Serigala Cinta Segitiga

Serigala Cinta Segitiga
1 Tahun Kemudian


__ADS_3

...Selamat Membaca...


...BAB 2...


Setahun sudah berlalu, kini Aku tak perlu kewalahan lagi mencari nafkah untuk membiayai Meylinda yang sebatang kara. Satu sisi, Aku juga sudah tak menccemaskan lagi dengan Allysa yang terus bersama Meylinda. masalah Meylinda sendiri belum menyadari kalau yang menghilangkan raga dan nyawa kekasih hatinya ialah Allysa.


Melihat sikap Meylinda yang pendendam itu membuatku berhari-hari mencemaskan jika dia tahu yang menghilangkan nyawa pujaan hatinya ialah orang yang selalu di sebelahnya.


Kini Mereka sudah dalam penjara dengan ruang yang intensif, walaupun Meylinda sendiri masih waras dan sehat, beberapa kali sempat memberontak minta pulang ketika Aku datang, tapi Aku terus berusaha menenangkannya. Satu tahun pun sudah berjalan, Aku tak pernah mendengar lagi kabar dari berita manapun terkait kemunculan sosok siluman serigala yang kontroversi.


Mungkinkah Polisi sudah memberikan Obat penenang untuk Mereka agar Mereka tidak bertransformasi. Dan, Aku kini bekerja sebagai pegawai honorer di salah satu Bank Swasta, Aku tak pandai menghitung apalagi latar belakangku hanya setingkat SMA. Tapi, entah ini sebuah rezeki yang tak pernah kuduga, kalau Aku terima menjadi karyawan walaupun hanya sebatas honorer.


Sejak saat itulah, akhirnya Aku jarang sekali beraktivitas pada umumnya, Aku cenderung lebih lama dalam Kantor. Sejak saat itulah, akhirnya semua kembali sibuk. Alfina mungkin melanjutkan Kuliah, Satria kuliah sambil bekerja, Jaki sibuk bekerja di Resto, Mayang kembali kuliah, dan Rama sibuk dalam dunia fotografer.


Suatu pagi, Aku mendapat Chat dari Alfina. Tumben sekalinya, Alfina menghubungiku setelah satu tahun vakum.


“Hay, Doni. Apa Kabar? Kamu sekarang dimana? Apa Kamu enggak pernah meninjau lagi Tahanan di tempat Allysa dan Meylinda?” tanya Alfina. Setelah membaca pertanyaan Alfina, Aku baru sadar, sudah hampir 3 bulan Aku tak menjenguk ke sel Mereka.


Mengingat hal itu, Aku akan segera ke Rumah Tahanan sepulang kerja, tepat nanti di Jam 5 sore, yang jadi masalah apakah masih ada


jam besuk yang mengizinkanku untuk masuk?


Oke, akhirnnya jam 5 hengkang. Aku langsung berangkat menuju Rumah Tahanan, kebetulan agak jauh dari Kantorku, kebetulan Jalanan memang ramai, sebagian arah terkesan macet parah.


Beruntung, Aku naik motor. Puluhan mobil yang mengantri bisa ku dahului. Estimasi tiba di Lapas akan sampai jam 6 sore. Kuharap dapat jatah jam besuk.


Sebenarnya, di Kotaku lapas ada dua. Untuk lapas kelas 1, mungkin diperuntukkan bagi narapidana kelas bawah, kalau lapas kelas 2A diperuntukkan bagi penjahat kelas kakap. Kebetulan, Allysa dan Meylinda berada di lapas kelas 2 yang notabenenya lebih intensif, ini karena Mereka berdua memang membahayakan bagi publik.


Aku tiba di Lapas itu. Kebetulan lapas itu sudah sepi, hanya diisi oleh empat orang petugas, lapas itu memang besar. Tapi, untuk malam ini mendapatkan jatah 4 orang sebagai petugas lapas.


“Permisi Pak, Apa masih ada jam besuk?” tanyaku.

__ADS_1


“Maaf, jam besuk sudah habis. Silahkan datang kemari besok pagi!” jawab petugas itu dengan seragam lengkap ala sipir berwarna biru.


“Saya hanya ingin bertemu sebentar saja dengan kekasih saya, ini sekaligus menenangkannya.” Ucapku.


“Siapa namanya?” Petugas Sipir itu sepertinya mulai meringanankan tugasku.


“Dia, Meylinda.”


