
Hari
ini sebuah undangan datang di kediaman Sofi, undangan pernikahan Aktara dan
Melisa, Diori menatap sedih Adik perempuanya, Sofi tersenyum lemah setelah
membaca undangan itu, walau Sofi terlihat baik-baik saja dan tapi Diori tahu
Sofi mencobah menyembunyikana semuanya.
“Kak aku mau beli kado
ya, buat kak Tara.” ucap Sofi kemudian pamit meninggalkan Diori, Diori hanya
bisa menangis melihat Sofi yang sangat rapuh.
Sofi berkeliling mall
sendirian, ia tampak binggung ingin membelikan kado apa yang pantas untuk
Aktara dan Melisa pilihanya jatuh pada Matryoshka boneka kayu khas Rusia yang
berwarna-warni.
Sofi juga langsung
membungkus kado itu di toko itu, ia juga meminta tokoh itu mengirimkanya ke
alamat rumah Aktara pada hari pernikahanya nanti.
Sofi berjalan menuju
halte bus di depan mall itu, gadis itu berdiri sediri menunggu bus datang, memang
agak sepi karena ini jam 11 siang, tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti
di sana, dua orang pria turun dari mobil itu sambil membawa ponsel.
“Maaf mbak, saya mau
tanya alamat ini di mana ya?” ucap salah seorang laki-laki berbaju hitam dengan
tubuh tinggi.
Gadis itu melihat
memperhatikan alamat yang tertulis di sana “Maaf mas saya-“ kalimatnya
terpotong saat ia merasakan salah seorang membekap mulutnya dari belakang, Sofi
sempat memberontak, tapi tiba-tiba semua gelap.
***
Ruangan itu tampak
putih dan bau obat sangat menyengat di sana, Sofi membuka matanya semua
tubuhnya terasa sakit, pakainanya juga telah berubah, gadis itu mengenakan
pakaian pasien khas rumah sakit.
Seorang laki-laki menatapnya
cemas, “Kak Dafa,” bisik Sofi pelan.
“Hai, kamu istirahat
aja dulu, Diori sebentar lagi datang, aku suda telpon tadi.” jawab Dafa
tersenyum lembut.
“Kak apa yang terjadi?”
Dafa tidak bisa menjawab, dia terdiam sesaat lalu tersenyum.
“Kamu tenang, aja semua
akan baik-baik aja, aku mau nemuin dokter sebentar ya.” Dafa kemudian berlalu
meninggalkan Sofi.
Sofi bangun perlahan ia
ingin sekali pergi ke kamar mandi, perutnya terasa ngilu, ia melangkah perlahan
saat merasa bagian pangkal pahanya terasa sakit, Sofi memasuki kamar mandi dengan
mengeret tiang infus sebagai peganganya, gadis itu terdian sejenak saat merasa
bagian peribadinya nyeri dan bengkak dan membiru, gadis itu juga membuka
bajunya terdapat banyak bekas klimaks di dadanya dan lenganya yang sangat
banyak.
Gadis itu merasa sesak
pada dadanya, jantungnya berdetak sangat cepat, tapi ia tidak bisa menginggat
kejadian itu sama sekali, kakinya terasa lemas, tiba-tiba Sofi tidak sadarkan
diri.
***
__ADS_1
Diori segera ke rumah
sakit, saat mendapat telpon dari Dafa, “Dafa apa yang terjadi?” ucap Diori
dengan cemas. Dafa yang berada di lobi segera menghampiri sahabatnya itu, Dafa
sangat tahu Diori sangat menyayangi adiknya.
“Dio maafin gue, tadi
gue nemui Sofi di pinggir jalan deket taman kota, kondisinya benar-benar kacau,
Sofi tidak sadarkan diri dan pakainya tidak karuan.”
Flas Back On
Sebuah mabil berjalan
pelan, hari ini rencananya Dafa ingin pergi ke rumah salah satu keluarganya di
kawasan Jakarta Pusat, tapi mobil itu terhenti saat melihat seorang wanita
sedang tergeletak, di dekat pohon tidak jauh dari taman, memang kondisana
selalu sepi, kalau pagi akan ada beberapa pekerja pembersih jalan yang
membersihkan daun di sekitar sana, tapi sekarang sudah menjelang magrib mana
ada pembersih jalan.
Dafa menepikan
mobilnya, laki-laki itu sempat tertegu melihat wanita itu, kondisinya sangat
mengenaskan, semua bajunya robek bahkan meperlihatkan bagian dadanya, Dafa
dengan cepat melepas jaketnya, menutupi tubuh gadis itu, ia segera memeriksa
nadinya dan masih terasa detaknya walau lemah, Dafa menyingkirkan rambut yang
menutupi wajah wanita itu, betapa terkejutnya saat ia tahu itu siapa “Ya tuhan,
Sofi.” dengan cepat Dafa membawanya ke rumah sakit.
“Dokter, saya mohon
tolong, cepat!” Dafa berteriak sambil mengendong Safi di kedua lenganya.
Hampir satu jam Dafa
duduk di depan UGD menunggu dokter itu keluar, “Bagaiman kondosinya?” Dafa
bertanya pada dokter yang baru keluar dari ruangan itu.
pasien?”
