Seorang CEO Dingin

Seorang CEO Dingin
BAB 15.


__ADS_3

"Siapa dia ? laki-laki itu ! apa dia yang Zafira takuti ? tapi kenapa ? Ah mungkin aku yang salah mengartikan nya. " Gumam Rifki dalam hati nya.


Seno terus memandangi Zafira yang masih berdiri tegap dan tak kunjung mendekati nya.


Zafira mulai menggerakan kaki nya, sebenar nya jika saja ia tidak membawa kendaraan, mungkin ia akan memilih jalan lain, namun tidak ada pilihan lain.


"Dari tadi aku menunggu mu ! " Ucap Seno.


"Sebenar nya kita mau kemana ? " Tanya Zafira ketus.


"Kau ikut saja sayang, nanti kamu akan tau ! " Jawab Seno nakal.


Di sisi lain Rifki masih memperhatikan Zafira, tanpa sepengetahuan Rifki Tuan Jendra pun sedang memperhatikan Zafira.


"Aku tidak ada waktu banyak, Ibu ku sedang menunggu ku di rumah. " Sambung Zafira terlihat menahan emosi nya.


"Tidak lama Kok sayang ! " Jawab Seno sambil mengelus lembut wajah Zafira dengan jari nya.


Zafira seketika menangkis sentuhan jari Seno di wajah nya, seketika telapak tangan Zafira ingin sekali menampar wajah Seno, namun Seno berhasil menahan nya.


"Ssssttttt ... jangan begini Sayang, kamu lupa ini dimana ? kami tidak mau Ibu mu bersedih kan ? " Bisik Seno berhasil membuat Zafira diam seribu bahasa.


Seketika tatapan mata Rifki menajam sempurna melihat tingkah laku Seno, yang tadi nya Rifki menganggap Zafira sangat menyukai tingkah Seno padanya, kini Rifki menjadi kesal dan penasaran karna Zafira sangat terlihat kesal dan marah.


Sementara Tuan Jendra pun, sampai membuka kaca mata hitam nya. "Kenapa wanita itu malah mau menampar Laki-laki nya ? bukan kah sebelum nya mereka sudah bersama ? ah mungkin mereka sedang bertengkar kecil. " Batin Tuan Jendra, ikut menilai kejadian yang terjadi pada Seno dan Zafira.


Tuan Jendra tak mau jika Rifki sadar, bahwa diri nya sedang memperhatikan Zafira, padahal dari tadi Rifki selaku tangan kanan nya itupun sedang memperhatikan Zafira.


"Apa kita akan sampai malam berada di sini ? " Ucap Tuan Jendra, membuyarkan tatapan Rifki.


"Ya ampun, Maaf Tuan ! " Jawab Rifki langsung menyalakan kontak mobil mewah itu.


"Ada apa dengan Zafira ? apa jangan-jangan yang aku lihat Zafira merasa tertekan itu, karna Laki-laki itu ? siapa Laki-laki itu ? " Gumam Rifki dalam hati nya memperdulikan Zafira.


"Rifkiiiii .... kenapa kamu ini ? " Ucap keras Tuan Jendra karna kendaraan yang akan di kendalikan Rifki tak kunjung jalan juga.


"I-iya Tuan ! " Jawab Rifki sontak kaget dan langsung menginjak pedal gas kendaraan nya.

__ADS_1


Dalam perjalanan, baik Tuan Jendra maupun Rifki sibuk dengan pikiran nya masing-masing, namun pikiran mereka tertuju pada satu wanita yaitu Zafira.


Setiba nya di depan rumah mewah nan besar itu, Rifki dengan gagah nya keluar lebih dulu di banding Tuan Jendra.


Rifki membuka kan pintu mobil itu untuk Tuan nya, setelah itu Tuan Jendra pun keluar tak kalah gagah dari asistennya.


Di lantai dua rumah mewah itu terlihat seoran gadis berparas cantik sedang memperhatikan Tuan Jendra dan Rifki


Namun sayang Tuan Jendra tak melihat gadis itu, gadis itu adalah Kinara adik kesayangan Tuan Jendra.


Sebenar nya bukan lah Tuan Jendra yang Kinara perhatikan melainkan Rifki, Rifki pun sadar jika ada yang sedang memperhatikan nya.


