Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 15


__ADS_3

Sofi masih sibuk


belajar di kelasanya bersama Anda dan Alif, mereka baru mendapat tugas kelompok


dari dosenya.


“Aku lapar.” Anda


berucap dari tadi mereka mengerjakan tugas kelompok tanpa henti sampai


melewatkan waktu makan siang.


Sofi mengeluarkan


beberapa coklat dari Melisa, tadi pagi Sofi membawa beberapa untuk di makan di


kampus, gadis itu tidak segan-segan untuk berbagi jika ia memiliki sesuatu yang


di butuhkan temanya,


“Ini,” Sofi menyodorkan


coklat pada Anda.


“Lo yakin ini untuk gue


Sofi?” mata Anda membulat saat melihat coklat itu terutama merek yang tertera


disana, itu merupakan salah satu merek coklat terkenal dan terutama sangat mahal,


Anda pernah mendapat coklat seperti itu saat ayahnya pergi tugas ke Amerika,


itupun hanya coklat berukuran kecil sedangkan Sofi memberinya sekotak coklat


berukuran besar.


“Ambil aja, gue juga


dapet gratis kok.” Sofi kemudian memberikan satu lagi untuk Alif, laki-laki itu


tidak berkomentar banyak ia langsung menerimanya.


“Makasih Sof.” ucap


laki-laki itu lalu membuka kotak coklat itu dan mengunyanya.


Anda masih diam, ia


seakan tidak rela untuk memakanya, tapi melihat Alif dan Sofi mulai memakan coklat


itu Anda akhirnya ikut menikmati coklat itu.


“Lif, lo tau gak harga


coklat ini berapa?”


“Gak tau, yang gue tau


ini gratis.” jawab Alif etang sambil terus mengunyah coklat di mulutnya.


“Dasar lo maunya yang


gratisan.” Anda mengejek.


“Uda makan aja,” Sofi


menenangkan


“Kira-kira satu juta,”


Anda berucap.


“Apanya yang  satu juta?” Alif menautkan alisnya heran


“Coklat yang lo kunya


sekarang” Anda berucap, Sofi hanya mengeleng, ia tidak pernah memasalakan harga


itu, selama ia bisa untuk berbagi mengapa tidak. Lagi pula itu ia juga dapatkan


secara gratis.


“Uhuk, uhuk...” Alif


tersedak mendengarnya, “Lo seriu?” Anda mengangguk, Alif menatap Sofi lekat meminta


penjelasan tapi melihat senyum itu, Alif tahu Sofi mengiyakan ucapan Anda.


“Tau gitu gue jual aja


ni coklat, kan lumayan buat jajan bulanan.”


“Alif!” teriak Anda dan


Sofi bersamaan.


Laki-laki itu neyengir


kuda. Dan sejak saat itu, Alif memakan coklat itu dengan pelan, bahkan sangat


pelan, ia ingin menikmati rasa coklat mahal itu lebih lama, lama, lama dan lama


lagi.


Seumur


hidup Alif belum pernah memakan coklat mahal seperti ini memang rasanya sangat


enak dari pada yang biasa ada di tokoh, sepertinya nasib baik sedang berpihak


pada Alif. Sofi memberikan satu kotak lagi kepada laki-laki itu, dengan alasan


Sofi kasihan padanya begitu juga dengan Anda gadis itu juga memberikan coklat


yang Sofi berikan kepadanya, memang sih Alif bukan terlahir dari keluarga kaya.


“Apa


gue semenyedikan itu?” ucap Alif menatap dua teman di hadapanya.


“Uda jangan banyak


omong, kalau gak mau gue ambil lagi ni.” Anda bersiap-siap menarik coklatnya.


“Siapa bilang gue gak


mau.” dengan sigap Alif memasukan coklatnya dalam tas, sebelum dua gadis itu


berubah pikiran.


***


Drett.., Sofi segera


menerimah pangilan telpon dari Lisa


“Ada apa Lis?”


“Lo dimana, lima menit


lagi kita latihan, semua anak uda kumpul.” Suara di seberang sana terdengar cemas,


Sofi menatap jam tanganya seketika matanya membulat, jam empat.


“Oke, oke gue kesana


sekarang.” Sofi segera memutuskan pangilanya, Sofi sibuk merapikan bukunya


memasukan semuanya ke dalam tas.


“Ada apa si sof,


buru-buru amat?” Anda menatap heran


“Sorry banget ya


semuanya, gue lupa hari ini ada club karete dan lima menit lagi di mulai.”


“Yauda lo cepetan


kesana, biar gue sama Alif yang ngerjain semuanya.” Anda menjelaskan.

__ADS_1


“Makasih ya, semuanya.”


Sofi segera berlari menuju gedung tempat club itu berada, sebernarnya perlu waktu sekitar sepuluh jika berjalan kaki.


“Hati-hati!” teriak


Alif pada sahabatnya itu.


