Sepenggal Luka "Rania"

Sepenggal Luka "Rania"
SLR. Pertemuan


__ADS_3

Moll•


["Dia belum datang!"] tuan Amar mengirim pesan pada Biyan Asistennya..


[Mungkin terkena macet tuan] balas Biyan.


[Kenapa tidak kau saja yang membeli bunga itu, ck malah menyuruh orang]


[Maaf Tuan, saya hari ini libur dan tidak bisa di ganggu] balas Biyan.


[Dasar asisten belagu] gerutu tuan Amar membalas pesan sang asisten.


[Itu memang saya tuan] balas Biyan tidak mau kalah.


''Ishh, kalau bukan kau pintar udah ku jotos anak ingusan ini.'' gerutu tuan Amar melempar ponselnya ke atas meja..


Ia cemas, karna bunga pesanan nya tidak kunjung datang, entah itu macet atau hal lain sebagainya. Yang jelas tuan Amar sudah kesal..





Sedangkan di luar Moll•


Bruugghh... Sebuah motor menabrak Indra hingga terjatuh, namun Indra tidak memperdulikan rasa sakitnya, ia bangun dan berlari mengejar Rania kembali kedalam Moll.


''Raniaaa.'' teriak Indra terus berlari ke dalam dan mencari sang adik tersayang. Indra melihat kanan kiri menelusuri satu ke toko lainnya.


Indra berlari dari lantai satu ke lantai dua, matanya terus menelusuri dengan telaten mencari sampai ke toilet namun nihil. Sampai-sampai Indra berpikir dalam benaknya, apa dia salah lihat? apa itu hanya sebuah ilusi karna dirinya terlalu stres mencari keberadaan sang adik.


Indra diam sejenak memejamkan matanya, duduk di kursi memijat keningnya dan berpikir..


Ting! sebuah ide muncul dalam benaknya. ''Ahh bodoh kamu Indra, kenapa tidak dari tadi.'' Gumam Indra, lalu pergi ke ruang penjaga untuk melihat cctv di Moll ini..

__ADS_1


Awalnya para penjaga menolak, namun saat di beritahu bahwa adiknya dari kampung hilang akhirnya mereka mengizinkan nya.


Indra sangat antusiasi dan berterima kasih kepada Scurity yang mau menolongnya... Dengan sabar, para penjaga memutar rekaman dan mencari sosok Rania yang dia cari..


''It_ itu dia pak.'' teriak Indra yang bahagia melihat Rania yang tengah berjalan di lantai 4. Indra sangat yakin jika itu sang adik, walau postur tubuh Rania sekarang sudah tinggi, namun wajah Rania tidak ada yang berubah bagi Indra.


Indra pun berterima kasih lalu pergi menyusul Rania yang berjalan di lantai 4. Deg.. Deg.. Deg.. Jantung Indra berdegub kencang, enam tahun. Enam tahun ia mencari keberadaan sang adik, dan kini dirinya bisa melihat Rania kecilnya lagi..


Setelah sampai di lantai 4, Indra masih celingak celinguk mencari namun nihil. Sedangkan yang di cari, ia tengah mengobrol dengan tuan Amar di lantai 5[Food Court].


''Maaf Om, sudah lama menunggu.''


''Nggak kok santai aja, ayo duduk kamu mau pesan apa?


Rania duduk berhadapan dengan tuan Amar, ''Apa aja deh Om, kebetulan Rania belum makan dari rumah.'' jawab Rania dengan senyum manis yang dia punya. Yang mana senyuman itu membuat jantung tuan Amar berdegub kencang, dan salah tingkah hanya melihat Rania senyum saja..


''Oh Tuhaaan... jantung tenanglah, akan malu jika kau sampai terdengar. '' gumam tuan Amar dalam hati.


Mereka berbincang dan membicarakan banyak hal, seakan mereka sudah lama saling mengenal. Rasa nyaman selalu hinggap di lerung hati Rania, entah itu nyaman sebagai seorang anak dan ayah, entah itu nyaman sebagai teman mengobrol, atau nyaman sebagai lelaki dan perempuan pada umumnya? entahlah, sepertinya Rania masih belum memahami perasaannya..


Hingga obroral mereka terhenti ketika ada seseorang memanggil nama Rania dengan bibir bergetar.