Tuan Jendra tanpa permisi meninggalkan Rifki yang masih berdiri di samping nya.


Namun sebelum Tuan Jendra masuk ke dalam rumah nya, Tuan Jendra menitip pesan jika diri nya tidak ingin di ganggu oleh siapa pun.


"Rifki ! tolong jika ada yang menanyakan keberadaan ku, bilang saya sedang tidak ingin di ganggu. " Ucap Tuan Jendra pada Rifki.


"Baik Tuan. " jawab Rifki sopan namun tegas.


Setelah Tuan nya masuk ke dalam rumah dan sudah tak terlihat lagi, Rifki memparkirkan kendaraan mewah itu di parkiran rumah mewah itu.


Rutinitas Rifki di hari itu sudah selesai rupa nya, begitu pun dengan Tuan Jendra, yang sedang tidak ingin di ganggu karna Ingin beristirahat dengan tenang.


Rifki keluar dari dalam mobil dan memastikan jika semua nya sudah aman.


Rifki memiliki kamar pribadi di rumah Tuan Jendra, Tuan Jendra memberikn ke bebasan pada Rifki sebagai orang kepercayaan nya sekaligus teman dekat nya.


Bebas bagi Rifki untuk tidur di rumah mewah Tuan Jendra, atau Pulang ke Apartemen pribadi nya.


Karna Rifki merasa lelah dan waktu pun sudah hampir malam, Rifki memutuskan untuk beristirahat di rumah Tuan nya saja.


Saat langkah nya menuju kamar, langkah Rifki di hentikan oleh isakan tangis dan itu berasal dari arah kamar milik adik Tuan Jendra.


Canggung bagi nya untuk membuka dan menemui Kinara secara langsung tanpa sepengetahuan dan ijin dari Tuan Jendra.


Karna Rifki tahu se posesif apa Tuan Jendra pada Kinara.

__ADS_1


Rifki melanjutkan langkah nya, namun ia merasa khawatir akan tangisan Kinara.


"Apa aku beritahu Tuan Jendra saja ya ? tapi ... tadi ia berpesan jika ia sedang tidak ingin di ganggu. " Gumam kecil Rifki sambil memperhatikan sekitar.


Rifki ragu-ragu saat hendak mengetuk pintu Kinara, semakin lama isakan tangis nya semakin kuat di telinga Rifki.


Karna rasa khawatir, Rifki pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar itu, namun rasa ragu dan canggung mengehentikan lagi gerakan nya untuk mengetuk pintu itu.


Dengan lembut Rifki mengusap wajah nya, sesekali Rifki melirik ke arah kamar Tuan Jendra namun Tuan Jendra tak keluar kamar juga.


Rupa nya Tuan Jendra benar-benar sedang tidak ingin di ganggu.


"Tok ... tok ... tok .. " Suara pintu kamar Kinara di ketuk sangat pelan oleh Rifki.


Beberapa kali Rifki tak mendengar jawaban dari Kinara, hanya isakan tangis saja lah yang ia dengar.


Semakin lama Rifki semakin penasaran dan khawatir, Rifki mencoba membuka pintu kamar itu.


Dan terkejutlah Rifki mendapati kamar itu tidak di Kunci sama sekali.


Rifki perlahan membuka dan melihat sedikit demi sedikit ke adaan di dalam kamar itu.


Namun saat ketukan pintu dan suara panggilan nya tidak di jawab oleh Kinara, Rifki terkejut karna ia melihat tubuh mungil sedang terduduk sambil memeluk kedua kaki nya dan menundukan kepala nya.


"Non ... non ? " Ucap Rifki belum berani masuk ke dalam kamar itu.


Namun merasa sangat khawatir, Rifki pun masuk dengan segenap keberanian nya.


Perlahan Rifki melangkah mendekati Kinara yang sedang terisak menangis.


Rifki mensejajarkan tubuh nya dengan tubuh mungil itu.


"Non Kinara kenapa ? " Tanya lembut Rifki.


Rifki tak kunjung mendapatkan jawaban juga, tentu nya rasa khawatir nya semakin menjadi di dalam diri Rifki.


Gadis SMA itu terus saja menangis, Rifki pun menyentuk lengan Kinara.

__ADS_1


"Non ? kenapa ? "


__ADS_2