
“Sipir...Sipir...” Aku berlari menuju lobi.
Ada dua sipir sedang duduk di Lobi, Aku langsung berlari menuju meja Sipir, Mereka tampak bingung di depanku, Aku terus
terang tak bisa berbicara apa lagi, Aku hanya menunjukkan dengan ekspresi cemas kalau di Lorong ada bahaya.
“Tolongg...Tolong...” Semua penghuni lapas tepatnya di Ruang bawah tanah berteriak minta tolong, artinya ucapanku semakin diyakini sipir dengan sungguh-sungguh. Padahal Ruang bawah tanah jaraknya lumayan jauh, harus menempuh lorong yang putih panjang, tapi kenapa suara Mereka bisa sampai situ juga? Artinya, teriakkan Mereka memang keras.
Aku, dan dua sipir itu langsung menyusuri Ruang bawah tanah.
Kebetulan satu orang Sipir membawa sebuah pistol yang sering digunakan untuk membius Allysa dan Meylinda. Kami berlari cepat menemukan keberadaan Mereka.
Dan, ketika tiba di Tangga. Mereka sudah masuk kedalam salah satu kamar lapas, yang membuat sesama penghuni lapas ketakutan.
Keringat pun sampaai bercucuran, namun Akhirnya Dua petugas sipir itu langsung menembaki ke punggung Allysa, dan Pundak Meylinda, tepat dari atas tangga.
Allysa mungkin tak berdaya, tapi tidak bagi Meylinda.
Meylinda semakin emosi dan akhirnya berlari kearahku. Aku terpaksa harus naik keatas untuk segera kabur dari lokasi selama belum kondusif, Aku terus melanjutkan larianku itu, Kubiarkan dua petugas lapas itu dengan semangat menghalau serangan Meylinda. Namun, pandanganku langsung rusak ketika melihat 2 petugas lapas itu langsung diterkam Meylinda.
Aku jadi ingat dengan kasus beberapa pemuda geng motor itu yang mati sia-sia akibat ulah siluman serigala. Sebagaimana sebenarnya, Aku menyimpan rasa trauma. Aku langsung segera melemparkan sebuah asap pestisida di dalam botol yang kutemukan di lorong. Sambil melempar, Aku berdoa semoga berkat ini, Meylinda bisa tertidur.
Dengan kecepatan tinggi, akhirnya pestisida itu mengenai kepala Meylinda. Meylinda lagsung tak sadarkan diri ketika kedua tangannya sedang mencekik leher dua sipir. Meylinda akhirrnya terjatuh, dan terlelap berubah wujud menjadi manusia.
Aku merasa lega sekalipun di kepalaku muncul pertanyaan besar, Kenapa Meylinda tiba-tiba bisa mengumpulkan energi cukup banyak ini? Padahal jika mungkin dia tidak melihat bulan purnama, maka dia tak mungkin punya energi yang kuat, lalu kenapa energi dia dalam Ruangan tertutup itu cenderung stabil?
Artinya, Meylinda selama ini memendam semua kekesalanku dimana Aku tega menghilang tak ada kabar selama 2 bulan,
ditambah lagi Aku yang sudah memenjarakan dia sesungguhnya, Dia sendiri sudah merasa tak nyaman. Aku harus memutar otak, Besok
hari Aku akan kemari lagi, Aku akan minta dispensasi sebentar dari Kantor, dan Aku akan mengordinasikan dengan pihak lapas terkait
pengurangan massa tahanan Meylinda.
Keesokan hari, Aku langsung meminta izin pihak Kantor. Tepat jam 10 pagi, Aku langsung segera menemui pihak Resepsionis untuk
__ADS_1
meminta izin dispensasi sebentar. Sebenarnya, kesulitan minta izin di Resepsionis, kesannya Aku sudah hampir 6 kali dalam satu musim.
Kini, Aku sudah kesekian kalinya, mengajukkan dispensasi dan sekarang sebenarnya tidak boleh dispenasasi atau kena pinalti. Tapi,
beruntung, petugas Resepsionernya adalah Mbak Mala.
Mbak Mala yang sudah kukenal sebagai wanita yang selalu bersedia meluangkan waktu untukku.
Akhirnya, Aku bergerak menuju lapas. Disana langsung menemui Kalapas. Walaupun ini memang sebenarnya, agak sulit untuk kuhadapi, tapi Aku akan berusaha memerjuangkan sosok Meylinda. Lalu, Bagaimana dengan Allysa? Apakah Aku tega
membiarkannya? Aku akan cari jalan keluar sendiri, tapi untuk saat ini Aku belum menemukan apa-apa dari Allysa agar dia tak jadi berubah menjadi penjahat lagi.
