
Rifki mengantarkan adik dari Tuan nya sekaligus dia adalah kekasih nya.
Kinara selalu bahagia saat berada di samping Rifki.
Sementara Tuan Jendra masih enggan keluar dari selimut tebal nya itu.
Seraya ingin tidur pulas, tapi tetap ia tidak bisa, ia terus memikirkan Zafira.
"Baik lah ... aku sudah lelah melawan pikiran ku sendiri. " Ucap Tuan Jendra sambil bangun dari rebahan nya.
Tuan Jendra masuk ke dalam kamar mandi nya, untuk bersiap kemana diri nya ingin pergi.
Kini Tuan Jendra sudah bersiap.
"Baik lah, hari ini aku akan mengantar diri mu wahai hati. setelah ini tolong jangan ganggu diri ku dengan teka teki yang aku sendiri pun tidak tahu apa dari arti teka-teki itu. " Gumam Tuan Jendra saat memperhatikan diri nya di cermin.
Tuan Jendra keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan cepat.
"Nak ? tumben jam segini masih ada di rumah. " Tanya Ayah Tuan Jendra mencegah kepergian anak laki-lakinya.
"I-iya Pah ... ada keperluan di luar kantor yang harus aku urus Pah, Papah Baik-baik yah di rumah. Kalau ada apa-apa tolong kabarin aku. " Pinta Tuan Jendra pada Ayah nya.
Tuan Jendra bergegas pergi dari rumah nya itu, ia membawa kendaraan nya sendiri karna ia tahu Rifki kali ini pasti sedang sibuk dengan tugas yang sudah ia berikan.
Saat beberapa waktu Tuan Jendra menikmati perjalanan nya, Tuan Jendra menghela nafas panjang saat mobil nya terhenti di pelataran rumah sakit.
"Okk ... baiklah, jika ini yang kamu mau wahai diri, baik lah akan aku lakukan, setelah ini tolong tenang wahai diri .. jangan buat aku tersiksa dengan pikiran ku sendiri. " Tuan Jendra menggurui diri nya sendiri.
__ADS_1
Tuan Jendra keluar dari dalam mobil mewah nya dengan sangat gagah, kaca mata hitam membuat nya semakin tampan dan gagah pasti nya.
Beberapa satpam menyapa sopan saat melihat kedatangan Tuan Jendra.
Tak ada yang berani mengatakan hal buruk pada nya, baik di depan atau pun di belakang. Karna pegawai mana pun yang tahu Tuan Jendra dan ada di bawah naungan Tuan Jendra akan tahu seperti apa sifat Tuan Jendra itu.
Sesampai nya di depan ruangan, Tuan Jendra menghentikan langkah nya saat melihat gadis yang selalu mengganggu ketenangan nya kini sedang duduk dan mengikat rambut nya dengan susah payah.
Di Tangan Zafira ada luka dalam yang membuat nya sangat sakit saat ingin menggerakan tangan nya.
"Biar aku bantu. " Ucap Tuan Jendra yang datang tiba-tiba tanpa Zafira ketahui.
"Buuuuuuuuu ...... " Teriak Zafira yang masih syok dengan Laki-laki siapa saja yang mendekati nya.
Ibu Zafira kini sedang beradu di toilet untuk mengambilkan handuk basah untuk Zafira.
Pelukan spontan yang Tuan Jendra lakukan sungguh di luar dugaan nya, tapi ia membiarkan diri nya melakukan apa yang diri nya ingin lakukan kan.
"Lepasssss Buuuuuuuu ... " Teriak Zafira ingin menjauh dari Tuan Jendra.
Tuan Jendra membalikan badan Zafira dan ia hadapkan pada dada bidang nya.
Ibu Zafira kaget saat keluar dari toilet itu.
Namun Tuan Jendra memberikan isyarat pada Ibu Zafira, bahwa semua nya Baik-baik saja.
"Tenang lah Za, saya paham kejadian kemarin pasti melukai hati dan mental mu. Tapi jangan begini semua sudah aman, dia sudah di tahan dan dia tidak akan berani lagi berbuat seperti itu lagi pada mu. " Jelas Tuan Jendra memeluk Zafira.
__ADS_1
"Be-benar kah ? " Jawab Zafira dengan wajah lesu, dan mata penuh dengan cairan bening pertanda akan ketakutan nya.
Tuan Jendra terkejut karna usaha nya untuk menenangkan Zafira kini berhasil.
Tuan Jendra menatap dalam wajah dan mata Zafira.
"Ya ... tentu saja, saya akan berjanji tidak akan membiarkan nya keluar dari jeruji besi itu, Tenang lah. " Jawab Tuan Jendra meyakinkan Zafira.
Dan pada saat itu Zafira tersadar siapa lah orang yang kini sedang memeluk nya, secara bersamaan Tuan Jendra pun sadar dan langsung melepaskan pelukan nya.
"Tu-tuan ... maaf kan sikap anak saya, malam pun ia terus mengigau Tuan, sampai-sampai Suster dan Dokter harus menyuntikkan obat penenang pada tubuh Zafira. " Ucap Ibu Zafira lirih, dan sungkan pada Tuan Jendra.
Tuan Jendra hanya menganggung dan tersenyum tipis pada Ibu Zafira.
Setelah itu Dokter datang di dampingi oleh Suster.
"Selamat pagi Tuan Jendra ... " Sapa Dokter yang bertugas memantau perkembangan Zafira.
"Pagi Dok, bagaimana kondisi pasien ? " Tanya Tuan Jendra dengan gaya dingin nya.
"Luka-luka pada Pasien sudah membaik Tuan, tapi mental nya belum pulih dan Pasien harus meminum obat yang bisa membuat nya beristirahat, Karena saya perhatikan pasien selalu gelisah Tuan. " Jelas Dokter.
Tuan Jendra menganggukan kepala nya. " Baik lah Dok, lakukan yang terbaik bagaimana pun saya yang bertanggungjawab atas hal ini. " Ujar Tuan Jendra.
"Baik ... Tuan. "
Tuan Jendra menjadi tidak tega jika setiap saat Zafira harus meminum obat, agar bisa membuat nya tertidur.
__ADS_1