Senyum Sofi

Senyum Sofi
SS - 30


__ADS_3

Sofi melangkah dengan


ceria menujuh kampusnya, Dafa menjemputnya tadi pagi bersama Jesy.


“Kak Jesy, kak Dafa aku


masuk dulu ya,” Sofi pamit pada dua orang itu.


“Semangat ya ujiannya.”


Jesy memeluk Sofi.


“Jangan lupa berdo’a ya.”


Dafa mengingatkan, jari Sofi membentuk hurup OK, laki tersenyum lembut pada


mereka.


“Sofi sangat kuat, aku


yakin itu.” ucap Jesy pada Dafa.


“Ya, aku juga yakin.”


Jawab laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan bangunan itu mereka memutuskan


untuk menunggu Sofi di dekat danau, tadi Dafa sudah memberitahu Sofi bahwa


mereka akan menungunya di danau, walau Sofi sudah menolak dan menyuru mereka


pulang.


***


Sofi melangkan memasuki


ruang kelas dengan senyum lembut, semua mata menatapnya dengan tatapan jijik,


Sofi segera menunduk mengetahui hal itu, Anda segera memeluk sahabatnya itu.


“Ada apa?” tanya Sofi


melihat tingkah Anda yang aneh, sebenarnya Sofi sangat takut jika teman-teman


di kelasnya tahu kejadian itu, ia takut di benci dan di lupakan.


“Apa kalian liat-liat!”


Alif berteriak, membuat semua anak terdiam. Sofi juga terkejut, Alif tidak


pernah membentak siapapun sebelumnya tapi mengapa sekarang sikapnya berubah.


”Aku akan selalu ada


buat kamu.” bisik Anda, Sofi mengangut kuat ia bersikap seteng mungkin.


Sofi hanya diam selama


mengerjakan ujian gadis itu menjawab dengan serius soal-soal itu, hingga waktu


habis


“Sini biar aku yang kumpulin.” Anda mengambil saol yang Sofi jawab.


“Terimakasih And” Anda


tersenyum lembut.


Sofi dan Anda berjalan


menuju danau, langkanya terhenti saat mendengar salah satu teman sekelasnya


membicarakanya.


“Itukan Sofi, yang di


perkosa itu kan?” salah satu temanya berbisik namun bisa di dengar Sofi dengan


jelas. Anda segera menghampiri gadis itu, tanganya langsung menjabak rambut


gadis itu menbuat gadis itu menjerit kesakitan


“Jaga mulut lo, atau gue bunuh


lo!” teriak Anda dengan emosi yang sudah memuncak.


Sofi masi membeku


sesaat kemudian, ia tersadar mendengar jeritan itu. “Anda Hentikan!” Sofi


menarik tangan sahabatnya Anda tidak meperdulikanya, ia masih mengamuk pada


teman sekalasnya itu, beruntung Alif segera datang mererainya.


Sofi mengambil langkah


cepat pergi meningalkan tempat itu, saat semua orang sibuk dengan perkelahian


itu, gadis itu terus berjalan sambil menunduk air matanya tidak bisa ia tahan


walau ia terus menyekatnya.


“Maaf.” kata itu selalu


muncul dari mulutnya saat bahunya menyenggol bahu orang di depannya “Maaf.”


ucapnya sekali lagi saat bahu itu mengenai orang lagi.


***


Aktara terdiam, saat


Sofi tidak sengaja menabrak bahunya, gadis itu tidak menghentikan jalannya, ia


terus menunduk Aktara tahu gadis itu sedang menangis ia hendak menghentikannya


tapi Aktara mengurungkan niatnya, ia masih merasa bersalah atas ucapannya waktu


itu.


“Sofi tunggu!” Alif


berteriak berlari mengejar gadis itu, tapi Sofi sama sekali tidak

__ADS_1


memperdulikanya dengan cepat Aktara memegangi Alif minta penjelasan.


“Ada apa?” Aktara mulai


khawatir sekarang.


