Sepenggal Luka "Rania"

Sepenggal Luka "Rania"
SLR. Memancing Amarah.


__ADS_3

Ketika Rania sampai di depan rumah, Rania melihat jika mertua perempuan nya sedang berkacak pinggang menunggu kedatangannya dengan raut muka bagaikan nenek lampir..


Rania berhenti melangkah, dan menguatkan diri dan hatinya bahwa kali ini dia harus bisa melawan kekejaman yang dia alami selama ini..


''Dari mana kamu!'' bentak sang mertua.


''Dari tukang sayur buk.'' jawab Rania, ketika ia sudah ada di depan mertunya..


''Alaah, alesan kamu ke tukang sayur! padahal kamu sedang tebar pesona kan sama laki-laki di luar sana. Sama halnya dengan kamu yang selalu menggoda suamiku yang tidak lain adalah mertuamu sendiri! Dasar anak tidak punya didikan.'' bentak ibu mertua, menatap rendah Rania..


Rania yang mendengar tuduhan itu seketika melototkan matanya, seakan Rania tidak habis pikir dengan mertuanya ini yang selalu cari gara-gara dengannya. ''Buk! Rania tidak pernah menggoda bapak. Rania sudah menganggap bapak sebagai bapak Rania sendiri. Apa ibu tidak punya moral menuduh Rania seperti itu?'' teriak Rania lantang. Ia sudah muak dengan perempuan setengah abad di depannya ini..


''Bohong aja kamu, sudah jelas jelas ibu lihat sendiri kok! bapak memberikan mu uang kan, hayo ngaku.''


''Astagfirullah buk! bapak memberikan ku uang, karna dia tau jika Akang Danang tidak bekerja dan kerjaannya hanya tidur dan mabuk-mabukan.''


''Putraku mabuk-mabukan karna kamu sebagai istri tidak becus ngurus suami!'' bentak ibu mertua dengan nada tak kalah tinggi..


''Bu! Rania diam selama ini hanya menghargai perasaan ibu sebagai mertua Rania. Aku juga punya batas kesabaran buk!''


''Berani kamu melawan sekarang HAH!''


''Rania berani melawan, karna Rania sudah capek dengan semua ini bu. Ibu selalu berperasangka buruk tentang Rania dan Rania tidak bisa menerima itu lebih lama lagi Bu!''

__ADS_1


Ibu mertua mengepalkan tangannya, dia marah dengan menantunya yang sudah berani melawannya sekarang. ''Danaaang... Danang..'' Ia berteriak memanggil anaknya yang sedang tidur di kamar, hingga terbangun saat mendengar sang ibu berteriak memanggil namanya.


Danang bangun dari tidurnya lalu menghampiri sang ibu yang masih berteriak kencang memanggil namanya. Sedangakan suasana di dalam ruang tamu begitu menegangkan, ketika sang mertua berteriak memanggil anaknya. Tangannya melipat di dada, dengan raut muka yang sudah memerah menahan amarah karna tidak suka jika menantunya menjawab omongannya.


Sang menantu biasanya selalu menunduk ketika dirinya sedang mengomeli dan memarahinya, dan sang menantu tidak berani menatap lawan bicaranya.. Tapi apa sekarang! menantunya ini berani menatap dirinya tanpa rasa takut sedikit pun..


''Apa sih bu, pagi-pagi udah berisik.''


Sang ibu menoleh. ''Pagi apa nya HAH! ini sudah siang bodoh, lihatlah kelakuan istrimu yang sudah berani menjawab ku.''


Danang menoleh ke arah Rania. ''Kamu bikin ulah apa lagi sih? bisa gak sih sehari saja gak cekcok sama ibuku?''


''Kang, bukan Rania yang bikin ulah.Tapi ibu yang menuduh Rania yang tidak-tidak.''


''Sudah jelas jelas kamu selalu menggoda laki-laki di luar sana! masih aja berkelit dan ngeles.''


''RANIA! kecilkan suara mu di hadapan ibuku.'' ucap Danang tak suka melihat sang ibu di bentak. dan Danang sedikit tertegun mendengar Rania membentak sang ibu.. ''Kau itu tidak punya sopan santu yaa.''