“Saya teman kakaknya,
kakaknya sedang menuju kesini saya telah menghubunginya.” Jelas Dafa.
“Bisahkan kita bicara
di ruangan saya,” Dokter itu membawa Dafa ke ruanganya
“Pasien mengalami
pelecehan seksual.” jelas dokter itu membuat Dafa terteguh.
“Ya tuhan, saya akan
lapor polisi.” jelas Dafa dan di jawab angukan dari dokter itu.
Flas Back Of
***
Diori terdiam sesaat
mendengar kondisi Sofi setelah dokter menjelaskan semuanya, “Gue kakak yang gak
becus.” gumam Diori, air mata laki-laki itu menetes perlahan, “Gue gak bisa jagin adik gue.” Dafa segera
menepuk bahu Diori memberikan dukungan.
“Gak, Dio lo kakak yang
baik buat Sofi, musibah seperti ini bisa menimpah siapa aja di luar sana.” Dafa
benar-benar kasiha, ia bisa merasakan kesedihan seorang kakak yang tahu adiknya
di perkosa. “Tenangi diri lo, gue akan bantu sebisa gue, gue uda hubungi paman
gue untuk mengani kasus ini” tambah Dafa.
Dafa mendorong kursih
roda Diori membawanya menuju kamar Sofi, tapi gadis itu tidak ada tempat
tidurnya, Dafa segera menelusuri kamar itu, ia menemukan Sofi yang tergeletak
tidak sadarkan diri di kamar mandi “Sofi!” Diori berteriak.
Dengan sigap Dafa mengangkat
tubuh gadis itu membaringkanya di tempat tidur, “Tunggu sebentar, gue panggil
__ADS_1
dokter.” Dafa segera berlari menginggalkan ruangan itu.
Diori hanya bisa
menangis menlihat kondisi adiknya yang sangat lemah tangannya segera
mengancingkan kancing baju adiknya, ia tahu pasti Sofi sangat syok sekarang.
“Maafin kakak dek,
kakak gak bisa jaga kamu dengan baik.” bisiknya mengelus kepala adiknya,
menyesal. Bersalah, marah itu lah yang Diori rasakan terhadap dirinya sendiri.
Tidak berapa lama
dokter datang, memeriksa kondisi Sofi, “Sofi masih syok, saya mohon bantuanya
untuk menenangkan Sofi, jangan mengingatkan kejadian itu pada pasien, itu akan
membuat kondisinya semakin buruk.” jelas sang dokter kemudian pergi
meninggalkan ruangan itu.
***
“Hai dek, uda bangun.”
Diori tersenyum lembut pada Sofi.
“Kak, Sofi kotor,”
gumam gadis itu liri, ia langsung menangis.
“Sayang, semua akan
baik-baik saja kakak disini, oke.” Diori mengengam tangan adiknya erat, Sofi
tersenyum lembut mencobah kuat atas kejadian itu tapi sebenarnya tidak hatinya
berkata lain, ia tidak kuat atas musibah yang datang bertubuh-tubih padanya.
Sudah tiga hari Sofi di
rumah sakit, tidak seharipun ia meninggalkan adiknya di ruangan itu, Dafa dan
Jesy selalu datang membawakan pakaian dan makanan untuk Diori dan Sofi, mereka
bersikap seolah tidak terjadi apa-apa sebisa mungkin tidak membuka luka itu.
“Kak Jesy, Sofi mau
masuk kekampus minggu depan kan ujian semester.” Diori terdiam sesaat
mendengarnya, ia terus berusaha tegar.
“Aku akan jemput.” Dafa
menyelah.
“Oke, kakak juga mau memuin
dosen.” Jesy menjelaskan padahal mereka tidak ada urusan untuk ke kampus lagi,
mengingat Jesy telah selesai melakukan ujian kelulusan, mereka hanya tinggal
menunggu acara wisuda. Jesy hanya ingin menemani Sofi selama ujian.
***
“Inget, jawab ujianya
yang bener,” Diori mengingatkan adiknya itu, walau Diori tahu Sofi sangat rapu,
ia seakan mendapat sedikit harapa saat Sofi mengatakan ingin kulia lagi.
“Kak, Anda, Lisa sama
Alif kok gak dateg ya?” Gerutu Sofi. Diori menyembunyikan semuanya, Alif dan
Anda sempat menelpon Diori menanyakan Sofi mengapa gadis itu tidak masuk ke kampus,
Diori menjelaskan kalau adiknya sedang ke Bandung menginap di rumah keluarga ayahnya,
Diori sengaja membohongi mereka. Diori berniat membelikan ponsel baru setelah
Sofi keluar dari rumah sakit karena ponsel Sofi hilang saat kejadian itu.
“Kak kapansih bisa
jalannya, betah banget duduk di kursih roda” Sofi mengomel setelah tidak
mendapat jawabab dari Diori atas pertanyaan nya sebelumnya.
“Kamu ini ngejekin
kakak, dokter bilang kakak minggu depan mungkin uda bisa pakai tongkat kok.”
Jelas Diori, Sofi mengangguk cepat.
“Cepat sembuh ya kak.”
“Pasti sayang, makasih ya do’anya.” balas
Diori.
__ADS_1