
Sofi masih sibuk
belajar di kelasanya bersama Anda dan Alif, mereka baru mendapat tugas kelompok
dari dosenya.
“Aku lapar.” Anda
berucap dari tadi mereka mengerjakan tugas kelompok tanpa henti sampai
melewatkan waktu makan siang.
Sofi mengeluarkan
beberapa coklat dari Melisa, tadi pagi Sofi membawa beberapa untuk di makan di
kampus, gadis itu tidak segan-segan untuk berbagi jika ia memiliki sesuatu yang
di butuhkan temanya,
“Ini,” Sofi menyodorkan
coklat pada Anda.
“Lo yakin ini untuk gue
Sofi?” mata Anda membulat saat melihat coklat itu terutama merek yang tertera
disana, itu merupakan salah satu merek coklat terkenal dan terutama sangat mahal,
Anda pernah mendapat coklat seperti itu saat ayahnya pergi tugas ke Amerika,
itupun hanya coklat berukuran kecil sedangkan Sofi memberinya sekotak coklat
berukuran besar.
“Ambil aja, gue juga
dapet gratis kok.” Sofi kemudian memberikan satu lagi untuk Alif, laki-laki itu
tidak berkomentar banyak ia langsung menerimanya.
“Makasih Sof.” ucap
laki-laki itu lalu membuka kotak coklat itu dan mengunyanya.
Anda masih diam, ia
seakan tidak rela untuk memakanya, tapi melihat Alif dan Sofi mulai memakan coklat
itu Anda akhirnya ikut menikmati coklat itu.
“Lif, lo tau gak harga
coklat ini berapa?”
“Gak tau, yang gue tau
ini gratis.” jawab Alif etang sambil terus mengunyah coklat di mulutnya.
“Dasar lo maunya yang
gratisan.” Anda mengejek.
“Uda makan aja,” Sofi
menenangkan
“Kira-kira satu juta,”
Anda berucap.
“Apanya yang satu juta?” Alif menautkan alisnya heran
“Coklat yang lo kunya
sekarang” Anda berucap, Sofi hanya mengeleng, ia tidak pernah memasalakan harga
itu, selama ia bisa untuk berbagi mengapa tidak. Lagi pula itu ia juga dapatkan
secara gratis.
“Uhuk, uhuk...” Alif
tersedak mendengarnya, “Lo seriu?” Anda mengangguk, Alif menatap Sofi lekat meminta
penjelasan tapi melihat senyum itu, Alif tahu Sofi mengiyakan ucapan Anda.
“Tau gitu gue jual aja
ni coklat, kan lumayan buat jajan bulanan.”
“Alif!” teriak Anda dan
Sofi bersamaan.
Laki-laki itu neyengir
kuda. Dan sejak saat itu, Alif memakan coklat itu dengan pelan, bahkan sangat
pelan, ia ingin menikmati rasa coklat mahal itu lebih lama, lama, lama dan lama
lagi.
Seumur
hidup Alif belum pernah memakan coklat mahal seperti ini memang rasanya sangat
enak dari pada yang biasa ada di tokoh, sepertinya nasib baik sedang berpihak
pada Alif. Sofi memberikan satu kotak lagi kepada laki-laki itu, dengan alasan
Sofi kasihan padanya begitu juga dengan Anda gadis itu juga memberikan coklat
yang Sofi berikan kepadanya, memang sih Alif bukan terlahir dari keluarga kaya.
“Apa
gue semenyedikan itu?” ucap Alif menatap dua teman di hadapanya.
“Uda jangan banyak
omong, kalau gak mau gue ambil lagi ni.” Anda bersiap-siap menarik coklatnya.
“Siapa bilang gue gak
mau.” dengan sigap Alif memasukan coklatnya dalam tas, sebelum dua gadis itu
berubah pikiran.
***
Drett.., Sofi segera
menerimah pangilan telpon dari Lisa
“Ada apa Lis?”
“Lo dimana, lima menit
lagi kita latihan, semua anak uda kumpul.” Suara di seberang sana terdengar cemas,
Sofi menatap jam tanganya seketika matanya membulat, jam empat.
“Oke, oke gue kesana
sekarang.” Sofi segera memutuskan pangilanya, Sofi sibuk merapikan bukunya
memasukan semuanya ke dalam tas.
“Ada apa si sof,
buru-buru amat?” Anda menatap heran
“Sorry banget ya
semuanya, gue lupa hari ini ada club karete dan lima menit lagi di mulai.”
“Yauda lo cepetan
kesana, biar gue sama Alif yang ngerjain semuanya.” Anda menjelaskan.
__ADS_1
“Makasih ya, semuanya.”
Sofi segera berlari menuju gedung tempat club itu berada, sebernarnya perlu waktu sekitar sepuluh jika berjalan kaki.
“Hati-hati!” teriak
Alif pada sahabatnya itu.
