Sepenggal Luka "Rania"

Sepenggal Luka "Rania"
SLR. Modus Tuan Amar.


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, tak terasa Rania sudah sembuh total dari sakitnya. Tuan Amar mengurusnya dengan baik, dari segi makan, perhatian, dan hal kecil lainnya yang membuat Rania begitu nyaman berada di sisi Tuan Amar.


''Sebelum pulang ke Indonesia, apa kau ingin berbelanja?'' tanya Tuan Amar.


Rania menoleh. ''Apa boleh?''


''Tentu saja boleh.'' Jawab Tuan Amar yang mana membuat Rania tidak bisa menolak.


Mereka pun pergi ke salah satu pusat perbelanjaan, membeli baju sesuka Rania dan Tuan Amar yang membelikan itu semua. Walau sebenarnya Rania masih memiliki cukup uang untuk membayar belanjaan nya, tapi Tuan Amar malah memarahinya.


Rania pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas bukan? ia pun banyak membawa barang belanjaan nya, berhenti di restoran dan makan malam sengan tenang.


''Makasih Ya Om.''


''Sama sama Cantik.''


Keduanya makan dengan tenang, lalu pergi setelah selesai makan dan pulang ke apartement.



Sesampainya di apartemen, Rania bergegas membereskan barang belanjaan nya kedalam koper yang dia beli. Namun ada satu kotak jam tangan bermerek milik Tuan Amar yang tidak sengaja dia bawa.


Rania pun bergegas melangkah ke kamar Tuan Amar dan mengetuk pintu, namun saat Rania akan mengetuk pintu, Rania tidak sengaja melihat pintu terbuka sedikit.

__ADS_1


''Eh, tidak di kunci?'' Ucap Rania, melangkah masuk memberanikan diri.


''Om.''


''Yaa aku di kamar mandi.'' Teriak Tuan Amar dari dalam.


''Jam tangan Om kebawa sama aku, Rania tahun di meja ya Om.''


''Rania ... boleh Om minta tolong?'' teriaknya lagi dari dalam kamar mandi


'Minta tong apa Om.''


''Buka saja pintu nya.''


Rambut hitam nya basah, dadanya sedikit berbulu, dengan beberapa tato di tubuhnya dan berotot. Sepertinya Tuan Amar selalu menekuni olahraga hingga tubuhnya bisa sebagus itu di usianya yang menginjak kepala empat.


''Ran, tolong gosok pungguku.''


Rania sedikit gugup namun dia mengangguk, ia tidak mungkin menolak karna Tuan Amar sudah banyak membantunya.


Perlahan Rania melangkah menghampiri Tuan Amar, mengambil sabun dan penggosok punggung Tuan Amar dengan perlahan.


Ada dua jantung yang saat ini berdetak kencang, ada dua hati yang saat ini tengah merasakan kegelisahan satu sama lain karna kulit mereka bersentuhan.

__ADS_1


Tuan Amar memegang tangan Rania yang tengah menggosok punggungnya, lalu mendongkak'kan wajahnya menatap Rania dengan dalam.


''Rania, mau'kah kamu menjadi kekasihku?''


Rania terdiam dan tidak menjawab apapun, karna dia bingung harus menjawab apa? Ini kali pertama ada seorang pria yang meminta dia menjadi kekasihnya.


Tuan Amar yang melihat Rania terdiam, dengan perlahan Tuan Amar menarik tengkuk Rania hingga bibir mereka bersentuhan.


Bibir kedua nya menempel, dan mereka saling diam tak merespon hingga Tuan Amar memberanikan diri untuk melumaat dan bermain di dalam rongga mulut Rania dengan sensual.


Tuan Amar melepaskan tautan bibir mereka dan menatap Rania. ''Diam mu adalah jawab iya bagiku Rania.'' Ucap Tuan Amar kembali melakukan ciuman.


Rania menerima apa yang tengah di lakukan oleh Tuan Amar, lalu membalas ciuman itu hingga Tuan Amar enggan untuk melepaskan ciuman yang penuh dengan gelora asmara.


Keduanya terbawa emosi, hingga tanpa sadar jika Rania sudah masuk kedalam bathub yang berisikan air yang kini mulai mendingin.


Mencecapi dan merasakan sentuhan yang lembut penuh damba. Membuat Rania terbuai dan haus akan kasih sayang yang belum pernah ia rasakan.


Rania tidak tau jika ini salah atau tidak! yang jelas dia nyaman berada di dekat Tuan Amar.



...•••••...

__ADS_1


...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA ...


__ADS_2