“Kak Sofi” Alif


memberikan ponselnnya, ini semua karena berita sialan di grup chat kelas mereka


yang memberitahu semua kejadian itu lengkap dengan poto Sofi saat di lecehkan,


Aktara merai ponsel itu, laki-laki itu seperti tersambar petir, ia masih tidak


percaya semua itu.


“Lif ini bohongkan?”


suarah Aktara bergetar ia tidak percaya semua itu.


“Aku juga gak tahu kak


ini benar atau bohong, tapi Sofi sempat menghilang minggu lalu selama Lima hari.”


jawab Alif.


“Lif, Sofi mana?” Jesy


dan Dafa berlari menyusul laki-laki itu mereka juga melihat Aktara di sana.


Aktara menatap dua


sahabatnya meminta penjelasan “Apa ini bener?” Aktara dengan suara bergetar


memberikan ponsel Alif pada Jesy.


Dafa segera menghajar


laki-laki itu membuat Aktara tersengkur, “Dafa hentikan!” Jesy berteriak.


***


Aktara melajukan


mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya sunggu kacau semuanya tentang


Sofi,  Aktara masih mengingat dengan


jelas semua perkataan Dafa


“Apa peduli lo ha?! Lo


berengsek Tara.” Aktara hanya diam, ia tidak bisa membalas ucapan Dafa.


“Kemana lo saat ia


butuh orang untuk bersandar? Gue masih sangat ingat saat lo bilang lo cinta


sama dia? tapi lo bahkan gak munculin batang idung lo saat musibah itu terjadi,.


Sofi terus manggil nama lo!” Dafa meraung kesal.


Dafa ingat saat di rumah


bergumam memanggil Aktara, itu juga terjadi saat Diori ada di samping Sofi


menunggui adiknya, saat itu Dafa datang membawakan makanan untuk Diori, mereka


bisa mendengar dengan jelas Sofi memanggil Aktara, mengatakan bahwa Sofi sangat


mencintainya.


“Tiga hari Sofi di


rawat saat kejadian itu, lo bahkan gak bisa di hubungi, lo berengsek Ta, Sofi


sangat cinta sama lo!” Dafa kemudian hendak memukul Aktara lagi tapi Jesy


segera berteriak, memohon agar Dafa tidak melakukanya.


Aktara hanya diam, dia


sengaja tidak mengaktifan ponselnya selama satu minggu karena tidak ingin di


ganggu, ia lebih memilih fokus dengan pernikahannya nanti, tapi hatinya masih


selalu memikirkan Sofi setiap saat.


***


“Ngapain sih Ta kamu


datang?” Suara Diori terdengar datar.


“Sofi mana?” Aktara tidak


peduli dengan Diori, ia segera pergi menuju kamar gadis itu.


Sofi sedang tersenyum


lembut sambil memegangi poto keluarganya, “Mama Sofi kangen.” Aktara membuka


pintu itu dengan kasar. Senyum Sofi mendadak hilang karena sosok itu, Aktara


segera memeluknya dengan erat, Sofi mebuat membeku.


“Maafin aku, Aku


mencintaimu.” Bisik Aktara.


Sofi masih diam mencerna


ucapan itu, tapi sekarang Sofi tidak peduli lagi, waktu itu Aktara juga


mengatakan hal yang sama lalu mengatakan bahwa itu kesalahan.


“Aku akan menikahimu!”


Aktara berkata dengan tegas, mendadak tubuh Sofi mengejang mendengarnya, ia


tahu sekarang Aktara tahu semua kejadian itu.


“Pergi!” kata itu yang

__ADS_1


keluar dari mulut Sofi Aktara mengeleng ia semakin kencang memeluk Sofi. “Pergi!”


Suarah itu terdengan semakin datar, Aktara tidak bergeming.


