Sepenggal Luka "Rania"

Sepenggal Luka "Rania"
SRL. Tuhan mempunyai rencana lain


__ADS_3

''Saya terima nikah dan kawinnya, Rania Adriansah binti Fulan dengan mas kawin seperangkat alat solat dan mas kawin sebesar 3gram kalung di bayar tunaiii.'' Danang mengucapkan ijab kobul hanya dengan sekali helaan nafas..


''Bagaimana para saksi? Sah.''


Sah..


...Sah.....


Sah..


...Sah.....


Ustad yang menikahkan Rania dengan Danang membacakan beberapa ayat suci Alquran. Sedangkan hati Rania sedang tidak baik baik saja.


Remuk sudah hati yang tersisa di dalam organ tubuh Rania, hancur sudah impian dirinya untuk sekolah tinggi dan menggapai cita-cita yang dia impian menjadi seorang dokter..


Janji suci yang seharusnya tidak di ucapkan, kini terucap di waktu yang salah. Di waktu Rania belum mengenal cinta, bukan masalah cinta! tapi salahnya adalah menikah di usia belia bahkan Rania belum merasakan apa itu yang di namakan datang bulan.


Bertanya dalam hati, apa salah nya? mengapa dia harus menanggung beban berat ini. Ingin sekali Rania mengamuk dan menuntut keadilan untuk dirinya yang masih berumur 14 tahun harus di paksa menikah dengan orang yang tidak dia cinta.


Bahkan Rania pernah berpikir, apa mungkin dia bisa bahagia jika yang mengurusnya ibu kandungnya sendiri?


Namun sekali lagi kenyataan harus menampar Rania, karna pada kenyataannya ibu kandungnya sendiri pun berniat membuang dirinya sewaktu Rania masih bayi..


Setelah selesai ijab kobul Rania di bawa ke rumah milik Danang, yang di berikan oleh sang ayah untuk membangun rumah tangga sederhana..


Ketika sampai di di rumah baru Rania. Ainun dan Harun begitu bahagia saat menerima amplop dari Danang tanpa sepengetahuan kedua orang tua Danang. Amplop berwarna coklat yang Ainun pegang sangat tebal yang pastinya uang di dalam tidaklah sedikit..


Ainun pun mengedarkan pandangannya lalu menggelengkan kepalanya saat netra matanya melihat rumah yang akan di tinggali oleh putri angkatnya. Rumah yang akan di tempati Rania bergaya minimalis dan nyaman untuk di tempati dan termasuk mewah pada jamannya..

__ADS_1


''Ran sinii.'' Panggil Ainun pada Rania yang tengah duduk di sofa..


''Iya mah.''


''Ayo kita lihat kamarmu, kata nak Danang kamar kamu ada di sana.'' Tunuk Ainun membawa Rania ke kamar pengantin, lalu menutup pintu karna Ainun takut ada yang mendengar obrolan mereka..


''Sini, sini, sini, Ran.'' Ainun membawa Rania duduk di sisi ranjang. ''Dengar yaaa Ran. Kalau kamu di kasih uang bulanan sama suami kamu, jangan lupa bagi sama Mamah kan Mamah yang udah ngurus kamu dari kamu bayi, jadi kamu harus nyadar diri sedikit saja yaa.'' Ainun berucap tanpa rasa bersalah di dalam hatinya, bahkan bisa di bilang bahwa Ainun menjual anak yang sudah dia besarkan.


Bukan hanya menjual tapi sudah menggadaikan perasaan Rania yang begitu rapuh dan remuk, seakan dia mata Ainun Rania tidak berharga sama sekali..


''Heh Ran! kamu itu denger gak sih? malah ngelamun.'' cibir Ainun.


''Iyaa mah.'' Jawab Rania menoleh ke arah Ainun dengan rasa kecewa dengan mata berkaca kaca menahan tangisan yang ingin keluar..


''Baguslah kalau kamu sudah mengerti, tunggu disini yaaa karna suami mu bentar lagi akan datang.'' Ainun melangkah ke luar kamar dan menutup pintu, meninggalkan Rania seorang diri..


Braaakk.


