
“Ahk..!” Sofi berteriak saat bangun
tidur, ia melihat kamar yang asing, ini bukan kamar Sofi pastinya.
“Ada apa?” Anisa memasuki kamar itu lalu memeluk tubuh Sofi, ia sangat
terkejut saat mendengar suara teriakan tadi.
“Tanten Sofi, kok bisa di sini, ini kamar siapa?” Sofi menatap bingung
“Ini kamar Tata,” jawab Anisa. Seketika mata Sofi membulat, ia tidak
bisa membayangkan apa yang terjadi tadi malam, tapi tiba-tiba Sofi tersenyum
membayangkan ia tidur bersama Aktara.
Aktara melangkah bersama Diori menuju kamar itu, keduanya tampak masih
mengantuk. Aktara ke kamar itu tentu saja untuk mandi dan berganti pakaian. Sedangkan,
Diori ke kamar itu ingin mebangunkan Sofi, karena gadis itu sulit untuk bangun
pagi, jadi sudah kebiasaan Diori untuk membangunkanya.
“Pagi Ma, pagi Sofi.” ucap Aktara lalu pergi ke kamar mandi.
“Pagi tante, dek mandi gih, kamukan mau ujian semester.” Diori
menginggatkan.
Sofi menatap heran pada dua laki-laki itu, begitu juga dengan Anisa,
keduanya saling bertatapan seakan bertanya, apa mereka tidur bersama “Ya Tuhan!” ucap Anis dan Sofi bersamaan.
***
Sofi dan Anisa memandangi Diori dan Aktara yang makan bersebelahan,
mereka tampak biasa saja tapi terlihat cocok duduk bersebelahan seperti
sepasang kekasih, Anis dan Sofi mengeleng bersamaan.
“Ada apa?” Abraham berucap setelah melihat tingkah aneh Sofi dan Anisa.
“Tidak ada om.” ucap Sofi lalu memandangi Diori dan Aktara lagi, kedua
laki-laki itu saling berpandangan satu sama lain lalu tersenyum, Anisa dan Sofi
yang melihat itu meringis memasang wajah aneh.
“Pa, sepertinya kita harus menikahkan Tata sepepatnya.” Anisa berucap.
“Setuju!” jawab Abraham dan Aktara bersamaan, Diori mengeleng bersamaan
dengan Sofi. ‘Bagus kakakku juga tidak
setujuh dengan pernikahan mereka.’ gumam Sofi.
Sofi memperhatikan keakraban Diori dan Aktara, mereka seperti sepasang
kekasih kemana-mana bersama selalu bersama, itu membuat Sofi cemburu dan agak
aneh, ‘Apa kakak ku beneran gay? Tapi gak
mungkin, kakak kan dulu sempat pacaran sama cewek, tapikan itu dulu lima tahun
lalu, atau mungkin gara-gara kelamaan jomblo makanya kak Dio berubah jadi
penyuka sesama jenis?’ Sofi mengeleng-mengengkan kepalangnya
“Ahhhhhhhhhhhhh...
gak mungkin!”
***
“Sofi lo kenapa?” Lisa menghampiri Sofi yang dari tadi tidak terlalu
fokus dengan latihan karatenya.
“Lis, lo kan suka sama kakak gue, alis ngefans gitu, menurut lo kak Dio
itu suka sama cewek gak sih?”
“Maksud lo apa?”
“Kak Dio itu kayaknya gak suka cewek lagi dek?” Lisa tertawa
mendengarnya, lalu berucap “Gak mungkin Sof, lo ada-ada aja sih.”
Sofi kembali melakukan latihan karate sampai selesai, Sofi melihat Jesy
dari kejahuan, gadis itu duduk memperhatikan Diori yang sedang bercanda dengan
Aktara.
***
“Hai kakak ipar,” Sofi duduk di samping Jesy, gadis itu langsung
berbungga-bungga mendengar panggilan Sofi, “Kakak lihat apa?”
“Eh, gak, gak liat apa-apa kok” elak Jesy setenang mungkin.
“Kakak liat kak Dio ya?” mendadak muka Jesy bersemu merah, “Kak, coba
deh kakak liat, menurut kakak, kak Dio sama kak Tara, kayak -”
“Pacaran,” potong Jesy, Sofi langsung menatap Jesy ternyata pikiran
mereka sama .Keduanya saling mengangguk satu sama lain. “Kita harus mastiin itu
Sof, gue gak mau Diori gue suka Tara.” Gumam Jesy
“Setujuh kak, aku juga gak mau kak Dio ngedeketi kak Tara.” keduanya
lalu berjabat tangan.
