Seorang CEO Dingin

Seorang CEO Dingin
BAB 17.


__ADS_3

Namun Rifki enggan menggunakan tenaga nya untu melepas paksa pelukan itu, dengan lembut Rifki melakukan nya.


"Non, saya mengerti tentang apa yang Non katakan pada saya namun, saya minta untuk Non lepaskan pelukan ini ! ini tidak benar Non, bagaimana kalau Tuan melihat nya ? bisa salah paham. " Bisik Rifki dengan jantung yang terus berdegub kencang, bahkan Kinara pun pasti bisa merasakan nya.


Beberapa kali Rifki meyakinkan Kinara untuk mau melepaskan nya, namun Rifki tidak berhasil, sehingga Rifki menyerah dan membiarkan Kinara memeluk nya.


Dengan mengangkat tangan kanan nya, Rifki perlahan ingin mengelus kepala sampai punggung Kinara, isakan tangis masih terdengar jelas di telinga Rifki.


Segenap hati dan atas tuntunan hati, Rifki kali ini membalas pelukan itu, Rifki mengelus rambut Kinara.


Kini pelukan itu terasa nyaman bagi kedua nya, Kinara mengangkat wajah nya dan melihat ke arah Rifki.


"Terima kasih ! " Ujap Kinara, perlahan melepaskan pelukan nya dan tersenyum pada Rifki setelah itu Kinara pergi ke dalam kamar nya dengan wajah sedikit memerah.


Sebelum pergi ke dalam kamar nya, Kinara menghentikan langkah nya dan menengok kan wajah ke arah belakang tempat Rifki masih duduk.


Rifki pun melihat nya, dan seketika tatapan mereka saling terkunci sejenak, tanpa mereka sadari dan akui benih cinta mulai tumbuh di hati mereka masing-masing.


Malam itu mereka akhiri dengan senyuman penuh arti di wajah mereka masing-masing.


Kinara pergi ke dalam kamar nya, dengan perasaan gembira.


"Rifki ! ih kenapa aku ini, ahhh mungkin perasaan ini hanya akan ada malam ini saja. " Ucap kecil Kinara dengan senyuman bahagia.


Usia yang terpaut tidak jauh antar kedua nya, membuat mereka terlihat serasi jika bersama.


Lalu Rifki pun menyusul Kinara untuk masuk ke dalam rumah dan segera beristirahat.


"Dasar bocah ! untung saja Tuan tidak melihat nya, coba kalau Tuan melihat nya, bisa gawat ! " Gumam Rifki dalam hati nya.


Rifki merasakan hal yang sama dengan Kinara dalam hati nya, namun Rifki tak mau memikirkan dan mengartikan nya, Rifki sadar siapa Kinara.


Kini Tuan Jendra sudah beristirahat dengan nyaman dan tenang, Kinara yang sudah merasa terobati dari rasa kesepian nya, Rifki yang sudah bisa tenang karna degub jantung nya sudah kembali normal.

__ADS_1


Sementara Zafira masih berada di luar bersama dengan bajingan Seno.


Zafira melihat jam tangan nya sudah menunjukan hampir pukul 10 malam, tapi Zafira masih berada di luar menemani Seno dengan keterpaksaan.


Memasang wajah kesal dan emosi Zafira terus saja murung saat menemani Seno yang terus saja bercengkrama dengan para teman nya.


Ya, Seno membawa Zafira ke sebuah tempat dimana ia sering berkumpul dengan teman-teman nya, pergaulan tidak baik tentu nya.


"Sen, aku harus pergi ! ini sudah malam. " Ucap Zafira kesal.


"Tunggu lah sebentar ! lagian ini kan cuma ngobrol, bukan ngamar di hotel. " Jawab Seno pada Zafira, yang terdengar oleh teman-temannya nya.


Seketika salah satu teman nya tertawa melihat Zafira, di susul oleh tawa Seno yang terdengar menggelitik di hati Zafira.


Sungguh Zafira tidak nyaman, Zafira berdiri dan hendak pergi walaupun Seno tidak mengijinkan nya.


