Sepenggal Luka "Rania"

Sepenggal Luka "Rania"
SLR. Kejadian yang tidak terduga.


__ADS_3

''Lepaskan.'' teriak Rania terus memberontak melepaskan diri dari cengkraman tuan Khamid yang semakin gelap mata.


''Ayolah Rania, aku sudah tidak tahan jika melihat mu.'' desah tuan Khamid dengan sensual..


''Lepaskan brengsek!'' Rania terus berteriak meminta tangannya di lepasakan, hingga membuat tenggorokannya kering. Namun naasnya tidak ada siapapun yang mendengar teriakkan Rania, apa lagi mau menolong, karna di rumah itu hanya ada dia dan majikan laki-laki nya..


''Menurutlah, maka kau akan mendapatkan semuanya..'' ucapan yang sama terus terlontar dari mulut tuan Khamid yang meminta Rania untuk menurut.


''Ahk aku mohon jangan!'' tangan Rania terlepas dari cengkraman tuan Khamid lalu Rania berlari menghindar, namun saat Rania akan berlari ke arah pintu. Tubuhnya di peluk erat dari belakang oleh Tuan Khamid..


''Kau mau kemana heh? aku tidak akan melepasakan mu hari ini.'' Bisik tuan Khamid lalu melempar Rania ke lantai..


Sreeeekkk.. Tuan Khamid merobek baju belakang Rania, saat Rania merangkak ingin melarikan diri. Namun lagi dan lagi tubuh kecil nan ringkihnya gampang untuk tertangkap..


Tuan Khamid dengan gampangnya membalikkan tubuh Rania hingga terlentang, dan tuan Khamid langsung duduk di atas paha Rania lalu mencengkram kedua tangan Rania ke atas..


''Cuiih, Lepaskan.'' Rania meludahi wajah tuan Khamid. Namun tidak di perdulikan oleh pria tampan yang sudah menggelap oleh nafsunya..


Hisk.. Hiks.. ''Aku mohon lepaskan! baik, aku janji tidak akan pulang ke kantor dan bekerja dengan mu sesuai kontrak yang tertera. Tapi aku mohon lepaskan aku.'' mohon Rania sekali lagi..


''Sudah aku bilang menurut, maka ini akan cepat selesai'' tuan Khamid menatap mata Rania yang sembab. Penolakkan Rania membuat ia ber'semangat ingin merasakan tubuh wanita cantik di bawah rengkuhan nya..


Senyum terbit di wajah tuan Khamid saat netra matanya melihat belahan dada Rania yang putih dan mulus, lalu tuan Khamid menempelkan bibirnya di dada Rania. Namun naas pintu yang tertutup langsung terbuka dengan kasar bersamaan dengan madam Zena dan Nina masuk..


''Khamid apa yang kau lakukan!'' teriak madam Zena yang terkejut, membuat tuan Khamid langsung menoleh dan menatap dua orang wanita di depannya..


Bruuugghh.. Madam Zena berlari dan mendorong tubuh tuan Khamid yang berada di atas tubuh Rania. Namun sayang nya tubuh tuan Khamid tidak tumbang dan masih duduk di atas tubuh Rania. ''Hamid apa kau sudah gila.'' teriak madam Zena yang sambil memukul tubuh tuan Khamid yang tidak mau turun..


Hahahaha, ''Yaaa, aku memang sudah gila.'' teriak Khamid berteriak seperti kerasukan iblis, lalu dia berdiri dan mencengkram tangan dan rambut istrinya dengan kuat, lalu menyeretnya hingga ke luar ruang kerjanya, di hempasakan tubuh istrinya ke lantai begitu pun dengan Nina yang di lempar ke luar, bahkan lebih kasar di bandingkan istrinya.

__ADS_1


Rania yang terlepas mencoba untuk merangkak dan berdiri, sedangkan tuan Khamid menutup pintu dengan kasar lalu menguncinya dari dalam. Braaaakkk.. Cekleeek..


Tuan Khamid tak perduli dengan masalah yang akan timbul nanti, yang terpenting hasrat biologis nya bisa terpenuhi. tuan Khamid menoleh menatap Rania yang mencoba untuk berdiri berpangku pada meja yang ada di depannya, tapi Rania seakan tak bisa karna tuan Khamid tau jika seluruh badan Rania lemas dan menggigil efek dari rasa terkejut sekaligus takut yang di rasakan..