***
Sofi, mengirimkan pesan tingkat untuk dan Aktara, mereka hari ini
berjanji bertemu di salah satu kafe
tempat biasa Jesy biasa ngumpul bersama teman-temanya, ini semua adalah ide
Jesy mereka ingin memastikan bahwa keduanya tidak pacaran. Jesy sudah duduk
selama sepuluh menit menunggu Sofi, Diori dan Aktara.
Sofi terlambat datang karena tadi gadis itu harus ke dokter gigi untuk
melepas behel giginya, karena menurut Aktara dan Diori, Sofi tidak membutuhkan
itu lagi, sebab Diori dan Aktara akan menjaganya dari godaan laki-laki hidung
belang yang menganggunya, jadi mulai sekarang Sofi tidak harus berpenampilan
cupu dengan behel gigi atau kaca mata besar.
“Cantik.” ucap Aktara saat Sofi keluar dari ruang dokter gigi dan
memerkan deretan gigi rata dan putih miliknya.
“Tentu saja cantik, adik gue.” Diori memeluk adiknya hangat, Aktara
mendengus kesal melihat mereka berdua.
***
__ADS_1
“Hai, kak maaf telat,” ucap Sofi lalu duduk di samping Jesy, saat mereka
sudah tiba di sebuah cafe tempat yang Jesy janjikan sebelumnya. Aktara dan
Diori duduk di depan mereka, tepatnya Diori duduk di hadapan Jesy sedangkan
Aktara duduk di hadapan Sofi. Setelah memesan, mereka mengobrol beberapa hal,
tidak lama pesanan mereka datang.
“Di, jangan kasih lada lagi, nanti kepedesan loh.” Aktara menginggatkan,
Diori cuma bisa nyengir kuda, Sofi dan Jesy menautka dua alisnya melihat mereka
layaknya pasangan kekasih, mereka semua tahu jika Diori tidak suka pedas.
Diori dan Aktara malah sibuk bercanda saat makan, seolah tidak
menganggap keberadaan Sofi dan Jesy.
“Kak bisa berhenti gak bercandanya, kita ini lagi makan loh.” cetus Sofi
seenaknya.
Keduanya langsung diam lalu menikmati makanan mereka, tiba-tiba seorang
wanita cantik dan tinggi baru saja
memasuki kafe itu dengan pakaian seksi dengan menonjolkan semua bagian
tubuhnya.
“Seksi ya,” gumam Jesy, Sofi mengangguk setujuh, keduanya merasa minder
dengan diri mereka sendiri.
“Biasa aja.” ucap Diori dan Aktara bersamaan, Sofi dan Jesy menautkan
alisnya sekali lagi, bagaimana bisa
Aktara dan Diori mengangap wanita yang cantik bak model itu biasa aja,
jangang-jangan benar kalau mereka telah berubah arah lebih suka sesama jenis.
“Kak Dio suka cewek kan?” Sofi berucap dengan takut-takut, Diori dan
Tara lalu tertawa mendengarnya, Diori lalu mengetuk-ngetuk dagunya memandang
Aktara dengan senyum mengodah begitu juga sebaliknya, itu membuat Sofi jijik
melihatnya.
“Tergantung?” jawab Diori
“Tergantung apa kak?” tanya Sofi penasaran.
“Ya, tergantung ceweknya gimana dulu, kalau cewek itu berani nembak ya,
nanti kakak pikirkan untuk menyukai cewek itu.” Diori lalu meminum jus jeruk
kesukaanya. Ia hanya ingin mempermainkan Sofi saat ini, itu adalah salah satu
upayanya balas dendam karena kemarin Sofi telah mengerjainya dengan kopi gurih.
“Di, aku cinta sama kamu,” Seketika Diori memuncatkan minumanya ke muka
Jesy, membuat gadis itu ingin menangis, Jesy hanya bisa mengangah sambil
menutup mulutnya, sedangkan Aktara tertawa lepas.
Diori mengambil beberapa tisu dan membersihkan muka Jesy lalu berkata “Maaf.”
Diori benar-benar tidak menyangkah jika Jesyakan mengatakan persaanya, tadi dia
hanya mengoda Sofi untuk membuat adiknya ini kesal, tidak ada meksud lain.
“Gak, papa kok, aku tahu kamu benci sama aku.” seketika Jesy beranjak
dari kursinya dan pergi meninggalkan mereka bertiga, Aktara langsung diam saat
terkejut atas penyataan cinta Jesy pada kakaknya.
