Sepenggal Luka "Rania"

Sepenggal Luka "Rania"
SLR. Tuhan memiliki rencana lain.


__ADS_3

Wahai Tuhan ku sang penyatu alam semesta, berilah hati ini kekuatan dan ketenangan pada jiwaku yang sudah hilang arah ini.


Jangan sampai membiarkan hati ini gelisah karna tak menentu ... Cabutlah semua ingatan-ingatan yang pernah aku alami, lapangkan lah hati ini untuk menerima semua kenyataan yang sudah aku lalui..


Tuhan, jika aku boleh meminta untuk yang terakhir kalinya, bisakah kau memberiku sedikit saja rasa kebahagiaan, rasa di hargai, di cintai, di sayangi dan rasa dilindungi..




...••••••...


...Happy reading ziyeng ...



Di malam yang dingin bersamaan dengan rintikkan hujan, Rania sudah merasa lelah terus berjalan tanpa arah. Rania pun melihat ke atas langit yang gelap tanpa bintang.


''Tuhan ... tidak bisakah kau memberikan sedikit kebahagiaan untukku? Mengapa kau begitu tega terhadap hamba mu yang lemah ini ... aku lelah terus berada di posisi seperti ini, tidak kah kau pun ikut andil atas apa yang menimpa diriku? Semua orang jahat termasuk dirimu ..." Keluh Rania dalam isak tangisnya.


"Dulu aku selalu patuh setiap aturan, ajaran, larangan mu, tap- ... Hiiikkss, tapi kenapa kau membuat hidupku seperti ini Hah, kenapa Tuhan ... kenapa kau membuat takdir seperti ini padaku?" Rania menangis pilu berteriak dan mempertanyakan keadilan untuknya.


Tanpa Rania ketahui, jika seorang pria yang memakai payung merah tak jauh dari arah Rania mendengar keluhan yang Rania ucapkan.


"Allah tidak akan memberikan cobaan pada mu, jika kamu tidak bisa melewatinya ... jangan pernah menjauhinya, tapi mendekatlah padanya agar sang maha pencipta menyayangi dirimu." Ucap seseorang.


''Setiap hari aku selalu berusaha untuk bisa sampai di titik ini, tapi aku lelah berpura-pura tegar dan lelah untuk berpura-pura baik baik saja." Jawab Rania tanpa melihat lawan bicaranya.


"Berdo'a dan mendekatlah padanya." Ucap seorang pria itu pergi, tanpa mau menolong Rania karna dirinya memiliki urusan lain.


Rania tak bergeming, dirinya memikirkan kehidupan yang pernah ia lalui dengan langkah gontai menuju hotel tempat ia menginap.


Rania yakin jika sang ibu sudah pergi dari kamarnya, namun Rania salah. Dawiyah masih menunggu Rania dan ingin berbicara dari hati ke hati, sekaligus meminta maaf untuk semua kesalahannya..



Butuh waktu sekitar 15 menit, Rania kini sampai di sebrang hotel Apple, namun tiba-tiba ia merasakan pusing yang teramat sakit di kepalanya ... perutnya merasakan mual dan ingin muntah, Rania pun berlari namun dia sudah tidak tahan.

__ADS_1


Hoooeeekkkk ...


Rania memuntahkan semua isi dalam perutnya, dan merasakan lemas di seluruh tubuhnya.


Tanpa di duga, mobil hitam berhenti di depan Rania dan seseorang turun menghampiri Rania.


''Rania, kamu baik-baik saja." Tuan Amar memegang pundak Rania.


Rania menoleh, ''Om ... sedang apa Om di sini?'' tanya Rania yang terkejut jika Tuan Amar berada di sampingnya.


''Aku datang ingin melihat keadaan mu, aku takut kamu kenapa napa di negri orang. Ketika aku sampai disini, aku mengirimkan pesan untukmu, tapi kamu tidak membalas pesan dariku."


''Maaf, aku tidak membawa ponselku?" lirih Rania.


''Tidak apa, ayo aku antar ke rumah sakit, sepertinya kamu sedang sakit.''


''Tidak perlu Om, aku baik-baik saja ... mungkin hanya masuk angin.''


Tuan Amar tidak mendengar ucapan Rania, ia langsung menggendong Rania lalu membawanya kedalam mobil.


''Aku baik-baik saja kok Om .. serius." Rania menolak untuk di bawa ke rumah sakit.


Rania diam dan pasrah.



Di dalam mobil•


''Antarkan kami ke rumah sakit terdekat." perintah Tuan Amar pada sang supir.


''Baik Tuan."


Mobil hitam melaju ke arah rumah sakit, Tuan Amar memberika minyak kayu putih pada leher Rania agar sedikit lebih nyaman, lalu memijat pelipis Rania dengan lembut..


Dan itu semua tak luput dari penglihatan Rania, yang sedari tadi melihat apa yang di lakukan Tuan Amar padanya..


Hati Rania sedikit bergetar ketika ia di perhatikan seperti ini, di seumur hidupnya Rania baru kali ini ada seseorang memperhatikan Rania.

__ADS_1


''Kenapa hati ini nyaman?" tanya Rania pada dirinya sendiri.


Tak berapa lama, mereka sampai di rumah sakit lalu memeriksa keadaan Rania dengan teliti..


''Bagaimana keadaan nya Dok?'' tanya Tuan Amar.


''Putri anda baik-baik saja, namun sepertinya dia belum makan dari pagi. Itulah mengapa dia muntah dan demam.'' Jelas sang Dokter.


Tuan Amar ingin sekali protes dan mengatakan jika Rania bukan putrinya, namun Tuan Amar menahannya karna dia tidak mau membuat keributan di rumah sakit.


''Baik Dok, terima kasih.'' Ketus Tuan Amar.


Dokter itu mengangguk dan tersenyum, lalu memberikan resep obat untuk Rania dan mewanti wanti untuk makan tepat waktu..


Setelah selesai, Tuan Amar menghampiri Rania yang masih terbaring lemas lalu duduk di sampingnya..


''Kenapa kamu tidak makan?''


''Rania memang jarang makan Om. Rania tidak punya selera makan, paling Rania suka makan cemilan saja.'' jawab Rania apa adanya.


Tuan Amar menghela nafas. "Pola makan aja kamu nggak sehat, nanti badan kamu yang kurus tambah kurus! Ayo kita pulang.'' Tuan Amar membawa Rania pulang, namun di perjalanan Rania merasa heran karna setau dirinya ini bukan jalan menuju hotel dimana ia tinggal.


''Om Amar, kita mau kemana?"


''Aku akan membawa kamu untuk tinggal di Apartemen ku, nanti di sana aku akan mengurus sampai sembuh.''


''Tapi aku nggak mau ngerepotin Om."


''Tidak apa-apa, setelah sembuh kita pulang ke Indonesia bersama ok?"


Rania diam dan mengangguk, ia juga tidak mungkin menolak niat baik Tuan Amar yang selalu ada di saat ia merasa kesepian.


Entah apa yang Rania rasakan terhadap Tuan Amar, namun kenyamanan bisa Rania dapatkan dari pria dewasa yang ada di sampingnya.



...•••••...

__ADS_1


...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA ...


__ADS_2