
Sofi melangkah dengan
ceria menujuh kampusnya, Dafa menjemputnya tadi pagi bersama Jesy.
“Kak Jesy, kak Dafa aku
masuk dulu ya,” Sofi pamit pada dua orang itu.
“Semangat ya ujiannya.”
Jesy memeluk Sofi.
“Jangan lupa berdo’a ya.”
Dafa mengingatkan, jari Sofi membentuk hurup OK, laki tersenyum lembut pada
mereka.
“Sofi sangat kuat, aku
yakin itu.” ucap Jesy pada Dafa.
“Ya, aku juga yakin.”
Jawab laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan bangunan itu mereka memutuskan
untuk menunggu Sofi di dekat danau, tadi Dafa sudah memberitahu Sofi bahwa
mereka akan menungunya di danau, walau Sofi sudah menolak dan menyuru mereka
pulang.
***
Sofi melangkan memasuki
ruang kelas dengan senyum lembut, semua mata menatapnya dengan tatapan jijik,
Sofi segera menunduk mengetahui hal itu, Anda segera memeluk sahabatnya itu.
“Ada apa?” tanya Sofi
melihat tingkah Anda yang aneh, sebenarnya Sofi sangat takut jika teman-teman
di kelasnya tahu kejadian itu, ia takut di benci dan di lupakan.
“Apa kalian liat-liat!”
Alif berteriak, membuat semua anak terdiam. Sofi juga terkejut, Alif tidak
pernah membentak siapapun sebelumnya tapi mengapa sekarang sikapnya berubah.
”Aku akan selalu ada
buat kamu.” bisik Anda, Sofi mengangut kuat ia bersikap seteng mungkin.
Sofi hanya diam selama
mengerjakan ujian gadis itu menjawab dengan serius soal-soal itu, hingga waktu
habis
“Sini biar aku yang kumpulin.” Anda mengambil saol yang Sofi jawab.
“Terimakasih And” Anda
tersenyum lembut.
Sofi dan Anda berjalan
menuju danau, langkanya terhenti saat mendengar salah satu teman sekelasnya
membicarakanya.
“Itukan Sofi, yang di
perkosa itu kan?” salah satu temanya berbisik namun bisa di dengar Sofi dengan
jelas. Anda segera menghampiri gadis itu, tanganya langsung menjabak rambut
gadis itu menbuat gadis itu menjerit kesakitan
“Jaga mulut lo, atau gue bunuh
lo!” teriak Anda dengan emosi yang sudah memuncak.
Sofi masi membeku
sesaat kemudian, ia tersadar mendengar jeritan itu. “Anda Hentikan!” Sofi
menarik tangan sahabatnya Anda tidak meperdulikanya, ia masih mengamuk pada
teman sekalasnya itu, beruntung Alif segera datang mererainya.
Sofi mengambil langkah
cepat pergi meningalkan tempat itu, saat semua orang sibuk dengan perkelahian
itu, gadis itu terus berjalan sambil menunduk air matanya tidak bisa ia tahan
walau ia terus menyekatnya.
“Maaf.” kata itu selalu
muncul dari mulutnya saat bahunya menyenggol bahu orang di depannya “Maaf.”
ucapnya sekali lagi saat bahu itu mengenai orang lagi.
***
Aktara terdiam, saat
Sofi tidak sengaja menabrak bahunya, gadis itu tidak menghentikan jalannya, ia
terus menunduk Aktara tahu gadis itu sedang menangis ia hendak menghentikannya
tapi Aktara mengurungkan niatnya, ia masih merasa bersalah atas ucapannya waktu
itu.
“Sofi tunggu!” Alif
berteriak berlari mengejar gadis itu, tapi Sofi sama sekali tidak
__ADS_1
memperdulikanya dengan cepat Aktara memegangi Alif minta penjelasan.
“Ada apa?” Aktara mulai
khawatir sekarang.