***


Sofi berlari menuruni


tangga, sialnya kelasnya hari ini ada di lantai empat, ia terus berlari menujuh


club karatenya, gadis itu membuka pintu terburu napasnya masih tersengal-sengal,


ia segera menganti pakaianya dengan seragam berwarna putih.


Sofi belari menuju


barisan, mengambil posisi di samping Lisa, napas gadis itu masih belum teratur


gadis itu sibuk menyanggul rambutnya sembarangan karena merasa panas dan gerah


setelah berlari.


‘Hapir saja.’ guamam


Sofi pelan hanya lima detik sejak Sofi berdiri Anis datang membuka acarah club


itu.


Lisa dan beberapa orang


yang berada di sana menatap Sofi dengan heran, Sofi sangat berbeda, dia


terlihat cantik, bukan tapi sangat cantik, tanpa kaca mata  dan rambut yang menutupi sebagian wajahnya


juga tidak terlihat. Lisa bisa melihat dengan jelas kalau Sofi sangat cantik.


“Kenapa?” Sofi menatap


menautkan alisnya pada Lisa.


“Lo cantik banget,


tanpa kaca mata lo.” Lisa menunjuk wajah Sofi, gadis itu menepuk dahinya tadi


ia lupa mengenakan kaca matanya saat menganti pakaian dan sepertinya kacama


mata  itu tertinggal di ruang ganti.


“Baiklah, silakan


semuanya berlari keliling lapangan sepuluh kali!” teriak Lisa, baru saja Sofi


hendak kembali keruang ganti tapi niatnya ia urungkan karena semua


teman-temanya sudah mulai berlari mengelilingi lapangan, gadis itu akhirnya


mengikuti yang lainya sebanyak sepuluh kali.


***


Dafa dan Bran baru saja


menyelesaikan laitihanya taekwondonya, “Gila tu cewek cantik banget” Dafa


menyikut Bram.


“Iya gue baru kali ini


liat tu cewek cantik banget, tapi kayaknya gak asing ya?” Bram menautkan alisnya


ia berpikir sejenak, beberapa kali Bram mengetuk-ngetuk keningnya untuk


mengingat siapa gadis itu, tapi gagal Bram tidak mengingat siapa gadis itu.


“Bram sumpah gue,


kayaknya jatuh cinta sama tuh cewek.” Dafa menatap kagum pada gadis yang


berlari mengelilingi lapangan itu.


yang mau, gue juga mau kali.” Bram tidak mau kala.


Diori mengambil tempat


duduk di samping dua temanya itu, baru saja ia selesi menganti pakaianya, Diori


menatap heran dua temanya yang mengangah sambil melihat beberapa anak karate


yang berlari “Liat apaan sih?”


“Dio, lo liat tu cewek


cantik banget, sumpa gue naksir tuh cewek.” Dafa berucap.


“Yang mana?” tanya


Diori mengikuti arah pandang dua temanya.


“Tu, yang rambutnya di


sanggul, gue juga naksir tu cewek.” Bram berucap dengan sunguh-sunguh.


Diori menyipitkan


matanya, ia tahu betul siapa itu, gadis yang sudah bersamanya selama delapan


belas tahun ini.


“Gue bakal pacarin tuh


cewek.” gumam Dafa pada kedua temanya.


“Enak aja, lo bakal di


tolak kribo!” ucap Bram sambil melihat fisik Dafa masih kalah dari dirinya, karena


Bram lebih tinggi dan lebih cerah kulitnya, walau masih jauh dari pada Dio untuk


masalah muka dan otak.


“Kalian serius mau


macarin tu cewek?” tanya Dio datar, Dafa dan Bram mengangguk cepat.


“Oke, langkahi dulu


mayat gue!” ucap Dio  terdengar tegas,


kedua temanya menatap heran.


“Ayolah Dio, lo kan ada


Jesy, jangan maruk dong.” ucap Bram


“Kalian tau siapa tu


cewek?” tanya Dioe sambil memiringkan bibirnya.


“Gak, emang lo tahu?”


Dafa bertanya sedikit heran dengan sikap Diori yang terlihat sudah mengenal


gadis tersebut.


“Gue tahu tu cewek dari


dia lahir di dunia ini, dan gue akan bunuh lo berdua jika ganggu adik gue Sofi,


ngerti kalian!” Diori kemudian pergi menghampiri Sofi karena gadis itu baru


saja selesai berlari.


Dafa dan Bram meneguk


ludahnya dengan susah paya, mereka benar-benar tidak tahu kalau gadis cantik


yang mereka sukai adalah Sofi adik Diori, setahu mereka gadis yang bernama Sofi

__ADS_1


itu cupu, dengan kacamata dan rambutnya selalu di gerai menutupi sebaian


wajahnya.


****


“Dek, kaca matanya


mana?” Diori bertanya setela melempar handuknya pada Sofi.


