
Aku sangat malu sekali disitu, Aku harus berbuat apalagi, sedang Allysa tertidur tanpa busana sedikitpun melekat ditubuhnya.
Aku malah takut jadinya, andai ada orang lewat, maka Aku akan dianggap penjahat kelamin. Sekalipun Aku pusing dan cemas harus berbuat apa.
Aku kehabisan akal, mana Allysa terbentang di jalanan raya lagi. Akhirnya daripada larut dalam kecemasan, kucoba membuka jok motor. Untung ada sebuah Jaket kulit berwarna hitam, baunya pun sudah bau pekat, sepertinya punya Ayahnya Allysa. Tapi, Aku tak mau banyak berpikir kupakaikan pada Allysa.
“Allysa, bangun, bangun!” Aku menepuk pipi Allysa.
Berulangkali kutepuk lembutnya pipi Allysa, dan akhirnya sekitar tak lama berselang 2 menit saja, Allysa akhirnya bangun. Nafasku kian lega, matanya sedikit menyipit.
“Kenapa? Dimana Aku?” tanya Allysa kebingungan.
“Kok dingin sekali!” lanjutnya sambil menggigil.
Aku tak membicarakan apapun, langsung kupakai jaket hitam itu. Kuraih tangan Allysa, dan kusuruh dia pakai. Ketika tanganku memasukkan lengan Allysa, Allysa sepertinya kian sadar, dan malah kaget.
“Hah? Kenapa Aku telanjang begini?” Allysa kaget.
Aku terus terang tidak mau berdebat dulu dengan Allysa, kupaksakan Allysa untuk memakai Jaket itu. Allysa mulai geram ketika Aku memaksanya.
“Kamu habis mempermainkan Aku ya?” Allysa mulai marah denganku. Bodo amat, Aku bisa jelaskan semua apapun yang sudah
terjadi, tak peduli dia percaya atau tidak.
“Sudah pakai dulu!” Aku bersikeras.
“Aduhh...” Allysa mengeluhkan sakit di dada kirinya lagi. Allysa meraba dada kirinya, sepertinya Allysa mulai percaya, dan diam.
“Maaf..Sepertinya ada yang tak beres di tubuhku.” Gumam Allysa.
Aku pun merasa lega, dan terus mengotot Allysa untuk cepat memakai Jaket. Kali ini Allysa mulai nurut dengan ucapanku, walau
Aku belum menjelaskan apa yang telah terjadi.
Jaket sudah dipakai, tapi sayang celana tidak ada. Aku langsung menarik tangan Allysa untuk bersembunyi di balik semak-semak samping trotoar, kebetulan di tempat itu masih tanah kosong, kebetulan ada pohon asam.
Akhirnya, kuputuskan berjalan sekitar 100 meter barangkali ada jualan pakaian dalam. Dan, setelah kuberjalan lebih dari 100 meter,
kubiarkan motor parkir di tempat yang sepi. Hanya sebuah minimarket saja yang kutemui. Aku nyaris putus asa, tapi setelah kupikir disitu ada ****** ***** pria. Dengan cepat, Aku langsung masuk, dan akhirnya Aku bisa membeli ****** ***** lelaki, mau bagaimana lagi. Aku sudah punya pilihan daripada Allysa pulang tanpa celana sama sekali.
__ADS_1
“Allysa, Aku belikan ini.” Kutunjukkan kresek hitam di depan Allysa.
“Apa?” Allysa penasaran.
“Celana dalam pria.” Ekspresi Allysa kembali geram, tapi Aku abaikan dengan tertawa.
“Maaf, Aku sudah beli ini bukan berarti Aku suruh Kamu jadi lelaki, tetapi hanya ini yang kubisa beli, karena tidak ada yang lain.”
Gumamku.
“Okelah, kalau begitu.” Allysa dengan terpaksa akhrinya memakainya.
Memakai ****** *****, tanpa baju dan pakaian dalam, dan ditutup Jaket. Akhirnya, Kami pun pulang. Jalan sudah sepi, Aku kini yang
memboncengi Allysa. Allysa tak bisa membantah apapun, mungkin karena sudah kelelahan ataupun malu. Aku melaju dengan kencang, walaupun Aku tak sepandai Allysa membawa motor namun akhirnya
Kita sampai di Rumah sekitar 15 menit.
Lingkungan Rumah Allysa memang Perumahan tapi jam 9 memang sudah sepi, hanya ada beberapa pemuda nongkrong di Post utama.
“Dimana Rumahmu?” tanyaku sambil melihat satu persatu Rumah disitu.