“Ohhh...” Sipir itu merasa tenang, kenapa begitu? Karena jika Aku datang, maka dipastikan Aku mampu menenangkan dua wanita siluman itu agar Mereka menjadi lebih baik. Sipir itu pun akhirnya membolehkan ku untuk masuk, lagipula Mereka bukan penjahat kelas kakap yang belum insyaf dari kriminalnya.


“Baik, Sutikno. Bawa Dia ke Ruang bawah tanah.” Ucap Sipir itu memerintah anak buahnya.


“Baik, Pimpinan.”


Aku pun diantarkan Pak Sutikno, seorang Pria berkumis dengan badan sedikit gempal, meskipun pangkatnya masih bawahan tapi dia pemberani dan ditakuti banyak para narapidana disana.


Aku langsung berjalan di belakang Pak Sutikno, Aku tak memikirkan apa-apa untuk kali ini. Hanya saja, Aku merasakan betapa mengerikannya lapas bawah tanah yang diperuntukkan bagi narapidana kelas kakap. Mengapa Kepolisian sengaja menaruh dua wanita yang kukenal di dalam tanah? Ini bertujuan disaat Mereka Kambuh, Mereka tak melihat bulan purnama yang akan memperparah keadaan, dan lagipula jika Mereka kambuh, potensi kehancuran lapas tidak parah.


“Silahkan.” Pak Sutikno memberhentikanku di salah satu Kamar dengan dibatasi sebuah jeruji besi dengan seorang Meylinda sendiri di dalam Kamar, tak boleh ada yang menemaninya, karena ini bisa berbahaya.


“Mey...Meylinda.” ucapku sambil melihat Meylinda yang dalam keadaan telungkup.


Meylinda perlahan menoleh kearahku, rautnya sudah lain.


Sepertinya, dia sangat menderita di dalam lapas, tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah kebijakan pihak kepolisian agar tidak membahayakan publik, Aku pun sendiri tidak tega melihat ini.


“Doni?” Meylinda terkejut melihatku.


“Kenapa Kamu baru kesini? Kemana Kamu dua bulan menghilang?” Dia membentakku marah tak terima dengan kehilanganku selama 2 bulan.


“Maaf, Aku...” Aku ingin menyanggah keburu dibantah Meylinda.

__ADS_1


“Maaf, Maaf. Aku selama ini sudah menderita di dalam penjara tahu!” Meylinda betul marah kepadaku.


Aku menoleh ke kanan kiri, jangan sampai orang lain mendengar amukan Meylinda. Baru, tak lama Meylinda menangis.


“Iya, Aku tahu. Sebentar lagi Kamu pasti pulang.” Ucapku usai menoleh kanan kiri.


Sepertinya Meylinda benar-benar putus asa dengan nasibnya yang tak kunjung pulang.


Meylinda kembali ke Posisi duduknya lagi, tak ingin bergumam denganku. Aku langsung sadar, jika kubiarkan Meylinda terus menangis, maka kemungkinan besar dia akan berubah menjadi sosok siluman itu, Aku harus segera menangkannya.


“Mey...Mey..Aku minta maaf, Aku tak bisa berbuat banyak.” Ucapku.


Meylinda masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Entah tiba-tiba perasaanku langsung tak enak.


“Mey.”


Meylinda langsung membalikkan wajah, sudah bukan seperti Meylinda lagi. Benar dugaanku, jika Meylinda depresi dia akan berubah menjadi siluman itu, dan ternyata benar.


Meylinda langsung menunjukkan taringnya, wajahnya yang rusak, matanya seperti mata anjing, bulunya mulai lebat. Kacau ini, Aku langsung menoleh kearah Allysa. Tepat di Ruangan sebelah Meylinda. Biasanya jika Meylinda berubah, Maka Allysa pun pasti ikut berubah.


“Allysa, Kamu jangan ikut-ikutan!” bantahku.


Ternyata benar, Allysa dan Meylinda langsung menjadi raksasa, Aku yang sudah hampir beberapa bulan tak lihat Mereka menjadi raksasa, kini sekali melihat Mereka berubah rasanya sudah membuatku ngilu. Aku langsung lari menuju Ruang lobi.


“Sipir....Sipir...” Teriakku dari tangga.


Situasi tidak aman, mau tak mau sipir harus siapkan lagi obat bius.


“Sipir...Sipir...” Sepanjang lorong Aku terus berteriak.

__ADS_1


“Tolongg...” Aku malah ketakutan.


__ADS_2