
Beberapa kali Rifki mengatakan dan menanyakan hal yang sama, namun kali ini ia merasa menyerah.
Namun saat Rifki hendak pergi, tangan Rifki di pegang oleh Kinara.
Mata sendu di penuhi air mata terlihat jelas oleh Rifki di mata gadis itu.
"Jangan pergi ! " Pinta Kinara menahan tangis nya.
Permintaan Kinara saat itu membuat hati Rifki tersentuh, seolah olah Rifki terbawa dalam kesedihan yang sedang Kinara rasa kan.
Rifki menuntun tubuh Kinara untuk berdiri.
"Non kenapa ? ada yang bisa saya bantu ? atau ... mau saya panggilkan Tuan untuk segera menemui Non Kinara sekarang ? " Tanya Rifki berbicara tanpa jeda.
Namun pertanyaan Rifki tak dapat jawaban dari bibir Kinara, Rifki malah mendapatkan pelukan erat dari Kinara.
Seketika jantung Rifki berdegub kencang, saat Kinara memeluk dan menempelkan wajah nya di dada bidang nya itu.
Tak berani membalas pelukan Kinara, Rifki hanya berdiri tegap, sejenak ia membiarkan Kinara menangis.
"Jangan tinggalkan aku, dan jangan panggil Kakak, Tetap lah di sini ! " Pinta Kinara membuat Rifki semakin bingung.
"Ini tidak benar Non, Tuan pasti akan marah besar jika mengetahui saya ada di dalam kamar Non, tanpa sepengetahuan nya. " Ucap Rifki merasa takut dan canggung.
Tangisan gadis cantik itu pun semakin tak ter elakan lagi.
"Ya sudah begini saja, saya akan temani Non Kinara, tapi jangan di sini ya ? Non turun ke taman, nanti saya temani di sana. " Pinta Rifki karna sungguh merasa tidak nyaman saat berada di dalam kamar seorang gadis yang merupakan adik Tuan nya.
Kinara mengangguk dan melepaskan secara perlahan pelukan nya pada tubuh Rifki.
" Ok, ijinkan saya untuk berganti pakaian terlebih dahulu, setelah itu saya akan menemani Non Kinara di taman ! " Sambung Rifki.
Rifki pun berhasil keluar dari kamar Non Kinara.
__ADS_1
Rifki langsung masuk ke dalam kamar nya, dan langsung mandi sebentar setelah itu mengenakan pakaian tidur nya.
Dengan langkah yang sangat lebar, Rifki bergegas keluar kamar menuju taman di belakang rumah itu.
"Maaf Non jika menunggu lama ! " Ujar Rifki pada Kinara.
Kinara duduk di sebuah kursi taman, sementara Rifki masih berdiri di belakang Kinara.
"Duduk ! " Ucap Kinara.
"Baik Non. " Jawab Rifki sambil duduk di tak jauh dari Kinara.
Percakapan pun mulai terjalin antar kedua nya.
"Emm ... apa di sekolah ada masalah lagi Non ? "Tanya Rifki.
"Tidak. " Jawab Kinara pilu.
"Lalu apa yang membuat Non Kinara menangis ? " Ujar Rifki.
Gadis se usia Kinara seharus nya memang sedang berada di masa happy bersama dengan teman-teman nya, di masa Putih abu nya seharus nya itu adalah Momen yang sangat menyenangkan, namun tidak untuk Kinara.
Di sekolah Kinara tidak mempunyai teman dekat, semua teman nya merasa takut akan sikap Tuan Jendra yang begitu posesif nya pada Kinara.
Rifki tertengun merasa bersalah.
"Maaf ya Non, itu salah saya ! saya yang selalu membuat teman-teman Non kapok saat ingin berteman dengan Non Kinara. " Ucap Rifki lembut.
"Tapi itu kan perintah dari Kakak ! " Jawab Kinara.
