Seorang CEO Dingin

Seorang CEO Dingin
BAB 11


__ADS_3

"Kamu menangis ? "Tanya Rifki.


Zafira melihat kepedulian di dalam diri Rifki, namun Zafira tidak mau melihat nya terlalu dalam.


"Emm ... ah tidak tuan ! tadi saya lupa kalau saya sudah sarapan dengan yang pedas, dan dengan sengaja saya mengusap mata saya karna gatal ! " Zafira ber alibi sebisa mungkin.


Rifki mengiyakan alasan yang di ucapkan Zafira, walau pun sebenar nya dia merasa Zafira sedang ber bohong pada nya.


"Oh ya Tuan, ada yang bisa saya bantu ? " Sambung Zafira membuyarkan pikiran Rifki.


"Ya ampun, saya sampai lupa tujuan saya ke sini itu apa ! tolong buatkan kopi hitam, saya tunggu di sini ya ? " Jawab Rifki sambil mengeluarkan ponsel nya.


"Baik Tuan, tapi apa sebaik nya Tuan tunggu saja di ruangan Tuan ? biar saya nanti nanti saya antarkan. " Ujar Zafira.


"Yakin ? saya mau ke ruangan Tuan Jendra, kamu yakin mau ke ruangan nya ? " Ucap kecil Rifki.


Seketika mata Zafira membulat sempurna, rasa kesal di dalam hati nya seketika muncul saat mendengar nama Rajendra.


"Baiklah kalau begitu, saya bikinkan dulu kopi nya Tuan ! " Jawab Zafira tidak mu menjawab pertanyaan Rifki.


Namun seketika langkah Zafira terhenti karna Rifki memegang tangan lengan nya.


"Saya tahu, kamu sedang ada masalah ! kalau ada apa-apa bicara lah. Siapa tahu saya bisa bantu. " Sambung Rifki.


Zafira hanya menganggukan kepala nya, lalu masuk untuk membuat kopi yang di ingin kan oleh Rifki.


"Aku melihat Zafira sedang berada di posisi tertekan saat ini, tapi kenapa dia tidak mau cerita ? " Batin Rifki.


Kopi yang di pesan Rifki pun datang, dengan sangat hati-hati Zafira menyodorkan nya pada Rifki.


Karna tidak ingin banyak pertanyaan, Zafira segera masuk kembali melanjutkan pekerjaan nya.


Di ruangan yang sangat besar dan nyaman, Tuan Jendra sedang asik nya duduk santai menghadap kaca yang bisa langsung melihat keadaan di luar yang berada di ketinggian itu.


Seperti tidak ada beban sama sekali, pribadi yang tegas membuat nya terlihat kuat dalam kondisi apapun.


Dalam santai nya Tuan Jendra di usik oleh suara ketukan pintu, yang membuat nya berhasil menoleh kan pandangan nya ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Masuk ! " Ucap Tuan Jendra dengan suara lantang nya.


Dan ternyata itu Rifki.


"Kamu Ki ! ada apa ? " Tanya Tuan Rajendra tanpa melihat Rifki.


"Saya hanya ingin bertanya Tuan, apa Non Kinara saya yang jemput ? atau bagai mana ? " Jawab Rifki.


"Jika saja ada orang lain yang saya percaya, saya pasti tidak akan menyuruh kamu untuk menjemput adik saya itu. " Jawab tegas Tuan Jendra.


"Baiklah Tuan, kalau begitu saya pamit ! " Sambung Rifki.


"Yakin hanya itu saja yang ingin kamu tanyakan terhadap saya ? " Timpal Tuan Jendra sebelum Rifki pergi dari ruangan nya.


"Yakin Tuan ! " Jawab Rifki.


"Tapi saya tidak yakin. " Ujar Tuan Jendra dengan senyuman tipis nya.


Tuan Rajendra sudah mengenal baik pribadi seperti apa Rifki itu, jika saya ada hal yang sedang Rifki sembunyikan pasti dia tahu jika Rifki sedang tidak jujur pada nya.


"Saya melihat Zafira ..... " Ucap Rifki langsung mendapatkan respon tidak mengenakan dari Tuan Jendra.


"Tidak Tuan, dia tidak berbicara apapun ! tapi saya melihat dia sangat tertekan. " Jawab Rifki berharap ada kebaikan di hati Tuan Rajendra walaupun itu hanya sedikit.