“Kak Sofi” Alif
memberikan ponselnnya, ini semua karena berita sialan di grup chat kelas mereka
yang memberitahu semua kejadian itu lengkap dengan poto Sofi saat di lecehkan,
Aktara merai ponsel itu, laki-laki itu seperti tersambar petir, ia masih tidak
percaya semua itu.
“Lif ini bohongkan?”
suarah Aktara bergetar ia tidak percaya semua itu.
“Aku juga gak tahu kak
ini benar atau bohong, tapi Sofi sempat menghilang minggu lalu selama Lima hari.”
jawab Alif.
“Lif, Sofi mana?” Jesy
dan Dafa berlari menyusul laki-laki itu mereka juga melihat Aktara di sana.
Aktara menatap dua
sahabatnya meminta penjelasan “Apa ini bener?” Aktara dengan suara bergetar
memberikan ponsel Alif pada Jesy.
Dafa segera menghajar
laki-laki itu membuat Aktara tersengkur, “Dafa hentikan!” Jesy berteriak.
***
Aktara melajukan
mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya sunggu kacau semuanya tentang
Sofi, Aktara masih mengingat dengan
jelas semua perkataan Dafa
“Apa peduli lo ha?! Lo
berengsek Tara.” Aktara hanya diam, ia tidak bisa membalas ucapan Dafa.
“Kemana lo saat ia
butuh orang untuk bersandar? Gue masih sangat ingat saat lo bilang lo cinta
sama dia? tapi lo bahkan gak munculin batang idung lo saat musibah itu terjadi,.
Sofi terus manggil nama lo!” Dafa meraung kesal.
Dafa ingat saat di rumah
bergumam memanggil Aktara, itu juga terjadi saat Diori ada di samping Sofi
menunggui adiknya, saat itu Dafa datang membawakan makanan untuk Diori, mereka
bisa mendengar dengan jelas Sofi memanggil Aktara, mengatakan bahwa Sofi sangat
mencintainya.
“Tiga hari Sofi di
rawat saat kejadian itu, lo bahkan gak bisa di hubungi, lo berengsek Ta, Sofi
sangat cinta sama lo!” Dafa kemudian hendak memukul Aktara lagi tapi Jesy
segera berteriak, memohon agar Dafa tidak melakukanya.
Aktara hanya diam, dia
sengaja tidak mengaktifan ponselnya selama satu minggu karena tidak ingin di
ganggu, ia lebih memilih fokus dengan pernikahannya nanti, tapi hatinya masih
selalu memikirkan Sofi setiap saat.
***
“Ngapain sih Ta kamu
datang?” Suara Diori terdengar datar.
“Sofi mana?” Aktara tidak
peduli dengan Diori, ia segera pergi menuju kamar gadis itu.
Sofi sedang tersenyum
lembut sambil memegangi poto keluarganya, “Mama Sofi kangen.” Aktara membuka
pintu itu dengan kasar. Senyum Sofi mendadak hilang karena sosok itu, Aktara
segera memeluknya dengan erat, Sofi mebuat membeku.
“Maafin aku, Aku
mencintaimu.” Bisik Aktara.
Sofi masih diam mencerna
ucapan itu, tapi sekarang Sofi tidak peduli lagi, waktu itu Aktara juga
mengatakan hal yang sama lalu mengatakan bahwa itu kesalahan.
“Aku akan menikahimu!”
Aktara berkata dengan tegas, mendadak tubuh Sofi mengejang mendengarnya, ia
tahu sekarang Aktara tahu semua kejadian itu.
“Pergi!” kata itu yang
__ADS_1
keluar dari mulut Sofi Aktara mengeleng ia semakin kencang memeluk Sofi. “Pergi!”
Suarah itu terdengan semakin datar, Aktara tidak bergeming.
