
Malam pun berlalu.
Saat pagi menjelang, Zafira tidak ada semangat untuk bekerja. Apalagi saat harus bertemu dengan Seno.
Namun tanggung jawab nya sebagai pegawai, dan tanggung jawab nya sebagai tulang punggung keluarga membuat nya harus tetap bekerja.
Karna bagi Zafira bekerja sebagai office girl di perusahaan Tuan Rajendra itu sangat berharga bagi nya, di banding saat menjadi sales yang harus berpanas-panasan dan tak jarang mendapatkan perlakuan tak senonoh dari para konsumen yang hendak ia tawari produk nya.
Namun kini semangat Zafira seolah-olah terbakar begitu saja karna kejadian yang sama sekali tida ia harapkan.
Walaupun Zafira membiarkan langkah kaki nya terus berjalan, namun keinginan nya itu, tidak sejalan dengan langkah kaki yang terus melangkah menuju kantor tempat ia bekerja.
Sesampai nya di pelataran gedung yang sangat tinggi itu, Zafira terdiam sejenak. Namun diam nya itu seketika di kagetkan oleh suara klakson dari salah satu kendaraan yang hendak parkir juga.
Zafira sadar jika diri nya harus segera masuk ke ruangan dimana ia harus memulai pekerjaan nya.
Dalam pikiran nya ia harus menghadapi apa yang akan terjadi hari itu, namun hati nya seolah-olah bertolak belakang dengan pikiran nya.
Hati Zafira menolak untuk masuk dan menerima apa yang akan terjadi selanjut nya.
Dengan langkah seyakin-yakinnya Zafira masuk ke gedung itu, melewati beberapa tatapan mata yang memandang nya.
Tatapan itu mungkin saja tatapan kagum, saat melihat Zafira yang cantik, sederhana dan juga ramah.
Namun ia menganggap tatapan itu adalah tatapan hinaan bagi nya, sehingga Zafira hanya menundukan kepala saat melangkah menuju tempat dimana seharus nya ia berada.
Sesampai nya di dapur dimana para office girl dan official boy berkumpul Zafira meletakkan tas nya di loker milik nya.
Zafira menghela nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan, seraya menganggukan kepala nya bahwa diri nya kuat dan bisa.
"Za ... kita briefing dulu sebentar ! " Ajak salah satu teman nya.
Ia hanya menganggukan kepala nya di hiasi dengan senyuman lembut di wajah nya.
Semua duduk di sebuah kursi dan mulai mendengarkan pengarahan dari ketua nya, saat mata Zafira melirik ke arak kanan, tatapan nakal ia lihat dari wajah Seno.
Tentu saja ia merasa kesal, ia membuang tatapan itu secepat mungkin.
Pengarahan pun selesai.
__ADS_1
Suara penelpon pertama terdengar, tanda ada yang meminta makanan atau minuman.
"Baik lah, akan segera di antar Pak ! " Ucap salah satu teman Zafira yang mengangkat sambungan Tlp itu.
Dan sambungan Tlp itu terputus.
"Za ada yang minta kopi sama air teh manis hangat ke ruangan atas. " Ucap rekan kerja Zafira.
Zafira dengan sigap menyiapkan nya, lalu ia akan mengantar kan kepemilik nya.
Dalam langkah menuju ruangan atas ia terus meyakinkan diri nya, bahwa hari itu pasti akan baik-baik saja, waktu di hari itu menurut Zafira sangat lamban sekali.
Tibalah di meja dimana kopi dan air teh hangat itu siap di sajikan, setelah itu Zafira kembali turun melewati anak tangga dengan langkah cepat.
Namun saat diri nya hendak kembali ke mbali ke tempat nya, Tangan Zafira di tarik oleh orang yang sangat ia benci yaitu Seno.
"Lepas Sono ! " Teriak Zafira mengerat kan gigi nya karna kesal.
"Ussttt ... tenang sayang ! salah siapa tadi kamu bersikap acuh seperti itu pada ku, saat pengarahan tadi Hah ? " Bisik Seno pada daun telinga Zafira.
"Lepassssss ..... jangan kurang ajar kamu ! " Dengus Zafira mendorong tubuh Seno sekuat tenaga nya.
Seno mendekat lagi pada Zafira.
"Ingat kau tidak lebih dari wanita pinggir jalan, jadi tidak usah so jual mahal mempertahan kan harga diri mu itu. " Ucap Seno membuat hati Zafira terpukul.
