
"Oh jadi semalam saya mabuk, ya ampun mereka membiarkan ku sendiri. " Ujar Tuan Rajendra mengelengkan kepala nya.
"Tidak Tuan, Tuan tidak sendirian ... " Jawab Rifki.
"Maksud kamu, mereka menemani ku tau kamu ? " Tanya Tuan Rajendra.
Rifki terdiam sejenak.
"Rif katakan. " Sambung Tuan Rajendra menekan Rifki.
"Tuan saat itu bersama dengan salah satu O.B di salah satu perusahaan Tuan. " Jawab Rifki di potong oleh teriakan Tuan Rajendra yang tidak terima atas sikap O.B yang di maksud oleh Rifki.
"Siapa dia ? berani-berani nya masuk tanpa seijin saya, pecat dia. " Geram Tuan Rajendra enggan melihat wajah O.B itu, karna dia pikir O.B itu mencuri kesempatan dalam kesempitan.
"Sebentar Tuan, justru dia menjadi korban. Korban saat Tuan sedang mabuk berat, waktu saya masuk ke dalam ruangan Tuan, Tuan sudah menghajar nya habis-habisan di dalam kamar mandi, karna O.B itu menolak keras apa yang ingin Tuan lakukan pada nya, ketahuilah Tuan. Tuan hampir saja melampiaskan nafsu Tuan pada O.B itu, O.B itu sudah tidak berdaya semua wajah sudah memar akan pukulan dari Tuan, bahkan bibir nya berdarah. Kondisi O.B itu sudah tersungkur dengan pakaian atas sudah terbuka dengan paksa oleh Tuan. " Jelas Rifki membuat Tuan Rajendra sempat tidak percaya.
"Darah ? " Ucap kecil Tuan Rajendra mengingat ada goresaan darah di dalam kamar mandi.
Rifki melihat ketidak percayaan di wajah Tuan nya. " Jika Tuan tidak percaya, lihat tangan Tuan itu gigitan dari perlawanan O.B itu, lihat bibir Tuan itu gigitan dari O.B itu saat Tuan memaksa nya untuk melayani nafsu Tuan. Dan memar di wajah Tuan itu pukulan dari tangan saya, karna Tuan menyerang saya saat saya berusaha menjauhkan Tuan dari tubuh O.B itu, dia sudah tidak berdaya Tuan. "
"Benar kan Rif, aku sampai seperti itu ? Siapa nama O.B itu dimana dia sekarang ? aku tidak mungkin meminta maaf pada nya, sebaik nya kamu urusi saja pesangon untuk dia dan keluarkan dia dari perusahaan saya." Jawab Tuan Rajendra memikirkan reputasi nya, jika saja O.B itu membicarakan nga pada Media.
"Menurut saya jangan seperti itu Tuan, biarkan lah dia bekerja di perusahaan Tuan, saya yakin dia tidak akan menuntut apapun, karna dia pun meminta saya untuk tidak menceritakan kejadian memalukan itu pada Tuan dan siapa pun. Tapi menurut saya Tuan berhak tahu. " Jelas Rifki.
__ADS_1
"Disini kan saya Bos nya, kenapa kamu yang menasehati saya. " Bentak Tuan Rajendra karna panik.
"Maaf Tuan, saya kembalikan lagi pada Tuan. Jika saja Tuan pecat O.B itu apakan O.B itu akan terima ? bisa saja dia sakit hati dan membeberkan semua nya. Dia gadis baik Tuan nama O.B itu Zafira, bahkan saat saya mengantarnya Safira berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja. Saya bertanya pada diri nya hanya sekedar ingin tahu jawaban nya. Saya bertanya ( kenapa kamu menutupi ini semua, kenapa kamu tidak mau membicarakan nya pada semua orang ? ) dia menjawab. ( Ada hati yang perlu saya jaga, dan saya tidak mau menyakiti hati itu, dan saya tidak mau kehilangan kepercayaan saat saya sedang bekerja. ) Saya pikir yang dia maksud adalah suami nya, ternyata bukan Tuan. Pemilik hati itu adalah seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi roda dengan sabar menunggu putri nya pulang, Putri nya itu adalah Zafira. " Jelas Rifki tanpa jeda.