Seno menarik lengan Zafira untuk duduk kembali di samping nya, namun Zafira menghempaskan lengan Seno dan berhasil pergi dari samping Seno.


Karna Seno meminta Zafira untuk menyimpan kendaraan nya di kantor, dan menggunakan kendaraan Seno untuk pergi, tapi Zafira menolak nya sehingga Seno pun setuju untuk menggunakan kendaraan Zafira saja saat pergi.


"Kali ini akan aku lepaskan ! tapi setelah ini tidak ada ampun bagi mu. " Dengus Seno melihat nanar kepergian Zafira.


"Siapa sih dia Sen ? seperti nya dari tadi dia terlihat tidak nyaman di samping Lo, apa dia cewe Lo ? " Tanya salah satu teman Seno.


Seketika Seno tertawa, "Dia mainan baru gue bro ! bagaimana bagus kan ? " Jawab Seno merasa bangga terhadap diri nya sendiri.


"Gila Bro, gue gak akan pernah meragukan Lo dalam hal wanita ! semua bisa terjebak. " Ujar teman Seno di iringi tawa.


Zafira kali itu bisa lolos, karna rasa khawatir pada Ibu nya, Zafira tak segan-segan melajukan kecepatan kendaraan nya dengan cepat.


Beruntung malam itu kendaraan tidak begitu ramai.


Sesampai nya di rumah, apa yang di takutkan Zafira terjadi, Ibu Zafira menunggu di depan pintu walaupun itu sudah larut malam.

__ADS_1


"Nak kenapa baru pulang ? " Tanya Ibu Zafira dengan wajah lega.


Zafira tersenyum, " Iya Bu Maaf, a-aku lembur bu, aku gak bisa hubungi Ibu Hp ku mati Bu. " Jawab Zafira mencium Punggung Ibu nya.


"Ya sudah kamu makan dulu, setelah itu bersih-bersih langsung lah Istirahat. " Sambung Ibu nya.


"Za sudah makan Bu, Za langsung istirahat saja ya Bu ? " Jawab Zafira sambil mendorong kursi roda yang di duduki Ibu nya ke dalam rumah.


"Ya sudah, kalau begitu Ibu juga mau langsung istirahat. " Ujar Ibu Zafira.


Kedua nya pun masuk ke dalam kamar nya masing-masing.


Ibu Zafira langsung berbaring di atas tempat tidur, sementara Zafira masih dengan ketakutan nya dan amarah nya pada Seno.


Setelah beberapa lama Zafira terus bergelut dengan pikiran nya, namun rasa lelah membuat nya menyerah dan kini Zafira sudah bisa memejamkan mata nya.


Wajah cantik nan tenang terpancar dari wajah Zafira, namun wajah tenang itu akan kembali tegang saat malam sudah berganti dengan siang hari.


Zafira tersenyum tipis walaupun mata nya sudah terlelap tidur, rupa nya Zafira sedang bermimpi sesuatu yang sangat indah.


Sesuatu indah itu sangat di harapkan dalam kehidupan nyata Zafira, dimana ia bahagia dengan pasangan hidup, dan bahagia bersama Ibu nya.


Untuk kali ini Zafira baru menemukan ke bahagian nya di dalam mimpi nya saja.


Pekat nya malam kini telah usai, di ganti dengan pekat nya embun di pagi hari yang masih menyelimuti dedaunan hijau di segala arah.


Aroma sarapan pagi terlintas di batang hidung Zafira membuat nya terbangun, ia tahu hari sudah pagi dan Ibu nya pun sudah menyiapkan sarapan pagi untuk nya.


Itu lah hebat nya seorang Ibu, walaupun dengan keterbatasan nya ia masih bisa melakukan apa yang seharus nya seorang Ibu lakukan.


Zafira bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya, setelah itu ia bersiap mengenakan pakaian kerja nya dan duduk berdua bersama Ibu nya di meja makan yang sederhana itu.


Kesederhanaan selalu menyelimuti kedua nya, walaupun hidup sederhana tapi kedua nya sangat lah bahagia.

__ADS_1


__ADS_2