
"Yakin kecelakaan ?" Timpal Seno.
"Hemm ... yakin lah !" Jawab Zafira terus menghindar dari Seno.
"Ehemm ... Za, kapan kamu bisa menemani aku ? " Tanya Seno Tiba-tiba.
"Temenin ? maksud nya ? " Tanya balik Zavira.
"Sudahlah Za, wajah polos kamu tuh tidak akan bisa menutupi kepribadian mu, apalagi di depan Laki-laki seperti aku. " Ujar Seni dengan senyuman merendahkan Zafira.
Zafira mulai menajamkan pandangan nya pada Seno. " Apaan sih Sen ? gak jelas deh. "
"Jelas ko Za, malam itu kamu bukan terjatuh kan ? Tapi terjatuh di tubuh Tuan besar Rajendra ! bukan begitu ? hebat lo Za, bisa menaklukan Laki-laki sekelas Tuan Rajendra. So .... meskipun gue tidak sekelas Tuan Rajendra gue bisa lebih memuaskan di bandingkan Tuan Rajendra. " Seno terdiam sejenak. " Dan satu lagi, gue akan memainkan nya secara halus, tidak seperti dia kasar." Ujar Seno dengan lantang nya.
Zafira mulai panik, tidak menyangka jika orang lain ada yang mengetahui kejadian nya.
"Kamu jangan macem-macem Sen, itu tidak seperti yang kamu pikirkan. " Ujar Zafira emosi, namun ia tidak bisa menutupi ketakutan nya.
Takut jika Seno membicarakan nya pada Orang lain.
"Usttt .... uuuustttt... tenang-tenang Sayang, gue tidak akan memberitahukan pada siapa pun, termasuk pada Ibu mu itu. Tapi temani gue ya ?tidak harus malam ini ko sayang, aku akan menunggu sampai kamu siap ! Tapi ingat jika lama, mulut ku ini akan gatel dan tidak tahan untuk mengumbar kisah panas Lo bersama Tuan Rajendra. " Ujar Seno menyentuh sedikit rambut Zafira.
Seno pergi dengan tawa puas nya, sementara Zafira hanya bisa duduk dengan ketakutan nya, apalagi saat Seno mengatakan akan memberitahukan Ibu nya.
"Bagaimana ini ? " Zafira sangat gugup.
"Apa aku bicarakan pada Tuan Rajendra saja, agar segera membereskan ancaman yang akan Seno lalukan ? Ya Tuhan, bagaimana aku bicara pada Tuan Rajendra ? " Batin Zafira sungguh gemetaran saat mengingat perkataan Seno.
Zafira tidak ada waktu lama untuk memikirkan ketakutan nya, Zafira harus melakukan pekerjaan nya.
__ADS_1
Saat Zafira sudah mengantarkan kopi hangat ke salah satu ruangan, Zafira melihat Tuan Rajendra hendak keluar dari ruangan nya.
Zafira segera mengambil keputusan bahwa itu adalah waktu yang tepat, jari tangan ia erat kan pada nampan yang ia bawa, Zafira melangkah mendekati Tuan Rajendra yang sedang sibuk dengan ponsel nya.
Saat Tuan Rajendra sadar jika ada seseorang yang menghalangi jalan nya, Tuan Rajendra membuka kaca mata nya dan melihat sosok Zafira yang kini sedang ada di hadapan nya.
Tuan Rajendra melihat wajah Zafira sedang memperhatikan sekitar, "Apa yang akan dia katakan ? Dia tidak boleh mengatakan nya di sini. " Batin Tuan Rajendra.
Tuan Rajendra menarik tangan Zafira ke sudut ruangan yang ada di sekitar nya, agar tidak ada yang melihat nya.
Setelah sampai di sudut ruangan, Tuan Rajendra melepaskan genggaman nya dan mengelapkan telapak tangan nya pada jas yang ia kenakan.
Zafira sedikit tersinggung, namun ia tidak ingin memperdulikan hal itu karna ada yang lebih penting.
