka bercerita banyak hal seakan tidak terjadi apa-apa, Sofi


beberapa kali tertawa bersama Diori dan Papanya.


“Papa, gak ikut


pulang?” tanya Sofi setelah hampir satu jam mereka ngobrol.


“Maaf sayang, untuk


sementara papa masih tinggal di sini dulu, sebelum semuanya selesai, dan selama


papa di sini kamu harus nurut ya sama Didi. Jangan nakal, inget selalu jadi


anak papa yang baik, yang pinter, yang manis.” Sofi terkekeh mendengaranya,


Diori hanya mendengus pura-pura kesal, “Iget jaga diri ya di rumah Tata.”


papanya mengijapkan mata sebelah kirinya pada Sofi.


“Pa, aku masih disini


ya!” Diori berucap karena dari tadi dia merasa tidak diangap keberadaanya.


“Iya, kamu juga jaga


diri ya, inget kalian harus tahu diri tinggal di ruamh orang.” Ayahnya


menginggatkansekali lagi.


“Papa juga jaga diri di


sini, Sofi akan sering jenguk papa, nanti Sofi masakin makanan buat papa kalau

__ADS_1


ke sini lagi.” Sofi lalu memeluk ayahnya dengan erat begitu sebaliknya.


__ADS_2