
Aku sudah pasrah akan diperlakukan seperti apa oleh Serigala
Allysa, entah dia akan mencabik-cabik tubuhku, ataukah dia akan
memakanku, Aku tak peduli. Namun, tiba-tiba Aku pun bangun,
kukira Aku sudah dilahap oleh Allysa. Tapi nyatanya, ada tiga orang
melihatku dengan serius. Satu lelaki dan dua perempuan. Sontak
akhirnya Aku terbangun.
“Siapa Kamu?” gumam pria itu.
Aku kemudian melirik ke salah satu perempuan yang tak lain adalah
Allysa sendiri. Sebenarnya, Aku sudah dibawa ke suatu tempat yang
terang, dengan karpet yang indah, dengan suasana yang indah bagai
Istana. Ini adalah Rumah Allysa. Aku awalnya berpikir mungkinkah
Aku larut dalam mimpi, sehingga sosok Allysa yang berubah menjadi
serigala adalah bayang-bayang saja.
Lalu setelah kuusap mataku sambil membersihkan belek di mataku
ternyata Aku memang sempat pingsan, Allysa terus memandang
wajahku. Dan, satu orang lelaki yang tak lain adalah Ayah Allysa
menorehkan wajah tidak bersahabat di depanku.
“Siapa Kamu?” gumam pria itu lagi.
“Ohh..Aku, temannya Allysa.” Sahutku.
Lalu, pria itu menoleh ke Allysa, wajahnya yang ketus membuatku
menjadi perasaan berlama-lama di Rumah Allysa.
“Allysa, Siapa dia?” pria itu tanya lagi di depan Allysa.
“Oh, Dia Doni, teman SMA-ku tapi tidak sekelas. Kenalin, Ayah. Dia
Doni.” Allysa dengan cepat mengambil tanganku dan menyuruh
untuk menyalimi Ayah Allysa.
Wajah Ayah itu terpaksa, tapi dia tetap mau berkenalan denganku.
“Aku Subakti, Ayah Allysa.”
“Oh ya pak, Senang bertemu bapak.”
“Saya enggak senang bertemu dengamu.” Sahut Pak Subakti Ayah
Allysa dengan ekspresi emosi. Aku sedikit malu, tapi Allysa dan
adiknya malah tertawa.
Pak Subakti menoleh ke langit-langit Rumah mencari Jam dinding,
“Ya sudah, Kamu pulang ini sudah malam.”
Aku mungkin hanya bisa bersikap polos dengan situasi ini, segala
ucapan Aku terima mentah-mentah, walaupun setiap hari juga Aku
terkesan polos di mata orang-orang.
“Baik, Pak.” Aku langsung berajak dari karpet tempat Aku tidur itu,
kutoleh kesana kemari mencari jam dinding, dan akhirnya melihat
sebuah Jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sangat
bahaya, apabila kuterus melanjutkan perjalanan.
“Aku antar ya.” Allysa ikut berdiri.
__ADS_1
“Enggak usah, dia laki-laki. Kenapa Kamu mengantarkannya?” bantah
Ayahnya dengan ketus.
“Tapi, Ayah...” Allysa bicara langsung diterpa Pak Subakti.
“Tapi, Apa? Dia anak laki-laki, sudah tak perlu diantarkan lagi, titik.”
Pak Subakti dengan keras menolak keinginan Allysa. Wajah Allysa
langsung murung.
“Maaf ya, Doni. Aku tak bisa mengantarkanmu untuk saat ini.” Wajah
Allysa memurung, tapi Aku tak menanggapinya.
Aku langsung ke luar Rumah megah itu, dan berjalan kaki seperti
biasa di kala jam 11 malam, tega sekali Pak Subakti yang ingin
mengeluarkan di jam 11 malam melintasinya sunyinya malam hari.
Aku pulang, tapi anehnya tak lama kuberjalan Allysa diam-diam
menghampiriku.
“Doni, Aku antarkan.” Motor Allysa tiba di depanku.
“Oh tidak, terima kasih.”
“Sudah, ini sudah malam. Bahaya kalau Kamu pulang sendiri.”
Bantahnya.
Aku akhirnya berpikir kalau misal Aku pulang di tengah malam ini
sendirian, maka pasti akan berbahaya, salah satu cara amannya
adalah terima saja boncengan Allysa, Ayah Allysa memang kejam.
KEESOKAN HARINYA
Hari ini memang tak seindah hari sebelumnya, maklumlah sebagai
mau tidur selama kurang lebih 10 jam. Semalam tiba di Rumah jam 1,
dan tidur selama 10 jam mungkin Aku akan bangun jam 10 pagi. Tapi,
Ibuku sudah membangunkanku, jam 5 pagi.
