
Ibaratnya nasi sudah jadi bubur, sudah terlanjur menceritakan tak mungkin kumenarik kata-kataku lagi. “Kamu serius?” Allysa
semakin penasaran. Aku malah kebingungan karena keraguan dengan kata-kataku. Astaga, mau bagaimana lagi ini? Pungkasku
dalam batin.
Aku bingung sendiri kenapa Aku bisa salah bicara seperti ini.
Aku segera membuang muka di depan Allysa.
“Coba sekarang, cari bajuku. Aku mau pergi dari sini!” bentak Allysa agak marah. Aku tahan dia yang sudah berdiri, sepertinya dia
ingin kembali ke tempat tadi kita berantem. Aku takut kalau ternyata terjadi sesuatu. Lagipula Allysa sendiri dalam kondisi tak berbusana.
“Jangan Allysa dengar kataku!” bantahku, Aku sendiri tak tahu Allysa mau dibawa kemana, rencanaku mengamankan Allysa ternyata tidak begitu pandai.
“Sudah cukup, Aku mau cari baju.” Allysa terus membantah.
“Jangan, Allysa dengar kataku!” Aku merengek di depannya.
“Sudah cukup, Jangan bantah Aku! Aku tak suka diatur-atur.”
Allysa semakin keras kepala. Aku terus berusaha menghalangi Allysa namun ternyata Allysa masih terus membantah ucapanku. Aku
semakin gelisah, dan Akhirnya Kita tiba di tempat tadi. Semua sudah berubah, tadi terbilang sepi, kini terkesan ramai.
Allysa berhenti melangkah, melihat pemandangan yang dipenuhi oleh lampu senter dan mobil polisi. Tempat sudah banyak dipenuhi Polisi, sudah saatnya Allysa harus lari. Allysa tak melihat korban akibat ulahnya, tapi Allysa malah fokus melihat kumpulan
Polisi yang tengah sibuk menginvestigasi disana. Salah satu seorang pria langsung menyodorkan senter ke wajah Allysa, brengsek ungkap batinku. Wajahku langsung terpancar cahaya sinar lampu senter.
“Kalian berdua yang disana, apa kalian berbuat yang enggak-enggak?” teriak seorang polisi yang tak jelas wajahnya, Aku tak mampu melihatnya, karena sinar. Akhirnya dalam hitungan tiga, dua, satu Aku langsung lari sekencang mungkin sambil menarik jaket
bagian belakang yang dipakai Allysa. Jaket itu sedikit terlepas sehingga memperlihatkan tubuh Allysa. Aku tak berani menatapnya,
Polisi itu langsung menyadari perbuatanku bersama Allysa. Suara deruan langkah kaki Polisi mengejarku dari belakang, membuatku
harus segera mencari tempat sembunyi.
Allysa tak berani bergumam apa-apa, akhirnya kutaruh dia dibalik semak-semak yang agak tinggi, Aku sudah merasakan setengah mati, andai Polisi berhasil menangkapku. Aku jongkok di samping Allysa, kuminta Allysa untuk tetap diam jangan bersuara.
Diam, diam, dan diam Polisi itu mendekat. Ada sekitar 4 orang berdiri di samping Kami, tapi Mereka tak melihat Kami karena semak-semak yang menutupi tubuh Kami memang tinggi-tinggi, dan tepat di bawah pohon bersembunyi.
Rasanya Aku ingin sekali
menyingkir ke kiri sejenak membelakangi pohon, tapi kalau melangkah sama saja ku harus bunuh diri.
“Perasaan setahuku, Mereka berdua lari kearah sini!” ungkap salah satu personil polisi itu.
__ADS_1
“Coba cari kesana!” tunjuk rekannya.
“Oke.” Semua akhirnya berlari kearah kali yang kududuki tadi berdua.
Aku merasa lega walaupun di hati agak sedikit perasaan was-was, Allysa yang kian gelisah dengan terpaksa kuantarkan dia pulang lewat jalur yang berbeda. Jaraknya pun tak jauh dari Rumahnya, sehingga dia bisa tiba di Rumah walaupun harus berjalan agak lama,
akhirnya ku bisa tiba di Rumahnya dengan selamat, Allysa masuk Taman belakang Rumahnya.
“Terima kasih ya, sudah mengantarkanku sampai Rumah.” Gumamnya.
“Sama-sama.” Tapi Aku langsung berpikir, bagaimana dengan nasib motornya.
“Bagaimana dengan motormu?” tanyaku panik.
“Oh ya, ya. Waduh, bagaimana ini?” Allysa cemas lagi.
Aku kehabisan akal, Motor Allysa mungkin sudah pasti ditahan Polisi, mau tak mau Aku yang harus menghadapinya. Begitu juga
dengan motorku. Waduh, Aku harus mau tak mau Aku harus menghadap Kantor Polisi.
“Baiklah, biar kuhadapi besok.” Aku dengan terpaksa besok harus menghadap Polisi.
