Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS- 29


__ADS_3

Hari


ini sebuah undangan datang di kediaman Sofi, undangan pernikahan Aktara dan


Melisa, Diori menatap sedih Adik perempuanya, Sofi tersenyum lemah setelah


membaca undangan itu, walau Sofi terlihat baik-baik saja dan tapi Diori tahu


Sofi mencobah menyembunyikana semuanya.


“Kak aku mau beli kado


ya, buat kak Tara.” ucap Sofi kemudian pamit meninggalkan Diori, Diori hanya


bisa menangis melihat Sofi yang sangat rapuh.


Sofi berkeliling mall


sendirian, ia tampak binggung ingin membelikan kado apa yang pantas untuk


Aktara dan Melisa pilihanya jatuh pada Matryoshka boneka kayu khas Rusia yang


berwarna-warni.


Sofi juga langsung


membungkus kado itu di toko itu, ia juga meminta tokoh itu mengirimkanya ke


alamat rumah Aktara pada hari pernikahanya nanti.


Sofi berjalan menuju


halte bus di depan mall itu, gadis itu berdiri sediri menunggu bus datang, memang


agak sepi karena ini jam 11 siang, tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti


di sana, dua orang pria turun dari mobil itu sambil membawa ponsel.


“Maaf mbak, saya mau


tanya alamat ini di mana ya?” ucap salah seorang laki-laki berbaju hitam dengan


tubuh tinggi.


Gadis itu melihat


memperhatikan alamat yang tertulis di sana “Maaf mas saya-“ kalimatnya


terpotong saat ia merasakan salah seorang membekap mulutnya dari belakang, Sofi


sempat memberontak, tapi tiba-tiba semua gelap.


***


Ruangan itu tampak


putih dan bau obat sangat menyengat di sana, Sofi membuka matanya semua


tubuhnya terasa sakit, pakainanya juga telah berubah, gadis itu mengenakan


pakaian pasien khas rumah sakit.


Seorang laki-laki menatapnya


cemas, “Kak Dafa,” bisik Sofi pelan.


“Hai, kamu istirahat


aja dulu, Diori sebentar lagi datang, aku suda telpon tadi.” jawab Dafa


tersenyum lembut.


“Kak apa yang terjadi?”


Dafa tidak bisa menjawab, dia terdiam sesaat lalu tersenyum.


“Kamu tenang, aja semua


akan baik-baik aja, aku mau nemuin dokter sebentar ya.” Dafa kemudian berlalu


meninggalkan Sofi.


Sofi bangun perlahan ia


ingin sekali pergi ke kamar mandi, perutnya terasa ngilu, ia melangkah perlahan


saat merasa bagian pangkal pahanya terasa sakit, Sofi memasuki kamar mandi dengan


mengeret tiang infus sebagai peganganya, gadis itu terdian sejenak saat merasa


bagian peribadinya nyeri dan bengkak dan membiru, gadis itu juga membuka


bajunya terdapat banyak bekas klimaks di dadanya dan lenganya yang sangat


banyak.


Gadis itu merasa sesak


pada dadanya, jantungnya berdetak sangat cepat, tapi ia tidak bisa menginggat


kejadian itu sama sekali, kakinya terasa lemas, tiba-tiba Sofi tidak sadarkan


diri.


***

__ADS_1


Diori segera ke rumah


sakit, saat mendapat telpon dari Dafa, “Dafa apa yang terjadi?” ucap Diori


dengan cemas. Dafa yang berada di lobi segera menghampiri sahabatnya itu, Dafa


sangat tahu Diori sangat menyayangi adiknya.


“Dio maafin gue, tadi


gue nemui Sofi di pinggir jalan deket taman kota, kondisinya benar-benar kacau,


Sofi tidak sadarkan diri dan pakainya tidak karuan.”


Flas Back On


Sebuah mabil berjalan


pelan, hari ini rencananya Dafa ingin pergi ke rumah salah satu keluarganya di


kawasan Jakarta Pusat, tapi mobil itu terhenti saat melihat seorang wanita


sedang tergeletak, di dekat pohon tidak jauh dari taman, memang kondisana


selalu sepi, kalau pagi akan ada beberapa pekerja pembersih jalan yang


membersihkan daun di sekitar sana, tapi sekarang sudah menjelang magrib mana


ada pembersih jalan.


Dafa menepikan


mobilnya, laki-laki itu sempat tertegu melihat wanita itu, kondisinya sangat


mengenaskan, semua bajunya robek bahkan meperlihatkan bagian dadanya, Dafa


dengan cepat melepas jaketnya, menutupi tubuh gadis itu, ia segera memeriksa


nadinya dan masih terasa detaknya walau lemah, Dafa menyingkirkan rambut yang


menutupi wajah wanita itu, betapa terkejutnya saat ia tahu itu siapa  “Ya tuhan,


Sofi.” dengan cepat Dafa membawanya ke rumah sakit.


“Dokter, saya mohon


tolong, cepat!” Dafa berteriak sambil mengendong Safi di kedua lenganya.


Hampir satu jam Dafa


duduk di depan UGD menunggu dokter itu keluar, “Bagaiman kondosinya?” Dafa


bertanya pada dokter yang baru keluar dari ruangan itu.


pasien?”


