
Apartemenβ’
Rania sudah menyiap'kan makan malam untuk dirinya dan Tuan Amar. ''Akhirnya selesai juga," Rania tersenyum ketika masakan nya sudah tersusun rapih di meja makan lalu Rania duduk di ruang tv menunggu Tuan Amar datang.
Jam di dinding menunjuk'kan pukul 20:15 malam. Namun sampai saat ini Tuan Amar belum juga datang, membuat Rania mengerutkan keningnya merasa heran.
''Apa dia nggak jadi ke sini yaa?" Gumam Rania mengambil ponselnya, namun terlihat ada pesan masuk.
Rania membuka ponselnya dan melihat siapa yang mengirim'kan pesan untuk dirinya..
[π¨ Rama : Haiiii Rania.]
[π¨ Rania : Maaf ini siapa?]
[π¨ Rama : Ini aku, Rama.]
[π¨ Rania : Rama???]
[π¨ Rama : π Kamu sudah melupakan aku, padahal tadi kita siang baru bertemu.]
[π¨ Rania : Ah maaf, maaf, aku hanya sedikit pelupa π]
[π¨ Rama : Tidak perlu meminta maaf, karna aku sadar diri siapa lah aku yang hanya kentang goreng.]
[π¨ Rania : ππππ]
[π¨ Rama : Boleh aku tau kamu sedang apa?]
[π¨ Rania : Sedang menonton Tv.]
[π¨ Rama : Apa kamu sudah makan?]
Rania tidak membalas pesan dari Rama, dia melihat jam di dinding dan merasa heran karna Tuan Amar belum kunjung datang juga sampai saat ini.
Ia pun langsung menghubungi Tuan Amar, namun tidak ada jawaban.
Sedangkan di sisi Rama. Dia sedang uring-uringan karna pesan yang dia kirim tak kunjung dapat balasan. ''Ish ... sepertinya aku harus extra sabar mendekati gadis cuek seperti Rania.''
TUIINGGGG.
Seseorang mentoyor kepala Rama dari belakang. ''Aduh.''
''Punya anak atu atunya ngomong sendiri, udah kaya orang gila.'' Ibu nya Rama duduk di samping sang anak.
''Ish Bunda tuh.''
''Mangkan nya kawiiiinnnn Ram! Kawinnnn ... biar ada yang di ajak ngobrol kalau mau tidur."
__ADS_1
''Nikah kali Bun, bukan kawin.'' Rama memutar matanya dengan malas.
''Up to you, btw Rania siapa? Gebetan baru yaa ..." ledek sang Ibu.
Rama memandang sang Ibu, lalu mencerita'kan pertemuan dirinya dan Rania yang tidak di sengaja. Rama juga tak segan berkata jujur pada sang Ibu jika dirinya menyukai Rania di pertemuan pertama.
Mungkin bisa di bilang kepentok cinta di dalam angkot, beberapa minggu yang lalu atau satu bulan kebelakang.
β’
β’
β’
π : Ran kamu sedang apa?'' Tanya A.indra di ujung telpon sana.
[π : Menonton Tv A, kenapa yaa?]
[π : Aa, baru pulang kerja dan sengaja membelikan mu makan, apa kamu sudah pulang ke kos kosan mu?']
[π : Rania sudah tidak tinggal di sana lagi A.]
[π : Kenapa kamu nggak bilang sama Aa kalau pindah.]
[π : Rania lupa A, nanti Rania ajak Aa ke kos kosan baru Rania deh.]
[π : Baiklah jaga kesehatan mu dan jangan lupa makan.]
Entah mengapa Rania merasakan jika Pria yang membuatnya nyaman sedang tidak baik-baik saja.
''Om ... kenapa belum pulang sih?'' Rania ingin sekali menemuinya dan memastikan jika Tuan Amar baik-baik saja, namun Rania tidak tau dimana tempat tinggal Tuan Amar..
