Serigala Cinta Segitiga

Serigala Cinta Segitiga
Transformasi


__ADS_3

Jatuh Cinta Caffe adalah salah satu tempat nongkrong anakmuda, ini adalah ngopi pertamaku setelah 2 tahun lamanya tidak


ngopi bersama teman. Maklumlah, Aku sebagai Anak Rumahan tidak mengenal pergaulan, anti sosial-sosial club, bukan seperti Allysa yang dikenal punya banyak teman.


Kebetulan Jatuh Cinta Caffe adalah Caffe paling indah sepi di mataku, dinding Ruangan yang didesain kayu berbagai motif terkesan estetik, lampu dinding pun juga menghiasi seluruh dinding tempat itu, sehingga terkesan menarik.


Kulepas semua masalahku, dan kunikmati indahnya malam itu dengan alunan musik saksofone yang menambah syahdu di Caffe maalam itu.


“sini, duduk sini!” Allysa tanpa kulihat sudah duduk sebuah kursi kayu bermotif unik batik, dengan bingkai warna coklat terang.


Aku duduk berhadapan dengan Allysa. Sumpah, perasaanku seakan-akan penuh keberatan sekali, ketika berhadapan dengan Allysa.


“Kenapa malu-malu begitu?” tanya Allysa sambil senyum.


“Enggak kok.” Pandanganku terus melirik ke bawah meja saja, Aku malu menatap wajah Allysa. Tak kusangka, Aku melihat darah mengalir dari kaki Allysa, membuatku bingung. Penasaran, akhirnya kutanyakan langsung kepada Dia.


“Kakimu, kenapa kok berdarah.” Kali ini, Aku berani berani menatap wajahnya langsung.


Dia menoleh langsung ke bawah, dan malu banget, sambil tersenyum kepaksa denganku. Dia langsung menjepit kedua kakinya,


mukanya langsung memerah.


“Maaf, Aku lagi haid.” Gumamnya.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku,


“Sebentar ya, Aku pakai pembalut dulu.” Allysa beranjak dari kursi berlari menuju parkiran dengan kencang. Rasanya penuh malu


dan gelisah di raut wajahnya.


Aku hanya terdiam saja, tetap positifkan pikiran. Tak lama seorang Barista datang membawakan satu gelas teh hangat, dan satu


kopi mocha. Dalam batinku, Aku saja sebagai lelaki tak pernah sekalipun mencoba untuk minum kopi, tapi ini wanita memang berani sekali minum kopi, gumamku.


“Silahkan.” Ucap Barista dengan kepala dingin,


“oh ya terima kasih.”

__ADS_1


Barista itu pergi, dan anehnya tak sampai 2 menit, Allysa kembali datang lagi dengan perasaan sedikit lega.


“Sudah selesai.” Ungkapnya bahagia


“kok cepat sekali?” tanyaku penasaran.


“Iya, gerakkanku memang cepat. Aku berlari kesana kemari, masalahnya Aku sendiri sudah malu. Kakiku penuh darah tadi.”


Curhatnya sambil tersenyum-senyum malu padaku.


Aku tak menanggapinya, Aku langsung mengambil segelas teh hangat itu melaju ke atas bibirku, jemari tanganku terasa seperti


kesetrum dari tegangan empat volt, ada perpaduan seperti digigit semut, apalagi gelas itu Cuma gelas kaca pula. Tibalah di mulutku, bukan sebuah kenikmatan malahan kepanasan menyerbuk bibirku. Lantas kulangsung muntahkan ke lantai, Allysa yang memandangku kepanasan hanya tertawa seakan-akan mensyukuriku kepanasan.


“hahahaha...”


“Kenapa Ketawa?” tanyaku.


“Sudah tahu panas, tapi masih Kamu minum. Astaga..” balas Allysa.


”kamu juga haid, malu kan?” sindirku.


“hah? Apa hubungannya dengan haid itu?” Allysa masih berlagak senang dengan membantah ucapanku. Aku langsung di skak, Aku tak mampu membalas dengan kata-kata lagi. Tapi, Aku masih terus berpikir bagaimana supaya bisa berani bicara lebar dengan Allysa, ku menoleh kanan kiri di sekitar area meja. Sedang, Allysa terus menatap wajahku dengan paras senyum jahat sambil mengulang kopinya.


Tapi, tiba-tiba kulihat tangan Allysa berubah lagi. Tangan itu seketika kembali seperti dipenuhi bulu-bulu anjing herder seperti


kejadian tadi. Aku langsung panik, jangan sampai Allysa berubah lagi menjadi monster seperti tadi.


