
Aku langsung kaget, ada apa Allysa sering praktek seperti ini. Ingin kucoba hubungi Allysa, tapi sayang Aku tak menyimpan nomor teleponnya, padahal Aku sendiri betul-betul penasaran Kenapa Allysa sampai seperti ini.
“Doni, Doni.” Meylinda memanggilku.
“Iya.” Aku menatapnya.
“Doni, sini Doni!” pintanya.
Ku mendekati Meylinda, tubuhnya terasa dingin tak seperti biasanya.. bagai orang yang sudah mati. Kulitnya pun juga tampak pucat, wajahnya terlihat seperti orang kelelahan. Rasanya ingin sekali memanggil Dokter itu lagi.
“Mey, Ada apa dengan Kamu?” Aku sepertinya perlahan mulai menyimpan rasa peka pada dia.
“Enggak apa-apa kok, tak usah dipersalahkan! Aku baik-baik saja.” Dia berusaha menenangkanku, sepertinya Dia tahu kalau Aku ada rasa gelisah juga.
“Tapi, tubuhmu sedikit memucat begini. Kekurangan darah.” Sanggahku sambil memegang pergelangan tangan kirinya.
“Dokter tadi bilang bagaimana?” singgungnya.
“Kamu Cuma kelelahan, dan sedikit depresi. Butuh waktu banyak untuk bisa tidur.” Jelasku.
“Syukurlah.”
“Iya. Tapi, Aku Cuma mencemaskan ketika Kamu digigit anjing saja.” Bantahku lagi.
“Tapi, rasanya ketika digigit anjing memang membuatku jadi seperti ini.” Keluh Meylinda.
“Ciri-ciri anjing itu bagaimana?” cemasku lagi.
“Anjing itu besar, berwarna putih, seperti serigala. Dia langsung menggigit kakiku.” Ungkapnya.
Dalam batinku, sama sekali kasus ini terjadi dengan seperti Alyssa alami, yang Aku takutkan kalau misal dia berubah menjadi manusia serigala sewaktu-waktu. Ah, tapi tak boleh larut dalam kepercayaan mitos.
Aku harus konsisten menjadi orang yang percaya sesuatu yang modern ketimbang hal mistis.
Bip...Bip...Kemudian HP ku berdering notifikasi. Kukira ada telepon atau apa, ternyata orderan makanan. Rasa senang di kepalaku kian menggebu-gebu, ada juga yang pesan makanan di hari ini.
Tepat memesan satu bungkus seblak di Toko Seblak Cah Nom.
“Mey, Aku izin ke depan dulu ya, ada orderan masuk!” pintaku di depan Meylinda.
Dia tiba-tiba langsung menggenggam tanganku kuat-kuat, ada apa? lagipula telapak tangannya juga dingin yang membuat Aku tak tega. Apa Aku harus membatalkan pesanan ini? Tapi sayang, Aku juga butuh uang untuk makan sehari-hari yang sudah tak digantung orangtua.
“Jangan, pergi tinggalkan Aku disini! Aku takut.” Bantah Meylinda.
Aku malah bingung, Apa perlu kubawa Meylinda pulang saja dulu.
“Bagaimana, kalau kuantarkan Kamu pulang dulu?”
“Iya.”
__ADS_1
Dengan cepat, Kita keluar dari Rumah Sakit kembali ke Rumah.
Walaupun wajah Meylinda terkesan pucat, dan seribu mata pasien sepanjang lorong terus menatap wajah Meylinda yang pucat. Meylinda yang diperhatikan, Aku yang tertekan. Apa jangan-jangan Aku mulai ada rasa dengan Meylinda, sebenarnya Aku tak punya rasa pada Meylinda.
Aku hanya mengagumi Allysa walaupun sudah ada perasaan kecewa. Hanya karena, melihat nasib Meylinda yang sebatang kara, tak punya siapa-siapa dan ditinggal mati kekasih hatinya, yang membuatku tak tega. Akhirnya, kuantarkan Meylinda sampai di Rumah.