Entah dorongan apa yang membuat Diori mengejar gadis itu, ia benar-benar
tidak menyangkah kalau Jesy akan marah karena kejadian tadi.
***
Diori dan Jesy duduk di dalam mobil milik Diori, laki-laki itu berhasil
menemukan Jesy yang sedasng berjalan sambil menangis, dengan sigap Diori
menarik Jesy masuk ke dalam mobilnya, walau Jesi sempat beberapa kali menolak
namun akhirnya mengikuti kemaun Diori, selama
dalam perjalannan keduanya diam, tapi Jesy terus menangis, hingga mereka sampai
di halaman rumah yang cukup besar hampir menyamai besarnya rumah Aktara.
“Jes, maafin aku. Sumpah aku tidak sengaja tadi, aku kaget denger kamu
ngomong itu.” Diori menjelaskan dengan penuh penyesalan.
“Aku gak, marah soal jus jeruk yang kamu muntahin kemuka aku, aku cuma
gak suka kamu suka sama Aktara, aku lebih ikhlas kalau kamu suka sama cewek
lain, tapi pleace jangan cowok.” Jesy membuka suarahnya setelah
hampir satu jam diam selama dalam perjalanan, mata wanita itu terus saja menangis walau tidak sejadi tadi.
“Maksud kamu apa?” Diori bingun dengan pernyataan Jesy yang mengahapus
air matanya dengan kasar, tapi gagal air mata itu terus keluar.
“Aku akan tetep jadi fans kamu kok apapun yang terjadi, tapi aku mohon
kamu jangan jadi gay.” mata Diori membulat mendengar perkataan Jesy, hampir
saja dia terbahak mendengar penuturan Jesy, susah paya Diori menahan senyumnya
terhadap Jesy.
Diori berpikir pantas saja Sofi akhir-akhir ini aneh, selalu membuntutinya
kemanapun, awalnya Sofi sendiri tapi akhir-akhir ini Jesy juga selalu bersama
Sofi membuntuti Diori dan Aktara.
“Aku tahu akau gak cantik, gak seksi, gak sepintar kamu, aku cuma
mph...” Diori tiba-tiba melumat bibir Jesy lembut, gadis itu membeku,
jantungnya seakan ingin melompat dari dadanya, ia masih tidak percaya apa yang
sedang terjadi ini seperti mimpi banginya ‘Apa
Diori menciumku?’
“Aku cinta sama kamu Jes.” Ucap Diori di setelah ciuman Jesy, ia
mengelus muka Jesy yang memerah dan masih basah karena air matanya tadi. Jari
tangan Diori dengan sabar menyapu sisa air mata itu sebelum Diori mencium Jesy
lagi dan gadis itu membalas ciuman itu, lama keduanya berciuman hingga
kehabisan napas.
__ADS_1
***
Di tempat lain, Aktara membawa Sofi pulang, sudah malam tapi Diori belum
juga pulang, Sofi duduk sendirian di tepi kolam, sambil merendamkan kakinya, ia
ingin sekali berenang tapi takut tengelam, mata Sofi sesekali melihat ke arah
gerbang rumah Aktar berharap kakanya itu pulang tapi sayangnya sepertinya Sofi
masih harus bersabar.
Aktar datang membawakanya segelas susu, lalu duduk di sampingnya, “Minum
dulu,” ucap Aktara, Sofi memandangi gelas susunya, ia takut Aktara akan
membalasnya nanti.
“Gak mau, kakak minum duluan aja.” tanpa basa basi Aktara menegak susu
itu
“Enak.” gumam Aktara, lalu memberikanya pada Sofi.
“Bener ya enak, awas aja kalu rasanya aneh,” jawab Sofi lalu meminum
susu itu dan benar saja susu itu enak tidak ada yang aneh di sana.
Aktara tertawa mendengar ucapanya “Hahaha, mana mungkin aku tega ngerjain
cewek yang aku cintai.”
Seketika Sofi memuntakah minumanya kearah kolam, beruntung tidak kemuka
Aktara seperti yang Diori lalukan “Kamu itu ya, sama kayak Didi.”
Aktara memutar wajah Sofi agar menghadapnya, tangan lak-laki itu
mengusap sudur bibir Sofi yang penuh cairan susu.
