
Tiba-tiba nafasku tersengap, maklumlah sudah hampir 6 bulan tak lari pagi, apalagi sekali lari
langsung lari sprint, nafasku langsung tersendat-sendat. Aku putuskan membiarkan Allysa berlari,
dan Aku berjalan lemas hingga akhirnya kembali tempat Kerja Meylinda, lumayan jauh juga
berjalan apalagi cuaca sedang panas gerah. Akhirnya setelah 15 menit berjalan, Aku tiba di Rumah
Makan tempat Istriku bekerja.
Semua pelayan tampaknya sudah tak lagi bersahabat denganku, Aku pun sempat bingung,
kenapa Mereka tiba-tiba berubah murung begini? Tapi, Aku langsung sadar, mungkin Meylinda
cemburu melihatku mengejar seseorang. Dengan cepat Aku langsung masuk ke dalam dapur
tempat Meylinda bekerja. Aku temui dia segera, dan saat Kutemukan wajahnya memang sudah tak
bersahabat, tak ingin menatap wajahku, dengan cepat Aku langsung rangkul Dia, dan kuusap
rambutnya yang lembut.
“Enggak usah rangkul-rangkul!” Bentak Meylinda sambil masak nasi goreng.
“Sayang, Aku ini Suamimu. Kenapa Kamu begitu sama Aku?” Aku berusaha sabar.
“Maksud Kamu apa, mengejar Perempuan itu?” Meylinda mulai menatapku.
“Enggak, itu Allysa, Dia kan buronan waktu itu.” Dengan cepat Aku langsung to the point.
Meylinda mulai berhenti mengayunkan tangannya di Spatula. Matanya mulai melotot,
seakan-akan kaget dengan ucapanku.
“Aku berani bersumpah, kalau itu adalah Allysa.” Aku terus meyakini Meylinda hal itu.
“Masa?’ Meylinda begitu kaget dengan ucapanku.
“Untuk Apa Aku berbohong padamu.” Jawabku.
“Kenapa Kamu tak lapor Polisi, dan Kamu malah mengejarnya?” bantah Meylinda sambil
menatapku.
“Oh ya, Aku kok lupa panggil Polisi.” Aku keingat dengan ucapan Meylinda, Aku langsung
menepuk jidat.
“Dasar lalai, nanti Kita susah lagi, cari lagi.” Ucap Meylinda sedikit gerutu sambil
menggoyangkan sepatula itu yang sedang masak nasi goreng.
Aku kembali tenang, sedikit mengingat kalau bulan ini adalah bulan Mei, tepat hari
ulangtahun Meylinda pada bulan Mei, tepat tanggal 25 Mei adalah hari ulangtahun Meylinda yang
kedua puluh tiga tahun.
Kucolek tangan Meylinda yang kurus itu. Dengan wajah penuh canda, Aku menegur Meylinda.
“Hari ini Kamu ulangtahun, ya?” tanyaku iseng sambil sedikit tertawa.
“Enggak.” Mendadak Meylinda menoleh ke wajahku.
“Ahh bohong..”
__ADS_1
“Bukannya tanggal 25 Mei itu adalah hari menetasmu?” candaku lagi.
“Menetas? Memang Aku telur?” Meylinda pura-pura tak tahu.
“Sudahlah, Aku belikan Kamu hadiah ulang tahun, mau?” Aku tak ingin basa-basi lagi sambil
berjalan membelakangi Meylinda.
Memang Kamu mau hadiahkan Aku apa?” Meylinda menolehku di belakangnya.
“Ada deh.” Aku dengan cepat langsung buka pintu dan kabur dari Ruangan itu membiarkan
Meylinda melanjutkan masak. Aku akan bertemu dengan Meylinda malam ini di Rumah,
sebelumnya Aku memutuskan pergi ke Toko Roti pinggir Kota, lumayan agak jauh dari Tempat Kerja
Meylinda dan Rumahku, tapi sekalian jalan-jalan sendirian mumpung libur, kubelikan hadiah
pertama untuk Istriku sebuah Kue tart dengan lapis krim bersama sebuah ceri yang harganya tak
terlalu mahal.
Sore itu seperti biasa, setelah berbaring di kasur Rumah. Aku langsung mandi, makan
sebentar lalu menuju tempat Kerja Meylinda, mengantarkannya pulang seperti agenda rutinku
biasa. Tapi, sepanjang jalan mendadak nafsu dalam batinku tergairah. Ini sudah kesepuluh kalinya
sejak menikah, Aku memasukkan batang sakti ku kedalam lubang Meylinda. Tapi, untuk kali ini
entah Kenapa Aku betul-betul ingin melampiaskan nafsu Aku di hadapan Meylinda lagi. Apalagi
membayangkan wajah Meylinda yang aduhai, membuatku ingin terus berhubungan dengan
Meylinda, apalagi Aku dan Dia sudah ada ikatan suami istri.