Seketika pandangan Zafira murka pada Seno, tatapan mata Zafira membulat sempurna di penuhi dengan cairan bening yang enggan Zafira jatuh kan saat itu.
Namun dari kejauhan ada laki-laki yang melihat Zafira sedang berduaan dengan Seno yaitu Tuan Rajendra.
Seketika Tuan Rajendra mengerutkan dahi nya dan menyunggingkan sunyuman di sudut bibir nya.
"Dasar wanita munafik ! " Kata-kata itu keluar dari mulut Tuan Rajendra menilai Zafira dari kejauhan, tanpa mencari tahu apa sebenarnya yang sedang Zafira lakukan.
Tak lama Tuan Rajendra pun melanjutkan langkah nya, sementara Zafira terus melawan atas sikap Seno pada nya.
"Ingat Sen, serendah apapun kamu melihat diri ku, se kotor apa kamu menilai diri ku, itu tak sebanding dengan sikap kamu yang sangat picik itu terhadap diri ku. Begitu lah cara kamu menghargai wanita hah ? " Ucap Zafira sangat murka pada Seno.
Seno yang tidak pernah lepas dari pikiran kotor nya membelai halus wajah Zafira.
__ADS_1
Dan seketika tangan Zafira hendak menampar pipi Seno dengan keras nya, namun tangan itu di tahan oleh Seno yang sudah tahu jika diri nya hendak di tampar oleh tangan halus Zafira.
"Ingat jika kamu tidak perduli aib mu aku bongkar di tiap sudut perusahaan ini, aku salut pada mu Za ! tapi bagaimana jika aib mu aku ceritakan pada Ibu mu ? " Ucap Seno dengan santai nya.
Seketika kekuatan Zafira ambruk, Zafira menghempaskan lengan Seno yang memegang tangan nya, lalu ia pergi dengan meneteskan iar mata yang dengan susah payah ia tahan namun air mata itu jatuh juga, saat ia memikirkan Ibu nya.
Zafira masuk ke dalam sebuah toilet yang di husus kan bagi kaum wanita, Zafira menangis senangis-nangis nya namun tangisan itu ia tahan tanpa suara terdengar oleh siapa pun.
Jika saja tidak ada nama Ibu yang sedang ia jaga perasaan nya, mungkin ia tidak akan perduli jika Seno membuka kejadian di malam itu dan memberi tahukan pada semua orang.
Beberapa waktu Zafira terdiam di toilet itu, tanpa sadar bahwa ia sedang bekerja.
Dengan mata merah dan sembab Zafira keluar dari dalam toilet itu, menuju ruangan nya, seraya menundukan pandangan nya Zafira terus saja berjalan.
Sesampai nya di depan pintu, Zafira di bentak oleh atasan nya karna dari tadi Zafira tidak kembali dengan cepat.
"Ma-maaf Bu, ta-tadi saya ke toilet sebentar karna ...... " Ucap Zafira terbata-bata.
"Kamu itu jangan banyak alasan, baru saja jam segini sudah mencuri waktu buat bersantai. " Ucap atasan itu membentak Zafira.
Dan Rifki yang hendak mengambil kopi melihat Zafira tertunduk sendu dengan memeluk erat nampan di dada nya.
"Ada apa ini ? " Tanya Rifki, membuat atasan Zafira itu melembutkan nada bicara nya.
"Eh Tuan Rifki, maaf Tuan saya tidak melihat Tuan datang, I-ini Tuan biasa anak buah saya tidak benar saat mengerjakan tugas nya. " Jawab Wanita itu.
"Dengan cara membentak nya ? " Ucap Rifki tegas.
"Maaf Tuan, jika anda mendengar nya tadi dan mungkin kurang nyaman di telinga anda. " Ujar Wanita itu meminta maaf.
Bagi siapa pun yang melihat Rifki sama saja seperti melihat Tuan Rajendra, karna Rifki adalah orang kepercayaan Tuan besar Rajendra.
Pandangan Rifki tertuju pada Zafira.
"Za ? " Panggil Rifki.
"Iya Tuan ! " Jawab Zafira masih menundukan pandangan nya.
"Apakan sopan ? berbicara tanpa melihat ke arah sumber suara ! " Ucap Rifki.
__ADS_1
Mau tidak mau Zafira perlahan mengangkat wajah nya dan selembut mungkin melihat wajah Rifki.