''Rania.. Rania.. Rania..'' Tuan Khamid menggelengkan kepalanya sambil terkekeh melihat kegigihan Rania.. ''Sudah aku bilang jangan melawan, kau itu keras kepala sekali Rania.''


''Tidak. Aku mohon jangan lakukan ini padaku..'' pinta Rania semakin ketakutan, ketika tuan Khamid membuka bajunya dan melangkah ke arahnya..


Sedangkan di luar, gedoran pintu terus menggema namun tuan Khamid seakan tuli untuk mendengar istrinya berteriak sambil menangis.


''Madam, ini pasti Rania yang memulainya madam!'' hasut Nina..


''Apa yang harus kita lakukan Nina?''


Nina pun berbisik pada majikannya, namun entah apa yang dia bisikkan sehingga madam Zena menurut padanya..


Sedangkan di dalam, Rania terus mundur saat tuan Khamid melangkah ke arahnya. Rania melihat kanan kiri dan melihat pisau kater tergeletak di lantai bersama para pulpen dan yang lainnya..


''Aku tidak akan segan menusukkan pisau ini pada mu.'' teriak Rania mengacungkan pisau kater itu..


Bukannya takut! tuan Khamid malah terkekeh dan semakin mendekati Rania dengan perlahan.. Seakan tuan Khamid tidak percaya dengan gertakkan yang Rania ucapkan..


''Menjauh, kalau tidak! aku akan membunuh mu.'' lagi dan lagi Rania memperingatkan..


''Heh, kau mau melukai ku? Yaaa habibty kemilah dan peluk tubuh ini di bandingkan mengeyel, puasanya hasratku di bandingkan melawan.''


''MUNDUR.''


Hap.. Tuan Khamid mencengkram tangan kanan Rania yang memegang pisau kater, lalu mencengkram rahang Rania dengan tangan yang satunya lagi..

__ADS_1


''Ahhkkk..'' ringis Rania sakit, saat punggungnya di dorong ke tembok..


''Ini tidak akan lama sayang, semakin kamu memberontak! semakin besar rasa ingin memiliki mu.'' Tuan Khamid mencecap leher Rania bahkan menji**latnya dengan sensual..


''Aahhh, aku menginginkan ini sejak lama Rania.'' desah tuan Khamid..


Rania menahan jijik terus berusaha memberontak, lalu ia melepaskan pasau kater itu dari tangan kanan, dan di tangkap oleh tangan kiri lalu...


JLEEEB.. Kelinci putih bisa menyerang serigala yang besar jika kelinci itu dalam kondisi tertekan dan merasa terancam.. Begitu pun dengan Rania yang tidak memiliki cara lain, selain menusukkan pisau ke perut majikan laki-lakinya untuk menyelamatkan diri.


''Aaahhhkk..'' Tuan Khamid secara perlahan melepaskan cengkraman tangannya, lalu menunduk di mana ia merasakan sakit yang luar biasa..


''Rania ka_.'' Bruuugghh.... Tuan Khamid jatuh di lantai dengan darah yang bercucuran di lantai, sedangkan Rania sama terkejutnya. Ia memegang tangannya yang berkumuran darah, lalu melihat majikannya yang sudah tergeletak di lantai.


''Tidak, aku tidak sengaja!'' teriak Rania yang shock dan takut terus berteriak bahwa dia tidak sengaja hingga Rania tergeletak pingsan..


Kedua orang itu terkapar di lantai, bersamaan dengan madam Zena masuk dengan beberapa polisi yang mendobrak pintu..


''Ya Allah Hamid.'' teriak madam Zena berlari menghampiri suaminya yang sudah tak sadarkan diri berlumuran darah...


Sedangkan Nina terdiam di pojokkan, mengepalkan kedua tangannya dan berpikir bagaimana menghasut majikannya. Nina sangat membenci Rania yang sudah merusak wajahnya yang cantik menjadi cacat.


''Lihat saja Rania, akan aku pastikan kamu mendekam di dalam penjara dengan waktu yang sangat lama.'' gumam Nina dalam hati, memandang Rania yang tergeletak di lantai..



...•••••...


...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA ...

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya.....


__ADS_2