
"Hey bajingan, kenapa kau mengganggu Zafira hingga kamu ingin berbuat kotor dengan nya ? " Dengus Rifki kesal pada Seno.
"Sa-saya khilaf Pak. " Jawab Seno tidak berani melawan.
"Apa ? Khilaf ? Dasar bodoh, lihat saja apa yang akan polisi lakukan terhadap mu, bajingan. " Cerca Rifki menegakkan telunjuk nya ke wajah Seno yang sudah babak belur itu.
"Sial kenapa setan satu itu tahu jika aku membawa Zafira ke sini. Jika saja dia datang 20 menit lagi mungkin saat ini aku sudah merasakan kesenangan di atas tubuh Zafira." Gumam Seno dalam hati nya sambil menahan sakit.
Sementara Tuan Jendra memandangi Zafira yang masih tergolek pingsan di kursi belakang kemudi nya.
"Semoga kamu baik-baik saja, dan tidak terjadi apa-apa. " Ucap kecil Tuan Jendra.
Kini Seno sudah berada di tangan pihak berwajib, dan Zafira kini sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Tuan Jendra memerintahkan Rifki untuk mengabari Ibu nya, dan usahakan jika Ibu nya itu tidak Syok apalagi sampai pingsan mendengar nya.
Setelah tugas Rifki berhasil, Rifki pun di perintahkan tuk menunggu Zafira sampai sadar, dan kabar apapun harus segera sampai pada Tuan Jendra.
Seni berpikir . " Kenapa Tuan Jendra segitu peduli nya pada Zafira, apa Tuan Jendra menyukai Zafira ? tapi mana mungkin, status sosial mereka berbeda, jika ia begitu syukur lah. Jadi penasaran bagaimana yah cara Tuan Jendra mengungkapkan perasaan nya, hahahaha ... Tuan Jendra kan CEO yang sangat dingin. " Gumam kecil Rifki seorang diri duduk di samping Zafira yang masih belum sadar juga.
__ADS_1
Dan di saat Zafira tersadar, Zafira memegang kepala nya yang terasa pusing, seluruh badan nya sakit. ia mulai menyesuaikan mata nya dengan cahaya yang ada di ruangan itu.
"Dimana aku ? " Ucap kecil Zafira.
Seno yang melihat Zafira tersadar sontak berdiri dan mempertanyakan apa Zafira Baik-baik saja.
"Syukur lah Za, apa kamu baik-baik saja ? " Tanya Rifki mendekat pada Zafira.
Seketika Zafira berteriak dan tidak mau di dekati oleh Rifki, walaupun Rifki tidak mempunyai niat Apa-apa pada Zafira.
"Pergi kamu. " Teriak Zafira ketakutan.
"Tidak, aku tidak butuh siapapun, keluar. " Teriak Zafira kembali.
"Ok, baik lah. " Jawab Rifki langsung keluar untuk segera memanggil Dokter.
Sementara Zafira menangis dan ketakutan.
"Suster ... suster ... " Panggil Rifki berlari.
__ADS_1
"Iya Pak. " Jawab Suter yang bertugas.
"Sust, pasien atas nama Zafira sudah sadar tapi dia berteriak ketakutan. " Jawab Rifki.
"Baik lah Pak, akan segera kami periksa. "
Suster langsung ke ruangan Dokter untuk memberikan kabar, sementara Rifki langsung menghubungi Tuan Jendra
Tuan Jendra yang saat itu sedang memikirkan Zafira, Tiba-tiba mendapatkan tlp dari Rifki ia kaget saat Rifki menjelaskan keadaan Zafira saat itu.
Ibu Zafira sengaja di bujuk sebisa mungkin oleh Rifki agar tidak khawatir dan Rifki berjanji akan membawa pulang Zafira sesegera mungkin.
Namun tetap saja Ibu Zafira kini hanya diam di depan pintu dan menangis karna anak kesayangan nya tak kunjung datang.
Tuan Jendra bergegas pergi ke rumah sakit, setelah tiba di rumah sakit Tuan Jendra di suguh kan pemandangan mengharukan.
Zafira sedang di suntik penenang, wajah Zafira yang masih lebam kini di basahi oleh air mata.
"Dok bagaimana keadaan nya. " Tanya Tuan Jendra.
__ADS_1
"Pasien mengalami trauma berat Tuan, sehingga kita harus hati-hati saat berbicara dengan nya, rupa-rupanya kejadian yang dia alami menyisakan ketakutan teramat dalam bagi pasien. " Jawab Dokter menjelaskan se Detail mungkin.