“All...Apa Kamu sadar tanganmu berbulu?” Aku langsung menunjuk ke tangannya lagi.


Allysa menoleh ke tangannya, dia menjerit kuat ketika tahu tangannya penuh dengan bulu itu. Karena, tahu sendiri kalau Aku adalah orang yang super pemalu, Aku langsung membawa Allysa lewat pintu belakang sebelum berubah menjadi sosok Serigala yang menyeramkan itu, untung saja kedua minuman itu sudah dibayar,


Aku mungkin bisa kabur kesana kemari dengan tenang.


Allysa tak membantahku ketika kubawa dia keluar lewat pintu belakang. Kebetulan di belakang Caffe itu ada sebuah aliran sungai


yang cukup kuat, kita sempatkan untuk menikmati bersama disana,

__ADS_1


supaya terhindar dari penglihatan orang lain.


Perasaanku pasrah ketika semakin melihat perubahan yang signifikan dari tubuh Allysa, kubawa dia ke tepi sungai yang sepi dan hanya ditemani satu buah lampu menjulang tinggi di atas kepalaku.


Kubiarkan Allysa melepaskan semua pakaiannya termasuk pakaian dalamnya dan merubah semua tubuhnya menjadi monster raksasa, ekspresinya kian hilang, raganya mulai tersendat, dan berubahlah menjadi monster serigala yang dikenal dalam mitos barat, ialah


Werewolf.


Aku melihat perubahan tubuh dari Allysa, wujud monster itu pun masih sama seperti yang kulihat tadi. Dia mengaum kuat tepat di depanku, tapi Aku kini berusaha tenang, dan jangan sampai ada orang yang melihat kejadian ini. Tiba-tiba mataku tertuju ke langit yang tinggi di angkasa, kulihat sebuah bulan purnama terang benderang berdiri di atas kepalaku.


Aku menyadari kalau Werewolf akan hidup dikala rembulan purnama datang. Tubuhnya hitam kecoklatan, posturnya besar dan


kekar, rambutnya panjang lebam seperti rambutnya pada umumnya, mukanya sangat jelek di mataku, tapi gak tahu di mata orang lain, wajahnya sangat tak bersahabat, mengerikan sekali. Aku sebenarnya sudah pasrah dengan situasi ini, membiarkan


Allysa memperlakukan dengan seperti apa itu terserah Dia, lalu kucoba dekatinya.


“Allysa, mohon dengarkanku. Aku ini temanmu, Doni. Aku butuh Kamu sadar dariku.” Gumamku dengan gelagat pasrah,


sebenarnya Aku tak pandai berbicara, tapi ini berbicara dengan pasrah.


Allysa masih tak mendengarkanku, Allysa masih terus membantah ucapanku, bahkan malah mendekatiku. Aku terus bersikeras melantunkan kata-kata yang cukup untuk menanggapi isu-isu ini.


“Allysa, Saya tahu kamu itu baik, cantik, kuat lagi. Kamu mau enggak jadi Pacar Saya. Saya ingin duduk bersamamu, menikmati indahnya dunia ini apalagi kalau kita duduk berdua.” Terpaksa Aku melontarkan kata-kata romantis. Tapi, Allysa masih belum menanggapinya.


“Allysa, wujudmu memang cantik sekali, apalagi kalau Kamu sudah jadi serigala seperti ini, Aku masih penasaran kenapa Kamu sejak digigit anjing malah jadi begini?” keluhku yang membuat Allysa perlahan diam.


“Allysa, langit itu terkadang bisa saja menggelap karena mendung, bahkan minyak bumi yang di dasar laut pun bisa saja habis


apabila terus dikeruk, tapi cintamu kepadaku tak mungkin bisa habis dalam bentuk apapun sekalipun angin badai menghempas di atas


kepala Kita.” Aku semakin mengekpresikan sikapku di depannya. Kali ini, Allysa mulai tunduk kepadaku. Tapi, Aku juga masih


menyimpan rasa takut di batin kecilku. Aku ingin menolak bagaimana ini semua memang berat untuk kuterima. Allysa terus mendekat, dan mendekat sampai akhirnya dia memegang pundak kananku.


“Aku sudah punya pacar.” Ucapnya dengan nada wanita tapi memberat.


Mataku langsung melotot, entah Bagaimana kelanjutannya. Aku akhirnya pingsan, bukan karena Aku kaget ketika dia punya pacar, tapi ketika kutahu dia bisa bicara, disini Akhirnya Aku pingsan. Aku terlentang di badan Allysa, dan terlelap. Mataku kian hampa, Aku tak mampu melihat apapun selain kegelapan.

__ADS_1


__ADS_2