DEG.. DEG.. DEG.. Rania mematung ketika dia mendengar suara yang sangat familiar dia ingat, lalu Rania menoleh kebelakang melihat orang yang memanggil namanya..


''A'indra..'' Gumam Rania dalam hati, dia tidak menyangka jika akan bertemu secepat ini dengan kakaknya..


Indra menghampiri Rania. ''Rania, kamu Rania adikku kan?'' tanya Indra berlutut.


''Bu_bukan, kamu salah orang.'' jawab Rania sebisa mungkin menjawab dengan tenang.


''Tidak! kamu Rania adikku, adikku yang hilang 6thn yang lalu meninggalkan ku tanpa sepatah kata pun.'' Indra memegang pergelangan tangan Rania.


Tuan Amar menatap tajam pada karyawan nya, karna sudah berani memegang tangan Rania. Apa lagi melihat bunga di tangan Indra membuatnya kepanasan.


''Lepaskan tangan mu!'' sentak tuan Amar, membuat Indra menoleh dan memberikan bunga itu pada atasannya.

__ADS_1


''Maaf pak, ini bunga yang anda pesan.'' Indra menaruh bunga itu di meja, membuat tuan Amar mengerutkan keningnya bingung.''


''Kamu bisa membohingi semua orang, tapi kamu tidak akan bisa membohingiku Ran. Maafkan Aa yang lalai menjagamu, kenapa kamu pergi begitu lama? apa kamu sebegitu marahnya sama Aa, sampai kamu pura-pura tidak mengenali Aa?''


''Kamu salah orang.'' keukeuh Rania.


''Aa tau kamu marah, Aa minta maaf. Tapi asal kamu tau Ran jika Aa mencari mu selama 6thn terakhir ini.


Rania terdiam. Tuan Amar pun terdiam...


''Kamu tidak percaya? ini, lihat lah ini. Bahkan Aa memasang kertas di setiap penjuru Jakarta agar bisa bertemu dengan mu lagi.'' Indra memperlihatkan satu kertas yang ada di sakunya, agar sang adik percaya bahwa selama ini dia mencari Rania..


Rania melirik kertas yang di sodorkan Indra, lalu pandangannya ber'alih menatap Indra dengan dalam. Dengan perlahan Rania mengambil kertas itu dan melihatnya..


Dalam lubuk hati Rania yang terdalam, ia merasa terharu karna masih ada orang yang mengkhawatirkan dirinya...


Satu tetes airmata lolos begitu saja tanpa di komando, Rania melupakan jika ada sang Kakak yang mencarinya dan mengkhawatirkan dirinya. '' Hiks... Hiks.. Maafkan Rania, bukan maksud Ran__''


Rania tidak meneruskan perkataannya, disaat Indra langsung memeluknya dengan erat. Yang mana membuat tuan Amar melototkan matanya, dengan asap di segala lubang hidung dan telinganya..


Tuuuuuutttt... asap kemarahan telah berkobar di kepala tuan Amar, ingin sekali ia memberikan bogem mentah pada pria yang sudah memeluk pujaan hatinya namun ia tak bisa.


Rania pun membalas pelukan Indra dengan senyuman dan hati yang hangat. Dia senang karna di dunia ini masih ada yang memperdulikan dirinya..


''Tidak perlu minta maaf, Aa yang seharusnya minta maaf karna tidak becus menjaga mu Ran. Apa saja yang kamu lakukan selama itu hemm? dimana kamu tinggal?''


Rania tersenyum saat banyak pertanyaan dari sang Kakak yang tidak berubah jika memiliki pertanyaan.. Tapi Rania sudah berjanji jika dia tidak akan pernah menceritakan pengalaman pahit yang dia alami, cukup dirinya saja yang tau dan merasakannya..


''Banyak hal yang sudah Rania lalui A, ayo berkunjung ke tempat tinggal Rania.'' ajak Rania, yang lupa pada tuan Amar yang sudah bermuka kusut karna terabaikan..


''Heii kalian berdua melupakan aku!'' cetus tuan Amar layaknya anak kecil yang tengah merujuk pada sang ibu..



...••••...

__ADS_1


...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA ...


...Jangan lupa dukungannya yaaa.....


__ADS_2