“Itu.” Tangan kiri Allysa menunjuk ke sebuah Rumah megah raksasa yang berpagar tinggi berwarna putih. Rumah itu indah sekali, lantas
Aku memberhentikan sepeda motor milik Allysa tepat di depan Rumah Allysa. Karena takut Aku lebih memilih mematikan motor dan
langsung bersembunyi di samping Rumah yang kebetulan tanah kosong.
Perasaanku sudah tak enak jika Ayah Allysa melihatku, apalagi depan pintu tetangganya masih terbuka lebar lagi. Allysa masuk ke dalam Rumahnya dengan keadaan tak berbusana.
Aku baru menyadari kalau Aku nanti pulang naik Apa? Aku lupa kalau dari sejak awal tadi
Aku menumpang di motor bebek Allysa. Perlahan, Aku melirik ke motor Allysa, banyak sekali bekas lecet dari motor itu. Tapi, kupingku
juga mendengarkan sebuah obrolan Ayah Allysa dengan putrinya.
Suaranya memang menggelegar hingga Aku sendiri bingung, harus lari dari mana. Kupaham sedikit ucapan Ayah Allysa.
“Kenapa Kamu bisa begini?” hanya sepintas yang kudengar.
__ADS_1
Allysa tak menjawabnya sedikitpun, sepertinya dia sudah kalah tunduk dengan Ayahnya. Apes sudah nasibku, salah satu cara lain adalah Aku harus pergi dari Rumah ini. Tak perlu mikir panjang lebar, akhirnya kutinggalkan Allysa dengan berjalan kaki. Tak peduli melintasi sunyinya malam, perjalanan yang cukup jauh, gelap dan hampa, Aku memang pecinta kegelapan malam. Malam yang sunyi
memang sedap kupandang dengan ditemani lampu jalan yang berdiri terang di atas kepalaku.
Sesekali ditemani gemercik suara jangkrik, dan rembulan yang terus memandang langkahku, Aku ingin sekali hidup dalam kedamaian seperti ini. Ku berjalan di atas trotoar yang sepi, miskin pengendara di malam hari, tak pedulikan begal atau setan, semua sudah cukup memberatkan bagiku.
Tak lama suara motor dan lampu yang terang melaju kencang kearahku, Aku bingung siapakah itu? Sengaja tak menoleh ke
belakang ditakutkan nanti akan berbahaya, tapi mirisnya motor itu bergerak perlahan ketika mendekatiku.
Perasaanku sudah sedu lagi, dan akhirnya kubalikan wajah. Tapi ternyata, Allysa lah yang menuturiku. Kepalaku langsung dipenuhi tanda tanya, kenapa Allysa bisa begini?
“Doni? Kenapa Kamu pulang sendiri?” Allysa heran dengan gelagat emosi.
Sebenarnya, Aku juga heran kenapa Allysa yang barusan dimarahi oleh Ayahnya, tapi kini dia bisa berhilir mundik kesana kemari. Lantas
Aku hanya membuang wajah saja, tanpa perlu banyak basa basi dengannya.
“Ehh...Ehh...” jawabku.
“Doni, Kamu tahu ini sudah malam, apalagi disini rawan penjahat sekali. Kenapa Kamu teruskan langkahmu kesini?” Allysa marah kepadaku, memang cara dia marah sering sekali terkesan meledak-ledak.
Aku tahu kalau Aku salah, tapi Aku sebenarnya tak kuat dengan sentilan amarah yang kuat seakan-akan mempermalukanku.
Aku tak berani menatap wajah Allysa yang lagi marah. Tapi, entah kenapa? Tiba-tiba, wajah Allysa berubah menjadi gadisbyang lugu, imut, dan ingin menangis. Apa dia menyesali telah
memarahiku.
“Doni, maafkan Aku ya. Aku barusan berlebihan denganmu.”
Ternyata itu benar, Allysa sepertinya terbebani dengan sikapnya yang terkesan ketus di depanku.
“Ayo ke Caffe!” tiba-tiba Allysa melunak
“Tapi ini sudah malam, kan?” Aku menolaknya.
“Sudahlah, disini ada Caffe dekat, nanti kuantarkan Kamu pulang.”
“Jangan, Kamu kan perempuan.” Aku sebenarnya malu, jika Allysa
__ADS_1
ikut-ikutan denganku.
“Buat Apa kalau Aku punya perguruan silat?” sanggahnya. Aku tak mau berdebat lagi, lebih baik ikuti saja kemauannya, selesai.