
Rumah sakit•
Di sebuah ruangan rumah sakit, terdapat dua orang yang terkapar lemah namun dengan keadaan yang berbeda di ruangan yang berbeda.. Yang satu dalam keadaan kritis, sedangkan yang satu belum sadar dari pingsan nya.
Ada dua orang polisi yang bergaja di luar ruangan Rania, sedangkan madam Zena berada di luar ruangan oprasi di mana tuan Khamid sedang mempertaruhkan nyawa karna ulahnya sendiri.. Bagaimana tidak, pisau kater yang di gunakan Rania menusuk perut tuan Khamid begitu dalam sampai ke ginjalnya..
Madam Zena masih diam membisu dan tidak mau berbicara dengan siapapun, dia sangat shock dengan apa yang sedang terjadi hari ini. Dalam hidupnya ia tidak menyangka sama sekali jika suaminya akan melakukan hal sekeji itu pada pembantunya, namun di satu sisi ia juga marah dengan Rania yang hampir saja membunuh suaminya..
Nina duduk di sebelah madam Zena, lalu menghasut madam Zena agar menjebloskan Rania kedalam penjara.. Segala tipu dayang Nina lakukan untuk membalas Rania, hingga madam Zena mengangguk setuju..
Ketika madam Zena dan Nina sedang mengobrol, seorang polisi menghampiri mereka, membuat Nina langsung berdiri begitu pun madam Zena.
''Permisi nyonya Zena.''
''Yaaa.'' jawab madam Zena.
''Bisa anda ceritakan apa yang terjadi?'' tanya pak polisi.
''Ummm saya.. Saya.. '' madam Zena tergagap, sungguh madam Zena merasa dilema dengan keadaan ini, mana yang dia harus bela? Tapi Nina memegang pundak madam Zena dan menganggukkan kepalanya. Seakan itu kode agar madam Zena menuruti perkataannya..
Madam Zena pun menceritakan apa yang dia lihat sebelum kejadian dan sesudah kejadian, ia menuruti Nina pembantu kepercayaan nya untuk memberi pernyataan yang keliru dan membolak balikan fakta. Bahwa Rania lah yang selama ini menggoda suaminya..
Pak polisi mendengarkan sambil mencatat keterangan dari madam Zena dan Nina sebagai saksi dari kejadian..
Sungguh biadab memang, madam Zena malah membela yang salah, dia dan Nina tidak punya perik'kemanusiaan sesama wanita hanya karna mereka membenci Rania.
Sedangkan Nina tersenyum sambil menyenderkan tubuhnya di dinding, Dia begitu senang karna majikannya mau mendengarkan masukkan darinya. Dan membuat keterangan palsu. ''Rania. Rania. Rania lihatlah, kau akan masuk kedalam penjara.'' gumam Nina dalam hati merasa bahwa dia yang menang..
__ADS_1
•
•
•
•
Di ruangan Rania•
Perlahan mata Rania terbuka, semar-semar dia bisa melihat cahaya lampu di atasnya lalu ia memperjelas penglihatan nya..
''Uhh.'' lirih Rania bangun dari tidurnya, ia melihat sekeliling dan bingung berada di mana. ''Dimana aku?'' tanya nya pada dirinya sendiri.
Ketika Rania akan menggerakkan tangannya, Rania begitu terkejut melihat tangan kanannya di brogol. ''Apa ini? kenapa tanganku di brogol?''
Crak.. Crak.. ''Tolong, tolongg, siapapun.'' Rania berteriak, membuat para polisi yang berjaga di luar ruangan masuk.
''Ikut? ikut kemana yaaa pak?''
''Kalin! bawa dia ke kantor.''
''Baik komandan.. Baik komandan.'' ucap kedua polisi secara bersamaan, yang berbeda pangkat dengan orang yang menyuruh mereka berdua..
''Hah! apa yang kalian lakukan? tidak, aku tidak bersalah! jangan, aku tidak sengaja melakukan itu.'' Rania mencoba memberontak dan menjelaskan semuanya. Namun para polisi tidak mendengarkan apa yang Rania ingin jelaskan dan langsung membawa Rania keluar dari ruangan..
''Saya sudah bilang kalau saya tidak bersalah. Saya bisa menjelaskan.''
__ADS_1
Rania di seret dari ruanganya, membuat ia menjadi bahan perhatian. orang-orang terus berbisik menanyakan apa yang terjadi, tapi semua orang tidak mengetahui..
''Madam.. Madam, bilang pada mereka jika aku tidak bersalah madam.'' Rania berteriak meminta tolong pada majikan perempuannya, saat mereka berpapasan. Namun madam Zena hanya diam dan menulikan telinga nya..
Begitu pun dengan Nina, yang langsung memalingkan muka ke arah lain namun bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman kepuasan..
Sungguh ironis bukan? anak yang masih terbilang di bawah umur, mau tidak mau harus mengalami nasib dan keadaan seperti ini..
Lantas dimanakah peran seorang ibu di saat anaknya mengalami keterpuruk kan yang sangat medalam? Lantas, di mana peran seorang ayah yang seharusnya melindungi anak perempuan nya dari masalah hidup yang tidak seharusnya seorang anak yang masih di bawah umur merasakan kepahitan hidup..
Namun nyatanya, ayah yang seharusnya melindungi putri kecilnya malah asik dengan kehidupan dirinya dan keluarganya sendiri. Begitu pun dengan sang ibu yang malah asik menikmati kemewahan yang dia gapai secara instan, dengan menikahi duda anak dua. Bahkan dia sangat memanjakan kedua anak tirinya tanpa memikirkan anak yang lahir dari rahimnya..
•
•
Kantor polisi•
Rania terus memohon untuk di lepasakan, karna dia tidak bersalah sama sekali. Dia melakukan itu hanya untuk melindungi dirinya sendiri, namun Rania di dorong dengan kasar kedalam jeruji besi yang dingin dan menakutkan..
Rania yang jatuh lalu bangkit, kedua tangannya memegang besi yang akan membelenggu dirinya di masa depan.''Pak, hiks saya mohon hiks,, dengarkan saya pak.'' teriak Rania sambil menangis dan menggema di kantor polisi khusu untuk perempuan.
Kita semua ketahui, bahwa dalam menjalani kehidupan, sebagai manusia biasa, kita tak akan lepas dari tantangan dan ujian hidup. Setiap orang memiliki masalah dan kepelikkan hidup dengan ukuran masing-masing untuk menilai tantangan dan ujian, ada yang memandang itu sebagai tantangan, dan ada yang melihatnya sebagai penderitaan dalam hidup.
Tergantung bagaimana kita menilainya..
•
__ADS_1
...••••...
...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA...