Serigala Cinta Segitiga

Serigala Cinta Segitiga
Dua Pengantin


__ADS_3

Tiba-tiba nafasku tersengap, maklumlah sudah hampir 6 bulan tak lari pagi, apalagi sekali lari


langsung lari sprint, nafasku langsung tersendat-sendat. Aku putuskan membiarkan Allysa berlari,


dan Aku berjalan lemas hingga akhirnya kembali tempat Kerja Meylinda, lumayan jauh juga


berjalan apalagi cuaca sedang panas gerah. Akhirnya setelah 15 menit berjalan, Aku tiba di Rumah


Makan tempat Istriku bekerja.


Semua pelayan tampaknya sudah tak lagi bersahabat denganku, Aku pun sempat bingung,


kenapa Mereka tiba-tiba berubah murung begini? Tapi, Aku langsung sadar, mungkin Meylinda


cemburu melihatku mengejar seseorang. Dengan cepat Aku langsung masuk ke dalam dapur


tempat Meylinda bekerja. Aku temui dia segera, dan saat Kutemukan wajahnya memang sudah tak


bersahabat, tak ingin menatap wajahku, dengan cepat Aku langsung rangkul Dia, dan kuusap


rambutnya yang lembut.


“Enggak usah rangkul-rangkul!” Bentak Meylinda sambil masak nasi goreng.


“Sayang, Aku ini Suamimu. Kenapa Kamu begitu sama Aku?” Aku berusaha sabar.


“Maksud Kamu apa, mengejar Perempuan itu?” Meylinda mulai menatapku.


“Enggak, itu Allysa, Dia kan buronan waktu itu.” Dengan cepat Aku langsung to the point.


Meylinda mulai berhenti mengayunkan tangannya di Spatula. Matanya mulai melotot,


seakan-akan kaget dengan ucapanku.


“Aku berani bersumpah, kalau itu adalah Allysa.” Aku terus meyakini Meylinda hal itu.


“Masa?’ Meylinda begitu kaget dengan ucapanku.


“Untuk Apa Aku berbohong padamu.” Jawabku.


“Kenapa Kamu tak lapor Polisi, dan Kamu malah mengejarnya?” bantah Meylinda sambil


menatapku.


“Oh ya, Aku kok lupa panggil Polisi.” Aku keingat dengan ucapan Meylinda, Aku langsung


menepuk jidat.


“Dasar lalai, nanti Kita susah lagi, cari lagi.” Ucap Meylinda sedikit gerutu sambil


menggoyangkan sepatula itu yang sedang masak nasi goreng.


Aku kembali tenang, sedikit mengingat kalau bulan ini adalah bulan Mei, tepat hari


ulangtahun Meylinda pada bulan Mei, tepat tanggal 25 Mei adalah hari ulangtahun Meylinda yang


kedua puluh tiga tahun.


Kucolek tangan Meylinda yang kurus itu. Dengan wajah penuh canda, Aku menegur Meylinda.


“Hari ini Kamu ulangtahun, ya?” tanyaku iseng sambil sedikit tertawa.


“Enggak.” Mendadak Meylinda menoleh ke wajahku.


“Ahh bohong..”

__ADS_1


“Bukannya tanggal 25 Mei itu adalah hari menetasmu?” candaku lagi.


“Menetas? Memang Aku telur?” Meylinda pura-pura tak tahu.


“Sudahlah, Aku belikan Kamu hadiah ulang tahun, mau?” Aku tak ingin basa-basi lagi sambil


berjalan membelakangi Meylinda.


Memang Kamu mau hadiahkan Aku apa?” Meylinda menolehku di belakangnya.


“Ada deh.” Aku dengan cepat langsung buka pintu dan kabur dari Ruangan itu membiarkan


Meylinda melanjutkan masak. Aku akan bertemu dengan Meylinda malam ini di Rumah,


sebelumnya Aku memutuskan pergi ke Toko Roti pinggir Kota, lumayan agak jauh dari Tempat Kerja


Meylinda dan Rumahku, tapi sekalian jalan-jalan sendirian mumpung libur, kubelikan hadiah


pertama untuk Istriku sebuah Kue tart dengan lapis krim bersama sebuah ceri yang harganya tak


terlalu mahal.


Sore itu seperti biasa, setelah berbaring di kasur Rumah. Aku langsung mandi, makan


sebentar lalu menuju tempat Kerja Meylinda, mengantarkannya pulang seperti agenda rutinku


biasa. Tapi, sepanjang jalan mendadak nafsu dalam batinku tergairah. Ini sudah kesepuluh kalinya


sejak menikah, Aku memasukkan batang sakti ku kedalam lubang Meylinda. Tapi, untuk kali ini


entah Kenapa Aku betul-betul ingin melampiaskan nafsu Aku di hadapan Meylinda lagi. Apalagi


membayangkan wajah Meylinda yang aduhai, membuatku ingin terus berhubungan dengan


Meylinda, apalagi Aku dan Dia sudah ada ikatan suami istri.