Mataku masih mengantuk parah, maklumlah Aku baru tidur jam 1
malam. Terpaksa Aku berangkat dengan mata mengantuk, namun
akhirnya kutiba juga di Sekolah. Bel sudah berdering tepat di atas
kepalaku, tapi Aku bersikap tenang. Semua temanku sudah berdiri
siap menyanyikan lagu kebangsaan, Aku yang baru masuk kelas
sudah disambut oleh tatapan mata Bu Ami selaku guruku, dan juga
teman-temanku yang biasa membullyku. Aku ikuti pelajaran Sekolah
sampai waktu istirahat tiba.
Saat Istirahat, seperti biasa. Aku berpura-pura melangkah ke
kelas 12 IPS 3, tepat dimana kelas Allysa berada. Kulihat seorang
lelaki lebih tampan menyalipku dengan cepat. Bau semerbak
parfumnya yang menyengat sambil membawa sebuah buku paket
entah itu buku apa Aku tak tah, dia berjalan masuk kedalam Kelas
Allysa.
Kuterpaksa diam sejenak tepat di depan Kelas Allysa. Entah
tiba-tiba perasaanku jadi seperti tak enak batin, ingin sekali masuk
__ADS_1
namun terasa berat di badan. Dan, tiba-tiba Allysa pun keluar.
Parasnya begitu bahagia, tapi tak melihat wajahku dia terlihat manis
ketika senyum di mulutnya kulihat, tapi setelah kulihat dia menyapa
lelaki itu ternyata tak semanis hatinya.
“Hay sayang.” Gumam Allysa menyapa lelaki bajingan itu.
“Hay juga, Sayang.” Balas lelaki itu, Aku terus memerhatikannya
dari jauh.
“Maaf, ya. Sudah merepotkanmu.” Allysa berpura-pura lebay di
depan lelaki itu. Aku pun jadi ikut-ikutan lebay, apalagi melihatnya
begitu mesra dengan lelaki itu.
“Enggak apa-apa, ini bukumu.” Lelaki itu memberikan sebuah
buku di tangannya kepada Allysa. Sebuah pemandangan yang tak
mengenakan di batinku melihat drama yang menggenaskan ini,
namun akhirnya kucoba sejenak berpikir positif.
“Oh, makasih banget ya. Nanti malam mau enggak Kita ngopi!”
tawaran Allysa kepada lelaki itu membuat jiwa ragaku menjadi luluh
lantak, Aku tak mampu berpikir positif lagi sebagai jiwa lelaki yang
sesungguhnya, Aku patah kaki, eh patah batin. Ragaku sakit,
mendengarkan ucapan itu. Selama ini kukira Allysa adalah wanita
jomblo, dia adalah wanita yang familiar. Cuma sayangnya, Aku terlalu mengambil hati dengan apa yang sudah dia perbuat padaku. Aku benar-benar kecewa.
“Doni.” Allysa memanggilku.
Aku malah kaget dengan ucapan Allysa itu. Aku sudah
mengumpulkan rasa kekecewaanku pada Allysa. Aku tak mampu
berbuat apa-apa lagi, Aku terdiam melongo, dan dengan cepat
akhirnya Aku pun hengkang dari pemandangan miris itu. Aku
menunjukkan sikap emosiku di depan Allysa. Sepertinya Allysa
menyadari kalau dirinya telah mempermainkan perasaanku.
Aku adalah sosok pemikir, sebenarnya Aku bukanlah
pendendam. Bahkan banyak teman yang membully-ku pun Aku tak
dendam, tapi apabila Aku sudah kecewa dengan sesuautu yang
kuharapkan Aku akan merasa kecewa yang sangat dalam.
Aku terus terang sejak awal memang menyukai sosok Allysa,
sejak Aku belum mengenalnya, Aku sudah meenyimpan perasaan
suka pada Allysa. Aku berlari menuju kelasku, Aku terkesan menjadi
kecewe-cewan, ah bodo amatlah. Aku menarik nafas dalam, berpikir
tenang saja, kukembali ke dalam jiwa lelakiku, walaupun perasaan ini
sungguh menyakitkan.
Aku belajar menjadi lelaki yang bijak, tinggalkan wanita yang
sudah mengecewakanmu. Tak perlu untuk menyimpan di dalam hati,
karena itu hanya menimbulkan penyakit saja ditubuh. Balas dendam
terbaik ialah kesuksesan, Aku akan berusaha menjadi sukses kepada
__ADS_1
wanita yang telah menghianatiku. Aku akan tunjukkan kalau Aku bisa.