"Tu-tuan .... saya ingin bicara ji-jika ... A-a !! " Ucapan Zafira di potong oleh Tuan Rajendra.
"Apa ? Apa yang ingin kamu katakan ? Makanya kalau jadi wanita tuh jangan munafik, sebelum nya saya sudah katakan, kamu mau uang berapa ? agar kamu bisa melupakan kejadian malam itu." Ujar Tuan Rajendra tidak memikirkan perasaan Zafira sama sekali.
Keinginan Zafira untuk menjelaskan apa yang ingin ia katakan pun seketika tidak bisa ia katakan, mulut nya terkunci begitu saja.
"Menccttt ... " Bibir Tuan Rajendra berdecak seketika. " Sudah lah jika perlu uang katakan pada orang kepercayaan saya, saya tidak ingin melihat air mata buaya mu itu. " Ujar Tuan Rajendra memakai kaca mata nya lagi lalu pergi meninggalkan Zafira yang masih terpaku dengan rasa sakit nya.
"Tega sekali anda mengatakan nya, kenapa aku harus masuk ke dalam zona seperti ini ? Ibu ... maafkan aku, aku takut Bu ! aku bingung harus bagaimana ? " Batin Zafira di dalam kesendirian nya.
Zafira menyeka air mata yang hampir jatuh dari pelupuk mata nya. Zafira keluar dari sudut ruangan itu, dan kembali ke tempat dimana ia harus berada.
Sementara Tuan Rajendra masih dengan pikiran jelek nya pada Zafira, malah lebih jelek dari sebelum nya.
Saat melihat wajah Seno, Zafira seperti ingin mencari pertolongan namub ia bingung harus pada siapa ia meminta pertolongan.
__ADS_1
Karna Orang yang tepat hanyalah Tuan Rajendra.
"Aku coba bicara pada Rifki saja, mungkin bisa membantu ku untuk membicarakan nya pada Tuan Rajendra. " Pikir Zafira.
Namun sebelum Zafira menyampaikan niat nya pada Rifki, Seno sudah bisa menebak nya.
Sehingga ancaman lebih kejam pun Seno katakan lagi jika sampai Zafira mengatakan nya pada Rifki.
Waktu itu sudah saat nya Zafira pulang karna waktu kerja nya sudah habis.
Saat di area parkir, Zafira melihat sosok Tuan Rajendra sedang duduk santai di dalam mobil nya, dengan jendela kaca mobil nya terbuka.
Kedua nya saling bertatapan, Zafira ingin sekali tidak melihat wajah itu lagi, namun keadaan nya memaksa nya untuk terus berusaha menjelaskan pada Laki-laki yang sangat ia benci itu.
Tuan Rajendra langsung menutup kaca mobil nya, saat tahu Zafira sedang melihat nya.
Lagi-lagi pil pahit harus ia telan kembali.
"Aku tidak butuh uang mu atau pertanggung jawaban dari mu Tuan, aku hanya minta tolong itu pun atas nama Ibu ku Tuan. " Batin Zafira lalu pergi menggunakan sepedah motor matic nya.
"Sialan tuh Wanita, semakin membuatku tidak tenang. Aku yakin Wanita itu akan menuntut sesuatu dari ku, atau akan mengancam ku. Dasar Wanita .... " Dengus Tuan Rajendra.
"Apa ada masalah Tuan ? " Tanya Rifki yang sedang mengemudi.
"Hah ... ah tidak ! " Jawab Tuan Rajendra enggan membicarakan wanita itu pada Rifki karna itu kan percuma saja.
"Kalau pun ada masalah, masalah itu akan sampai lebih dulu di telinga mu. " Sambung Tuan Rajendra santai.
"Baik Tuan. " Jawab Rifki melihat wajah Tuan Rajendra lewat kaca spion di dalam mobil.
__ADS_1
"Jika ada masalah soal Wanita itu, tolong cepat selesaikan, jangan sampai masalah itu sampai di telinga saya. Berapa pun yang dia minta kasih saja. Tapi harus ada perjanjian yang harus ia setujui dan ia tandatangani. " Sambung Tuan Rajendra.