
Apartemen Tuan Amar•
Rania di bawa ke apartemen milik Tuan Amar yang berada di Malaysia, ia tidak mungkin membawa Rania ke hotel karna tidak ada yang menjaganya di sana.
''Om, kenapa kita kesini?''
''Di hotel tempat kamu menginap tidak ada yang menjaga mu, biarkan aku menjaga mu disini sampai sembuh baru kita akan pulang ke Indonesia.''
''Maaf Om, Rania ngerepotin Om.''
''Tidak apa-apa, ayo istirahat dan pulihkan tenaga mu.''
Rania tersenyum dan mengangguk.
Hari ini ... Tuan Amar dengan telaten mengurus Rania, entah mengapa dia suka dan dia merasa nyaman mengurus Rania ... ada rasa yang tidak bisa dia jabarkan dengan kata kata. Yang pasti ini bukan sekedar rasa suka, melainkan dia mencintai Rania dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Tuan Amar yang baru selesai dari dapur, langsung menghentikan langkahnya saat netra matanya melihat Rania yang tertidur di sofa.
Di amatinya wajah Rania dengan seksama, sampai sampai Tuan Amar menelan ludahnya dengan susah payah saat netra matanya melihat bibir Rania yang merah seperti ceri.
Sangat menggiurkan.
Tuan Amar menggendong Rania dan memindahkan Rania ke dalam kamar, entah mengapa saat ia memangku tubuh Rania membuat hasratnya menggebu, apa lagi mencium aroma vanila yang begitu menggoda iman nya.
Sebisa mungkin, Tuan Amar menahan gejolak yang dia rasa, lalu meletakkan tubuh Rania dengan perlahan di atas ranjang dan menyelimutinya. ''Good night and sweet dreams." Ucap Tuan Amar mencium kening Rania.
•
•
•
__ADS_1
Sedangkan Dawiyah turun dari mobilnya, berjalan dengan gontai ke dalam rumah dengan tatapan kosong seperti tidak ada nyawa di dalam raganya.
Mental Dawiyah terguncang dan shock, saat mendapati kenyataan jika yang dia temui tadi adalah putri bungsunya yang dia berikan beberapa tahun yang lalu pada Kakak iparnya.
''Tidak, ini bukan salahku, ini semua salah si Deni. Pria brengsek itu yang sudah membuat keadaan seperti ini ... yaa, ini semua salah si Deni bukan aku.'' gumam Dawiyah tanpa sadar.
''Bukan! Bukan aku ... aahkk bukan aku!'' teriak Dawiyah menggema di dalam kamarnya.
Braaak!!!
Dawiyah memecahkan semua benda yang ada di kamarnya, sambil berteriak jika semua ini bukan salahnya. Art yang mendengar keributan di lantai atas langsung bergegas melihat dan terkejut saat sang Nyonya tengah mengamuk.
''Nyonya, ada apa dengan mu?''
''Tidak! aku tidak salah ... yang harus di salahkan si Deni itu.''
''Ya Allah Nonyaaaa ...''
Dawiyah berteriak histeris seperti orang gila, ia tidak menyangka jika akan di pertemukan dengan cara seperti ini ... terlebih Dawiyah melihat jelas tatapan benci dari mata Rania padanya.
•
•
•
Indonesia•
Di waktu yang bersamaan tepatnya di salah satu perkampungan, terlihat seorang laki laki sedang mengandap ngendap di dalam masjid.
Melihat kanan kiri, dan memastikan jika tidak ada seorang pun yang melihatnya. Lalu pria itu membuka lemari dan mengambil kotak amal yang berisikan uang receh.
__ADS_1
Pria itu yang tidak lain adalah Deni, yang sekarang tengah mencuri kotak amal milik Masjid di kampung halaman nya. Deni tidak punya pilihan lain selain mencuri kotak amal karna kepepet anak bungsunya yang sakit.
Entahlah, beberapa tahun terakhir ini hidupnya sangat sulit dan tercekik. Tidak ada yang menawarinya pekerjaan, dan dia juga tidak bisa ngojek lagi karna motornya di jual untuk pengobatan anak bungsunya yang menginap penyakit radang paru-paru.
Saat Deni sudah berhasil keluar, seorang pemuda datang dan melihat Deni membawa kotak amal di tangannya. ''Woy! malinggg ...'' teriak pemuda yang bertugas untuk meronda keliling.
Deni yang di teriak maling langsung terkejut dan kabur dengan terburu buru, hingga teriak'kan itu mengundang beberapa orang yang kebetulan meronda bersama.
''Malinggg ... malinggg ...''
Deni semakin ketakutan, ia bahkan berlari tanpa alasan kaki dan menahan sakit di kakinya. Ia terus berlari mencoba untuk menyelamatkan diri dengan kotak amal yang masih ia pegang.
''Maling ... Maling ...''
Teriak itu semakin menggema, membuat beberapa warga bangun dan keluar dari rumah untuk menangkap maling tersebut.
Sreet!!
...Brug!!...
Aahh ...
Deni terpeleset hingga dia terguling ke bawah dan jatuh ke sungai yang deras di bawah sana. Tubuh Deni hanyut bersama kotak amal yang dia curi.
Entah mungkin ini karma atas perbuatan nya, ataukah ini adalah sebuah jawaban dari anak yang terzolimi selama dua puluh tahun lamanya, yang tidak di anggap oleh Ayah atau pun ibunya, hingga Deni dan Dawiyah mengalami hal tragis di waktu yang bersamaan.
•
...•••••...
...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA ...
__ADS_1