“Aku bilang pergi
Aktara!” teriak Sofi, Aktara tidak peduli, ia hanya ingin membuat Sofi tenang
dan bersama menghadapi masalah ini. “Kak Dio, usir orang ini aku membenciny.a”
Ucap Sofi dengan suarah bergetar.
Diori yang dari tadi
menyaksikan kejadian itu hanya diam, ia bisa melihat rasa bersalah yang Aktara
rasakan sekarang, ia tahu Aktara sangat mencintai adiknya.
“Aku mohon pergi, Aku
tidak kenal siapa kamu, pergilah!” Ucapan itu terdengar datar dan dingin, Diori
bisa melihat pandang kosong di mata Sofi, ya adiknya sedang syok sekarang.
“Ta hentikan Sofi syok.”
ucapan Diori membuat Aktara melepaskan pelukanya, ia menatap wajah Sofi yang
terlihat kosong, mata itu menatap lurus kedepan dan air matanya terus mengalir.
“Sofi.” gumam Aktara
yang terlihat khawatir namun tidak ada respon.
“Sofi, dek sadar.”
Diori yang berada di sampingnya mencoba membangunkan kesadaran Sofi, “Dek kakak
mohon jangan begini.” ucap Diori sambil menangis.
“Pergi.” suarah itu
terdengar pelan dan datar “Pergi.” “Pergi.” lagi-lagi kata itu keluar dari
mulut Sofi.
”Tata aku mohon pergila!”
Diori memohon, Aktara melangkah pergi keluar dari kamar itu dengan berat hati,
ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang ini. Aktara benar-benar hancur, ia
tidak bisa mejaga dan melindungi Sofi.
“Dek, ini kakak, bangun
sayang, ini bukan kamu, Sofi adik kakak selalu kuat.” bisik Diori pada Sofi
“Dek kakak sayang kamu, kakak mohon bangun, demi kakak demi Papa.” ucap Diori
bergetar bahkan tanpa ia sadari Diori telah meneteskan air matanya.
Perlahan mata Sofi
mengerjap lalu memandang Diori gadis itu menangis memeluk kakaknya.
“Kakak Sofi lelah kak,
Sofi ingin istirahat, Sofi capek kak.” ucap gadis itu sambil terisak, Diori
mengangguk mengerti atas apa keluh kesa adiknya itu.
“Iya sayang kamu boleh istirahat, maaf kakak
ganggu kamu.” bisik Diori, Sofi kemudian berbaring, Diori mencium kening adiknya.
Aktara bisa mendengar
semua apa yang mereka ucapkan, perlahan air matanya jatuh, Aktara baru sadar
betapa kejamnya ia selama ini pada Sofi, membuat gadis itu sangat rapu “Maafkan
aku.” gumamnya.
***
“Ta, pulanglah, Sofi
lagi gak ingin ketemu kamu.” Diori menginggatkan.
“Maafkan aku Di, aku
benar-benar gak tahu Sofi mengalami ini semua.” Aktara memadang sahabatnya itu
dalam Diori mencobah tersenyum walau rasanya sangat berat.
“Ini bukan salah kamu,
ini semua musibah, tidak ada yang ingin ini semua terjadi termasuk aku.” Diori
menuduk menatap lantai rumahnya yang berwarna putih pandanganya menerawang
meningat kondisi Sofi saat ini, dada Diori terasa sangat sesak mengingat semua
itu.
“Di aku benar-benar
akan menikahi Sofi!” ucap Aktara tegas.
Diori tersenyum lemah,
“Ta, andai semua sesederhana itu. Aku hanya kasian pada adikku, mengapa Sofi menangung
semuanya, harusnya cukup aku Ta yang menangungnya, jangan Sofi.” Diori menarik
napas dalam “Aku minta maaf kalau selamaini salah sama kamu, semoga kamu
bahagia dengan Melisa.” Diori kemudian melajukan kursih rodanya menuju kamar
Sofi.
Aktara masih diam
__ADS_1
mematung, ia sama sekali tidak berniat meninggalkan rumah itu.