Sepenggal Luka "Rania"

Sepenggal Luka "Rania"
SLR. Oh Tuhan


__ADS_3

Di kamar mandi, terdengar suara Rania yang sangat menyedihkan. Dia meminta ampun atas penyiksaan yang dilakukan oleh Ainun padanya, namun Ainun sepertinya menulikan pendengarannya dan terus menyiksa bahkan memukul Rania.


Hingga jerit tangis Rania terdengar oleh para tetangga, namun para tetangga tidak ada yang bisa menolong Rania karna Ainun selalu memarahi orang yang akan menolong Rania.


''Aahkkk, ampun mah ampunnn.''


''Dasar nggak tau diri kamu!'' Ainun terus mengguyur tubuh Rania menggunakan air dingin, dan memukul Rania dengan rotan kecil dan panjang hingga kulit putih mulusnya menjadi merah ke'unguan..


Hiks..Hiks.. ''Tolong hentikan Mah, ampunnnn Baiklah Rania akan nurut sama Mama.'' jerit Rania yang sudah tidak tahan.


Ainun melempar rotan dan gayung di tangannya lalu menjambak rambut Rania hingga Rania merintih ke sakitan.''Dengarkan ini Nia baik-baik, kalau bukan aku yang mengurus mu dan membesarkan mu! mungkin kamu sekarang sudah mati atau jadi pemulung di luar sana! Dasar gak tau diri kamu, udah untung aku membesarkan mu di rumah yang layak dan memberikan mu makanan.'' Teriak Ainun mendorong kepala Rania yang dia jambak, lalu Ainun pergi setelah puas menyiksa Rania dengan guyuran air dan beberapa pukulan di bahu dan punggung.


Ainun tidak mau ambil resiko, karna uang yang di berikan Danang sudah ia habiskan untuk membeli emas dan membayar hutang- hutangnya. Jadi apapun yang terjadi, Rania harus mau menikah dengan Danang.


Ia tidak perduli dengan perasaan Rania karna bagi Ainun, jika Rania menikah dengan Danang uang akan terus mengalir di telapak tangannya dan ia tidak perlu lagi bekerja! padahal selama ini yang bekerja serabutan adalah Rania.


Rania rela melakukan apapun demi mendapatkan uang untuk sang ibu, seperti menanam padi, memetik cabai, memetik kacang, membantu orang untuk menumbuk padi agar bisa menjadi beras dan masih banyak lagi yang lainnya.


Rania melakukan itu semua tanpa ada kata mengeluh yang dia ucapkan dari mulutnya. Sungguh rasa sakit yang sangat luar biasa Rania alami, bukan hanya fisik! tapi batin Rania pun tersakiti begitu dalam hingga membekas di dalam hatinya..


Mengapa dunia ini tidak adil untuknya, mengapa membiarkan dia hidup jika akan tersakiti? Mengapa tidak biarkan saja dia mati, agar tidak pernah merasakan hidup menderita seperti ini..


Setelah semua yang Rania lakukan untuk keluarganya, tapi mengapa semua itu tidak cukup membuat sang ibu menyayangi nya seakan pengorbanan dan pengabdian nya tidak berharga apa lagi di anggap oleh Ainun.


''Aaaaahhhh.... Kenapa kalian tidak membunuh ku saja. hummmm.'' Rania berteriak dan menangis, memukul dadanya yang sesak karna sudah tak kuat menampung segala beban dan siksaan yang dia alami.



Flashback•


Sepulang dari sekolah, Rania sudah berpikir panjang dan dia akan meminta Danang untuk membatalkan lamarannya. Rania tidak mau menikah, dia mau sekolah tinggi agar bisa merubah takdirnya dan bisa hidup dengan bahagia.

__ADS_1


Dan sangat kebetulan, di tengah perjalanan menuju rumah Rania, dia melihat Danang tengah mengobrol dengan teman temannya. Walau hati takut, Rania memberanikan diri untuk berbicara dengan danang.


''Rania.'' Danang tersenyum melihat gadis pujaannya ada di depannya.


