Seorang CEO Dingin

Seorang CEO Dingin
BAB 21


__ADS_3

Sejenak Tuan Jendra menyaksikan kepiluan gadis malang yang sedang terduduk bersimpuh di atas lantai tanpa sandaran sedikit pun.


"Kamu memang berwibawa, tapi hati kamu tidak buta. " kata-kata itu timbul di dalam hati dan pikiran Tuan Jendra, tanpa ada yang berbisik dan mengatakan satu orang pun pada nya.


Entah atas dorongan apa Mahesa melangkahkan kaki nya mendekat ke pada Zafira, Zafira yang masih tertunduk tak menyadari jika ada yang sedang mendekat pada nya.


Saat Tuan Jendra sampai di hadapan Zafira, Zafira mulai sadar dan mulai melihat kaki siapa yang kini sedang berdiri di hadapan nya.


Saat tahu yang ada di hadapan nya Tuan Jendra, Zafira buru-buru berdiri dan menghapus air mata yang masih membasahi wajah nya.


Pikir Zafira ia akan mendapatkan penghinaan lagi dari Tuan Jendra.


"Maaf Tuan, Permisi. " Ucap Zafira ingin segera pergi dari hadapan laki-laki yang Zafira anggap sebagai laki-laki yang tidak memiliki hati nurani.


"Tunggu ! " Ucap Tuan Jendra yang tidak di dengar oleh Zafira.


Zafira terus saja melangkah menjauhi Tuan Jendra.


"Saya bilang tunggu ! " Teriak keras Tuan Jendra yang tidak sengaja berteriak, karna Zafira tidak mau mendengar nya.


Kini Zafira terhenti lalu membalikan badan nya, dan berjalan kembali mendekat pada Tuan Jendra.


Namun kini Zafira sudah muak dengan semua nya.


"Ada apa Tuan menghentikan saya ? apa Tuan ingin mengatakan saya wanita murahan lagi ? apa Tuan ingin mengatakan saya wanita menjijikan ? atau bahkan Tuan ingin mengatakan hal yang lebih rendah dari itu, hah ? " Ucap keras Zafira dengan emosi sambil menahan air mata yang hampir jatuh membasahi pipi nya.


"Jawab Tuan ? kenapa Tuan diam saja ? silahkan katakan apa yang ingin Tuan katakan, telinga saya sudah terbuka lebar untuk mendengarkan hinaan Tuan atas diri saya. " Sambung Zafira membulatkan tatapan nya pada Tuan Jendra.


Karna rasa muak nya Zafira berani melawan Tuan Jendra.


"Saya sudah mendengar semua yang Seno kata kan terhadap mu barusan, dan saya ..... " Ucap Tuan Jendra namun Zafira langsung memotong pembicaraan nya.


Zafira langsung tertawa, namun mata nya mengeluarkan air mata yang dengan susah payah ia tahan agar tidak jatuh, namun sayang air mata itu terlalu memaksa Zafira untuk menjatuhkan nya.

__ADS_1


"Oh .... baguslah ! sekarang Tuan Puas ? karna ada orang lain selain Tuan yang sudah menginjak-injak harga diri saya. Kalau saja saya sedang tidak menjaga hati dan perasaan seorang Ibu mungkin saya sudah enyah dari pekerjaan ini, dan saya pun tidak perlu menjelaskan kenapa dan bagaimana pada Tuan, karna Tuan sudah mendengarkan nya sendiri. " Sambung Zafira masih dengan rasa muak nya.


Tuan Jendra benar-benar melihat amarah dari rasa sakit yang Zafira tunjukan pada nya.


"Aku sudah salah, sesakit ini kah perkataan ku menyakiti diri nya. Ya Tuhan ... " Ucap menyesal Tuan Jendra dalam hati nya.


Zafira menangis tanpa suara dan mulai frustasi dengan kekesalan yang sedang ia rasakan.


Tuan Jendra menarik lengan Zafira lalu ia memeluk nya.


Entah atas rasa iba atau rasa apapun itu, Tuan Jendra memeluk tubuh wanita yang sedang merasa tertekan itu.


"Tenang lah ! semua akan baik-baik saja, tidak akan ada yang melukai perasaan atau hati Ibu mu. Saya bisa jamin itu. " Ujar Tuan Jendra lembut agar Zafira bisa sedikit tenang.


Zafira bukan wanita gampangan tentu nya, walaupun yang sedang memeluk nya itu adalah laki-laki tampan ataupun Laki-laki mapan sekali pun ia akan menolak untuk di sentuh.


