
Kecemasan yang di lihat oleh Zafira di wajah Ibu nya membuat nya semakin takut akan kenyataan jika nanti nya Seno akan memberitahukan kejadian itu pada Ibu nya.
Dalam renungan ngan nya Zafira terus membangun keberanian nya, dalam renungan nya Zafira terus membangun kepercayaan diri nya.
Namun sayang Zafira selalu gagal saat diri nya merasa yakin bisa, di situ pula keyakinan nya runtuh saat melihat wajah Seno.
Rute jalan yang selalu ia lewati seperti nya nampak ramai saat itu, dan entah kenapa rintik hujan menambah dingin nya di pagi hari itu.
Zafira tidak memperdulikan rintik hujan, Zafira tidak memperdulikan dingin nya di pagi hari itu.
Ia hanya terdiam sambil menunggu lampu stopan itu berubah warna, Zafira duduk di atas kendaraan nya dengan perasaan hampa, dan sangat enggan sekali jika harus segera sampai di perusahaan besar itu.
Suara klakson di setiap kendaraan membuyarkan lamunan Zafira, karna kini lampu merah sudah berubah menjadi kuning, namun Zafira tetap saja diam.
Saat Zafira sadar itu bukan lah jalan pribadi nya, wajar saja ia dimarahi oleh pengguna jalan lain nya, saat kendaraan yang ia kendarai menghalangi kendaraan lain.
Zafira langsung memacu kendaraan nya kembali, dan saat Zafira sadar jika diri nya sudah sampai, ia berusaha berdamai dengan kegelisahan nya itu.
Dan ia berhasil memaksakan diri nya untuk masuk ke dalam perusahaan itu.
Sesampai nya di ruangan, Zafira mendapatkan sambutan kurang mengenakan dari senior nya.
"Kamu punya nyali juga kembali bekerja ! kenapa kemarin kamu seenak nya pulang begitu saja ? " Tanya senior Zafira dengan ketus nya sambil berkaca pinggang.
"Maaf Bu, kemarin saya tidak kuat ingin segera pulang karna rasa sakit yang saya rasakan. " Jawab Zafira.
"Sakit ? apa yang sakit ? saya tidak melihat jika kamu sakit, alasan sakit itu hanya bisa di pakai oleh anak sekolah SD saja.
"Maaf Bu ! " Hanya itu jawaban dari Zafira menutup pertanyaan dari senior nya itu.
Tidak ingin banyak berargumentasi terlalu banyak lagi, Zafira langsung meminta maaf walau pun sebenar nya dia tidak merasa bersalah atas tingkah nya kemarin, ia memang merasa sakit. namun bukan sakit fisik yang ia rasakan melain kan sakit hati dan batin nya.
__ADS_1
Beberapa pekerjaan berhasil Zafira lakukan dan ia kerjakan dengan baik tanpa salah sedikit pun.
Saat jam istirahat pun Zafira masih dalam ke adaan baik dan berusaha happy bersama teman-temannya.
Namun saat jam istirahat habis, sosok yang sangat Zafira benci muncul di di hadapan nya, bukan hanya Zafira yang melihat sosok itu teman-teman nya pun melihat nya.
Dia adalah Seno, bagi Seno mengulur waktu lebih lama lagi membuat nya semakin tidak tahan ingin segera berkencan dengan wanita secantik Zafira.
"Hay ! " Sapa Seno pada beberapa wanita yang ada di hadapan nya, wanita itu salah satu nya adalah Zafira.
Seno mendapatkan jawaban dari sapaan nya itu, tak hanya satu tapi beberapa teman Zafira memberikan jawaban sapaan Seno dengan senyuman yang hangat, namun tidak di wajah Zafira, bahkan Zafira tidak menghiraukan Seno sama sekali.
"Hey Za, sore ini kamu temani aku untuk membeli sesuatu ya ? " Ajak Seno langsung pada inti nya.
Dengan senyuman sinis, Zafira menjawab ajakan Seno.
