
Tuan Jendra hendak melayangkan pukulan tangan nya pada Seno, namun Seno menahan nya dengan senyuman di bibir nya yang berhasil menghentikan gerakan tangan Tuan Jendra.
"Tuan bisa saja memukul saya dari araha mana pun, ya .. memang saya berengsek. Tapi setidak nya Tuan pun mempunyai sifat berengsek seperti saya ini. " Gertak Seno sangat berani pada seorang Tuan Jendra.
Sungguh, pada saat itu juga Tuan Jendra tersulut emosi nya sehingga ia mendaratkan pukulan di wajah Seno.
Namun Seno masih tidak Jera juga, Seno tetap saja cengengesan. Sambil menyeka darah di sudut bibir nya Seno berdiri.
"Apa maksud kamu hah ? berani nya kamu mengatakan itu terhadap saya, apa kamu lupa saya siapa ? " Teriak Tuan Jendra pada Seno yang semakin murka.
"Sekarang kamu keluar ! " Perintah Tuan Jendra pada Wanita yang hampir saja di perlakukan tak senonoh oleh Seno.
"Saya tidak lupa Tuan siapa, dan saya pun tidak lupa akan kejadian di malam itu. Dimana Tuan dan Zafira melakukan itu di ruangan Tuan ! " Ucap Seno tanpa jeda dan merasa menang kali itu.
Dalam diri Tuan Jendra merasa kaget dengan perkataan yang di sampaikan Seno saat itu, ternyata selain Zafira dan Rifki ada orang lain yang mengetahui nya.
Tuan Jendra terdiam dan menatap Seno dengan tatapan buas nya.
Seno kembali tertawa. " Tenang lah Tuan ! saya tidak akan memberitahukan semua itu pada siapa pun, karna Zafira meminta pada saya untuk tidak mengatakan nya. Dan saya pun tahu dampak apa jika saya buka mulut di media, Ya ... tentu saja karir Tuan akan di pertaruhkan di sana. "
"Sial ... wanita itu menceritakan kejadian itu pada Laki-laki ini, awas kamu ! " Dengus Tuan Jendra dalam hati nya pada Zafira.
Tuan Jendra masih terdiam, kini kekesalan nya tertuju pada Zafira.
__ADS_1
"Jika Tuan mau memecat saya, silahkan Tuan ! " ujar Seno dengan rasa puas nya dan pergi dari hadapan Tuan Jendra.
Seno yakin diri nya tidak akan di pecat.
Tuan Jendra sejenak duduk di kursi kerja Rifki, setelah itu langsung memasuki lift menuju lobi utama perusahaan nya, saat keluar dari dalam lift. Tatapan Tuan Jendra tertuju pada Rorong kanan dan di sana ia melihat sosok Wanita yang dari tadi berada di pikiran nya.
Zafira terlihat sedang di tarik tangan nya oleh Seno ke sebuah sudut ruangan.
"Benar saja apa yang aku duga, wanita polos itu ternyata tidak lebih dari seorang Wanita munafik dan murahan ! " Amarah Tuan Jendra semakin menjadi.
Tanpa berpikir Tuan Jendra dengan santai berjalan mendekat ke arah Seno dan Zafira, dengan alasan jika Tuan Jendra ingin memastikan jika Zafira memang wanita munafik dan murahan.
"Kenapa aku harus tegang begini ? kenapa aku harus takut jika ada yang melihat, bukan kah ini perusahaan ku ? " Gerutu Tuan Jendra pada diri nya sendiri.
Mata Tuan Jendra seketika melebar saat melihat Zafira menampar keras wajah Seno.
"Plakkkkkk " Suara tamparan dari tangan Zafira.
"Cukup ya Sen, sudah cukup kamu berlaku seenak nya terhadap diriku ! kamu selalu menganggap aku wanita murahan, kamu selalu menganggap aku wanita kotor. Hanya Karna kejadian di malam itu yang kamu pun tidak tahu kejadian awal nya seperti apa ! sekarang kamu menuntut diri ku untuk mengikuti kemauan diri mu dengan sebuah ancaman, Sudah cukup Sen ! Sekarang aku tidak perduli dengan ancaman mi itu. " Ucap keras Zafira pada Seno yang sudah mulai memberontak.
"Ancaman apa yang dia maksud ? apa ini hanya sandiwara wanita murahan itu saja ? " Batin Tuan Jendra.
Seketika Seno menarik keras rambut Zafira dan menenggakan wajah nya ke atas.
__ADS_1
"Dengar Wanita murahan, sekarang kamu sudah berani berbicara seperti ini pada ku, sampai-sampai kamu tidak takut jika aku buka mulut tentang skandal mu itu. " Seno semakin tersulut emosi nya.
Zafira dengan kuat melepaskan tarikan tangan Seno di rambut nya.
"Aku tidak mempunyai skandal apapun dengan Tuan Jendra, itu terjadi karna Tuan Jendra mabuk dan tidak sadar ! Aku tidak perduli dengan ancaman mu itu. " Jawab Zafira semakin memanas di ruangan itu.
"Ok ... jika kamu tidak perduli dengan kamu dan Tuan mu itu, bagai mana dengan Ibu mu ... hah ? " Ancam Seno tak mau kalah.
"Jika kamu berani mengatakan nya pada Ibu ku, kamu akan menyesal Seno ! " Teriak Zafira sudah tak kuasa menahan tangis dan kekesalan nya.
"Jika saja kau mau menemani ku satu malam saja, maka aku tidak akan mengganggumu dan masalah mu itu. Sudah lah jangan munafik, temani aku satu malam saja. " Bisik Seno semakin berani pada Zafira.
Saat mendengar nama Ibu nya Zafira melemah, Zafira tidak ingin Ibu nya mengetahui masalah yang sedang ia hadapi.
"Sekarang pergi kamu bajingan ! " Teriak Zafira mendorong tubuh Seno.
Seno pun pergi dengan wajah tidak bersalah, Seno bagaikan Maniak kelas tinggi yang tidak punya rasa bersalah sama sekali.
Seno tidak mengetahui jika Tuan Jendra sudah mendengar semua nya, sedangkan Tuan Jendra pun merasa bersalah karna sudah menuduh Zafira mengatakan semua nya pada Seno.
"Benar kata Rifki, dia sedang tertekan. " Ucap kecil Tuan Jendra bingung mengambil sikap apa yang harus ia tunjukan sekarang ini.
Sementara Zafira memukul wajah nya dan duduk tanpa sandaran di ruangan itu, menangis seraya menahan rasa sakit dan kekesalan di hati nya.
__ADS_1
"Sial, si Rifki kenapa harus pergi sih ! " Gerutu Tuan Jendra saking bingung harus bagaimana.