Zafira sedikit mendorong tubuh Tuan Jendra untuk melepaskan pelukan nya dan menjauh dari diri nya.


Ingin sekali Tuan Jendra menghentikan langkah Zafira namun langkah Zafira kini lebih lebar dan cepat.


Zafira masuk ke dalam toilet sembari menenangkan diri dan merapihkan wajah nya, membasuh air mata yang terus saja membasahi wajah nya.


Setelah Zafira merasa cukup dan sedikit tenang, ia keluar dari dalam toilet itu dan mulai bekerja seperti biasa nya.


"Kamu kenapa Za ? " Tanya teman Zafira.


"Ah .. tidak, aku hanya kelilipan saja ! " Jawab Zafira berbohong.


"Kelilipan ko sampai bengkak gitu Za ? " Sambung teman Zafira itu.


"I-iya tadi aga susah entah debu atau semut yang masuk ke dalam mata ku ini, rasa nya sangat perih sekali. " Timbal Zafira.


"Sampai dua dua nya seperti itu Za. " Ucap tak percaya teman Zafira.

__ADS_1


Teman Zafira adalah Rani yang selalu menemani Rani di waktu senggang kala kerjaan sedang santai.


Dan Tuan Jendra masih dengan lamunan nya, namun kini ia sedang berada di sebuah restoran mewah yang tidak jauh dari perusahaan nya.


Lalu tak jauh dari tempat Tuan Jendra duduk, ada dua orang wanita yang terus saja berbisik dan menatap Tuan Jendra, Tuan Jendra sadar jika kedua wanita itu sedang memperhatikan dan membicarakannya.


"Lihatlah si tampan itu ! " Ucap salah satu wanita itu pada wanita yang duduk di samping nya.


"Oh itu, itu kan Tuan muda Rajendra Priharja pemilik perusahaan besar itu. " Jawab Wanita yang ada di samping nya itu.


"Benar kah ? laki-laki itu pengusaha muda ? " Tanya Wanita itu, sebut saja Debi dan Tamara.


Dari tadi Debi terus saja memperhatikan Tuan Jendra namun tidak di respon oleh Tuan Jendra, Tuan Sendra bersikap dingin sekali pun ia tahu ada wanita yang sedang memberikan kode pada nya.


"Sial, dingin sekali Laki-laki itu ! " Dengus Debi pada Tamara.


"Kalau gue sih sudah tidak aneh, dia memang super duper dingin, entahlah bahkan sedingin kulkas. Kamu tahu beberapa wanita berusaha mendekati nya bahkan wanita kelas atas pun, tidak ia lirik sama sekali. " Jawab Tamara tak perduli pada sosok tampan namun dingin itu.


"Emmm ... kita lihat saja nanti, Lo tau kan seorang model seperti gue bisa mendapatkan apa yang gue ingin kan. " Ambisi Debi merasa tertantang oleh ucapan Tamara tentang Tuan Jendra.


"Sudah lah Deb, sekalipun Lo model kelas atas Lo gak bakalan mampu masuk ke dalam keluarga Priharja, contoh nya saja ayah nya, Tuan besar Wira Priharja. Walaupun di tinggal istri nya dia tidak memilih menikah lagi bukan tidak ada Wanita yang mendekati nya, namun Tuan Wira selalu bersikap dingin dan selalu mencintai mendiang istrinya walaupun sudah terkubur oleh tanah, begitu pun dengan anak nya buah tidak akan jatuh jauh dari pohon nya. " Jelas Tamara mengingatkan Debi.


Debi hanya menyunggingkan senyum, dan memperhatikan Tuan Jendra dari kejauhan.


Sementara Tuan Jendra hanya sibuk dengan pikiran dan perasaan nya.


"Kenapa aku ini ? apa aku tidak sadar jika tadi aku memeluk nya ? ahhh bodoh .... " Cerca Tuan Jendra dalam hati pada diri nya sendiri.


Seorang CEO dingin seperti Tuan Jendra mampu di buat lupa diri oleh seorang office girl polos seperti Zafira.


Makanan yang di pesan oleh Tuan Jendra tidak sedikitpun ia makan, ia hanya mengaduk-aduk nya saja.


Jam makan siang pun selesai, Tuan Jendra di ingatkan oleh sekertaris nya jika setelah jam makan siang Tuan Jendra ada pertemuan penting bersama kolega yang baru saja datang dari luar negri.

__ADS_1


__ADS_2