Seorang CEO Dingin

Seorang CEO Dingin
BAB 33


__ADS_3

Zafira tertidur di bawah pengaruh obat tidur yang Dokter berikan pada nya.


Tuan Jendra memperhatikan wajah Zafira secara seksama, sesekali Tuan Jendra pun menatap wajah Ibu Zafira yang di baluti dengan ke khawatiran.


"Saya permisi dulu. " Ucap Tuan Jendra datar Tiba-tiba pada Ibu Zafira.


"Silahkan Tuan. " Jawab Ibu Zafira sopan, tidak seperti Tuan Jendra yang terlihat seperti acuh saat berbicara.


Tuan Jendra ternyata memasuki ruangan Dokter yang menangani Zafira.


"Permisi Dok. " Ujar Tuan Jendra mengetuk pintu ruangan Dokter itu.


"Oh Tuan Jendra, silahkan masuk Tuan silahkan duduk. " Jawab Dokter itu hangat.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan. " Tanya Dokter itu, sangat sopan mengingat siapakah orang yang sekarang ada di hadapan nya.


"Dok, emm ... " Ucap Tuan Jendra bingung saat ingin mengutarakan nya.


"Oh begini Dok, kira-kira pasien bernama Zafira sampai kapan ya harus di berikan obat penenang atau obat tidur. " Tanya Tuan Jendra menanyakan suatu hal yang pasti akan membuat seorang Dokter di hadapan nya heran.

__ADS_1


"Ya ... sampai pasien terlihat membaik Tuan, karna kalau di lihat-lihat Pasien membutuhkan seorang psikolog untuk membantu pemulihan nya, Pasien trauma berat Tuan. " Jawab Dokter itu.


"Tapi sebentar Tuan, mohon maaf sebelum nya, kalau boleh saya tahu kenapa Tuan menempatkan dia di ruang keluarga Tuan, apa Tuan Wira mengetahui ini ? Maaf Tuan saya tidak bermaksud apa-apa. " Sambung Dokter itu mengutarakan kepenasaran nya.


Tuan Jendra seketika menatap tajam Dokter itu.


"Jadi, kapan saya harus mendatang kan seorang psikolog itu. " Tanya Tuan Jendra tak mau menjawab pertanyaan Dokter itu sebelum nya.


Seketika wajah Dokter itu berubah tidak enak.


"Sedapatnya Tuan. " Jawab Dokter itu.


Tuan Jendra berjalan, namun setelah ia sampai di pintu ruangan itu, Tuan Jendra membalikan badan nya dan berbicara.


"Tugas anda di sini hanya merawat pasien, tanpa harus mempertanyakan apa dan mengapa pasien itu di rawat di kamar ini dan itu. Karna anda tidak di bayar untuk itu, PAHAM ? " Tegas Tuan Jendra memberi peringatan pada Dokter itu.


"Baik Tuan, saya mohon maaf. " Jawab Dokter itu setelah di berikan peringatan oleh Tuan Jendra.


Seketika Tuan Jendra keluar dari ruangan Dokter itu.

__ADS_1


"Dokter sialan itu seharus nya tidak ada di lingkungan rumah sakit, tapi sebaik nya dia ada di lingkungan Ibu-ibu kompleks yang suka gosip kesana dan kesini. " Gerutu Tuan Jendra kesal pada pertanyaan Dokter itu.


"Dasar Laki-laki dingin, sampai malu mengutarakan jika wanita yang bernama Zafira itu special bagi nya, bagaimana tidak itu ruangan khusuk keluarga Priharja. Wajah lah kalau saya tanya kenapa dan apa alasan nya mengingat wanita itu hanya lah seorang Office girl. Dan kapan sih dia perduli pada orang lain ! " Dengus Dokter itu dalam ruangan nya.


Tanpa sadar Tuan Jendra membawa wajah kesal nya ke hadapan Ibu Zafira.


"Kenapa Tuan, apahkah ada masalah ? " Tanya Ibu Zafira khawatir pada kondisi Zafira.


"Apah ? oh ... tidak Bu, Ini bukan masalah Zafira. " Jawab Tuan Jendra singkat.


Seketika perasaan Ibu Zafira tenang mendengar nya.


"Tuan, saya ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan. Tapi kalau Tuan seandainya lagi sibuk tidak apa-apa, lain waktu saja Tuan. " Ibu Zafira ingin menanyakan sesuatu namun ia sangat merasa sungkan.


"Apa Bu ? silahkan bicara saja " Jawab Tuan Jendra duduk di sofa empuk, sedang kan Ibu Zafira masih sama masih duduk di atas kursi roda.


"Terima kasih, begini Tuan emm ... apa sebaik nya anak saya di rawat di kelas 3 saja. Jujur saya tidak tahu ini kelas berapa apa ada kamar rumah sakit sebagus ini. Saya tidak punya biaya Tuan. " Jelas Ibu Zafira secara perlahan.


"Ini kelas VVIP Bu, hanya keluarga saya yang bisa di rawat di sini. " Jelas Tuan Jendra membuat wajah Ibu Zafira tak percaya.

__ADS_1


"Masalah biaya, Ibu tidak usah khwatir. Semua biaya saya yang tanggung. " Sambung Tuan Jendra menghapus semua kegelisahan di dalam hati Ibu Zafira


__ADS_2