
Hari berlalu, minggu ke minggu pun telah usai. Hari ini bertepatan dengan pergantian tahun 2007 ke 2008.. Rania dan semua calon devisa yang lainnya tengah merayakan pergantian tahun baru di dalam asrama.
Semua sangat antusiasi menyalakan kembang api, termasuk Rania yang sangat bahagia bisa memegang kembang api. Dan ini juga kali pertama bagi Rania, ia bisa membeli kembang api dan barang-barang lainnya yang dia mau tanpa mengkhawatirkan soal uang dan kemarahan sang ibu yang selalu meminta uang padanya dan menuntut Rania agar berbalas budi karna dia telah merawat dan membesarkan Rania..
Kini yang ada di benak Rania sekarang adalah, jika kita mempunyai banyak uang maka orang orang akan menghargainya, bahkan ada beberapa orang menjilat kaki hanya untuk uang. Dan Rania juga sudah mendapatkan kabar dari orang kantor, bahwa dirinya sudah mempunyai majikan dan akan pergi ke negara Oman..
Tepat di jam 00:00 Rania menatap suara petasan yang menggelegar, pertanda jika tahun sudah berganti. Secara kebetulan Indra pun yang berada di kampung tengah memandangi kembang api yang menyala di langit..
Kedua adik kakak itu saling merindukan dan saling sayang walau tidak ada hubungan darah yang kental di antara mereka berdua..
''Kamu di mana Ran? apa kamu baik-baik saja?'' Indra bergumam dan menghela nafas, lalu berdo'a dalam hatinya agar adiknya baik-baik saja dimana pun berada..
''Indra! kamu ngapain sih ngelamun di situ? masuk! kamu udah kaya orang bego ngelamun malem malem.'' bentak Ainun..
''Iyaa mah, iyaaa.'' Indra pun masuk dengan gontai kedalam rumah, namun tiba-tiba Indra berhenti di depan pintu dan menoleh ke belakang..
''Aa janji akan mencari mu Ran.''
•
•
•
Sedangkan di negara yang berbeda, tempatnya di Desa Seputeh 4, Perumahan Taman Desa Seputeh, Kuala lumpur Malaysia•
Dawiyah dan suami beserta kedua anak tirinya tengah mengadakan barbeque di rumah mewahnya, mereka pun sama halnya dengan Rania dan anak-anak yang Dawiyah telantarkan. Tengah menyambut perayaan pergantian tahun, namun dengan tempat dan situasi yang berbeda dengan anak-anak.
Jika Dawiyah hidup dengan kemewahannya, kenyamanan, kehangatan dari keluarga. Beda halnya dengan ke empat anaknya yang terlunta-lunta hidup penuh perjuangan, kesengsaraan, kedinginan, bahkan kelaparan..
Anak pertama Dawiyah yang bernama Angga anak paling tua yang berumur 25thn tinggal di emperan kota Jakarta, bekerja sebagai pengamen dan pekerjaan serabutan yang terpenting dia bisa hidup dan makan.
Cepi anak kedua berumur 21thn bekerja kuli bangunan, di daerah Jongol-Bogor. Dan Aris anak ketiga berumur 19thn, tinggal bersama kakek dan neneknya di Cianjur dan sering membantu sang Kakek di ladang..
Sedangkan Rania anak ke empat beda ayah, berumur 14thn dan hidupnya pun sengsara seperti kakak-kakaknya yang harus berjuang hidup di atas kakinya sendiri..
Mereka bertempat kakak beradik satu ibu beda ayah. Yang lebih mirisnya, mereka tidak mengenal satu sama lain. Jika Allah menghendaki mereka untuk berpapasan di jalan, mereka tidak akan bertegur sapa dan tidak akan mengenal bahwa mereka itu sodara..
Yang lebih parahnya, bagaimana jika suatu saat mereka di bertemu dengan rasa yang berbeda? rasa saling suka dan cinta Naudzubillah Min Dzalik. Semoga di jauhkan dari segala musibah..
__ADS_1
''Bundaaa.'' teriak Nuna menangis Dawiyah.
''Iyaa sayang.'' jawab Dawiyah dengan lembut.
