
Dengan ketus nya Tuan Rajendra menganggap Zafira ingin meminta uang pada nya.
Entah sampai kapan Tuan Rajendra memikirkan jika Uang bisa mengatasi segala nya.
"Kenapa dengan anda Tuan ? kenapa Wanita sebaik Zafira harus anda kait-kaitkan dengan uang ? Padahal dia tidak pernah dan mengatakan nya langsung pada anda. " Batin Rifki menilai sikap Tuan Rajendra.
Rifki melanjutkan fokus nya kembali saat berkendara.
Sementara Tuan Rajendra fokus pada alat gadget yang sedang ia pegang, untuk mengontrol semua saham yang ia tanam di beberapa perusahaan besar.
"Oh ya Ki, apa tidak ada kabar dari sekolah nya Kinara ? tidak ada masalah kan ? " Tanya Tuan Rajendra ingat pada adik bungsu nya.
"Oh ... Non Kinara baik-baik saja Tuan, masalah sekolah nya pun semua aman, dan para siswa laki-laki itu sudah di skors oleh wali kelas nya, sesuai perintah anda Tuan. " Jawab Rifki dengan percaya diri.
"Ok ... baik lah, agar mereka tahu adik siapa Kinara sebenar nya, saya tidak suka jika ketenangan adik saya ada yang mengusik. " Timpal Tuan Rajendra.
"Iya Tuan, saya paham. " Sambung Rifki.
"Jika Non Kinara tahu bahwa kakak nya bersikap seperti ini, dia pasti akan marah besar. " Batin Rifki.
Dalam perjalanan menuju istana Tuan Rajendra Rifki terlihat sangat fokus.
Dan akhir nya Tuan Rajendra sampai di istana nya. Pribadi yang selalu ia bawa di dalam kantor tidak terlihat saat di dalam istana nya.
Dengan langkah gontainya Tuan Rajendra masuk ke dalam istana yang nampak megah itu.
__ADS_1
Sebelum ia beristirahat, belum tenang rasa nya jika belum bertemu orang-orang terkasih nya, termasuk si gadis di keluarga Tuan Rajendra.
Tuan Rajendra mencari keberadaan Kinara, saat pencarian nya tertuju pada satu ruangan, diamana ruangan itu banyak sekali lukisan-lukisan yang sangat penuh arti bagi keluarga Tuan Rajendra.
Bibir Tuan Rajendra merekah penuh senyuman, saat yang ia cari-cari ternyata sudah ia temukan. ia mendekati nya dengan ke kaguman yang luar biasa.
Sosok gadis belia cantik nan pintar, apalagi dalam hal melukis dia adalah adik bungsu Tuan Rajendra, Kinara.
"Hay ... " Sapa Tuan Rajendra dari arah belakang.
Kinara si gadis cantik itu, menoleh dan tersenyum.
"Hallo kak ! "Jawab Kinara tersenyum dengan tatapan kembali pada hasil lukisan nya.
"Very good .. ! " Ucap kagum Tuan Rajendra.
Tuan Rajendra tersenyum dan mengecup pangkal rambut adik bungsu nya itu.
"Ya tentu saja, bukan hanya bagus tapi lukisan ini mempunyai makna dan nilai seni yang luar biasa. Memang bakat Mommy di warisi pada kamu Dek. " Jawab Tuan Rajendra.
Kinara hanya tersenyum, dan kembali mempercantik lukisan yang berupa pemandangan yang sangat asri.
Tuan Rajendra memang sangat menyayangi adik bungsu nya itu, terlebih saat mendiang Ibu nya meninggal.
"Kakak ke kamar dulu ya ? " Ucap Tuan Rajendra dengan tangan nya mengacak-ngacak lembut rambut Kinara.
__ADS_1
"Ok siapp Kak. " Jawab Kinara imut.
Tuan Rajendra pun berjalan menaiki anak tangga menuju kamar pribadi nya.
Di bukakan lah pintu kamar itu, nuansa estetik nan mewah tergambar di setiap sudut ruangan itu.
Walaupun Tuan Rajendra masih single, tapi kamar nya sudah cukup luas di hiasi tempat tidur berukuran king size dan hiasan-hiasan yang semua nya bisa di bilang unik nan langka.
Ia membukakan Jas yang masih ia kenakan, ke sembarang arah ia simpan. Nampak tubuh kekar terlihat pada Tuan Rajendra.
Tanpa menunggu lama, Tuan Rajendra menyambar kain handuk dan masuk ke dalam kamar mandi pribadi nya, rasa untuk segera menyentuh air sudah tak sabar saat itu.
Sementara di tempat lain Zafira duduk termenung seorang diri, menatap langit yang begitu indah meskipun warna biru nya sudah tak nampak lagi, namun keindahan nya masih nampak jelas di hiasi bintang yang nampak indah pula.
Tetesan air berwarna bening mulai turun beriringan dengan apa yang di rasakan di dalam hati Zafira, Zafira tak segera menghapus nya seolah-olah Zafira sengaja membiarkan nya agar terjatuh.
Tatapan mata indah yang dimiliki oleh mata Zafira, kini di penuhi dengan linangan air mata. Kesendirian nya membuat Zafira tak menahan nya seorang diri, untuk itulah Zafira lebih memilih untuk membiarkan air mata nya terjatuh tanpa ada seorang pun yang bisa menghentikan nya.
"Kenapa nasib membawa ku ke hadapan laki-laki itu ? aku korban, tapi seolah-olah akulah tersangka nya ! " Ucap kecil Zafira.
Ada satu hal yang membuat Zafira sangat terluka dan sangat sakit hati, yaitu saat melihat lalu mengingat tatapan Seno pada nya.
Tatapan binal yang sangat merendahkan Zafira, dan menganggap Zafira sebagai wanita murahan.
Andai saja Zafira memiliki keberanian sedikit saja untuk melawan nya, Zafira pasti akan melawan nya.
__ADS_1
Namun saat ancaman itu mengatasnamakan Ibu nya, rasa nya tidak ada keberanian lagi.