“Kayaknya ketinggalan


di ruang ganti kak, tapi Sofi buru-buru karena telat.” Sofi menjelaskan sambil


mengelap keringatnya.


Diori mengangguk kemudian memandangi


sekeliling, Diori rasanya ingin mencolok satu persatu mata laki-laki yang


memandang kecantikan Sofi seakan ingin menelan gadis itu bulat-bulat, tapi di


sisi lain Diori merasa senang karena semua orang sekarang bungkam, bukan hanya


laki-laki tapi para wanita di kampus itu juga menatap takjub melihat wajah


polos cantik itu, tanpa dandanan sedikitpun.


Selama ini Diori


mendengar apa yang mereka katakan tentang Sofi bahwa adiknya itu cupu, Sofi


sengaja menutupi kecantikanya karena kesal sering di ganggu cowok waktu SMA,


karena itu ia memutuskan mengubah penampilannya sejak kelas tiga, Sofi memasang


behel gigi dan mengenakan kacamata besar serta mengunakan sebagian rambutnya


untuk menutupi sebagian mukanya.


***


Aktara berjalan ke


pinggir lapangan, menuju Diori yang duduk di samping Sofi, laki-laki itu mengengam


sesuatu di tangan kananya.


“Ini,” suarah Aktara


terdengar pelan, tangan kananya mengarakan benda itu pada Diori.


“Makasih.” ucap Diori


datar, lalu mengambil kacamata dan memasangkannya pada Sofi.


Gadis itu menatap


Aktara dengan tidak berkedip, Sofi juga tidak peduli dengan Diori yang


memasangkan kacamata padanya, Diori mulai berdehem kuat membuat Sofi berdecak


jengkel.


“Mau kakak tonjok lagi


Taranya?” bisik Diori saat tanganya selesai memasakan kacamata itu,


“Kalau kakak berani


nyakitin kak Tara, Sofi pastiin Sofi gak bakal jadi adik kakak lagi!” ancam


gadis itu.


Aktara berusaha keras


menahan tawanya saat mendengar pertengkaran dua saudara itu. Aktara baru saja


hendak melangkah meninggalkan mereka, tapi langkahnya terhenti saat mendengar


pertanyaan dari Sofi.


“Kak uda baikan sama kak


Tara?” tanya Sofi pada Diori, Diori tersenyum sesaat, ia menoleh pada punggung


Aktara.


“Siapa bilang kami


berantem?” jawab Diori, Aktara melangkah pergi sambil tersenyum.


“Ya, kami tidak pernah


berantem.” gumam Aktara dan bisa di dengar Diori dengan jelas.


“Oh..” Sofi menyengol


lengan Diori mencobah mengoda kakaknya itu.


“Uda cepet latihan sana!”


Diori kemudian pergi meninggalkan adiknya. Sofi kembali ke barisanya, ia


mengikuti semua apa yang dianjarkan Anis, mulai dari memasang kuda-kuda karena


mereka sekarang belajar cara bertahan.


“Sof, liat deh kak lo


lagi ngobrol sama kak Tara” Lisa berbisik.


Hal itu suatu kejadian


langkah bagi mereka, karena biasanya Diori dan Aktara hanya mengobrol kalau di


ruang rapat atau kelas itupun dengan cara yang formal, sekarang mereka terlihat


akrab, bahkan tertawa bersama, Aktara bahkan menonjok lembut lengan Diori


membuat laki-laki itu meringkis sambil mengusab lenganya kemudian tertawa.


Sofi mulai tersenyum


melihat keakraban itu, ‘Akhirnya mereka


baikan juga, bukan baikan mereka kan gak pernah bertengkar, tapi akrab lag.’ gumam Sofi dalam hati.


“Lis kamu suka coklat?”


Sofi hendak membagi coklat yang ia bawa untuk Lisa, tapi gadis itu mengeleng,


“Coklat bikin gigi gue


sakit Sof.” jawab Lisa, Sofi tertawa mendengar ucapan temanya itu.


***


Dafa dan Bram duduk di


pojok yang berlawanan, “Lo liat gak sih Baram, hari ini tuh aneh”


“Aneh kenapa?” Bram


bingung.


“Hari ini tu ada dua


keajaiban dunia, yang pertama Sofi mendadak cantik sampai gue jatuh cinta


kayaknya, yang kedua Dio sama Tara akrab banget.”


Baram mengangguk setujuh


“Tapi kayaknya Sofi gak mendadak cantik deh Daf, kayaknya kita aja yang gak


nyadarinya, terus Dio sama Tara kayaknya mereka sabahabatan udah lama deh, liat


mereka akrabnya bukan kayak orang yang habis berantem.” Bram memperhatikan


keduanya, Dafa mengangguk setuju dengan penjelasan Bram.

__ADS_1


“Lo bener gue suka


analisis lo.” gumam Dafa.


__ADS_2