Kebetulan Meylinda sudah dari tadi menunggu kehadiranku di depan Kantornya.


“Kenapa Enggak mampir kemari?” tanyanya singkat.


“Mampir? Bukannya barusan sudah mampir?” sahutku.


Meylinda menepuk jidatnya dengan tangan kanan.


“Bukan, mampir. Tapi datang kemari setelah beli hadiah buatku?” jawab Meylineda dengan


menahan emosi.


“Ohh...Aku pulang dulu, pusing.” Ucapku sambil tertawa.


Meylinda menoleh kanan kiri, tanpa sepatah kata langsung berjalan ke motorku, dan duduk di


belakangku. Rasanya gairah ini untuk berhubungan badan semakin meningkat, ditambah lagi


semerbak aroma parfumnya yang masih utuh sejak pagi membuatku terus ingin menempelkan


batang sakti itu.


Setiba di Rumah. Kami sempat merapikan pakaian Kami sebentar. Kebetulan, Aku dan


Meylinda satu kamar, jadi Kami bersama-sama mengganti pakaian di dalam. Kulihat dari balik


cermin, dia sedang melepas celananya, Aku langsung eksekusi. Sepertinya, Aku tak perlu


memotong kue tart itu, dengan cepat Aku langsung dorong Meylinda hingga terjatuh di Kasur, dan

__ADS_1


kulepaskan celananya. Aku masih memakai kaus dalam putih di badanku, tanpa celana. Langsung


dengan cepat, Aku masukkan batang sakti itu ke dalam tubuh Meylinda.


Awalnya Meylinda berteriak menolaknya, tepat di depan telingaku hingga nyaris membuat


gendang telingaku rusak. Aku lucuti semua pakaian Meylinda hingga tak ada satupun sehelai


benang yang menempel di tubuhnya, seperti biasa gaya bercintaku lebih suka kalau Meylinda


tertidur, dan Aku lebih cenderung suka menghisap dua gunung milik Meylinda, apalagi sampai


menghisap dua titik coklat di puncak gunung itu. Aku rasa, Aku menjadi bayi satu bulan lagi setelah


hampir 25 tahun lamanya tak merasakan hal itu, kini Aku dapat menjulurkan lidahku lagi di dua


gunung milik Meylinda. Kutatap Wajah Meylinda tampak tak berdaya lagi, larut dalam seranganku


yang ganas, dan Aku terus menikmati betapa indahnya lidahku menempel ke dua titik coklat milik


Meylinda.


Tapi, Anehnya lima menit kemudian, Aku memegang tangan Meylinda, mendadak penuh bulu,


dan batang saktiku yang berada di dalam lubang milik Meylinda, dipenuhi dengan bulu yang lebat.


Aku buka mataku dan kulihat sosok yang sangat amat menyeramkan. Wajah Meylinda sudah


berubah menjadi serigala yang siap menerkamku.


Dengan cepat Aku bangkit dari tidur, segera menggenakan celanaku. Sebenarnya, sejak Aku


dan Meylinda menikah, Aku paham betul Bagaimana cara menenangkan hati Meylinda ketika


berubah menjadi seekor rubah raksasa yang mengerikan itu? Bagiku cukup siram dia air panas,


maka dia akan kembali menjadi manusia. Tapi, untuk kali ini Aku tak memikirkan itu sama sekali


cara itu, Aku hanya lari keluar Rumah, dan Meylinda terus mengikutiku.


Saatku keluar Rumah, dengan cepat Meylinda langsung menuju teras dan lompat ke atap.


Kalau sudah kabur dari Rumah, kemungkinan susah dicari. Salah satu caranya Aku terus


mengekorinya. Tapi, bagaimana Aku bisa mengejarnya kalau Meylinda sendiri menyusuri genteng


Rumah dan berlari entah kemana.


Malam itu juga Aku langsung melapor Polisi, sebagaimana Polisi sendiri sudah kenal dengan


Meylinda, maka Polisi pun tak banyak cingcong untuk turun tangan, Meylinda dan Allysa menurut


Polisi adalah masalah serius yang harus diselesaikan, maka dari itu dengan cepat Malam itu juga


Kami segera mencari Meylinda ibarat singa kabur dari kandang.


Sangat sulit mencari keberadaan Meylinda, apalagi posisinya yang tak bisa kudeteksi sejak


awal membuat Aku dan Kepolisian bingung mencari Mereka, tapi Kami terus mencari terutama di


Gedung-gedung Kosong yang terbengkalai, Aku yakin disana biasanya Meylinda bersembunyi. Aku,


dan 3 polisi dalam satu mobil.


Kami berkeliling kesana kemari, hingga masuk pukul 11 malam masih dalam mobil. Entah mau

__ADS_1


sampai kapan.


__ADS_2