''Ya Allah, aku tau ini sudah jalanku. Aku juga tau kau sedang menguji seberapa sabarnya diriku. Tapi mengapa sesakit ini ya Allah, hanya padamu tempat aku berkeluh kesah, hanya padamu aku berani meminta pertolongan.. Tolonggg dengan sangat, ringankanlah rasa sesak di lerung hatiku. Ringankanlah segala beban yang sudah menumpuk di pundakku, berikan sedikit kebahagiaan pada hambamu yang lemah ini.'' Gumam Rania dalam hati, dengan tetesan air mata membasahi sprai lalu tanpa sadar Rania tertidur dengan sendirinya..


Malam Hari•


Rania sudah membersihkan tubuhnya dari keringat yang lengket, Rania juga memakai baju yang sudah Danang siapkan di dalam lemari karna Rania tidak di izinkan membawa apapun dari rumahnya..


Kini Rania sedang melamun dekat jendela, dengan tatapan kosong mengarah ke arah kegelapan di malam hari yang dingin dan sunyi..


Di luar kamar tepatnya di ruang tamu, teman-teman Danang satu persatu sudah pulang dari kediaman barunya. Danang menutup pintu dan menguncinya lalu berjalan dengan gontai karna pengaruh alkohol yang dia minum..


Braaakkk.. Pintu terbuka bersamaan dengan datangnya Danang berjalan sempoyongan, membuat Rania menjadi takut saat melihat Danang

__ADS_1


''Ma_ ma mau apa kamuu!'' sentak Rania saat Danang menghampirinya..


Danang terkekeh. ''Aku ini sekarang suami mu! mau ngapain juga terserah aku.'' Danang mencekal pergelangan Rania.


''Auuu sakit.'' Badan Rania menggigil karna takut, saat tangannya di cengkram..


Danang menyeret Rania dan mendorong Rania ke atas ranjang dengan kasar. ''Aahhh.. Rania mohon jangan sentuh Rania, Rania masih kecil hisk..'' mohon Rania mencoba untuk mundur..


Danang yang melihat dan mendengar rengekan Rania tak perduli, bahkan kini Danang mencengkram kedua kaki Rania hingga Rania tak bisa berlari..


''Mau kemana kau.''


Sreeekk.. Danang merobek baju Rania dengan kasar, lalu mencumbu Rania yang menangis di bawah tubuhnya meminta ampun untuk melepasakan dirinya..


''Jangan! Rania mohon Jangan!.'' Rania terus meronta sambil menagis, namun Danang tak memperdulikan itu semua..


Sreeeekk.. Sreeekk..


Danang terus melucuti kain yang menempel di tubuh Rania, hingga Rania nampak polos tanpa sehelai benang pun. Tak sampai disitu, Danang mengikat kedua tangan Rania hingga Rania tidak bisa bergerak..


Tangisan Rania pecah saat sesuatu di bawah sana memaksa masuk. Membuat Rania berteriak meminta ampun namun Danang membekap mulut Rania dan terus menghentak, tanpa mau perduli dengan perasaan Rania yang merasakan sakit luar dan dalam..


Hancur sudah perasaan Rania saat kesuciannya di renggut dengan paksa di umurnya yang masih berusia empat belas tahun. Sungguh biadap memang, pria brengsek yang menggauli anak di bawah umur dengan kasar dan brutal tanpa memikirkan psikologis sang anak. Yang akan mengalami trauma yang mungkin tidak akan bisa di lupakan dalam jangka waktu sebentar.


''Hisk.. Hiks.. Tolong hentikan! itu sakit, Rania mohonn.'' ucap Rania dalam hati, karna dia tidak bisa berteriak untuk meminta tolong karna mulut di bekas dengan kedua tangan di ikat..


Rania hanya bisa menangis tiada henti dan meminta pertolongan pada sang maha pencipta untuk mengirimkan seseorang yang sudi menolongnya. Namun seberapa keras Rania berteriak memanggil sang maha pencipta, tetap saja Tuhan belum mau mengulurkan tangan untuk menolongnya.


Karna Tuhan sudah memiliki rencana yang indah untuk Rania, namun bukan saatnya Rania memiliki kebahagiaan itu di waktu yang dekat. Karna Tuhan masih ingin menguji kesabaran, ke ta'atan, dan keimanan seorang Rania..

__ADS_1


...•••••...


...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA...


__ADS_2