***
Sofi berlari menuruni
tangga, sialnya kelasnya hari ini ada di lantai empat, ia terus berlari menujuh
club karatenya, gadis itu membuka pintu terburu napasnya masih tersengal-sengal,
ia segera menganti pakaianya dengan seragam berwarna putih.
Sofi belari menuju
barisan, mengambil posisi di samping Lisa, napas gadis itu masih belum teratur
gadis itu sibuk menyanggul rambutnya sembarangan karena merasa panas dan gerah
setelah berlari.
‘Hapir saja.’ guamam
Sofi pelan hanya lima detik sejak Sofi berdiri Anis datang membuka acarah club
itu.
Lisa dan beberapa orang
yang berada di sana menatap Sofi dengan heran, Sofi sangat berbeda, dia
terlihat cantik, bukan tapi sangat cantik, tanpa kaca mata dan rambut yang menutupi sebagian wajahnya
juga tidak terlihat. Lisa bisa melihat dengan jelas kalau Sofi sangat cantik.
“Kenapa?” Sofi menatap
menautkan alisnya pada Lisa.
“Lo cantik banget,
tanpa kaca mata lo.” Lisa menunjuk wajah Sofi, gadis itu menepuk dahinya tadi
ia lupa mengenakan kaca matanya saat menganti pakaian dan sepertinya kacama
mata itu tertinggal di ruang ganti.
“Baiklah, silakan
semuanya berlari keliling lapangan sepuluh kali!” teriak Lisa, baru saja Sofi
hendak kembali keruang ganti tapi niatnya ia urungkan karena semua
teman-temanya sudah mulai berlari mengelilingi lapangan, gadis itu akhirnya
mengikuti yang lainya sebanyak sepuluh kali.
***
Dafa dan Bran baru saja
menyelesaikan laitihanya taekwondonya, “Gila tu cewek cantik banget” Dafa
menyikut Bram.
“Iya gue baru kali ini
liat tu cewek cantik banget, tapi kayaknya gak asing ya?” Bram menautkan alisnya
ia berpikir sejenak, beberapa kali Bram mengetuk-ngetuk keningnya untuk
mengingat siapa gadis itu, tapi gagal Bram tidak mengingat siapa gadis itu.
“Bram sumpah gue,
kayaknya jatuh cinta sama tuh cewek.” Dafa menatap kagum pada gadis yang
berlari mengelilingi lapangan itu.
yang mau, gue juga mau kali.” Bram tidak mau kala.
Diori mengambil tempat
duduk di samping dua temanya itu, baru saja ia selesi menganti pakaianya, Diori
menatap heran dua temanya yang mengangah sambil melihat beberapa anak karate
yang berlari “Liat apaan sih?”
“Dio, lo liat tu cewek
cantik banget, sumpa gue naksir tuh cewek.” Dafa berucap.
“Yang mana?” tanya
Diori mengikuti arah pandang dua temanya.
“Tu, yang rambutnya di
sanggul, gue juga naksir tu cewek.” Bram berucap dengan sunguh-sunguh.
Diori menyipitkan
matanya, ia tahu betul siapa itu, gadis yang sudah bersamanya selama delapan
belas tahun ini.
“Gue bakal pacarin tuh
cewek.” gumam Dafa pada kedua temanya.
“Enak aja, lo bakal di
tolak kribo!” ucap Bram sambil melihat fisik Dafa masih kalah dari dirinya, karena
Bram lebih tinggi dan lebih cerah kulitnya, walau masih jauh dari pada Dio untuk
masalah muka dan otak.
“Kalian serius mau
macarin tu cewek?” tanya Dio datar, Dafa dan Bram mengangguk cepat.
“Oke, langkahi dulu
mayat gue!” ucap Dio terdengar tegas,
kedua temanya menatap heran.
“Ayolah Dio, lo kan ada
Jesy, jangan maruk dong.” ucap Bram
“Kalian tau siapa tu
cewek?” tanya Dioe sambil memiringkan bibirnya.
“Gak, emang lo tahu?”
Dafa bertanya sedikit heran dengan sikap Diori yang terlihat sudah mengenal
gadis tersebut.
“Gue tahu tu cewek dari
dia lahir di dunia ini, dan gue akan bunuh lo berdua jika ganggu adik gue Sofi,
ngerti kalian!” Diori kemudian pergi menghampiri Sofi karena gadis itu baru
saja selesai berlari.
Dafa dan Bram meneguk
ludahnya dengan susah paya, mereka benar-benar tidak tahu kalau gadis cantik
yang mereka sukai adalah Sofi adik Diori, setahu mereka gadis yang bernama Sofi
__ADS_1
itu cupu, dengan kacamata dan rambutnya selalu di gerai menutupi sebaian
wajahnya.
****
“Dek, kaca matanya
mana?” Diori bertanya setela melempar handuknya pada Sofi.
