Seorang CEO Dingin

Seorang CEO Dingin
BAB 19.


__ADS_3

Tidak ada pembicaraan sama sekali saat perjalanan, bahkan Zafira hanya bergelut dengan pikiran nya saja, terbanyang saat malam itu terjadi.


Tuan Jendra lah yang pertama kali menyentuh tubuh Zafira, walaupun Tuan Jendra terus saja menyangkal nya.


Mereka pun sampai di perataran parkir perusahaan itu, mulai lah semua mata mulai menatap sinis pada kedua nya terutama pada Zafira.


Desas desus bisikan pun mulai terdengar samar di telinga Tuan Jendra maupun Zafira.


Ya tentu saja mereka jadi bahan gunjingan, kenapa tidak ! seorang Bos besar datang bersama dengan seorang office girl dalam satu kendaraan.


"Sial .. baru kali ini aku merasa malu pada karyawan ku sendiri, awas kamu Rifki. " Dengus Tuan Jendra dapat terdengar oleh Zafira.


"Apa dia bilang ? sial ? dasar cowo arogan, jabatan nya saja tinggi. tapi ahlak nya nol besar. " Dengus kecil Zafira yang dapat terdengar samar oleh Tuan Jendra.


"Bilang apa kamu ? " Bentak Tuan Jendra pada Zafira.


"Tidak Tuan. " Jawab Zafira lalu pergi dari hadapan Tuan Jendra dengan berani nya.


"Sialan tu cewe, berani nya bersikap seperti itu. " Dengus Tuan Jendra terus saja merajuk kesal.


Zafira dengan santai nya berjalan dan tidak memperdulikan tentang bisikan orang-orang yang melihat nya.


"Wow .... rupa-rupanya ada yang sudah kencan, benar pesona mu kuat Za, masih bisa memikat Laki-laki sombong itu. " Ucap Seno yang datang entah dari arah mana.


Zafira tidak ingin menggubris nya sama sekali, Zafira terus berjalan.


"Sesombong apapun kamu, kamu tetap wanita murahan Zafira, dasar Munafik ! " Ejek Seno terus saja menguji kesabaran Zafira.


Zafira mengeratkan tangan nya kuat, ingin rasa nya ia menampar mulut kotor nya Seno, namun Zafira masih ingat jika percuma saja ia melawan mulut jahat Seno.


Zafira tidak menggubris Seno dan terus berjalan menuju ruangan kerja nya, sementara Tuan Jendra masih dengan Majah kesal nya.

__ADS_1


Duduk di kursi kebesaran nya, Tuan Jendra terus saja mengusap kasar wajah nya.


"Kenapa waktu terus saja mempertemukan ku dengan dia ? waktu terus saja memposisikan diri ku untuk melihat nya, tapi apa beda nya dia dan pekerja lain nya ? ahhhhh ... terus kenapa sekarang aku memikirkan nya ? " Ucap Tuan Jendra menghakimi diri nya sendiri.


Rifki sampai di kantor dan langsung menemui Tuan nya.


"Tuan ! ada yang bisa saya lakukan ? atau Tuan perlu apa ? biar saya ambil kan. " Tanya Rifki basa-basi.


"Saya hanya tidak habis pikir terhadap kamu Ki ! sejak kapan pikiran kamu sependek itu ? kamu tidak memikirkan bagaimana malu nya saya, saat semua karyawan melihat saya datang bersama wanita itu, apa kamu sengaja ? " Cerca Tuan Jendra pada Rifki.


Rifki yang berdiri tidak jauh dari Tuan Jendra, hanya terhalang oleh sebuah meja kerja saja.


Rifki tak tahan menahan tawa nya, namun ia tahan sebisa mungkin, karna tidak mungkin ia tertawa lepas di hadapan Tuan Jendra.


"Tuan ? Tuan kenapa ? ini sudah siang tuan, Tuan masih memikirkan Zafira ? saya berpikir Tuan sudah melupakan kejadian tadi pagi, Ya Tuhan ... lihatlah, tumpukan Map ini pun belum asa yang Tuan tanda tangani satu pun ! dan itu gara-gara memikirkan Zafira ? " Ucap Rifki berhasil membuat wajah tampan Tuan Jendra memerah.


