Sepenggal Luka "Rania"

Sepenggal Luka "Rania"
SRL. Pria menyebalkan.


__ADS_3

Restoran•


Jl. KH. Wahid Hasyim No.106, RT.14/RW.3, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat. 


Rania dan Rama duduk bersebrangan, dengan sudut pandang yang berbeda. Jika Rania melihat Rama biasa saja, namun tidak dengan Rama yang melihat Rania tanpa berkedip! Semenjak beberapa menit yang lalu dia duduk di depan Rania.


"Ini ..." Rania menyodorkan amplop kedepan Rama berwarna coklat.


"Apa ini?" tanya Rama yang bingung.


"Itu uang yang pernah kamu keluarkan untuk menolongku di supermarket waktu itu. Aku tidak mau mempunyai hutang pada mu."


"Tapi aku ikhlas membantu mu, Ran." Rama agak sedikit kecewa.


"Tapi aku tidak bisa menerima bantuan mu, aku tidak terbiasa Rama."


DEG.


Jantung Rama berdetak kencang bukan karna penolakan Rania, tapi jantung nya berdetak kencang ketika Rania menyembut namanya dengan nada lembut dan merdu.


Padahal Rania memanggil namanya dengan nada biasa, namun Rama seakan terpesona oleh Rania.


"Bisa katakan sekali lagi." pinta Rama dengan mata berbinar.


Rania bingung dengan permintaan Rama, "Apa?"


"Namaku, panggil sekali lagi nama ku."


"Rama."


Rama tersenyum cerah seperti sinar mentari, padahal di luar restoran tengah mendung dan kemungkinan sebentar lagi akan turun hujan.

__ADS_1


Rama senang bukan kepalang, hanya menyebut namanya saja ia sudah senang. Apa lagi jika Rania menjadi istrinya.


"Mau nggak jadi istri aku?" tanya Rama secara tiba-tiba, membuat Rania sedikit terkejut.


"Hah."


"Iya, jadilah istriku."


"Apa kamu sudah gila?"


"Yaa ... aku gila memikirkan bagaimana jika nanti kita sudah berumah tangga dan memiliki anak. Bukankah itu lucu."


"Ish, sepertinya kamu salah minum obat." Rania berdiri dari kursi hendak pergi, namun Rama mencegah nya.


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau pergi, berbicara dengan pria seperti mu darah ku bisa-bisa naik."


''Aku ikut, kamu mau kemana?''


''Urusan kita belum selesai."


"Apa kamu tidak punya kerjaan?"


"Aku nggak kerja karna ini hari minggu."


Rania diam memperhatikan Rama yang berjawah tampan namun tengil, entah mengapa Rania merasakan jika kehidupan dirinya yang tenang akan sedikit terusik dengan kelakuan Rama.


"Aku ikut ya sayang, Ups ..."


Rania menoleh dan menatap tajam Rama, yang berani memanggilnya dengan sebutan sayang. Sedangkan sang empu, menutup mulutnya yang keceplosan lalu menyengir kuda."

__ADS_1


''Viiisss."


"Terserah."


"Yeeeyyy, kita mau kemana Sayang?"


Rania sekali lagi menatap tajam Rama, "Jangan panggil sebutan itu di depanku." Ucap Rania melangkah keluar dari restora.


Rama menyusul Rania keluar dan mengintil di sisi Rania. Rama bak permen karet yang menempel dan susah untuk di singkirkan.


Dalam benak Rama ... dia akan mengintil kemana pun Rania pergi, sampai Rania mau membawanya ke penghulu untuk menjadikan dia sebagai suaminya.


Ada gila gilannya si Rama ini ...


"Kemari, jangan jauh jauh dariku." Rama menarik Rania untuk lebih dekat dengan nya


'' Isshh ... kamu terlalu menempel padaku Rama! Apa kamu tidak bisa geseran sedikit?"


"Ouhh ... kurang nempel yaaa?" Guyon Rama menempelkan tubuhnya pada Rania, hingga Rania tidak sengaja tersandung.


Untung saja Rama menarik tangan Ayu dengan segera, hingga meta perekam berdua saling pandang.


Mereka berdua tidak menyadari ... jika kulakukan mereka di lihat oleh orang-orang pejalan kaki, bahkan ada yang mengabadikan momen ketika mereka berdua saling pandang.


"Heh!" Rania mendorong tubuh Rama, lalu ia melangkah lebih dulu karna merasa jika ini tidaklah baik. Sedangkan Rama tersenyum ketika dia di tolak, ia senang karna hanya ada seribu satu wanita yang akan menolak dirinya.


Rama merasa semakin tertantang untuk dapatkan Rania dan menjadikan Rania pelengkap di kehidupan nya.


"Rania, tunggu .... jadilah istriku." teriak Rama, yang membuat Rania berjalan dengan cepat karna sedikit malu dengan kelakuan Rama.


__ADS_1


...•••••...


...LIKE.KOMEN.VOTE ...


__ADS_2