
Rania keluar dari apartment miliknya lalu masuk kedalam lift untuk turun ke lobby, karna Rania hari ini akan berbelanja keperluan dapur yang sudah menipis.
Ia mendapatkan pesan dari Tuan Amar jika dia akan makan malam dengan nya malam ini, untuk itu Rania akan membeli bahan bahan nya terlebih dahulu.
Rania berjalan kaki ke supermarket yang memang dekat dengan apartment miliknya, membeli semua barang yang dia perlukan hingga tanpa sadar sudah satu troli yang beli.
Setelah selesai ... Rania menunggu antrian untuk membayar barang-barang nya.
''Total belanja sebesar 1.950rb mbak.'' ucap sang Kasir.
Rania mengangguk lalu mengambil dompet miliknya di dalam tas, namun Rania tidak menemukan dompet di dalam tasnya yang mana membuat ia panik lalu mengobrak abrik tasnya.
''Ihh di mana dompetku yaa."
Rania memejamkan matanya dan meningat ingat di mana dia menaruh dopetnya. Lalu tak berapa lama ... Rania teringat jika dompet nya berada di tas yang satunya lagi.
''Huft. Bagaimana aku bisa lupa.'' Rania menepuk jidatnya.
''Bagaimana mbak?" tanya sang Kasir, yang sudah khawatir.
Rania menjadi bingung sekaligus malu, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. ''Umm ... mbak dompet saya ketinggalan di rumah, bole--.''
''Ini.'' Seorang laki-laki di belakang Rania menyodorkan kartu miliknya pada sang kasir, yang mana membuat Rania langsung menoleh.
''Eh maaf?''
''Kamu tidak keberatan bukan, jika aku yang bayar? kasian yang sudah pada ngantri di belakang.'' Ucap Pria yang bernama Rama.
Rania melihat kebelakang dan ternyata antrian sangat panjang. Membuat Rania semakin dilema, apa dia menerima bantuan pria di depan nya yang tidak ia kenal sama sekali.
''Jadi gimana mbak?''
''Ahh, iyaa pake aja itu mbak.''
Kasir itu menggesek'kan kartu dan memberikan kartu itu setelah transaksi sudah selesai.
__ADS_1
Rania dan Rama pun keluar secara bersamaan. ''Terima kasih sudah mau membantu, aku pasti akan membalik'kan uang nya.''
''Tidak perlu, aku ikhlas kok.''
''Jangan seperti itu, aku jadi tidak enak.''
Rama tersenyum saat dia teringat sesuatu, dimana ia pernah bertemu dengan Rania sewaktu dirinya naik angkot dulu dan sempat memotret Rania tanpa izin dan masih menyimpan nya sampai saat ini.
Entah mungkin jodoh atau kebetulan saja, Rama yang akan berangkat ke kantor berhenti di depan superMarket untuk membeli minuman.
Namun ketika Rama sedang mengantri, ia merasa senang saat dia melihat wanita yang beberapa minggu lalu bertemu dengannya di angkot saat dia akan berangkat ke kantor.
''Baiklah jika tidak enak hati, mana nomer ponsel mu nanti aku tagih uang itu.'' Modus Rama menyodorkan ponsel miliknya, Rania pun dengan polos memberikan nomer ponselnya tanpa curiga.
''Kabari aku jika kamu ingin mengambil uang itu."
''Baiklah nanti aku kabarin, aku sudah save nomer kamu ... aku Rama." Rama mengulur'kan tangan nya
''Rania.''
''Kamu akan pulang?''
Rania mengangguk.
''Ayo, aku antar kamu pulang."
''Jangan! Aku tidak mau merepotkan mu lagi, lagian tempat tinggalku dekat dari sini kok.''
Walau pun Rama kecewa, tapi dia tidak bisa memaksa bukan? Rama pun mengangguk dan berpamitan pada Rania.
Mereka berdua pun berpisah, Rania pulang ke Apartemen nya sedangkan Rama berangkat ke kantornya.
•
•
__ADS_1
Sedahkan di sisi lain•
Tuan Amar tengah duduk di kursi kebesaran nya sambil melamun, dia sedang memikir'kan ucapan Rania semalam.
Setelah Rania tinggal di Apartemen miliknya, mereka berdua semakin dekat bahkan bisa di bilang intim. Kedua orang itu tak segan berpelukan atau Rania suka bergelayut manja jika Tuan Amar datang ke Apartemen.
Segala rasa kasih sayang, cinta, dan perhatian, Tuan Amar berikan pada Rania. Hingga membuat Rania tidak sungkan lagi memanggilnya dengan sebutan sayang.
Ingin sekali Tuan Amar terjun dari lantas atas gedungnya dan berteriak jika ia sedang jatuh cinta, namun ada perkataan Rania yang membuat ia bingung menjawab nya apa.
Tuan Amar belum jujur jika dirinya sudah memiliki Istri, ingin sekali ia berkata jujur namun ada rasa takut kehilangan jika Rania mengetahui segalanya.
''Huft ... apa yang harus aku lakukan? aku tidak mungkin mencerai'kan istriku, tapi aku juga tidak mau kehilangan Rania.'' ucap Tuan Amar dengan lirih.
Ia sulit untuk memilih di antara dua wanita yang dia sayangi, yang satu sudah setia menemaninya hingga sampai saat ini ... yang satu sudah membuat jantungnya kembali berdetak dan merasakan apa itu cinta.
Tua Amar yang resah, ia berdiri dari kursinya, namun tiba-tiba ia merasakan dadanya yang sakit. ''Aahhkk.''
Tuan Amar memegangi dadanya yang nyeri, lalu dari arah pintu terlihat Biyan masuk. ''Tuan anda kenapa?''
''Dadaku nyeri Biyan.''
''Jika Tuan sedang tidak sehat, lebih baik Tuan pulang.''
''Ya ... sepertinya aku harus pulang. Aaahhhkkk.''
''Tuan."
''Aahhkk Biyan ak--."
GUBRAAAKKK!!!
Tuan Amar tergeletak di lantai tak sadarkan diri, Biyan yang panik langsung menelpon ambulans untuk segera datang.
...••••...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA ...