
Dawiyah masuk ke lobby hotel dengan keadaan marah, bergegas naik lift dan turun ketika tombol berhenti di lantai yang di tuju.
Dengan langkah percaya diri, Dawiyah mencari kamar nomer 313. Hatinya bergemuruh ingin segera meluapkan amarahnya, namun dia harus tenang dan tidak membuat keributan.
''Dasar pelacur sialan! berani-beraninya dia ingin masuk kedalam hidupku.'' Gerutu Dawiyah, sambil berjalan dan mencari kamar di mana Rania tinggal.
Tibalah, Dawiyah berhenti di depan pintu kamar lalu menekan Bell ... tak lama, pintu terbuka dan memperlihatkan sosok wanita muda yang sama di dalam poto yang dia pegang.
Dawiyah langsung mendorong pintu lalu masuk dengan memaksa, menatap Rania dengan tatapan benci.
Namun Rania memperlihatkan wajah datar tanpa ekspresi, ia sudah yakin jika sang ibu pasti akan datang.
''Dasar pelacur nggak tau diri! Beraninya kau menggoda suamiku!''
Plaaak ... Plaak ... Plaakk ...
Tamparan mendarat di kedua pipi Rania dengan membabi buta, namun tidak sekali pun Rania membalas tamparan yang dia terima.
''Akan ku bunuh kau pelacur sialan!'' teriak Dawiyah, namun Rania malah terkekeh..
''Bunuh saja aku.'' Ucap Rania dengan nada bergetar walau bibirnya tersenyum, ''Bunuhlah aku, agar aku bisa terlepas dari semua beban penderitaanku selama ini ... bunuhlah aku, jika memang itu yang kau inginkan.''
''Dasar perempuan gila!'' Bentak Dawiyah.
''Ha ha ha ... aku memang sudah gila! Dan seharusnya aku sudah gila sejak kecil. Bagaimana tidak! ibu kandungku membuangku, dan aku di pungut orang lain dan menjadikan aku sapi perah selama 14thn ... di susul enam tahun harus mendekam di penjara! seharusnya aku sudah gila karna depresi! DAN ITU SEMUA BERAWAL DARI MU YANG TEGA MEMBUANGKU!''
Tunjuk Rania dengan tatapan dingin, memandang wanita yang dia sebut ibu kandungnya..
__ADS_1
''Apa maksudmu?'' Dawiyah bingung dengan arah pembicaraan Rania.
''Berapa anak mu?''
''Hum ...'' Dawiyah mundur beberapa langkah, karna entah ngapa dia takut melihat Rania dengan tatapan dinginnya.
''Aku tanya sekali lagi, ada berapa anak dari pernikahan pertama dan kedua mu?''
''Maksudmu apa? kau benar-benar wanita gila.'' Dawiyah benar-benar takut, nyali nya menciut hanya mendengar suara dingin Rania.
Rania terkekeh saat Dawiyah kurang memahami pertanyaan Cinderella. Entah tidak mengerti, atau hanya pura-pura bodoh! atau memang sudah melupakan anak yang lahir dari rahimnya..
''Aku hanya bertanya, berapa anak mu? anak yang kau lahirkan dari rahim mu sendiri! Aaahh iya ... aku sampai lupa jika kau sudah membuang semua anak-anak mu, sampai-sampai kamu tidak tau keberadaan mereka.''
Deg ... Deg ...
''Si- siapa kamu?'' tanya Dawiyah menatap gadis cantik yang ada di depannya, bahkan Dawiyah benar-benar tidak mengenali Rania sama sekali.
''Aku? kamu bertanya siapa aku? Haha-hahah lihatlah ibu macam apa dirimu yang tidak mengenali anaknya sama sekali.'' Tawa Rania menggema di dalam kamar, membuat bulu kuduk merinding mendengarkan tawa Rania.
Deg ... Deg ... Deg ... jantung Dawiyah serasa ingin copot dari tempatnya, saat dia mengetahui jika gadis yang ada di depannya adalah anak yang dulu sempat ingin dia buang..
''Ka_kamuuu ...'' Dawiyah tergagap.
Rania menoleh dan menatap tajam pada wanita yang tidak mengenali anaknya sendiri ... sungguh, emosi dalam diri Rania membuncah, tak kala melihat wajah sang ibu yang hampir mirip dengannya.
''Ka-kau anakku? anak yang aku titipkan pada Kakak iparku, Ainun?''
__ADS_1
Plaaakk ... Rania sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa marah di dalam dadanya selama bertahun-tahun. Persetan jika dirinya akan di cap sebagai anak durhaka, karna sudah menampar ibu kandungnya sendiri.
Bukan bermaksud durhaka karna sudah menampar Ibu yang telah berjuang melahirkan dirinya, namun Rania sudah tidak sanggup memendam rasa sakit yang ada di dalam hatinya..
''Yaa ... aku anak yang kau buang dan anak yang kau telantarkan 20thn yang lalu, kenapa kamu memberikan aku pada orang lain ...'' Lirih Rania menunduk sedih. ''Kenapa kamu membuat hidupku menderita? Tidak kah kamu berpikir jika anakmu juga membutuhkan kasih sayang dari mu?''
Tenggorokan Dawiyah tercekat, tubuhnya sedikit bergetar mendengar keluhan Rania ... apa lagi Dawiyah menelisik wajah Rania yang hampir mirip dengan dirinya ketika muda dulu.
''Nak ...''
''Kau tidak berhak memanggilku dengan sebutan Nak, karna kau sudah kehilangan hak mu sebagai ibu sejak kau membuangku dan memberikan diriku pada orang lain.''
''Bu-bukan seperti itu ...'' Dawiyah menggantung perkataannya, karna dia tidak tau siapa nama anaknya.
''Bukan seperti itu? lalu seperti apa Hah! Apa kau pernah terpikir sekali saja tentang ku? bagaimana keadaan ku, apa aku sudah makan atau belum, apakah aku tumbuh dengan rasa kasih sayang atau tidak. Sayangnya kamu tidak pernah memikirkan itu, kamu hidup bahagia di sini ... sedangkan anakmu yang lainnya menderita.'' Ucap Rania.
Air mata Rania tumpah dengan deras tiada henti, bahkan Rania beberapa kali menghapus airmata nya namun tetap saja trus keluar tanpa di komando.
Rania tidak bisa membohongi jika hatinya sedang hancur, lali Rania menatap Dawiyah. ''Aku tau ... kamu tidak akan berpikiran ke arah sana, karna kamu sudah mempunyai keluarga baru di sisimu dan hidup bergelimang harta. Tapi asalkan kamu tau, aku benci pada kenyataan bahwa aku terlahir dari rahim perempuan seperti dirimu.''
Dawiyah bergeming seperti patung, dia begitu shock dengan kenyataan yang baru dia dengar. Dia benar-benar melupakan anak yang dia lahirkan dari rahimnya..
''Maafkan aku ...'' Itulah satu kata yang keluar dari mulut Dawiyah.
•
...••••...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA ...
...Jangan lupa dukungannya yaaa.....