Serigala Cinta Segitiga

Serigala Cinta Segitiga
Nikah


__ADS_3

Meylinda datang dengan membawa sebuah tas cangklong yang baru dia beli beberapa


minggu lalu, aroma parfum yang jarang kucium belakangan ini membuatku sedikit curiga,


sepertinya Dia memiliki seorang cowok disana, tapi Aku tak boleh berpikir negatif. Dia berjalan


kearahku, dan langsung menyambarku dengan kata.


“Sudah dari tadi ya?” tanyanya.


“Sudah, dari jam 5.” Jawabku membohonginya.


“Ahh, maaf ya. Aku barusan baru selesaikan masakkan di dapur.”


“Enggak apa-apa.” balasku sambil turun dari motor, Aku langsung berlutut di kakinya, dan


mengeluarkan sebuah souvenir mahal itu dari dalam tasku, rasanya berat sekali untuk kuucap tapi


Aku dengan percaya diri pasti bisa.


“Terus terang, Aku ingin Kita nikah!” ucapku dengan nada pelan.


“Apa?” Meylinda bingung.


“Nikah.”


Tangan kanan Meylinda langsung memegang dada tengahnya terkesan kejut dengan


ucapanku yang selama ini tak pernah diucapkan, dan terus terang Aku sendiri merasa seperti habis


melempar bom di Keramaian, perasaanku memendam rasa malu yang parah, apalagi Meylinda


sudah sering bersamaku.


Lupakan masalah dengan Allysa, saat ini Aku harus benar-benar melindungi Meylinda dalam


bentuk apapun. Ada beberapa sebab yang membuatku memutuskan menikahi Meylinda, pertama


Aku dan Meylinda sudah cukup lama saling mengenal, kedua sudah seharusnya Aku melindungi


Meylinda agar dia mampu mengontrol emosinya, mungkin saja jika Dia sudah menikah denganku


dia akan merasa tenang, dan nantinya tak akan kambuh menjadi siluman itu. Ketiga, terus terang


Aku ingin Meylinda selalu ada bersamaku karena dia sendiri hidup sebagai sebatang kara, inilah


yang memotivasiku untuk segera mengurusnya.


“Memang Kamu sudah sanggup membiayaiku?”


“Aku pasti yakin, Aku sangat sanggup.”


Meylinda dengan malu-malu, wajahnya memerah, tatapan kesana kemari, akhirnya


menyetujui keinginanku untuk menikahinya.


Sejak saat itu, Akhirnya Aku menikahi Meylinda. Seorang gadis sebatang kara, yang sering ku


kunjungi Rumah dengan cara bergerilya terus menerus dengan tetangganya, dan terkadang bisa


berubah wujud menjadi sosok yang mengerikan, tapi Aku percaya seratus persen kalau dia adalah

__ADS_1


manusia murni. Pernikahanku dengan Meylinda berjalan sederhana saja, tanpa resepsi panjang


lebar, mahar pun Aku memberikan dia satu kilo emas, dan Dia menyetujuinya. Rumah Meylinda dia


jual, dan Kita berdua tinggal di Sebuah Rumah yang tak jauh dari Komplek itu hanya beda blok saja,


Rumah itu memang tak terlalu besar, hanya punya dua lantai. Lantai atas hanya digunakan untuk


menyimpan barang, sedangkan semua memusat di lantai bawah.


Rumah itu akan menjadi saksi bisu antara Aku dan Meylinda disana. Dimana Aku berjuang


mencari bayaran dengan bekerja keras kesana kemari, sedang Meylinda masih bekerja di Rumah


makan Pak Joki itu. Kita dengan semangat bekerja disitu tanpa mengenal lelah, yang penting bisa


melunasi hutang Rumah yang dibeli secara kredit. Aku yakin, semua uangku akan mampu membiayai kebutuhan Rumah dan Keperluan Meylinda yang semakin hari semakin banyak


maklumlah sudah menjadi Ibu Rumah Tangga, sudah semakin repot dengan urusannya.


Hari itu adalah hari Sabtu, kebetulan jam kerja Kantorku di liburkan, karena atasan sedang di


luar Kota, dengan senang batin Aku coba mampir di Rumah Makan Pak Joki, tempat istriku bekerja.


Aku datang dengan keadaan mengangetkan, jangan sampai Meylinda tahu kalau Aku datang kesitu.


Akhirnya ku datang disana, dan segera ke lobbi. Seorang kasir sudah cengar-cengir di depanku, tahu


kalau Aku adalah suami Meylinda.


