
Tuan Jendra melirik wajah Zafira tenang namun tatapan nya itu seolah-olah merendahkan Zafira.
Suara tepuk tangan seketika terdengar dari tangan Tuan Jendra.
"Heh ... kamu pikir saya tidak tahu ! tadi kamu melakukan apa di bawah sama O.B itu ? sudah lah .. wajah polos kamu itu tidak akan membuat mata saya tertipu ! " Oceh Tuan Jendra.
Semakin terpukul lah Zafira, karna tidak ada sedikit pun rasa iba pada diri Tuan Rajendra.
Zafira menundukan kepala nya seraya menahan air mata nya yang hampir tumpah kembali.
Karna ia merasa percuma saja debat dengan Tuan besar itu, tidak ada guna nya.
"Permisi Tuan ! " Ucap Zafira tanpa melihat wajah Tuan Jendra.
Zafira lebih memilih untuk pergi dari ruangan itu, tanpa membalas dan membela diri nya di hadapan Tuan besar itu.
Tuan Jendra tertengun diam melihat sosok Zafira yang hanya terdiam dan menundukan kepala nya, biasa nya Zafira menegap kan tubuh nya saat ingin membela diri nya sendiri.
__ADS_1
"Ya sebaik nya kamu cepat keluar dari ruangan saya, ruangan saya sudah cukup bersih sebelum kamu datang ke ruangan saya. " Ucap tegas Tuan Rajendra santai tanpa mengingat hati seorang wanita yang akan sakit hati terhadap ucapan nya itu.
Langkah Zafira terhenti sesaat, setelah mendengar hinaan kembali dari mulut Tuan besar itu.
Ingin rasa nya Zafira berteriak, atau bahkan menampar mulut dan wajah Tuan Rajendra pada saat itu juga.
Namun apa daya Zafira hanya bisa mengeratkan telapak tangan nya, dan memejamkan mata nya dengan kuat.
Setelah itu langkah nya ia percepat, dan rasa nya sudah tidak kuat lagi untuk nya bertahan di perusahaan itu.
Di setiap langkah Zafira semakin memantapkan hati nya untuk keluar dari perusahaan itu, tanpa memikirkan bagaimana ia harus mencari nafkah jika dia keluar dari perusahaan itu, walaupun hanya sebagai seorang office girl.
Zafira memilih untuk pulang lebih awal, dan meminta ijin pada senior nya. Sebelum senior nya itu memberikan izin Zafira sudah terlebih dulu pergi dari tempat itu.
Dengan membawa setumpuk rasa kecewa, marah, emosi ia bawa dengan satu pikiran yang sama, yaitu pikiran jika ia harus segera keluar dari tempat itu.
Hari itu Zafira berhasil keluar dari tempat yang membuat nya sangat merasa tertekan itu.
__ADS_1
Sesampai nya di rumah, ia mencoba menenangkan hati nya karna tidak ingin melihat ibu nya khawatir terhadap nya.
"Loh Nak ! kok pulang nya cepat ? " Tanya Ibu Zafira, yang langsung menyambut Zafira walaupun hanya duduk di atas kursi roda.
Zafira menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan seraya ingin mengambil ketenangan untuk diri nya sendiri.
Zafira tersenyum, lalu merunduk di hadapan Ibu nya.
"Iya Bu, aku dapat ijin pulang cepat ! karna di tempat aku bekerja ada satu acara, jadi selain Staf di perboleh kan pulang cepat. " Ucap Zafira sebisa mungkin mencari alasan.
"Oh begitu ! ya sudah, kamu istirahat dulu. " Jawab Ibu Zafira sambil membenarkan anak rambut Zafira yang berantakan.
Zafira tersenyum dan menganggukkan kepala nya, lalu ia mendorong kursi roda yang di duduki Ibu nya ke dalam rumah.
Zafira menghabiskan waktu nya beberapa saat untuk beristirahat, lalu ia keuar dari kamar nya.
Langkah dan tatapan Zafira terpaku saat melihat Ibu nya yang sedang mengelus kaki nya dan sesekali Zafira melihat Ibu nya itu meringis kesakitan.
__ADS_1
Rasa sakit kembali berkecamuk di dalam hati nya, rapuh rasa nya melihat sosok wanita yang sangat ia cintai menahan kesakitan di waktu yang cukup lama.
Seketika Zafira memikirkan jika ia keluar dari pekerjaan nya yang sekarang, bagai mana dengan keseharian Ibu nya, bagaimana dengan biaya hidup ia bersama Ibu nya, bagaimana dengan obat yang harus Zafira beli setiap bulan nya.