Namun Tuan Rajendra Tiba-tiba tertawa terbahak.


"Apa katamu ? tertekan ? Hahahahahaha ... " Tanya Tuan Rajendra.


Rifki sontak heran dengan sikap Bos Nya itu.


"Asal kamu tau ya Ki, tadi saya lihat dia sedang berduaan di pojok ruangan bawah bersama dengan laki-laki yang berseragam O.B juga, ya sekarang pikir ! apa yang akan mereka lakukan ? yang pantas lah wanita itu merasa tertekan, Orang dia melakukan hal yang pasti nya tidak wajar lah. " Sambung Tuan Jendra, beranggapan bahwa Zafira melakukan hal gila dengan Seno.


Seketika Rifki terdiam.


"Apa iya ? Zafira wanita seperti itu ! " Batin Rifki.


"Kalau begitu saya permisi Tuan ! " Ujar Rifki tidak mau berlama-lam berada di ruangan atasan nya itu.

__ADS_1


"Dasar wanita gampangan ! " Dengus kecil Tuan Jendra terdengar oleh Rifki.


Seketika Rifki menggelengkan kepala nya, dan keluar dari ruangan itu.


Jam makan siang pun tiba.


Sebuah makanan khusus di siapkan untuk Tuan muda besar, makanan itu sengaja di pesan Tuan Rajendra karna tidak memungkinkan bagi nya keluar kantor hanya untuk makan siang saja, oleh karna itu dia lebih memilih untuk meminta bawahan nya menyiapkan makan siang untuk nya.


Namun seolah-oleh keadaan telah memilih Zafira untuk mengantarkan makanan itu ke ruangan Tuan Rajendra.


Zafira menatap makanan yang sudah yang sudah siap di sajikan nanti nya saat sudah berada di ruangan Tuan besar itu.


Namun ia enggan mengantarkan nya, beberapa kali Zafira berpikir untuk mencari alasan, agar teman yang lain nya saja yang mengantarkan makanan itu, namun ia nampak nya tidak berhasil.


Zafira malah mendapatkan bentakan dari atasan nya, karna di nilai lamban apa lagi itu makanan untuk orang penting di perusahaan itu.


Dengan berat hati Zafira mengantarkan makanan itu, langkah demi langkah Zafira lewati, hingga pada akhir nya ia sampai di depan ruangan Tuan Jendra.


Zafira mengetuk pintu ruangan itu, hanya dengan dua kali ketukan Zafira sudah di persilahkan masuk oleh pemilik ruangan itu.


"Permisi Tuan ! ini makan siang nya, saya akan memoersiapkan nya di atas meja Tuan. " Ucap Zafira dengan wajah tertunduk.


Tuan Jendra saat itu belum mengangkat wajah nya, karna sedang sibuk dengan Laptop nya.


"Ya taro saja di sana. " Jawab Tuan Jendra.


Namun saat wajah nya ia angkat, terdiam lah Tuan Jendra dengan tataoan nya itu.


Perasaan jijik dan kesal mulai hadir di dalam diri nya, perasaan jijik karna masih berpikir Zafira sudah melakukan hal gila dengan laki-laki yang Tuan Jendra lihat tadi.


"Kenapa kamu ? tidak ada pekerja yang lain apa ? " Ucap tegas Tuan Jendra.


Zafira hanya diam dan terus menata makanan yang di pesan Tuan Jendra.


"Saya sedang berbicara, sudah Stop jangan di lanjutkan lagi. Kamu pikir saya mau memakan makanan yang sudah kamu sentuh itu. Hah ? " Ucap lantang Tuan Jendra.


Ucapan yang keluar dari mulut Tuan Jendra kalau itu, berhasil membuat Zafira menghentikan tugas nya, dan berdiri lalu menatap laki-laki yang sedang berdiri tegap itu.

__ADS_1


"Kenapa Tuan ? Apahkan saya terlihat kotor ? sehingga Tuan tidak mau memakan makanan yang sudah saya sentuh, walaupun makanan itu masih utuh dan masih tertutup rapat tanpa saya sentuh isi nya. " Ucap Zafira terlihat emosi, namun masih terdengar tenang.


__ADS_2