“Mau pesan Apa? Pesan Meylinda?” canda Kasir itu.


“Hahahaha...Aku mau pesan Fuyunghai satu makan disini!”


“Ehhh Jangan, jangan. Aku belum mau panggilkan dia, Aku Cuma minta buatkan fuyunghai


satu saja buat Aku.” Ucapku agak serius agar dia tak bercanda denganku, memang sih tujuanku


hanyalah untuk makan tidak ingin cinlok disitu.


“Ohh, baik. Tunggu!”


Aku segera mencari tempat duduk, kebetulan Rumah makan itu lagi sepi, karena bukan jam


makan siang. Aku datang kesana hanya karena ingin mencicipi lagi makanan buatan istriku,


makanan istriku bukanlah makanan paling enak di dunia. Restoran itu memang indah sekali,


makanya Pak Joki juga merupakan seorang Desainer, yang gemar mendesain Ruangan, jadi


bangunan ini terlihat estetik dengan desain layaknya desain Rumah makan kayu yang unik.


Di ujung Ruang makan itu ada seorang wanita, yang ditutupi dengan jaket kulit berwarna


putih. Sepertinya dia tampak stress atau depresi, Aku kurang tahu.


Biasa, Aku kalau ada sesuatu yang aneh pada orang itu. Biasanya Aku penasaran ingin


bertanya, apa yang sebenarnya terjadi.


“Mbak?” tanyaku.

__ADS_1


Dia perlahan-lahan menoleh kearahku, dan saat dia menoleh, Aku rasa ada yang aneh.


“Doni?” Alamak, ternyata dia adalah Allysa yang mampir disitu.


Kenapa Meylinda tak sadar kalau ada Allysa disitu?


“Allysa?”


“Doni?”


Dengan cepat, sesuai perintah Polisi. Apabila menemukan Allysa harus ditangkap. Langkah


inisiatifku tanpa mendengar instruksi dari Polisi atau pihak manapun Aku langsung mendekati


Allysa. Sontak, Allysa menyadari hal itu, langsung mendorong tubuhku hingga Aku tersurung


menatap meja, bokongku mengenai lantai.


Allysa dengan cepat langsung lari ke luar Rumah. Sontak, Aku sambil berteriak menyebut


nama Allysa lalu pergi meninggalkan Rumah makan tanpa memikirkan masakan buatan istriku.


Allysa memang bisa berlari kencang, jika dibanding Aku yang sudah mulai buncit. Adegan


menegangkan dimana, Aku terus mengejar Allysa menyusuri gang sempit, dimulai dari belok kanan


lalu belok kiri, menuju perkomplekkan yang lurus, Aku terus mengejarnya, tanpa henti sambil


berulangkali meneriaki nama Allysa.


“Allysa, jangan lari!” Dia masih terus berlari.


“Allysa, Aku Cuma mau ngomong denganmu!” sepertinya Allysa sudah tak lagi amnesia,


ingatannya mulai kembali.


Lalu, Allysa belok kanan masuk ke dalam sebuah Gang sempit yang hanya bisa ditembus satu


orang saja, baunya yang pengap. Allysa beberapa kali melemparkan barang apapun yang ada di


depannya untuk di lempar di mukaku. Aku balas lagi lemparan itu ke Allysa, karena sudah mulai


emosi, dan tak sadar melemparkan benda ke belakang, barulah di membalikkan muka ke depan


kalau di depannya ternyata jalan buntu, hanya sebuah tembok dengan tinggi 2 meter menjulang ke


atas, membuatnya tak punya pilihan.


Begitu sampai di depan Allysa, Aku langsung menarik jaket belakangnya. Sontak dengan cepat


Allysa menendang kemaluanku hingga Aku tak tahan sakitnya. Tapi, Aku berusaha melawan rasa


sakit itu, Allysa berlari kembali ke tempat semula, dan Aku langsung dengan spontan merebut


tangannya, Allysa cepat menendang punggungku, kali ini Aku tak berdaya, secara spontan langsung


terjatuh begitu kuatnya tendangan Allysa, yang kemudian di akhirnya pergi meninggalku.


Aku cepat bangkit, dan kembali mengejarnya, rasanya tak begitu asik kalau Aku hanya diam


diri, Aku kembali ke jalur yang sudah kulewati. Rasanya, tak asik kalau diam diri. Aku belum puas,

__ADS_1


sampai dapat. Rasanya kalau sudah dapat, ingin kuserahkan langsung ke Kantor Polisi,


__ADS_2