“Aku bilang pergi


Aktara!” teriak Sofi, Aktara tidak peduli, ia hanya ingin membuat Sofi tenang


dan bersama menghadapi masalah ini. “Kak Dio, usir orang ini aku membenciny.a”


Ucap Sofi dengan suarah bergetar.


Diori yang dari tadi


menyaksikan kejadian itu hanya diam, ia bisa melihat rasa bersalah yang Aktara


rasakan sekarang, ia tahu Aktara sangat mencintai adiknya.


“Aku mohon pergi, Aku


tidak kenal siapa kamu, pergilah!” Ucapan itu terdengar datar dan dingin, Diori


bisa melihat pandang kosong di mata Sofi, ya adiknya sedang syok sekarang.


“Ta hentikan Sofi syok.”


ucapan Diori membuat Aktara melepaskan pelukanya, ia menatap wajah Sofi yang


terlihat kosong, mata itu menatap lurus kedepan dan air matanya terus mengalir.


“Sofi.” gumam Aktara


yang terlihat khawatir namun tidak ada respon.


“Sofi, dek sadar.”


Diori yang berada di sampingnya mencoba membangunkan kesadaran Sofi, “Dek kakak


mohon jangan begini.” ucap Diori sambil menangis.


“Pergi.” suarah itu


terdengar pelan dan datar “Pergi.” “Pergi.” lagi-lagi kata itu keluar dari


mulut Sofi.


”Tata aku mohon pergila!”


Diori memohon, Aktara melangkah pergi keluar dari kamar itu dengan berat hati,


ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang ini. Aktara benar-benar hancur, ia


tidak bisa mejaga dan melindungi Sofi.


“Dek, ini kakak, bangun


sayang, ini bukan kamu, Sofi adik kakak selalu kuat.” bisik Diori pada Sofi


“Dek kakak sayang kamu, kakak mohon bangun, demi kakak demi Papa.” ucap Diori


bergetar bahkan tanpa ia sadari Diori telah meneteskan air matanya.


Perlahan mata Sofi


mengerjap lalu memandang Diori gadis itu menangis memeluk kakaknya.


“Kakak Sofi lelah kak,


Sofi ingin istirahat, Sofi capek kak.” ucap gadis itu sambil terisak, Diori


mengangguk mengerti atas apa keluh kesa adiknya itu.


 “Iya sayang kamu boleh istirahat, maaf kakak


ganggu kamu.” bisik Diori, Sofi kemudian berbaring, Diori mencium kening adiknya.


Aktara bisa mendengar


semua apa yang mereka ucapkan, perlahan air matanya jatuh, Aktara baru sadar


betapa kejamnya ia selama ini pada Sofi, membuat gadis itu sangat rapu “Maafkan


aku.” gumamnya.


***


“Ta, pulanglah, Sofi


lagi gak ingin ketemu kamu.” Diori menginggatkan.


“Maafkan aku Di, aku


benar-benar gak tahu Sofi mengalami ini semua.” Aktara memadang sahabatnya itu


dalam Diori mencobah tersenyum walau rasanya sangat berat.


“Ini bukan salah kamu,


ini semua musibah, tidak ada yang ingin ini semua terjadi termasuk aku.” Diori


menuduk menatap lantai rumahnya yang berwarna putih pandanganya menerawang


meningat kondisi Sofi saat ini, dada Diori terasa sangat sesak mengingat semua


itu.


“Di aku benar-benar


akan menikahi Sofi!” ucap Aktara tegas.


Diori tersenyum lemah,


“Ta, andai semua sesederhana itu. Aku hanya kasian pada adikku, mengapa Sofi menangung


semuanya, harusnya cukup aku Ta yang menangungnya, jangan Sofi.” Diori menarik


napas dalam “Aku minta maaf kalau selamaini salah sama kamu, semoga kamu


bahagia dengan Melisa.” Diori kemudian melajukan kursih rodanya menuju kamar


Sofi.


Aktara masih diam

__ADS_1


mematung, ia sama sekali tidak berniat meninggalkan rumah itu.


__ADS_2