“Oke, kalau bisa bawa kemari ya!” pinta Allysa dengan gelagat cemas.
“Baik.” Oke, Akhirnya Aku kembali ke tempat tadi, beruntung sekali motorku masih disitu, beruntungnya tempat itu juga sudah
sepi, sudah aman walaupun terkesan angker, motorku masih utuh.
Okelah, dengan keadaan terpaksa Aku harus menghadap Kantor polisi besok, walau di batin ada perasaan takut juga kalau sampai terbongkar, pelaku dibalik kasus ini adalah Allysa.
Keesokan harinya, perasaanku sudah dilabuh rasa cemas. Tepat duduk di depan seorang prajurit Polisi dengan buku catatan tengah sibuk menulis sebuah laporan, terkait kejadian tadi malam.
Polisi sendiri sampai bingung bagaimana kasus ini bisa terjadi, sedangkan tidak ada barang bukti yang bisa dijelaskan disini. Aku pun ingin mengambil motor milik Allysa selama tidak ada barang bukti, motor itu tidak akan dikembalikan.
“Selama kejadian, Kemanakah saudara berlari?” tanya prajurit polisi itu.
“Saya langsung lari ketika berhadapan dengan Geng motor itu.”
Ungkapku, kucoba untuk berbohong di depan Polisi.
“Yakin?” balasnya.
“Yakin.” Jawabku agak ragu.
Polisi itu kembali menulis lagi, menarik nafas dalam-dalam.
Rekannya sendiri yang tengah sibuk berdiri di samping pintu terus melirik kepadaku, seakan-akan menyimpan rasa curiga kalau Akulah pelaku dibalik ini semua.
__ADS_1
“Apakah Saudara betul-betul tidak tahu mengapa Mereka bisa bergelimang disitu?” sahut Polisi.
“Saya tidak tahu.” Gumamku.
“Yakin?” Polisi tak percaya dengan ucapanku.
“Yakin.” Balasku, lalu poiilisi kembali mencatat lagi di kertas.
“Pak, motor itu boleh diambil?” tanyaku.
Polisi mendangakkan kepala, menarik nafas tinggi, menjawab dengan santai. “Tunjukkan BPKB nya dulu!” pinta Polisi tersebut.
Waduh, Aku kehabisan akal. Mau tak mau, Aku harus ke Rumah Allysa lagi buat minta BPKB. Aku kehabisan akal.
“Silahkan saudara ikut kami!” Polisi itu kemudian berdiri mengajakku entah kemana.
“Kemana, Pak Polisi?” tanyaku penasaran.
“Kita tinjau korban pembunuhan itu, di Rumah sakit.”
Aku hanya diam mengamini keinginan polisi tersebut, dan motorku diparkirkan di Teras Polsek itu, Aku ikut bersama tiga polisi
dengan dua polisi berpangkat kerucut, dan satu polisi berpangkat strip. Sebenarnya perasaanku ada sedikit takut juga dengan ini,
jangan sampai Polisi tahu kalau Allysa adalah pelakunya.
Akhirnya mobil itu tiba di Rumah Sakit Umum Daerah, suasana Rumah sakit memang ramai seperti biasa. Tapi, Kami tetap menyusuri menuju Kamar mayat. Ada 20 orang menangis di depan pintu itu yang tak lain adalah keluarga korban geng motor itu.
Aku
jadi merasa bersalah, dalam batinku apa perlu kuserahkan Allysa ke Kantor polisi untuk kejadian ini. Tapi, Aku lebih baik diam, Aku
tunggu waktu yang tepat untuk menjawab semua ini.
“Pak, Bagaimana Pak? Siapa pelakunya?” salah satu emak-emak menghampiri Pak Polisi dengan paras histeris tangis bersama anak
perempuannya, “Iya, Pak. “ Semua orangtua yang tak lain adalah keluarga korban semalam dengan histeris beramai-ramai mendekati Pak Polisi.
“Sebentar, sebentar...” Petinggi Polisi itu akhirnya bicara, Aku bersama dua ajudannya lebih baik mengawasi dari belakang. Aku
hanya menoleh ke masing-masing keluarga korban, ada satu yang unik bagiku. Satu adalah seorang perempuan wajahnya hampir mirip
dengan Allysa memiliki rambut panjang, parasnya pun seperti Perempuan jepang, dengan kulit putih langsa. Aku bingung diantara
banyaknya orang yang histeris, tapi hanya dia sendiri yang biss tenang. Tapi, tak lama dia akhirnya ikut hengkang entah kemana.
Mungkin dia tak ingin menunjukkan kesedihannya di depan umum.
__ADS_1
Kucoba tuturi dia dari belakang, sepertinya dia menuju Kantin. Tapi, Aku tetap ikuti sampai Akhirnya dia melewati lorong.
Mau kemanakah dia? Lalu, Dia berhenti tepat di tengah lorong yang agak gelap.