Sang ibu tersenyum karna di bela anak kesayangannya. ''Jika kamu tidak menggoda lelaki lain, lalu dari mana kamu hah! Tidak mungkin ibuku menuduhmu, jika ibuku tidak melihatnya sendiri.'' Danang mengintimidasi Rania..


''Kang! udah yaaa, Rania udah bilang jika Rania dari tukang sayur depan sana. Kalau akang tidak percaya, silahkan tanya ke mang udin! Udahlah, percuma Rania jelaskan jika yang mendengarkannya saja orang orang dungu.'' ucap Rania yang membuat amarah Danang membuncah.


Danang tidak percaya jika istri yang selalu menuruti semua keinginannya kini sudah berani memaki dirinya dengan sebutan DUNGU. ''Kurang ajar kamu!'' Danang mencekal pergelangan tangan Rania dengan kencang lalu mendorong Rania ke dinding..

__ADS_1


''Hem rasakan! itulah akibatnya jika melawanku.'' ucapnya dalam hati, dengan warut muka yang sangat puas..


Sedangkan Danang mencengkram rahang Rania dengan kencang seakan mencekik Rania. ''Bersyukurlah karna aku menikahimu karna kau cantik, dan aku meminta kamu harus patuh! karna aku membeli mu sangat mahal dari ibumu Rania. Dan sekarang kamu sudah berani menghina dan berani memaki ku. Dasar istri tak tau diri! jangan pernah sekali lagi menatap atau mengangkat dagu di hadapanku atau di hadapan ibuku..Apa kau Paham!


Ahhhkk.. Rania menepis cengkraman Danang di rahangnya dengan sekuat tenaga.. ''AKU TIDAK PERDULI! Aku sudah muak berada di sini aku tidak pernah meminta untuk menjadi istri Akang! bahkan aku sama sekali tidak berharap orang kasar dan tidak berguna seperti Akang menjadi suamiku.'' Teriak Rania membuncah dengan segala unek-unek nya selama ini.. ''Kalian pikir aku tidak bisa marah HAH. Aku muak mempunyai suami dan ibu mertua seperti kalian yang tidak mempunyai moral dan rasa kasihan.''


Plaakk... Danang menampar pipi Rania dengan sangat kencang, karna sangat emosi mendengarkan perkataan istrinya yang lagi dan lagi menghinanya dan sang ibu. ''Dasar wanita goblllok, tolllol tidak tau di untung.'' Makian terus Danang lontarkan, namun kali ini tak membuat Rania menangis.. Malah kini Rania menatap balik Danang dengan berani, karna emosi yang Rania pendam selama ini mendorongnya untuk menjadi kuat.


''Ibu kan sudah bilang, dia itu bukan wanita baik baik Kamu nya aja yang gak percaya sama ibu. Bahkan istrimu pernah ibu lihat sedang menggoda bapakmu'' Sang mertua memperkeruh suasana yang sedang memanas. Seperti menyiram minyak kedalam percikkan api kecil yang akan menjadi mala petaka.


''Apa itu benar?''


''Kalau memang iya kenapa? jika kamu sudah jijik terhadapku, kenapa kamu tidak menalakku saja aku HAH.. Bahkan aku sudah tidur dengan papah mu.'' teriak Rania walau semua yang dia ucapkan adalah sebuah kebohongan.nTapi bagi Rania, ini akan menjadi cela agar Danang mau menalak dirinya..


''APA!''


''APA!''


Danang dan ibunya sangat terkejut mendengar pengakuan Rania. ''Dasar pelacur kecil! ku tidak sudi memiliki istri seperti mu! AKU TALAK TIGA DIRIMU, DAN MULAI SEKARANG KAU BUKAN LAGI ISTRIKU.!!Teriak Danang tanpa sadar, yang mana membuat Rania tersenyum dalam hati...


Begitu pun dengan ibunya Danang yang merasa puas jika anaknya bercerai dengan menantu yang tidak ia suka. Karna baginya Rania tidak datu drajat dengannya, bahkan ia berpikir Rania adalah debu yang harus di singkirkan ''Cih,, itu akibatnya melawan! Dan sekarang kamu pergi dari rumah ini, kemasi barang-barang mu.''


__ADS_1


...•••••...


...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA...


__ADS_2