“Kayaknya ketinggalan
di ruang ganti kak, tapi Sofi buru-buru karena telat.” Sofi menjelaskan sambil
mengelap keringatnya.
Diori mengangguk kemudian memandangi
sekeliling, Diori rasanya ingin mencolok satu persatu mata laki-laki yang
memandang kecantikan Sofi seakan ingin menelan gadis itu bulat-bulat, tapi di
sisi lain Diori merasa senang karena semua orang sekarang bungkam, bukan hanya
laki-laki tapi para wanita di kampus itu juga menatap takjub melihat wajah
polos cantik itu, tanpa dandanan sedikitpun.
Selama ini Diori
mendengar apa yang mereka katakan tentang Sofi bahwa adiknya itu cupu, Sofi
sengaja menutupi kecantikanya karena kesal sering di ganggu cowok waktu SMA,
karena itu ia memutuskan mengubah penampilannya sejak kelas tiga, Sofi memasang
behel gigi dan mengenakan kacamata besar serta mengunakan sebagian rambutnya
untuk menutupi sebagian mukanya.
***
Aktara berjalan ke
pinggir lapangan, menuju Diori yang duduk di samping Sofi, laki-laki itu mengengam
sesuatu di tangan kananya.
“Ini,” suarah Aktara
terdengar pelan, tangan kananya mengarakan benda itu pada Diori.
“Makasih.” ucap Diori
datar, lalu mengambil kacamata dan memasangkannya pada Sofi.
Gadis itu menatap
Aktara dengan tidak berkedip, Sofi juga tidak peduli dengan Diori yang
memasangkan kacamata padanya, Diori mulai berdehem kuat membuat Sofi berdecak
jengkel.
“Mau kakak tonjok lagi
Taranya?” bisik Diori saat tanganya selesai memasakan kacamata itu,
“Kalau kakak berani
nyakitin kak Tara, Sofi pastiin Sofi gak bakal jadi adik kakak lagi!” ancam
gadis itu.
Aktara berusaha keras
menahan tawanya saat mendengar pertengkaran dua saudara itu. Aktara baru saja
hendak melangkah meninggalkan mereka, tapi langkahnya terhenti saat mendengar
pertanyaan dari Sofi.
“Kak uda baikan sama kak
Tara?” tanya Sofi pada Diori, Diori tersenyum sesaat, ia menoleh pada punggung
Aktara.
“Siapa bilang kami
berantem?” jawab Diori, Aktara melangkah pergi sambil tersenyum.
“Ya, kami tidak pernah
berantem.” gumam Aktara dan bisa di dengar Diori dengan jelas.
“Oh..” Sofi menyengol
lengan Diori mencobah mengoda kakaknya itu.
“Uda cepet latihan sana!”
Diori kemudian pergi meninggalkan adiknya. Sofi kembali ke barisanya, ia
mengikuti semua apa yang dianjarkan Anis, mulai dari memasang kuda-kuda karena
mereka sekarang belajar cara bertahan.
“Sof, liat deh kak lo
lagi ngobrol sama kak Tara” Lisa berbisik.
Hal itu suatu kejadian
langkah bagi mereka, karena biasanya Diori dan Aktara hanya mengobrol kalau di
ruang rapat atau kelas itupun dengan cara yang formal, sekarang mereka terlihat
akrab, bahkan tertawa bersama, Aktara bahkan menonjok lembut lengan Diori
membuat laki-laki itu meringkis sambil mengusab lenganya kemudian tertawa.
Sofi mulai tersenyum
melihat keakraban itu, ‘Akhirnya mereka
baikan juga, bukan baikan mereka kan gak pernah bertengkar, tapi akrab lag.’ gumam Sofi dalam hati.
“Lis kamu suka coklat?”
Sofi hendak membagi coklat yang ia bawa untuk Lisa, tapi gadis itu mengeleng,
“Coklat bikin gigi gue
sakit Sof.” jawab Lisa, Sofi tertawa mendengar ucapan temanya itu.
***
Dafa dan Bram duduk di
pojok yang berlawanan, “Lo liat gak sih Baram, hari ini tuh aneh”
“Aneh kenapa?” Bram
bingung.
“Hari ini tu ada dua
keajaiban dunia, yang pertama Sofi mendadak cantik sampai gue jatuh cinta
kayaknya, yang kedua Dio sama Tara akrab banget.”
Baram mengangguk setujuh
“Tapi kayaknya Sofi gak mendadak cantik deh Daf, kayaknya kita aja yang gak
nyadarinya, terus Dio sama Tara kayaknya mereka sabahabatan udah lama deh, liat
mereka akrabnya bukan kayak orang yang habis berantem.” Bram memperhatikan
keduanya, Dafa mengangguk setuju dengan penjelasan Bram.
__ADS_1
“Lo bener gue suka
analisis lo.” gumam Dafa.