"Jadi saya harus bagaimana Rif. Saya tidak mau sampai wartawan tahu, reputasi saya bisa hancur begitupun dengan karir saya, saya tidak mau itu terjadi. Dan saya pun tidak mau menemui nya. " Ujar jelas Tuan Rajendra tidak ada itikad baik nya sama sekali.
"Jika Tuan meminta pendapat saya, saya saran kan Tuan menemui nya dan menjelaskan pada nya pada saat malam itu Tuan sedang mabuk berat dan tidak ingat sama sekali, saya yakin Zafira akan memahami nya. " Saran Rifki yang entah di terima atau tidak oleh Tuan Rajendra.
"Ya sudah kamu atur saja, jika perlu saya keluarkan uang untuk membungkam mulut nya. " Ujar Tuan Rajendra.
"Zafira ? nama yang asing di telinga ku, apa dia O.B baru ? " Ujar Tuan Rajendra dalam hati nya.
"Untung aku tidak sampai menodai nya, kalau sampai itu terjadi bagaimana ? Hancur semua. " Sambung Tuan Rajendra mengusap kasar wajah nya.
Rifki menyuruh Zafira untuk datang ke sebuah Cafe, dan Safira akan di jemput oleh salah satu sopir Tuan Rajendra.
Sebenar nya Zafira sangat lah malas, namun Rifki mengatakan jika pertemuan itu akan membuat kedua belah pihak tidak ada ke salah pahaman.
Jika saja urusan Zafira tidak bersangkutan dengan pemilik perusahaan tempat ia bekerja, Zafira tidak mau menuruti permintaan Rifki.
Zafira menyetujui permintaan Rifki, dan menuruti perintah yang di katakan oleh Rifki.
Di sebuah cafe, Zafira tidak melihat sosok Rifki ataupun Tuan Rajendra. Tapi Zafira sudah di persilahkan untuk menunggu di no meja yang sudah di sedia kan oleh Rifki .
__ADS_1
Zafira menunggu, dan di sudut lain Tuan Rajendra dan juga Rifki sedang memperhatikan sosok Zafira dari ke jauhan.
Rifki mendampingin Tuan Rajendra kemana pun ia di butuhkan, Rifki pasti akan selalu ada.
"Itu orang nya Tuan. " Ujar Rifki
"Kita selesaikan ini, dan malam ini juga, saya sudah tidak mau ada urusan lagi dengan O.B itu. " ujar Tuan Rajendra.
"Baik Tuan. " Jawab Rifki.
Sosok ke dua laki-laki berparas tampan, memakai pakaian soperti layak nya orang ingin bersantai di cafe.
"Ehem ... " Ucap Rifki.
Zafira menundukan kepala nya saat melihat Tuan Rajendra.
Tuan Rajendra melihat wajah Zafira lebam dan memar di sebelah mata dan bibir nya.
"Silahkan Tuan. " Ujar Rifki.
"Saya menemui kamu di sini, untuk mengklarifikasi kejadian di malam itu, sungguh saya sebagai pemilik perusahaan tidak ada niatan sama sekali, apalagi terhadap bawahan seperti kamu. Saya harap kamu bisa melupakan semua nya dan diam, diam untuk tidak berbicara dengan siapa pun. Katakan berapa pun yang kamu inginkan akan saya penuhi. " Ujar Tuan Rajendra terlihat seperti orang yang tidak bersalah sama sekali.
"Loh ... kenapa Tuan malah berbicara seolah-olah dia merendahkan Zafira yang hanya seorang O.B. " Batin Rifki sangat menyesali nya.
__ADS_1
Zafira menatap Tuan Rajendra dengan sinis, lalu menatap Rifki.