Aku tak masuk ke dalam Rumahnya, ditakutkan nanti mulut tetangga yang kejam membuatku lebih memilih menanti di depan Rumah megah peninggalan Ibunya itu.
“Sampai sini saja ya, kuantarkannya.” Ungkapku.
“Terima kasih ya, Kamu tak ingin ikut masuk?” sanggah Meylinda.
“Enggak, Aku harus cepat-cepat ini, ada orderan.” Keluhku.
“Oh, semangat ya.”
"Cepat sembuh ya!” ucapanku secara reflek tak disadari kalau Aku semakin peka pada Meylinda.
“Iya.”
Langsung kutinggalkan Meylinda seorang diri di Rumahnya.
Aku menuju Warung Seblak Cah Nom lalu baru ke sebuah Rumah yang dituju, tapi setelah diperhatikan Alamatnya tak asing di mataku. Akhirnya, kucoba ikuti menuju Rumah tersebut. Dan, ternyata adalah Rumah Alfina. Salah satu sahabat dekat Allysa, yang sudah kukenal cukup lama. Ada rasa malu juga dalam ragaku, ketika melihat Alfina bisa kuliah di tempat yang elite, dan tidak bagiku yang hanya bekerja sebagai seorang freelance sekaligus tukang ojek saja.
“Doni?” ucap Alfina ketika mendekatiku.
“Alfina, ini seblakmu.” Aku malu-malu seraya memberikan bungkus seblak itu.
“Semua habis 17 ribu.” Gumamku.
Lalu, Alfina membuka dompet dan memberikannya padaku.
Kurasa dia tak ada perubahan dari dulu, dia masih terkesan matrealistik, tapi Aku juga tak ada perasaan. Aku hanya menjalin hubungan baik dengannya.
“Terima kasih.” Ku terima uang itu dari tangan Alfina.
“Ehh..ngomong-ngomong, Apa Kamu tahu keberadaan Allysa?”
sengaja kutanyakan begitu, karena yang tahu semua tentang Allysa adalah Alfina. Dia adalah sahabat dekat, kabar yang trending pun tentang Allysa, Dia pun tahu.
“Memang Kamu enggak tahu ya?” ucapnya yang membuatku penasaran, sekalipun Ayahnya sesekali mengintip dari Ruang Tamu
soal perbincanganku dengan Alfina.
“Enggak, Ada Apa?” bantahku.
“Allysa sekarang bulak balik depresi dan masuk Rumah Sakit.” Gumam Alfina dengan gelagat serius.
“Hah? Masa?” bantahku lagi.
__ADS_1
“Untuk Apa Aku berbohong.”
“Ya sudah, kalau begitu. Ikut Aku ke Rumah Allysa sekarang!” dengan cepat Aku mengajak Alfina untuk ke sana. Sontak seperti hal yang kuduga, Ayah Alfina langsung keluar dari balik Pintu.
Menyambarku dengan ekspresi yang tak bersahabat.
“Mau Apa Kamu ajak puteri Saya jalan-jalan?” Ayah Alfina sudah terlihat marah padaku.
Aku tak bisa berkutit, Alfina pun malah diam tak membelaku sedikitpun.
“Oh Ayah, Aku mau ke Rumah Allysa sebentar saja. Kebetulan, Dia temanku, teman SMA Cuma kami tak begitu dekat, jadi izinkan Kita keluar sebentar.” Ucap Alfina dengan wajah gugup.
Ayah Alfina sudah mengenali sosok Allysa, jadi tak begitu menghiraukan masalah itu.
“Teman Apa Pacar?” Ayah Alfina membantah lagi.
“Ehh..Teman, Ayah.” Sanggah Alfina membelaku. Ayah Alfina diam dengan sikap berwibawa, sedikit menganggukan kepala. Dan, kembali masuk ke dalam Rumahnya, walaupun paras wajahnya masih sangat tak mendukung kehadiranku.
“Sudah, Ayo Kita pergi!” Alfina keluar pintu Rumah segera menemaniku.
Kebetulan, Aku juga biasa membawa Helm cadangan kemana pun pergi, kuberikan Helm itu pada Alfina agar tak berlama-lama di mempersiapkan di dalam Rumah.
“Tapi...” pungkasku agak ragu.
“Sudah lupakan saja, itu Ayahku memang begitu. Overprotective pada anaknya.” Balasnya menenangkanku. Aku langsung terdiam.
Oke, Akhirnya Aku dan Alfina menuju Rumah Allysa yang memang notabenenya agak jauh dari Rumah Allysa. Allysa memang sering sekali bermain ke Rumah Alfina, begitupun sebaliknya. Namun, sejak kejadian itu sepertinya Allysa mulai sedikit mengurung diri di Rumah.
Perjalanan kutempuh selama 10 menit di atas jok motor, bokongku kian panas, rasanya seperti ingin terbakar saja. Dan, sampai tiba di Rumah Allysa setelah 10 menit perjalan. Rumah Allysa mengalami perubahan drastis usai kejadian malam itu, ketika dia menyadari kalau dirinya memang mengalami hal aneh, Rumah itu penuh dengan rumput ilalang sepanjang depan Rumahnya, Teras terlihat kotor tak terurus, cat tembok mulai mengelupas, dan lantai mulai dipenuhi butiran-butiran debu pertanda sudah sepi.
Kucoba masuk bersama Alfina masuk kedalam Rumah, tapi kulihat sikap Alfina memang tak begitu terlihat ketakutan pada Allysa, mungkin saja Alfina sudah tahu semua ini tapi dia enggan menceritakannya.
“Allysa, Allysa.” Teriakku dari balik pintu.
Tak ada satupun yang membukakan pintu, lantas dengan cepat ku langsung dobrak pintu itu, apalagi hari sudah memasuki senja.
Suasana Rumah Allysa tak seperti yang kulihat pertama kalinya, sangat tak terurus dan kotor, nuansa angkernya memang sudah terlihat jelas. Alfina memang sesungguhnya sudah sedikit menyimpan rasa takut disitu, tapi Aku berusaha menjadi lelaki jantan untuk menghadapi situasi yang menakutkan seperti ini.
Memang benar, kutengok Rumah itu ternyata Rumah Allysa sudah tak berpenghuni lagi. Kenapa Allysa tak pamit kalau dirinya sudah tidak tinggal disitu? Kenapa Allysa pergi jauh, walaupun kenyataannya Aku sendiri tak begitu respek padanya? Banyak pertanyaan terlintas di kepalaku. Aku dan Alfina terus meneriaki nama Allysa sebelum matahari di luar lenyap tenggelam menuju Barat.
Satu kali, Aku lihat sebuah pintu Kamar yang memang sudah rapuh, nyaris patah, disitu terdapat sebuah Kamar yang gelap, Aku
penasaran. Bulu kudukku langsung merinding, Alfina tepat di belakangku pun juga merasakan gelisah yang hebat ketika mencoba masuk ke dalam Kamar itu.
Astaga, senter Rumah yang baru kubawa terpaksa ku pecahkan, mataku langsung melotot, seketika kepala membeku. Begitupun juga dengan Alfina yang tiba-tiba Kaget seperti ketakutan.
Gadis berambut panjang penuh, dengan wajah tertutup seperti halnya kuntilanak, dengan parasnya yang memang sudah berubah duduk
tepat di sudut Ruangan. Lantas siapa dia? Dia itu Allysa. Allysa sudah berubah 360 derajat sejak kala itu. Aku merasa berdosa, tidak seharusnya Aku ceritakan pada Allysa.
__ADS_1
Tapi, ini semua memang karena Aku terkesan polos jadi semua ini membuat jiwa Allysa rusak.