“Saya teman kakaknya,


kakaknya sedang menuju kesini saya telah menghubunginya.” Jelas Dafa.


“Bisahkan kita bicara


di ruangan saya,” Dokter itu membawa Dafa ke ruanganya


“Pasien mengalami


pelecehan seksual.” jelas dokter itu membuat Dafa terteguh.


“Ya tuhan, saya akan


lapor polisi.” jelas Dafa dan di jawab angukan dari dokter itu.


Flas Back Of


***


Diori terdiam sesaat


mendengar kondisi Sofi setelah dokter menjelaskan semuanya, “Gue kakak yang gak


becus.” gumam Diori, air mata laki-laki itu menetes perlahan,  “Gue gak bisa jagin adik gue.” Dafa segera


menepuk bahu Diori memberikan dukungan.


“Gak, Dio lo kakak yang


baik buat Sofi, musibah seperti ini bisa menimpah siapa aja di luar sana.” Dafa


benar-benar kasiha, ia bisa merasakan kesedihan seorang kakak yang tahu adiknya


di perkosa. “Tenangi diri lo, gue akan bantu sebisa gue, gue uda hubungi paman


gue untuk mengani kasus ini” tambah Dafa.


Dafa mendorong kursih


roda Diori membawanya menuju kamar Sofi, tapi gadis itu tidak ada tempat


tidurnya, Dafa segera menelusuri kamar itu, ia menemukan Sofi yang tergeletak


tidak sadarkan diri di kamar mandi “Sofi!” Diori berteriak.


Dengan sigap Dafa mengangkat


tubuh gadis itu membaringkanya di tempat tidur, “Tunggu sebentar, gue panggil

__ADS_1


dokter.” Dafa segera berlari menginggalkan ruangan itu.


Diori hanya bisa


menangis menlihat kondisi adiknya yang sangat lemah tangannya segera


mengancingkan kancing baju adiknya, ia tahu pasti Sofi sangat syok sekarang.


“Maafin kakak dek,


kakak gak bisa jaga kamu dengan baik.” bisiknya mengelus kepala adiknya,


menyesal. Bersalah, marah itu lah yang Diori rasakan terhadap dirinya sendiri.


Tidak berapa lama


dokter datang, memeriksa kondisi Sofi, “Sofi masih syok, saya mohon bantuanya


untuk menenangkan Sofi, jangan mengingatkan kejadian itu pada pasien, itu akan


membuat kondisinya semakin buruk.” jelas sang dokter kemudian pergi


meninggalkan ruangan itu.


***


“Hai dek, uda bangun.”


Diori tersenyum lembut pada Sofi.


“Kak, Sofi kotor,”


gumam gadis itu liri, ia langsung menangis.


“Sayang, semua akan


baik-baik saja kakak disini, oke.” Diori mengengam tangan adiknya erat, Sofi


tersenyum lembut mencobah kuat atas kejadian itu tapi sebenarnya tidak hatinya


berkata lain, ia tidak kuat atas musibah yang datang bertubuh-tubih padanya.


Sudah tiga hari Sofi di


rumah sakit, tidak seharipun ia meninggalkan adiknya di ruangan itu, Dafa dan


Jesy selalu datang membawakan pakaian dan makanan untuk Diori dan Sofi, mereka


bersikap seolah tidak terjadi apa-apa sebisa mungkin tidak membuka luka itu.


“Kak Jesy, Sofi mau


masuk kekampus minggu depan kan ujian semester.” Diori terdiam sesaat


mendengarnya, ia terus berusaha tegar.


“Aku akan jemput.” Dafa


menyelah.


“Oke, kakak juga mau memuin


dosen.” Jesy menjelaskan padahal mereka tidak ada urusan untuk ke kampus lagi,


mengingat Jesy telah selesai melakukan ujian kelulusan, mereka hanya tinggal


menunggu acara wisuda. Jesy hanya ingin menemani Sofi selama ujian.


***


“Inget, jawab ujianya


yang bener,” Diori mengingatkan adiknya itu, walau Diori tahu Sofi sangat rapu,


ia seakan mendapat sedikit harapa saat Sofi mengatakan ingin kulia lagi.


“Kak, Anda, Lisa sama


Alif kok gak dateg ya?” Gerutu Sofi. Diori menyembunyikan semuanya, Alif dan


Anda sempat menelpon Diori menanyakan Sofi mengapa gadis itu tidak masuk ke kampus,


Diori menjelaskan kalau adiknya sedang ke Bandung menginap di rumah keluarga ayahnya,


Diori sengaja membohongi mereka. Diori berniat membelikan ponsel baru setelah


Sofi keluar dari rumah sakit karena ponsel Sofi hilang saat kejadian itu.


“Kak kapansih bisa


jalannya, betah banget duduk di kursih roda” Sofi mengomel setelah tidak


mendapat jawabab dari Diori atas pertanyaan nya sebelumnya.


“Kamu ini ngejekin


kakak, dokter bilang kakak minggu depan mungkin uda bisa pakai tongkat kok.”


Jelas Diori, Sofi mengangguk cepat.


“Cepat sembuh ya kak.”


 “Pasti sayang, makasih ya do’anya.” balas


Diori.

__ADS_1


__ADS_2