Sofi hanya diam mencobah menahan detak jantungnya yang tidak terkendali,
mata Sofi terus menatap mata hitam pekat milik Aktara, laki-laki itu juga
melakukan hal yang sama, sebuah senyuman terukir di bibir Aktara, laki-laki itu
mendekatkan wajahnya pada Sofi hingga sampai beberapa inci, bibir mereka
bersentuhan, Aktara melumat bibir Sofi lembut, awalnya Sofi hanya diam, lalu
membalas ciuman itu, sebenarnya Sofi binggung harus bagaimana, ia tidak
berpengalaman untuk masalah berciuman, karena ini ciuman pertamnaya.
“Aku mencintaimu Sofiku,” Aktara berucap setelah mereka menghentikan ciuman
itu karena kehabisan napas.
“Aku juga mencintai kakak.” jawab Sofi lalu menunduk, Aktar tersenyum
melihat tingkah Sofi yang malu-malu, ia bisa melihat pipi Sofi yang memerah,
laki-laki itu mengelus lembut pipi itu lalu menciumnya.
“Makasih sayang.” gumam Aktara, Sofi hanya mengangguk dua kali.
***
Diori berjalan cepat menuju kolam renang saat melihat Sofi bersender di
bahu Aktara, laki-laki itu juga memeluk pingang Sofi “Ta, gue belum kasih restu
lo sama adik gue!” cetus Diori lalu menarik Sofi membawa adik gadisnya ke kamar,
Aktara hanya terdiam menyaksikan kejadian yang sangat cepat itu.
“Gue perlu ngomong sama lo!”Diori berdiri diambang pintu kamar Aktara
“Oke, masuk.” jawab Aktara tenang berusaha menyembunyikan ke gugupanya
pada Diori, bagaimanapun Diori berbahaya jika sudah menyangkut Sofi.
“Gue gak akan ngizin lo pacaran sama Sofi adik gue, kalau lo cuma mau
maini dia. Lo tahu Sofi sangat berharga bagi gue, Sofi segalanya buat gue Ta!”
Diori berkata dengan tegas.
“Aku tahu Di, karena itu aku serius sama Sofi, aku gak akan nyakiti Sofi.”
jawab Aktara mantap dan penuh keyakinan.
“Kita liat aja nanti.” Diori pergi meninggalkan Aktar.
Sebenarnya Diori senang kalau misalnya Aktara serius dengan Sofi, ia
tahu siapa Aktara, laki-laki itu selalu setia dengan satu wanita, ia juga tidak
akan main-main kalau sudah mencintai seseorang, tapi entah mengapa ada sedikit
rasa khawatir dalam hati Diori, terlebih lagi masalah papanya belum selesai.
Hampir setiap hari Sofi dan Diori menginjungi papanya, kadang Aktara
juga ikut, begitu juga dengan Anisa dan Abraham mereka setiap akhir pekan
mengunjungi Median, sudah hampir dua bulan papanya di penjara, dan sampai
sekarang belum ada titik terang mengenai kasus itu.
***
“Sayang kamu mau kemana lagi?” Aktara bertanya, dari tadi mereka jalan
berdua dalam mall, Diori memberikan izin dengan syarat jam tujuh malam mereka
sudah ada di rumah, selain itu juga Diori sedang sibuk dengan Jesy saat ini,
mereka juga memulai hubungan yang sama seperti Aktara dan Sofi.
“Kita duduk di bangku taman aja ya kak,” jawab Sofi sambil tersenyum
lembut
“Kamu itu ya, masih aja manggil kakak, kan kita uda pacaran, uda
seminggu loh.” Aktara memanyunkan bibirnya pura-pura kesal, Sofi sangat suka
kalau Aktara sedang ngambek, laki-laki itu terlihat lucu.
“Terus apa dong, kak uda kebiasaan manggil kakak?” jawab Sofi sok suci
“Aku mau kamu mangil aku sayang juga oke,” Aktara memohon.
“Emmmm... oke deh, sayang.” Aktar benar-benar gemas dengan tingkah Sofi,
ia langsung melumat bibir Sofi, tidak peduli orang memperhatikan mereka. Sofi
mendorong dada Aktara untuk memberhentikan seranganya tapi tidak di pedulikan
laki-laki itu.
“Ih, mesum!” Sofi berteriak kesal, Aktara semakin cekikikan
mendengarnya.
Tanpa mereka sadari seorang wanita memperhatikan mereka dari jauh,
__ADS_1
wanita itu sangat cemburu dan iri. Mengapa Sofi, selalu bahagia, padahal ia
sudah menyuruh orang tuanya untuk memenjarakan ayahnya.