Lagi-lagi otak pintar Tuan Jendra tidak bisa berpikir dan kalah oleh perkataan Rifki yang memojokan Tuan Jendra.


Semakin tak kuasa menahan tawa, tidak ada rasa takut sama sekali di diri Rifki karna Rifki tahu, jika Tuan nya itu tidak sedang marah, namun ia merasa malu dengan sikap nya sendiri.


Rifki memutuskan untuk pergi ke sekolah tempat Kinara bersekolah, walaupun jam pulang sekolah masih lama tak mengapa, Rifki akan menunggu sambil mengawasi Kinara di sekolah.


Waktu pun berjalan sampai jam makan siang pun tiba, Tuan Jendra ingin sekali makan di luar pada saat itu, Tuan Jendra menghubungi Rifki untuk mengantar nya ke sebuah restoran langganan nya.


"Hallo ? " Ucap Tuan Jendra saat sambungan Tlp itu di angkat oleh Rifki.


"Iya Tuan ! " Jawab Rifki.


"Kamu dimana ? " Tanya Tuan Jendra.


"Saya sedang berada di sekolah Non Kinara Tuan, ada yang bisa saya bantu ? " Jawab Rifki.

__ADS_1


Tuan Jendra langsung melihat jam tangan nya.


"Ini baru jam istirahat, kenapa kamu sudah ke sekolah adik saya ? " Tegas Tuan Jendra.


Seketika Rifki memutar otak nya untuk segera menemukan jawaban yang tepat, karna tidak mungkin Rifki mengatakan jika ia teringat kejadian semalam saat Kinara terus bercerita dan memeluk nya.


"ini Tuan, tadi saya sedang berada di ruangan saya, namun Non Kinara menghubungi saya untuk segera ke sekolah. Karna Non Kinara akan ada kerja kelompok di luar sekolah. " Jawab Rifki ber alibi sebisa mungkin.


"Oh ... ya sudah kalau begitu ! saya di antar Pak Joko saja, kamu jaga terus adik saya. Kalau terjadi apa-apa terhadap adik saya, kamu akan tahu akaibat nya. " Ancam Tuan Jendra pada Rifki dan langsung menutup sambungan Tlp itu.


Saat keluar dari ruangan nya, Tuan Jendra sudah mendapati ruangan sekertaris nya sudah kosong karna memang itu sudah jam istirahat.


Saat hendak melewati ruangan Rifki, Tuan Jendra mendengar suara bising, memang sebelum Rifki keluar dari ruangan nya, Rifki memerintahkan dua orang office boy dan office girl untuk membersihkan ruangan nya.


Tuan Jendra penasaran, lalu ia melihat nya. Dengan terkejut Tuan Jendra melihat pekerja wanita itu sedang berusaha melepaskan diri dari pekerja Laki-laki itu.


Dengan cepat Tuan Jendra masuk, dan menarik baju laki-laki itu dengan keras nya dari arah belakang.


Pekerja Laki-laki itu seketika tersungkur ke arah belakang karna tarikan kuat dari Tuan Jendra.


"Laki-laki itu ? bukan kah dia pacar nya Zafira ? " Batin Tuan Jendra lalu melihat tanda pengenal nya "Seno "


Lamunan Tuan Jendra seketika buyar saat mendengar tangisan dari wanita itu, seketika amarah Tuan Jendra memuncak.


Tuan Jendra berjalan ke arah Seno yang masih tersungkur di lantai, Tuan Jendra menarik pakaian Seno.


"Sialan kau, mau bermain kotor di perusahaan ku, Hah .... " Bentak Tuan Jendra sambil menarik kerah pakaian Seno.


Telapak tangan Tuan Jendra sudah membulat sempurna dan kuat pula, sudah tidak tahan ingin memukul wajah Seno yang hendak bermain kotor di perusahaan nya.


Karna pikir Seno ia sudah terlanjur ketahuan, Seno pun ingin melawan Tuan Jendra tapi ia rasa tidak mungkin, sekali saja ia memukul Tuan Jendra pasti jeruji besi penjara akan menanti nya, maka dari itu Seno akan melawan Tuan Jendra dengan ucapan nya saja, dan Seno yakin Tuan Jendra akan merasa kalah dengan ucapan nya itu.

__ADS_1


__ADS_2