" Tidak bisa Sen, aku harus segera pulang cepat hari ini. " Jawab Zafira lantang tanpa menatap wajah Seno.
Mata Zafira langsung membulat sempurna.
"Ya sudah, nanti sepulang kerja aku berikan kabar bisa atau tidak nya. " Ucap Zafira memotong ucapan ancaman yang akan Seno katakan di hadapan teman-teman nya.
"Bodoh kamu Za, kenapa kamu saja yang tidak membeberkan semua nya ini sih ? atau kenapa kamu tidak membiarkan Seno mengatakan apa yang ingin dia katakan ? kami tinggal menjawab dan menjelaskan bahwa itu semua bukanlah kesalahan kamu Za ... Aaahhhhhh .... bodohhhhh, andai itu bisa aku lakukan. " Dengus Zafira dalam hati nya, pada diri nya sendiri.
Setelah jam makan siang suasana hati Zafira kembali di rundung kegelisahan di campur dengan emosi yang entah pada siapa dia harus meluap kan nya.
Waktu pun berjalan dengan cepat, jam kerja semua staf berakhir kecuali bagian kemamanan di perusahaan itu.
Seni sudah duduk dengan kedua tangan nya di lipat dan duduk di atas sepeda motor Zafira, menunggu Zafira keluar.
Dari kejauhan Zafira bersemangat untuk segera pulang, namun saat tatapan nya melihat pada sosok Seno yang duduk di atas sepeda motor nya, seketika langkah nya terhenti.
__ADS_1
Bahkan kunci motor yang sebelum nya sudah ia ambil di dalam tas nya pun terjatuh dengan sendiri nya, padahal ia sudah menggenggam erat kunci itu.
Langkah Zafira terhenti, enggan bagi nya melanjutkan langkah nya lagi, namun tidak mungkin bagi nya terus berdiri di dalam perusahaan itu sementara semua Staf sudah hampir pulang semua nya.
"Wanita itu lagi. " Ucap kecil Tuan Jendra di dalam mobil pribadi nya.
Dengan muka merendahkan Tuan Jendra melihat sosok Zafira yang masih terdiam di lobi perusahaan milik nya.
"Dasar wanita bermuka dua ! " Hardik Tuan Jendra terus saja mencela sosok Zafira.
"Ada apa Tuan ? " Tanya Rifki, yang sedang memakai sabuk pengaman.
"Tidak, heran saja pada wanita itu ! apa yang dia tunggu dari tadi hanya diam mematung saja di sana. " Jawab Tuan Jendra dengan senyum merendahkan.
Rifki melirik sosok yang di umpat oleh atasan nya itu.
"Zafira ! " Ucap kecil Rifki.
Tuan Jendra hanya menunjukan wajah datar nya saja, saat mendengar Rifki mengucapkan nama Zafira.
Rifki melihat ada raut ketakutan di wajah Zafira, dan ia mencoba mengatakan nya pada Tuan Jendra, yang sudah jelas ia takkan perduli sama sekali.
"Tuan coba perhatikan dia ! aku rasa dia sedang ketakutan, atau sedang gelisah, coba lihat Tuan ! " Ucap Rifki terus memandangi Zafira di dalam mobil bersama Tuan Jendra.
Dengan santai Tuan Jendra melirik Zafira dan menatap nya sejenak, namun Tuan Jendra tak bisa melihat apa yang di lihat oleh Rifki.
"Rifki benar, dia seperti ketakutan ! " Ucap Tuan Jendra dalam hati nya.
Tuan Jendra memperhatikan sekitar, namun saat mata nya melihat sosok Seno yang sedang duduk santai di atas motor Zafira, membuat Tuan Jendra berspekulasi bahwa Zafira tidak ketakutan, Tapi Zafira hendak berkencan dengan Seno.
"Apa yang kamu lihat tentang diri nya saat ini, saya tidak akan perduli. " Jawab datar dan dingin Tuan Jendra.
__ADS_1
Rifki tak menghiraukan jawaban Bos besar nya itu, Rifki mencoba memperhatikan sekitar.