Sepenggal Luka "Rania"

Sepenggal Luka "Rania"
SLR. Niat Balas Dendam


__ADS_3

''Rania nak, tungguu.'' Ainun terus berteriak memanggil Rania, hingga para tetangga saling pandang mendengar nama yang sempat menghilang selama enam tahun lamanya..


''Rania tunggu.'' Ainun mencekal pergelangan tangan Rania. ''Tunggu Nak.''


Rania menoleh dan menatap Ainun dengan tatapan datar. ''Ada apa lagi?''


''Kemana kamu pergi selama ini? kenapa kamu baru pulang Ran, mamah sama A'indra sangat menghawatirkan mu.''


''Untuk apa aku pulang! aku tidak memiliki keluarga atau pun rumah untuk berteduh selama ini.'' jawab Rania singkat.


''Jangan seperti itu Ran, maafkan ibu yang sudah menelantarkan mu. ibu minta maaf Ran.'' ucap Ainun dengan lirih, entah itu ucapan tulus dari hatinya atau hanya basa basi belaka.


''Tidak perlu meminta maaf, karna tidak ada yang yang harus di maafkan. semuanya sudah terjadi, dan aku sudah memberikan uang jasa asuh padamu! semua sudah impaskan?''


''Singgah dulu Ran, bapak pasti senang melihat mu. Biar nanti mamah suruh orang untuk ngasih tau bapak yang masih ada di ladang.'' ujar Ainun.


''Baik, tapi dengan satu syarat.''


''Apa?''


''Aku akan singgah tapi sebagai imbalannya, berikan alamat ibu kandungku.''


Deg... Jantung Ainun berdesir, menelan ludahnya dengan susah payah. ''Ta__tapi untuk apa nak?''


''Kalau tidak mau yasudah, saya permisi.''


''Tunggu Ran! baiklah, mamah berikan alamatnya tapi singgah dulu dan temui bapak.'' Ainun menuntun Rania kembali kedalam rumah.

__ADS_1


Tak ada yang tau apa yang tegah Rania rencanakan, sehingga dia meminta alamat rumah ibu kandungnya. Entah itu Rania ingin bertemu dan melihat wajah ibu kandungnya, atau mempunyai niat terselubung di balik itu semua..


Only God and Rania know...




Di sisi lain, tuan Amar yang akan menemui Rania mengurungkan niatnya saat sang istri berkunjung ke kantornya, bersamaan dengan datangnya A'indra membawa bunga di tangannya..


''Bunga untuk siapa ini?'' tanya Anya melihat sang suami.


''Bunga untuk mu.'' cetus tuan Amar tanpa menoleh pada istrinya..


''Benarkah?'' Anya menerima Bunga itu dengan senang hati dan senyum mengembang di wajahnya, ia tidak menyaka jika sang suami berlaku romantis padanya..


''Hmm.'' dehem tuan Amar merasa dongkol pada sang istri, karna tidak biasanya Anya datang ke kantor di waktu siang.


Anya melangkah lalu memeluk tuan Amar dari belakang. ''Terima kasih sayanggg.'' Anya mencium pipi sang suami beberapa kali.




Di kediaman Ainum•


Harun sang ayah angkat, yang tidak lain adalah Uwa kandung Rania tengah meminta maaf atas perlakukan mereka selama ini. Rania hanya mengangguk tak banyak bicara, entah mengapa Rania kehilangan simpati melihat Harun dan Ainun menangis di depannya..

__ADS_1


''Saya harus segera pergi.'' ucap Rania setelah ia mendapatkan alamat ibu kandungnya..


''Ran, kamu tidak mau menginap di sini?'' tanya Harun.


''Tidak! lain kali saja pak saya masih sibuk. Permisi.'' Rania berdiri, lalu dengan segera ia melangkah keluar menjauh dari rumah yang membuatnya sesak nafas.


Sedangkan Ainun dan Harun langsung menutup pintu rumah saat Rania sudah pergi jauh. Ainun dengan terburu-buru mengambil amplop yang berisikan uang pemberian Rania.


''Lihat pak, Rania sudah kaya sekarang.'' Ainun memperlihatkan dua gepok uang, dengan masing-masing 10jt/pegok.


''Dari mana yaaa Rania punya uang sebanyak ini?'' Harun bertanya-tanya..


''Ahh mamah nggak perduli, Rania mau dapet uang dari mana. Yang jelas dia masih ingat pulang dan memberikan uang pun mamah sudah bahagia pak.'' Ainun menghitung uang itu dengan binar di matanya.. ''Pak, mamah mau belanja emas, beli sofa baru, sama kulkas.'' ucap Ainun menggebu..


''Mah, lunasi dulu hutang sama pak mandor. Baru leluasa kita belanja.'' Harun mengingatkan.


''Gampang itu mah pak, kita minta lagi aja sama si Rania aaa gitu aja repot.'' cetus Ainun yang tidak berubah sama sekali.


Sedangkan Rania sudah berada di atas motor menaiki ojek pangkalan, menuju terminal bus untuk pulang ke Jakarta..


Sepanjang perjalanan, Rania melihat kertas yang berisikan alamat di mana ibu kandungnya tinggal sekarang. ''Tunggulah aku, dan tunggulah kehancuran mu. Aku datang padamu bukan ingin memeluk mu, melainkan ingin merusak kebahagiaan mu karna sudah mengabaikan aku sejak aku masih bayi.'' gumam Rania dalam hati penuh dengan tekad..


Entah bisikkan apa yang membuat Rania ingin membalas dendam pada ibu kandungnya, ibu yang sudah melahirkan dirinya ke dunia walau tidak menginginkan nya.. Namun terpatri jelas di ingatan Rania jika semua penderitaan hidupnya berawal dari ibu kandungnya sendiri, yang sudah melahirkan dirinya keduania ini untuk merasakan penderitaan, kephitan, kekejaman dunia fana..


Bahkan Rania sudah melupakan Tuhan nya, melupakan semua ajaran-ajaran yang pernah Rania pelajari dan hafalkan sewaktu kecil hingga remaja. Rania sudah terlalu kecewa pada yang maha kuasa hingga Rania mejauh dan tidak ingin mendekat lagi, atau pun bersujud untuk berkelu kesah tentang kehidupannya..


__ADS_1


...••••...


...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA...


__ADS_2