“Bagaimana prosedurnya dengan ini, Pak?” tanyaku pada Kalapas.
“Tidak, Kami belum bisa melepaskan saudari Meylinda dalam bentuk apapun, selagi prosedur tidak sesuai.” Tegas Pak Kalapas.
Aku sempat pesimis, Aku memang pesimisan orangnya, mudah menyerah. Apapun yang telah terjadi, Aku tak bisa mendobraknya.
Aku langsung lemah kala itu, dan Aku sisipkan waktu sebentar untuk bertemu dengan Meylinda. Kebetulan jam itu juga merupakan Jam besuk. Kita bertemu di Ruang makan. Aku, Allysa, dan Meylinda duduk bersama, mungkin jika dalam keadaan Manusia, mereka berdua bisa berteman, tapi jika dalam keadaan setan, Mereka tak bisa mengenal sama sekali.
Sebenarnya, Allysa yang dalam keadaan amnesia tidak bisa bersahabat dengan siapa saja, Dia lupa segalnaya, terkecuali Aku.
ini taruhan nyawa pun siap.
Aku memegang punggung tangan Meylinda pada tangan kiriku, dan memegang seraya meminta maaf pada Mereka berdua, kalau Aku tak bisa berbuat apa-apa dengan Mereka selain menanti prosedur.
“Allysa, Meylinda. Aku minta maaf sebesar-besarnya kalau Aku belum bisa melepaskan Kalian dari sini!” ucapku melembut.
“Maaf, Doni. Kalau boleh tahu. Memang Kenapa, Aku dibawa kesini?” Allysa sejak awal tak menyadari akan semua ini.
“Sudahlah, nanti Aku jelaskan.”
Meylinda sedikit geram padaku, dia tak banyak bicara pada Umumnya. Tapi dia terus menatapku, dengan sikap yang polos nan
dingin.
__ADS_1
“Tapi, apakah masa penahan ini masih lama?” bentak Meylinda.
“Oh, 3 bulan lagi.” Ucapku.
Meylinda tak menjawab sepatah kata, wajahnya hanya menampilkan sedikit kecut. Sepertinya dia benar-benar kecewa denganku, tapi Aku berusaha bodo amat, jangan sampai dia semakin membenciku.
Tak lama telepon pun bunyi, ku dengan cepat melihat siapa yang memanggilku. Perasaanku bercampur takut dan penasaran, ternyata Bos Darin. Bos Darin yang merupakan atasanku yang paling galak menelponku. Suka tak suka, Aku harus mengangkat teleponnya.
“Halo Pak.”
“Kamu dimana?” bentaknya.
“Ehh..Aku di lapas lagi menemui orang.”
“Cepat ke Kantor sekarang, ini tugasmu masih banyak.” Bos Darin terkenal galaknya membentakku.
“Baik, Pak.”
Aku langsung kembali ke Kantor segera tanpa memikirkan Mereka.
“Allysa, Meylinda. Aku minta maaf, Aku akan ke Kantor dulu!”
“Baik, hati-hati di Jalan.” ucap Allysa.
Meylinda tidak menjawab apa-apa, malah membuang muka padaku.
Oke, skip. Aku kembali ke Kantor dengan mental yang masih aman. Dan, mengikuti pekerjaan sesuai prosedur pada umumnya.
Semangat dalam jiwaku masih menggebu.
Sampai malam pun tiba, Aku meembeli segelas teh hijau yang terbilang cukup mahal, dengan harga sangat fantastis. Aku langsung minum tepat dalam kamarku. Suasana malam yang sepi, dan syahdu ditemani musik malam, dan empat buah lampu neon berwarna ungu yang menemani dalam malamku membuat semakin indah malamku
sekalipun terkesan gelap.
Usai minum setengah gelas, ponselku di atas meja kembali berdering. Ada apa ini? Ternyata, panggilan dari Kalapas. Ada apa? dengan cepat Aku langsung mengangkatnya.
__ADS_1
“Hallo, Pak.”
“Mohon maaf, dengan saudara dari Allysa. Kami menyatakan bahwa hari ini, Allysa kembali kumat. Namun lebih parah, Dia baru saja menghilangkan nyawa lagi beberapa narapidana dan dua orang sipir. Kami mohon Anda segera kemari.” jelas Kalapas itu. Aku langsung kaget, Kenapa ini bisa terjadi? Aku dengan cepat langsung berangkat menuju lapas. Malam ku yang indah ternyata jadi kelabu hanya karena ini.