Rania berselonjoran di sofa sambil mengkhawatirkan pria yang sudah mengisi hatinya tanpa ia sendiri sadari. Hingga terlelap tidur menuju alam mimpi.
Sedangkan yang di khawatiran tengah terbaring lemah tanpa sadar dengan alat yang menempel di tubuhnya.
β’
β’
β’
β’
Esok pagiβ’
Dreeettt.. Dreeettt..π²
__ADS_1
Dering ponsel Rania terus menggema sedari tadi pagi, dan pelaku nya tidak lain adalah Rama.
Rania yang baru selesai mandi melihat ponselnya yang berdering, lalu menghembus'kan nafas dengan berat ketika Rama yang menelpon nya.
Rania yang sebenarnya malas untuk berhubungan dengan orang lain, langsung menjawab telpon dan meminta untuk bertemu karna Rania akan mengembali'kan uangn agar tidak menjadi hutang di kemudian hari.
Sedangkan di ujung telpon sana ... dengan senang hati Rama mengiya'kan pertemuan itu, walau Rama sudah berpikir jika Rania akan marah karna dirinya terus menghubungi nya lebih dari 100x.
Kini Rama sudah mengganti pakaian dan menyemprot'kan parfum di seluruh tubuhnya, karna dia tidak mau jika nanti Rania akan ilfil jika Rama bau badan.
''Sempurna, biru cerah seperti hatiku yang cerah he he he he." Rama pun keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga dengan hati berbunga-bunga.
Bahkan Rama bergumam sendiri, sambil bernyanyi yang tidak jelas. Membuat Ayah dan Bunda nya yang tengah duduk di ruang tv merasa heran dengan kelakukan sang anak yang nampak miring sebelah.
''Bun, apa anak kita baik-baik saja?'' Tanya sang Ayah.
''Anak mu sedang jatuh cinta Yah.''
''Benarkah? dengan siapa?''
''Semalam Rama bercerita, nama perempuan nya kalau tidak salah Rania Yah.''
Kedua orang tua Rama saling berbisik membicara'kan sang anak, dan berhenti bicara ketika Rama berada di depan mereka.
''Bunda, Ayah, Rama pergi dulu yaa ...''Rama meminta izin sambil menyalami tangan kedua orang tuanya.
''Mau ke mana Son?'' tanya sang Ayah.
''Bertemu teman di restoran Yah.'' Jawab Rama.
''Teman apa temaaaaan...'' Goda sang Ibu, membuat Rama tersenyum sambil mengedipkan salah satu matanya pada sang Ibu.
''Baiklah hati-hati dan ingat batasan mu.'' Sang Ibu mengingatkan.
''Oke Bun.''
Rama melangkah keluar dari rumah dan menaiki mobil yang sudah di siapkan untuknya.. Sedangkan Rania Sudah berada di alamat.
Jl. KH. Wahid Hasyim No.106, RT.14/RW.3, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat. Rania sudah duduk di dalam restoran bernuansa Jepang yang sudah di sepakati untuk bertemu dengan Rama.
Rania memainkan ponselnya dan sesekali menyeruput jus miliknya. Ia mengirim'kan pesan pada Tuan Amar karna sejak kemarin tidak ada kabar mengenai dirinya..
Tak berapa lama ... seorang pria tampan duduk di depan Rania dengan senyum ramah. ''Haii Ran.''
Rania menoleh dan tersenyum walau tipis dan di paksa'kan. Kini mereka duduk saling berhadapan dengan sudut pandang yang berbeda. Jika Rania melihat Rama biasa saja, namun tidak dengan Rama yang melihat Rania tanpa berkedip.
Rama begitu mengagumi Rania, karna bagi Rama ... Rania ini berbeda dengan gadis yang lain nya. ''Aku ajak ta'aruf mau nggak yaa.'' Gumam Rama dalam hati, karna sudah ngebet pengen kawin.
__ADS_1
...β’β’β’β’β’...
...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA ...