Serigala Cinta Segitiga

Serigala Cinta Segitiga
Amnesia


__ADS_3

Mengingat selama ini yang mengurus Meylinda ialah Aku. Maka mau tak mau, dengan hati terpaksa akhirnya Meylinda siap menampung Allysa di Rumahnya. Kebetulan Kamar tidur Meylinda masih ada 2 kamar lagi kosong, yang tak lain adalah peninggalan orangtuanya. Allysa mungkin bisa tidur disitu.


Allysa tampak tak begitu agresif seperti sebelumnya. Allysa kini cenderung diam, malah sebaliknya Aku lah yang banyak bicara.


Lalu kuputuskan untuk hengkang dari Rumah Meylinda, berhubung ini juga sudah malam ditakutkan nanti akan ada fitnahan maka dari itu alangkah baiknya Aku harus pergi dari situ.


“Ya sudah kalau begitu. Aku pulang dulu ya!”


“Baik hati-hati di Jalan.” ucap Meylinda.


“Ini 2 nasi goreng, untuk Kamu satu dan untuk Allysa satu.” Aku merasa berat kalau hanya membelikan untuk Allysa dan tidak bagi Meylinda.


Meylinda dan Allysa tampak senang, akhirnya kuputuskan untuk pulang dari Rumah Meylinda. Sepanjang jalan, awalnya Aku merasa lega dengan nasib Allysa yang akhirnya tertolong, tapi setelah sekian lama kuberpikir Aku baru ingat.


Kasus kematian kekasih hati Meylinda sendiri karena ulah Allysa. Aku ingat jangan sampai aib Allysa terbongkar kalau dia lah yang menghilangkan raga dan nyawa kekasih hati Meylinda.


Brengsek, Aku merasa jadi orang bodoh. Sama saja ini membuat masalah baru yang sudah bermasalah.


Waduh, masa Aku harus kembali lagi ke Rumah Meylinda untuk menarik Allysa. Akhirnya sepanjang jalan Aku berdoa mudah-mudahan hubungan Allysa dan Meylinda baik-baik saja tanpa ada sikut menyikut, apalagi singgung menyinggung. Kuharap Allysa benar-benar amnesia dengan perbuatan yang sudah dia lakukan selama itu.


Aku terus berdoa supaya tidak terjadi apa-apa.


Keesokan harinya, sebagai anak Rumahan dengan usaha sendiri, sebagai desainer dan tukang ojek. Aku lebih banyak waktu senggang


jika dibanding teman-temanku yang bekerja di Luar Rumah.


Habis melayani orderan pertama di Pagi hari, Aku segera menuju Rumah Meylinda. Perasaanku sudah cemas, sepanjang jalan.


Jangan sampai ada perselisihan dari Mereka berdua.


Tiba di Rumah Meylinda, Aku merasa berat. Aku panggil nama Meylinda berulang kali, tak ada yang menjawab. Terpaksa karena masih penasaran, Akhirnya ku masuk seperti biasa. Tetangga sekitar sudah mengenalku, jadi Aku sudah bisa berbuat apapun di Rumah


Meylinda kecuali berlama-lama disana.


Aku sudah sering masuk ke Rumah Meylinda tanpa izin.


Perbuatanku terbilang cukup enggak sopan, tapi tetangga sudah memaklumi. Aku bukan lelaki nakal, Aku tak punya motif apapun


selain menjaga Meylinda. Akhirnya kucoba masuk ke dalam Ruangannya sambil memanggil nama Meylinda. Kuberjalan di luasnya Rumah Meylinda, dan coba membuka pintu yang tertutup.


“Astaga.” Sontak Aku kaget.


“Hey...”

__ADS_1


Meylinda dan Allysa tampak mandi bersama dalam kamar mandi. Lantas dengan cepat, Aku tutup pintu lagi. Mereka sebetulnya memang kaget. Daripada menjadi perkara, langkah terbaiknya adalah Aku harus keluar dari situ. Aku tunggu mereka berdua selesai mandi di Ruang Tamu. Lima menit kemudian, akhirnya Mereka berdua selesai mandi.


Allysa dan Meylinda berjalan menuju kamar tidurnya menggenakan pakaian, dan Aku masih tengah asik duduk di Ruang Tamu.


“Apa maksud Kamu mengintipku dari Kamar mandi?” tanya Meylinda nada marah. Di belakangnya tampak Allysa juga ikut berjalan di belakangnya, Allysa sudah tak bisa mandi sendiri, untuk sementara waktu harus dimandikan oleh Meylinda karena kondisinya yang masih stres.


Allysa langsung duduk di sampingku dengan baju kaos oblong dan rok sedang dengan rambut yang basah. Sedang, Meylinda tengah sibuk mencari sesuatu dalam kardus. Kukira apa, ternyata sebuah pensil yang dia taruh disitu lalu dia lempar ke mukaku.


“Mulai sekarang, jangan masuk Rumahku tanpa seizin Aku!”


Meylinda sebenarnya memang cerewet, bahkan lebih cerewet dari Allysa. Yang menjadi pertanda tanyaanku adalah, Kenapa Allysa tiba-tiba menjadi pendiam yang pelit bicara.


Meylinda menaruh tiga gelas air mineral gelas di atas meja, sebagai suguhan minumanku untuk Allysa, dan Aku.


“Sudah makan?” tanyaku pada Allysa.


“Sudah.”


“Syukurlah.”


“Kalau Kamu?” Allysa bertanya balik dengan melunak.


“Sudah dong.” Jawabku sambil tersenyum.


Dalam batinku, Allysa memang benar-benar membohongiku.


makan? Ah, tak tahu lagi.


“Bagaimana?” ucap Meylinda sambil duduk di sampingku sebelah kiri.


“Kalian berdua akur saja kan?” tanyaku.


“Hah? Akur? Memang ada masalah Apa?” Meylinda bingung.


“Oh tidak, maksudku Kalian berdua semalam baik-baik saja kan?” Aku lupa kalau ucapanku bisa mengarah sesuatu.


“Tidak, Kita baik-baik saja, tidak penjahat di malam tadi.” Tegas Meylinda.


“Aku suka sekali tinggal disini.” tambah Allysa sambil menoleh ke langit-langit bangunan itu.


“Ah, masa?” candaku.


“Iya.”

__ADS_1


“Doni, Ikut Aku sebentar!” gumam Meylinda sambil melirik beberapa kali ke Allysa. Seperti ada yang dia sembunyikan.


“Ayo.”


“Allysa. Tunggu disini dulu ya! Aku mau ke belakang sebentar.”


“Baik.”


Aku dan Meylinda menuju ke kamar belakang. Meylinda menceritakan apa yang semua sudah terjadi, sesekali Kami menoleh kearah Ruang Tamu, jangan sampai Meylinda mendengar semua cerita ini.


“Doni, sebenarnya Aku takut dengan seorang ini? Memang dia punya kelainan Apa, tiba-tiba malam seperti orang bipolar?” tanya Meylinda.


Aku tak bisa menceritakan semua apa yang terjadi. Kali ini, Aku harus tampil cerdas, jangan sampai kematian kekasihnya yang akan dilamar waktu itu ulah dari Allysa. Aku harus bisa merahasiakan semua masalah ini.


“Ehh..Dia memang begitu, sejak orangtuanya cerai. Dia tidak banyak bicara, memang sikapnya begitu.” Ucapku singkat.


“Lalu, kenapa penampilan dia seperti orang yang tak terurus?”


“Mungkin Dia sejak orangtuanya pergi tak ada yang urus dia lalu, Dia jarang mandi.” Aku berusaha keras, supaya tak ketahuan ulahnya.


“Kasihan ya!” Meylinda mulai iba.


“Iya, kalau begitu. Jaga dia baik-baik, jangan sampai dia larut dalam kesedihannya. Terus temani dia, ini rencananya Aku akan bawa Dia ke Rumahku saja, khawatirku seandainya Aku biarkan dia di Rumah Meylinda terus nanti akan membahayakan bagi Meylinda juga, dan lama kelamaan mungkin rahasia ini akan bocor.


“Baiklah kalau begitu.” Gumam Meylinda.


Akhirnya Kami kembali berbincang lagi, bercanda dan bersenda


gurau hingga tiba orderan datang lagi. Aku bisa kerja lagi, lalu di jalan ku telepon Alfina untuk kuceritakan semua yang sudah terjadi.


“Alfina, Kamu sekarang dimana?” tanyaku ketika sudah di jalan.


“Di Rumah.”


“Bisa ke tempatku sekarang juga, Aku sekarang lagi di Kane Resto?” Ucapku.


“Memang ada apa?” tanyanya.


“Tidak ada apa-apa, Aku Cuma mau bilang sesuatu, penting.” Ucapku membujuknya agar segera datang.


“Memang ada Apa?”


“Datang saja dulu!”

__ADS_1


“Baiklah, tunggu.”


Alfina pun pergi, Aku di Kane Resto memesan satu bungkus chicken katsu, makan disitu sambil menunggu kedatangan Alfina.


__ADS_2