
Meylinda datang dengan membawa sebuah tas cangklong yang baru dia beli beberapa
minggu lalu, aroma parfum yang jarang kucium belakangan ini membuatku sedikit curiga,
sepertinya Dia memiliki seorang cowok disana, tapi Aku tak boleh berpikir negatif. Dia berjalan
kearahku, dan langsung menyambarku dengan kata.
“Sudah dari tadi ya?” tanyanya.
“Sudah, dari jam 5.” Jawabku membohonginya.
“Ahh, maaf ya. Aku barusan baru selesaikan masakkan di dapur.”
“Enggak apa-apa.” balasku sambil turun dari motor, Aku langsung berlutut di kakinya, dan
mengeluarkan sebuah souvenir mahal itu dari dalam tasku, rasanya berat sekali untuk kuucap tapi
Aku dengan percaya diri pasti bisa.
“Terus terang, Aku ingin Kita nikah!” ucapku dengan nada pelan.
“Apa?” Meylinda bingung.
“Nikah.”
Tangan kanan Meylinda langsung memegang dada tengahnya terkesan kejut dengan
ucapanku yang selama ini tak pernah diucapkan, dan terus terang Aku sendiri merasa seperti habis
melempar bom di Keramaian, perasaanku memendam rasa malu yang parah, apalagi Meylinda
sudah sering bersamaku.
Lupakan masalah dengan Allysa, saat ini Aku harus benar-benar melindungi Meylinda dalam
bentuk apapun. Ada beberapa sebab yang membuatku memutuskan menikahi Meylinda, pertama
Aku dan Meylinda sudah cukup lama saling mengenal, kedua sudah seharusnya Aku melindungi
Meylinda agar dia mampu mengontrol emosinya, mungkin saja jika Dia sudah menikah denganku
dia akan merasa tenang, dan nantinya tak akan kambuh menjadi siluman itu. Ketiga, terus terang
Aku ingin Meylinda selalu ada bersamaku karena dia sendiri hidup sebagai sebatang kara, inilah
yang memotivasiku untuk segera mengurusnya.
“Memang Kamu sudah sanggup membiayaiku?”
“Aku pasti yakin, Aku sangat sanggup.”
Meylinda dengan malu-malu, wajahnya memerah, tatapan kesana kemari, akhirnya
menyetujui keinginanku untuk menikahinya.
Sejak saat itu, Akhirnya Aku menikahi Meylinda. Seorang gadis sebatang kara, yang sering ku
kunjungi Rumah dengan cara bergerilya terus menerus dengan tetangganya, dan terkadang bisa
berubah wujud menjadi sosok yang mengerikan, tapi Aku percaya seratus persen kalau dia adalah
__ADS_1
manusia murni. Pernikahanku dengan Meylinda berjalan sederhana saja, tanpa resepsi panjang
lebar, mahar pun Aku memberikan dia satu kilo emas, dan Dia menyetujuinya. Rumah Meylinda dia
jual, dan Kita berdua tinggal di Sebuah Rumah yang tak jauh dari Komplek itu hanya beda blok saja,
Rumah itu memang tak terlalu besar, hanya punya dua lantai. Lantai atas hanya digunakan untuk
menyimpan barang, sedangkan semua memusat di lantai bawah.
Rumah itu akan menjadi saksi bisu antara Aku dan Meylinda disana. Dimana Aku berjuang
mencari bayaran dengan bekerja keras kesana kemari, sedang Meylinda masih bekerja di Rumah
makan Pak Joki itu. Kita dengan semangat bekerja disitu tanpa mengenal lelah, yang penting bisa
melunasi hutang Rumah yang dibeli secara kredit. Aku yakin, semua uangku akan mampu membiayai kebutuhan Rumah dan Keperluan Meylinda yang semakin hari semakin banyak
maklumlah sudah menjadi Ibu Rumah Tangga, sudah semakin repot dengan urusannya.
Hari itu adalah hari Sabtu, kebetulan jam kerja Kantorku di liburkan, karena atasan sedang di
luar Kota, dengan senang batin Aku coba mampir di Rumah Makan Pak Joki, tempat istriku bekerja.
Aku datang dengan keadaan mengangetkan, jangan sampai Meylinda tahu kalau Aku datang kesitu.
Akhirnya ku datang disana, dan segera ke lobbi. Seorang kasir sudah cengar-cengir di depanku, tahu
kalau Aku adalah suami Meylinda.