''Bi_bisa kita bicara Kang? ada sesuatu yang ingin Rania sampaikan.'' cicit Rania dengan pelan, tapi masih bisa di dengar..


''Ayo mau bicara di mana Ran.''


''Sebelah sana aja Kang.'' Rania menunjuk ke arah yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri, karna Rania tidak mau apa yang dia obrolkan terdengar oleh teman-temannya Danang..


Danang mengangguk lalu mengekori Rania dari belakang, entah setan dari mana datangnya membuat Danang sangat bernafsu pada gadis berusia empat belas tahun yang masih bau kencur..


''Ada apa cantik?''


''Gini kang, apa boleh Akang membatalkan lamaran Akang? soalnya Rania masih ingin sekolah Kang.'' ucap Rania menunduk takut..


Danang yang mendengar itu mengeraskan rahangnya, kedua tangannya mengepal kuat dengan nafas naik turun menahan emosi yang ada di dalam jiwanya.


''Benarkah itu?''


''Hem, pulanglah.''


Rania tersenyum senang. ''Terima kasih Kang.'' Rania berlari dengan gembira, ia pikir Danang akan memenuhi permintaannya.


Namun sayang seribu sayang, Danang malah mengamuk pada Ainun dan menggertaknya agar Rania mau menikah dengannya. Kalau tidak uang yang sudah di berikan pada Ainun harus kembali lagi dan harus memberikan bunga 50%..


Tapi jika Ainun berhasil menikahkan dirinya dengan Rania, Danang berjanji akan terus memberikan uang bulanan pada Ainun dengan jumlah yang sama.


Ainun yang tidak mau mengembalikan uang serta bunga yang mencekiknya, langsung pulang ke rumah dan menyiksa Rania tanpa perasaan. Dan memaksa Rania untuk mau menikah dengan Danang agar Ainun mempunyai uang bulanan yang akan masuk ke kantong nya..


Flashback Off•

__ADS_1



Di luar, Indra yang baru pulang dari pasar langsung berlari saat kedalam rumah dan mencari suara tangisan sang adik yang begitu memilukan untuk di dengar..


Braaaakk.. Indra mendorong pintu dengan kencang, lalu masuk dan memeluk sang adik dengan erat mencoba untuk menenangkan Rania dan mengusap punggung agar sang adik bisa lebih tenang..


Indra menghapus airmata Rania, Dan mengusap kepala Rania dengan lembut.. Hanya Indra lah yang sayang dengan Rania dan tulus menganggap Rania sebagai adiknya ''Jangan menangis kita akan cari solusinya, sudah jangan bersedih dan membuang airmata yang berharga.''


Indra membopong sang adik keluar dari kamar mandi, namun saat mereka keluar dari kamar mandi. Ainun berdiri dengan berkacak pinggang. ''Ngapain kamu nolongin dia Hah! biarkan dia di kamar mandi semalaman.'' sentak Ainun..


''Mah! cukup, sudah cukup.'' bentak Indra, ''Ran kamu ke kamar dan ganti bajumu.'' suruh Indra yang langsung di angguki oleh Rania..


Setelah melihat Rania masuk kedalam kamarnya, kini Indra menatap sang ibu. ''Indra mohon jangan terlalu keras dengan Rania mah, kenapa mamah begitu tega hah.''


''Habisnya dia menolak untuk menikah dengan Danang! ya mamah marah lah orang uang nya udah di pake kok.'' Ainun melipatkan kedua tangannya di dada..


''Jika Indra jadi Rania pun! Indra nggak bakalan mau menikah dengan orang yang tidak di cintai mah, terlebih Danang itu pria pengangguran dan suka mabuk-mabukan!''


''Mamah nggak perduli, toh orang tuanya kaya raya.''


''Astagfirullah mah, kapan sih mamah itu sadarnya.''


''Kalau mamah mati!'' jawab Ainun dengan ketus, lalu pergi keluar dari rumah..


Sedangkan Indra menghela nafasnya dengan berat, bagaimana pun caranya ia tidak mau sang adik menikah dengan pria bajingaan seperti Danang.


...••••••...


...LIKE.KOMEN....


...Jangan lupa dukungannya....

__ADS_1


__ADS_2