Kebetulan Meylinda sudah dari tadi menunggu kehadiranku di depan Kantornya.
“Kenapa Enggak mampir kemari?” tanyanya singkat.
“Mampir? Bukannya barusan sudah mampir?” sahutku.
Meylinda menepuk jidatnya dengan tangan kanan.
“Bukan, mampir. Tapi datang kemari setelah beli hadiah buatku?” jawab Meylineda dengan
menahan emosi.
“Ohh...Aku pulang dulu, pusing.” Ucapku sambil tertawa.
Meylinda menoleh kanan kiri, tanpa sepatah kata langsung berjalan ke motorku, dan duduk di
belakangku. Rasanya gairah ini untuk berhubungan badan semakin meningkat, ditambah lagi
semerbak aroma parfumnya yang masih utuh sejak pagi membuatku terus ingin menempelkan
batang sakti itu.
Setiba di Rumah. Kami sempat merapikan pakaian Kami sebentar. Kebetulan, Aku dan
Meylinda satu kamar, jadi Kami bersama-sama mengganti pakaian di dalam. Kulihat dari balik
cermin, dia sedang melepas celananya, Aku langsung eksekusi. Sepertinya, Aku tak perlu
memotong kue tart itu, dengan cepat Aku langsung dorong Meylinda hingga terjatuh di Kasur, dan
__ADS_1
kulepaskan celananya. Aku masih memakai kaus dalam putih di badanku, tanpa celana. Langsung
dengan cepat, Aku masukkan batang sakti itu ke dalam tubuh Meylinda.
Awalnya Meylinda berteriak menolaknya, tepat di depan telingaku hingga nyaris membuat
gendang telingaku rusak. Aku lucuti semua pakaian Meylinda hingga tak ada satupun sehelai
benang yang menempel di tubuhnya, seperti biasa gaya bercintaku lebih suka kalau Meylinda
tertidur, dan Aku lebih cenderung suka menghisap dua gunung milik Meylinda, apalagi sampai
menghisap dua titik coklat di puncak gunung itu. Aku rasa, Aku menjadi bayi satu bulan lagi setelah
hampir 25 tahun lamanya tak merasakan hal itu, kini Aku dapat menjulurkan lidahku lagi di dua
gunung milik Meylinda. Kutatap Wajah Meylinda tampak tak berdaya lagi, larut dalam seranganku
yang ganas, dan Aku terus menikmati betapa indahnya lidahku menempel ke dua titik coklat milik
Meylinda.
Tapi, Anehnya lima menit kemudian, Aku memegang tangan Meylinda, mendadak penuh bulu,
dan batang saktiku yang berada di dalam lubang milik Meylinda, dipenuhi dengan bulu yang lebat.
Aku buka mataku dan kulihat sosok yang sangat amat menyeramkan. Wajah Meylinda sudah
berubah menjadi serigala yang siap menerkamku.
Dengan cepat Aku bangkit dari tidur, segera menggenakan celanaku. Sebenarnya, sejak Aku
dan Meylinda menikah, Aku paham betul Bagaimana cara menenangkan hati Meylinda ketika
berubah menjadi seekor rubah raksasa yang mengerikan itu? Bagiku cukup siram dia air panas,
maka dia akan kembali menjadi manusia. Tapi, untuk kali ini Aku tak memikirkan itu sama sekali
cara itu, Aku hanya lari keluar Rumah, dan Meylinda terus mengikutiku.
Saatku keluar Rumah, dengan cepat Meylinda langsung menuju teras dan lompat ke atap.
Kalau sudah kabur dari Rumah, kemungkinan susah dicari. Salah satu caranya Aku terus
mengekorinya. Tapi, bagaimana Aku bisa mengejarnya kalau Meylinda sendiri menyusuri genteng
Rumah dan berlari entah kemana.
Malam itu juga Aku langsung melapor Polisi, sebagaimana Polisi sendiri sudah kenal dengan
Meylinda, maka Polisi pun tak banyak cingcong untuk turun tangan, Meylinda dan Allysa menurut
Polisi adalah masalah serius yang harus diselesaikan, maka dari itu dengan cepat Malam itu juga
Kami segera mencari Meylinda ibarat singa kabur dari kandang.
Sangat sulit mencari keberadaan Meylinda, apalagi posisinya yang tak bisa kudeteksi sejak
awal membuat Aku dan Kepolisian bingung mencari Mereka, tapi Kami terus mencari terutama di
Gedung-gedung Kosong yang terbengkalai, Aku yakin disana biasanya Meylinda bersembunyi. Aku,
dan 3 polisi dalam satu mobil.
Kami berkeliling kesana kemari, hingga masuk pukul 11 malam masih dalam mobil. Entah mau
__ADS_1
sampai kapan.