“Mau pesan Apa? Pesan Meylinda?” canda Kasir itu.
“Hahahaha...Aku mau pesan Fuyunghai satu makan disini!”
“Ehhh Jangan, jangan. Aku belum mau panggilkan dia, Aku Cuma minta buatkan fuyunghai
satu saja buat Aku.” Ucapku agak serius agar dia tak bercanda denganku, memang sih tujuanku
hanyalah untuk makan tidak ingin cinlok disitu.
“Ohh, baik. Tunggu!”
Aku segera mencari tempat duduk, kebetulan Rumah makan itu lagi sepi, karena bukan jam
makan siang. Aku datang kesana hanya karena ingin mencicipi lagi makanan buatan istriku,
makanan istriku bukanlah makanan paling enak di dunia. Restoran itu memang indah sekali,
makanya Pak Joki juga merupakan seorang Desainer, yang gemar mendesain Ruangan, jadi
bangunan ini terlihat estetik dengan desain layaknya desain Rumah makan kayu yang unik.
Di ujung Ruang makan itu ada seorang wanita, yang ditutupi dengan jaket kulit berwarna
putih. Sepertinya dia tampak stress atau depresi, Aku kurang tahu.
Biasa, Aku kalau ada sesuatu yang aneh pada orang itu. Biasanya Aku penasaran ingin
bertanya, apa yang sebenarnya terjadi.
“Mbak?” tanyaku.
__ADS_1
Dia perlahan-lahan menoleh kearahku, dan saat dia menoleh, Aku rasa ada yang aneh.
“Doni?” Alamak, ternyata dia adalah Allysa yang mampir disitu.
Kenapa Meylinda tak sadar kalau ada Allysa disitu?
“Allysa?”
“Doni?”
Dengan cepat, sesuai perintah Polisi. Apabila menemukan Allysa harus ditangkap. Langkah
inisiatifku tanpa mendengar instruksi dari Polisi atau pihak manapun Aku langsung mendekati
Allysa. Sontak, Allysa menyadari hal itu, langsung mendorong tubuhku hingga Aku tersurung
menatap meja, bokongku mengenai lantai.
Allysa dengan cepat langsung lari ke luar Rumah. Sontak, Aku sambil berteriak menyebut
nama Allysa lalu pergi meninggalkan Rumah makan tanpa memikirkan masakan buatan istriku.
Allysa memang bisa berlari kencang, jika dibanding Aku yang sudah mulai buncit. Adegan
menegangkan dimana, Aku terus mengejar Allysa menyusuri gang sempit, dimulai dari belok kanan
lalu belok kiri, menuju perkomplekkan yang lurus, Aku terus mengejarnya, tanpa henti sambil
berulangkali meneriaki nama Allysa.
“Allysa, jangan lari!” Dia masih terus berlari.
“Allysa, Aku Cuma mau ngomong denganmu!” sepertinya Allysa sudah tak lagi amnesia,
ingatannya mulai kembali.
Lalu, Allysa belok kanan masuk ke dalam sebuah Gang sempit yang hanya bisa ditembus satu
orang saja, baunya yang pengap. Allysa beberapa kali melemparkan barang apapun yang ada di
depannya untuk di lempar di mukaku. Aku balas lagi lemparan itu ke Allysa, karena sudah mulai
emosi, dan tak sadar melemparkan benda ke belakang, barulah di membalikkan muka ke depan
kalau di depannya ternyata jalan buntu, hanya sebuah tembok dengan tinggi 2 meter menjulang ke
atas, membuatnya tak punya pilihan.
Begitu sampai di depan Allysa, Aku langsung menarik jaket belakangnya. Sontak dengan cepat
Allysa menendang kemaluanku hingga Aku tak tahan sakitnya. Tapi, Aku berusaha melawan rasa
sakit itu, Allysa berlari kembali ke tempat semula, dan Aku langsung dengan spontan merebut
tangannya, Allysa cepat menendang punggungku, kali ini Aku tak berdaya, secara spontan langsung
terjatuh begitu kuatnya tendangan Allysa, yang kemudian di akhirnya pergi meninggalku.
Aku cepat bangkit, dan kembali mengejarnya, rasanya tak begitu asik kalau Aku hanya diam
diri, Aku kembali ke jalur yang sudah kulewati. Rasanya, tak asik kalau diam diri. Aku belum puas,
__ADS_1
sampai dapat. Rasanya kalau sudah dapat, ingin kuserahkan langsung ke Kantor Polisi,