"Iya Non, tapi Non Kinara ini beruntung karna Tuan sangat sayang pada Non Kinara ! Tuan peduli, sehingga dia tidak ingin melihat adik nya ada yang menggangu. " Gumam Rifki berusaha menenangkan Kinara.
"Apa ? peduli ? kakak ? dia perduli pada karir nya saja, kakak tidak mau tercoreng nama nya jika saja aku salah dalam bergaul, tapi apa dia gak sadar sikap nya itu membuat diri ku kesepian. " Gerutu Kinara dengan nada emosi.
__ADS_1
Rifki melihat wajah Kinara sangat benar-benar dalam perkataan nya.
"Aku sangat merasa bersalah untuk ini, aku hanya mematuhi apa yang di perintahkan oleh Tuan, tanpa pernah memikirkan perasaan Kinara ! " Gumam Rifki dalam hati nya, sambil memperhatikan wajah polos gadis yang masih duduk di bangku SMA itu.
Rifki termasuk Laki-laki yang sangat berperasaan lembut, apalagi terhadap wanita, tapi sekali ia mengeluarkan kepribadian nya yang tegas, ia akan tegas dan kuat akan pendirian nya, untuk itulah dia sangat di percayai oleh Tuan Rajendra priharja.
Udara semakin dingin pada malam itu, namun Kinara masih bersedih dan enggan masuk ke dalam kamar nya.
"Non .. saya janji akan membicarakan nya pada Tuan ! saya yakin Tuan akan mengerti, tapi sekarang Non masuk dulu ke dalam kamar, udara semakin dingin ! tidak baik jika Non terus berada di luar seperti ini. " Ucap Rifki merasa khawatir.
Kinara hanya menyeka air mata nya, lalu menggelengkan kepala nya tanda tidak mau masuk ke dalam kamar nya.
"Jika kamu ingin masuk, masuk saja ! biar kan aku di sini. mau di sini atau pun di dalam kamar tetap saja aku merasa sendiri. " Jawab Kinara dalam isakan tangis nya.
"Mana mungkin aku meninggalkan mu. " Jawab Rifki dalam hati nya.
"Ya sudah Non, saya temani sampai Non mu masuk ke dalam kamar ! " Jawab Rifki lembut sambil melipatkan kedua tangan nya di dada, karna sungguh udara sangat terasa dingin sekali.
Kinara memperhatikan Rifki, yang sedang duduk di samping nya dan sedang memperhatikan sekitar.
"Sungguh baik hati mu, aku tau udara dingin ini merasuk ke dalam tubuh mu ! karna aku pun merasakan nya, andai saja aku mempunyai teman yang perduli seperti dia, mungkin saat ini aku tidak akan merasa kesepian. " Gumam Kinara menilai Rifki yang tidak sadar jika sedang di perhatikan olah seorang Kinara.
Kinara yang sedang duduk sejajar dengan Rifki kini kedua nya hanya terdiam, walau pun sejajar tapi masih banyak jarak antar kedua nya.
"Non .. ayo kita masuk ! udara semakin dingin, besok Non harus sekolah ! bagaimana jika Non masuk angin dan sakit ? " Bujuk Rifki pada Kinara.
Seketika Kinara memeluk Rifki ke dua kali nya, betapa syok nya Rifki mendapati pelukan hangat nan erat di tubuh nya.
Pelukan hangat itu dari gadis cantik, yang selama ini selalu ia antar kemana pun ia pergi, sejenak Rifki merasakan pelukan hangat itu, detak jantung Rifki semakin tak ber aturan. Sungguh tak ada keberanian bagi Rifki untuk membalas pelukan itu.
Rifki terdiam dan Kinara semakin mengeratkan pelukan nya, saat Kinara semakin mengeratkan pelukan nya Rifki tersadar jika itu tidak benar.
"Non ? " Ucap Rifki berusaha melepaskan pelukan Kinara di tubuh nya.
__ADS_1
Namun pelukan itu cukup kuat, Rifki bisa saja melepas paksa pelukan erat itu dengan tenaga yang ia punya.