''Apa ini sudah matang?'' tanya anak balita yang bernama Nuna, sambil menunjuk daging di perapian..
''Sudah donk sayanggg, kau ingin segera memakannya?'' Dawiyah mencubit dagu anak tirinya dengan gemas..
Nuna mengangguk begitu pun dengan Nino hingga mereka mengangguk secara bersamaan, Dawiyah pun dengan telaten memberikan kedua anak tirinya makan..
Dawiyah tersenyum saat ia sudah selesai memberikan makan pada kedua anak tirinya.. Tanpa Dawiyah rasakan dan pikirkan pada anak kandungnya sendiri. Apakah anak anaknya juga sudah makan? apa mereka sehat di kampung sana?.
Ck.. Dawiyah tidak akan pernah bisa merasakan itu semua, karna bagi Dawiyah hidup dengan kemewahan dan bergelimang harta tanpa memikirkan beban apapun sangat menyenangkan. Untuk apa juga Dawiyah memikirkan anak-anaknya yang sudah ia anggap pembawa sial bagi kehidupannya..
•
•
•
•
Dua hari kemudian. Hari kamis, tanggal 3, bulan Januari, tahun 2008. Tepat pukul 9:30 wib.. Rania di panggil ke kantor oleh salah satu yang berwenang memberangkatkan Rania.
''Oh iyaa Ran, duduk lah..''
''Ada apa mbak?''
''Begini Ran, dua hari lagi kamu sudah bisa berangkat ke negara Oman dan tolong kamu bersiap yaa.''
''Oohh secepat itu Mbak.''
''Itu rezeki kamu Ran, coba kamu lihat yang lainnya mereka ada yang sudah lebih dari tiga bulan tapi belum di panggil, semangat Ran.''
''Baiklah mbak, aku akan bersiap siap. Terima kasihsebelumnya mbak.'' Rania akan keluar dari ruangannya mbak Fika.
''Eh tunggu Ran, aku sampai lupa mengabari kalau pak Faruk manggil kamu juga tuh.''
''Ada apa yaa?'' Rania sedikit was-was..
__ADS_1
''Mana aku tau, coba saja masuk dan tanya. Tapi jangan sampai kamu kemakan bujuk rayuwan dia yaaa.'' Mbak Fika menasehati..
Rania mengangguk lalu masuk kedalam ruangan pak Faruk, dengan sedikit hati yang was was karna Pak Faruk di cap suka bermain dengan para calon devisa. Rania tidak mau terjerumus ke lubang yang sama, karna dia fokus untuk bekerja dan mengumpulkan uang yang banyak agar hidupnya tidak tertindas terus menerus..
•
•
Dua harinkemudian•
Dimana Rania dan beberapa orang lainnya akan berangkat menuju bandara, semua orang di asrama memberikan selamat jalan pada Rania dan beberapa orang lainnya..
Rania pun masuk kedalam mobil dan berangkat ke bandara Soekarno Hatta..
Sepanjang perjalanan, Rania tidak ada henti-hentinya merasa kagum apa lagi melihat pesawat yang nampak besar. Ada hati yang merasa gugup namun sekuat tenaga Rania menenangkan hatinya yang merasa bimbang, dan meyakinkan dirinya jika dia akan baik-baik saja..
''Allaahumma hawwin 'alainaa safaranaa hadzaa wathwi 'annaa bu'dahu allaahumma anta ashshoohibu fissafari walkholiifatu fil-ahl.” (“Ya Allah, mudahkanlah kami berpergian ini, dan dekatkanlah kejauhannya. Ya Allah yang menemani dalam berpergian, dan Engkau pula yang melindungi keluarga.)
•
•
•
•
Bandar Udara Internasional Muskat Oman•
Butuh waktu 7jam 45Menit penerbangan dari Jakarta ke Oman.
Rania bisa menghela nafas lega, saat kakinya menginjak tanah di timur tengah. Tanah yang akan membawa Rania bekerja selama dua tahun tanpa adanya cuti..
Di sini juga kesabaran seorang Rania akan di uji, kedewasaan Rania akan di jalani dengan hati yang lapang mengelus dada dan berderai mata..
•
...•••••...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA...
...Jangan lupa dukungannya yaa...